Work Text:
Seorang gadis kecil membulatkan matanya melihat seorang pria kecil seumurannya datang tergopoh-gopoh membawa sepiring kue. Tidak banyak, hanya dua potong. Namun, masing-masing kue twrsebut memiliki lilin di atasnya. Dalam penglihatannya, sangat terlihat jelas bahwa sang pria kecil sedikit kesusahan membawa kue tersebut. Guncangan yang tercipta dari tiap-tiap langkah membuat apinya berkali-kali hampir padam. Meskipun begitu, sang pria kecil tetap berusaha berlari menghampirinya.
Begitu sang pria kecil sampai di hadapannya, matanya semakin membulat, berbinar senang. Kue tersebut semakin terlihat jelas dan menggugah selera. Ia kemudian mendongak, menatap ke arah sang pria kecil yang juga menatapnya dengan mata yang berbinar.
Seakan paham apa yang akan dikatakan olehnya, pria kecil tersebut angkat bicara, "hari ini aku ulang tahun. Kamu bantu aku tiup lilin, ya!"
"Eh?! Ulang tahun?!"
Pria kecil itu hanya mengangguk, sedikit terkekeh mendengar nada terkejutnya.
"Iya, aku ulang tahun. Tapi keluargaku nggak ada yang peduli. Kue ini bahkan pemberian asisten kami, bukan keluargaku. Jadi, kamu bantu aku tiup lilin, ya?"
"Oh... gitu..." sang gadis kecil mengangguk paham sebelum melanjutkan, "oke! Tapi tunggu sebentar, aku cari sesuatu dulu," ucapnya lalu berlari tanpa memberikan kesempatan pada sang pria kecil untuk menahannya. Beberapa saat kemudian, gadis kecil itu kembali dengan beberapa tangkai bunga liar di genggamannya.
"Buat kamu," ucapnya sembari menyerahkan bunga tersebut, "maaf, ya, aku cuma nemu ini di jalan. Oh, iya, selamat ulang tahun, Sanji, semoga kamu selalu dan semakin bahagia. Semoga kamu juga selalu dan semakin disayang oleh orang-orang yang kamu sayang. Mmm, apa lagi, ya— Oh! Semoga kamu selalu mau temenan sama aku!"
Sanji, sang pria kecil, tersenyum mendengar seluruh harapan yang dilontarkan padanya. Ia kemudian menyodorkan kembali piring tersebut hingga tepat berada di hadapan keduanya, "makasih, ya, atas ucapannya. Sekarang, ayo kita tiup lilin."
"Selamat ulang tahun, Sanji!" ucap seorang gadis sembari menembakkan sebuah meriam konfeti ke arah pemuda yang baru saja melangkahkan kaki ke dalam kamarnya. Sementara itu, Sanji, sang target, hanya mengerjapkan matanya, membiarkan potongan kertas warna-warni mendarat di atas kepalanya. Ia kemudian mengedarkan pandangannya dan mendapati sebuah kue berukuran sedikit kecil di atas meja belajarnya. Setelah itu, ia kembali mengarahkan pandangannya pada gadis yang tersenyum lebar di hadapannya. Sanji terkekeh lalu menepuk pelan kepala gadis tersebut, "makasih, ya, repot-repot banget kamu kasih kejutan buat aku."
"Gimana? Kamu kaget, nggak?"
"Hmm, lebih ke bingung kenapa aku tiba-tiba harus piket hari ini padahal jadwal piketku besok. Mana kamu nggak mau nungguin, lagi. Kamu kerja sama, ya, sama ketua kelas?"
Sang gadis tertawa, "iya. Aku sengaja kerja sama sama semua orang di kelas buat nahan kamu, biar kamu nggak langsung pulang," ucapnya lalu berjalan ke arah meja belajar, mengambil kue tersebut, lalu membawanya ke hadapan Sanji.
"Ayo tiup lilin dulu!"
Sanji mengangguk lalu meniup lilin tersebut setelah beberapa saat berdiam, membuat beberapa harapan dalam benaknya. Setelah lilin padam, Sanji kembali tersenyum, "udah," ucapnya.
"Oke! Aku ambil pisau dulu buat potong kue."
Sebelum sang gadis berhasil melangkah keluar, Sanji menahan lengannya sehingga membuat gadis tersebut menolehkan kepalanya.
"Nggak usah," ucapnya, "dimakan langsung aja."
"Hah?"
"Itu," tunjuk Sanji pada kotak kue tersebut, "ada sendoknya, kan? Pake itu aja."
Sang gadis menundukkan kepalanya, melihat ke dalam kotak kue. Benar saja, terdapat sebuah sendok kayu di dalamnya. Hanya satu. Gadis tersebut kembali mendongakkan kepalanya, "bisa, sih, tapi cuma satu. Aku ambil dulu sendok satu lagi," ucapnya.
"Dibilang nggak usah. Sendoknya buat berdua aja, biasanya juga gitu, kan?"
"Hmmm... Ya udah, deh," ucap sang gadis sembari mengendikkan bahunya. Kemudian, ia menyendok kue tersebut dan membawanya ke depan mulut Sanji. Melihat hal itu, Sanji segera membuka mulutnya, membawa masuk suapan kue tersebut ke dalam mulutnya.
"Mm, enak. Kamu beli dimana?"
Mendengar pujian Sanji, sang gadis menyunggingkan cengiran lebar, "rahasia," ucapnya sembari terkekeh.
Sanji hanya menyunggingkan senyuman kecil lalu mengacak pelan rambut sang gadis. Ia kemudian mengambil alih sendok yang ada di tangan sang gadis, menyendok kue tersebut, lalu membawanya ke depan mulut sang gadis.
"Gantian," ucap Sanji yang diterima dengan senang hati oleh sang gadis. Ia bawa sesendok kue tersebut ke dalam mulutnya, membiarkan rasa manis dan sedikit asam mendominasi lidahnya.
"Ih, iya! Enak! Nggak nyesel aku jauh-jauh beli kue ini. Kapan-kapan beli lagi, ah," ucap sang gadis dengan mata sedikit berbinar. Mendengar itu, Sanji kembali berbicara, "ikut, dong," pintanya.
Sang gadis memicingkan matanya mendengar permintaan Sanji, "nanti nggak jadi rahasia lagi, dong, kalo kamu ikut."
"Ya nggak usah dijadiin rahasia, dong. Kan aku juga mau tau tempat jual kue enak. Siapa tau aku bisa buat ulang kue-kue yang dijual di sana."
"Hmm... ya udah, deh. Tapi kalo kamu buat ulang kuenya, kasih ke aku juga, ya!"
"Oke."
"Selamat ulang tahun, Sanji!" ucap seorang gadis pada layar ponsel dengan sebatang lilin yang seakan diarahkan padanya, "ayo tiup lilin!"
Melihat hal tersebut, Sanji terkekeh lalu mendekatkan wajahnya pada ponsel, seakan ingin meniup lilin tersebut. Ia menutup matanya sesaat lalu meniup layar ponselnya. Secara bersamaan, gadis pada layar ponselnya juga meniup lilin tersebut sehingga terlihat seperti Sanji yang meniupnya.
"Kenapa kamu belum tidur? Di sana udah malem, kan?" tanya Sanji setelah kembali memberi jarak antara wajah dengan layar ponselnya.
"Buat ngucapin kamu," jawab sang gadis sembari terkekeh, "maaf ya, aku baru ucapin sekarang. Aku beneran sibuk banget dari tadi, megang hp cuma buat ngehubungin dosen."
Sanji tersenyum kecil, "nggak apa-apa, anggep aja orang jadi orang terakhir yang ngucapin aku ulang tahun. Yah, walaupun aku kira kamu udah lupa sama ulang tahun aku," ucapnya sembari terkekeh kecil.
"Hei! Gini-gini aku nggak pikun, tau! Aku emang sibuk, tapi aku nggak pikun!" balas sang gadis tidak terima. Sanji bahkan dapat melihat alis yang mengerut serta pipi yang menggembung. Lucu, pikirnya.
"Iya, deh, iya, kamu nggak pikun, cuma sibuk," balas Sanji mengalah, "terus, apa lagi yang kamu inget selain ulang tahun aku? Nggak termasuk ulang tahun kamu ataupun keluarga, ya."
"Hmm... ulang tahun beberapa temen deket aku, bab yang harus direvisi, jadwal bimbingan, jadwal ngegym, sama... hari jadi kita," ucap sang gadis yang kemudian sedikit berbisik di akhir kalimat. Walaupun samar-samar, Sanji tetap dapat melihat pipi sang gadis yang memerah. Melihat hal tersebut, Sanji kembali mendekatkan wajahnya ke arah layar dengan tangan menumpu dagunya.
"Kamu jangan lucu gitu, dong. Aku jadi makin kangen," ucapnya sembati tersenyum ke arah layar, membuat pipi sang gadis semakin memerah.
"Makannya kamu pulang, dong! Betah banget di sana. Jangan-jangan kamu ada cewek lain, ya?!"
Sanji tertawa, "mana ada. Satu-satunya cewek di hati dan otak aku cuma kamu, tau."
"Terus kenapa kamu nggak pulang-pulang?! Apa-apaan pulang cuma setahun sekali," sang gadis semakin menggembungkan pipinya, menyilangkan lengannya dan menoleh ke arah lain, "emang cuma kamu yang kangen? Aku juga, tau!"
"Iya, aku tau," Sanji tersenyum lembut, "nanti aku pulang, kok."
"Kapan? Akhir tahun lagi? Sama aja, dong, kayak biasanya."
"Nggak, kok, deket-deket ini. Antara bulan depan atau dua bulan lagi."
Setelah mengatakan hal tersebut, dapat ia lihat mata sang gadis berbinar. Wajahnya tak lagi dipalingkan dari layarnya, tak juga menggembungkan pipi ataupun mengerutkan alisnya.
"Beneran?! Bentar lagi kamu pulang?!"
"Iya," Sanji terkekeh, "nanti jemput aku di bandara, ya, biar bisa langsung aku peluk."
"Oke!" jawab sang gadis sembari mengangguk semangat. Melihat hal tersebut, Sanji kembali terkekeh, "udah sana, tidur. Pasti di sana udah malem banget."
"Hmm... sebenernya aku masih kangen, tapi ya udah, deh, besok pagi aku chat kamu lagi, oke?!"
"Oke, sayang."
Seorang gadis berjongkok di hadapan sebuah makam dengan menenteng satu tas kertas, sementara tangan lainnya ia gunakan untuk mengusap makam tersebut. Ia tersenyum kecil ketika matanya membaca nama yang tertera pada makam.
"Halo, Sanji, aku udah dateng. Kamu nggak nungguin aku, kan?" sang gadis terkekeh, "maaf, ya, agak lama. Aku cari kue dulu soalnya. Inget, kan? Kue yang aku beli pas kita masih sekolah, yang tokonya jauh itu. Aku beli kue kesukaan kamu."
Sang gadis kemudian membuka tas kertas tersebut lalu mengeluarkan satu kotak berukuran sedikit kecil dari dalam tas tersebut. Setelah kotak terbuka dan menampilkan kue yang ia beli, ia segera meletakkannya di dekat makam. Tak lupa ia pasang sebatang lilin kecil dan menyalakannya.
"Udah, deh. Sekarang ayo tiup lilin," ia terkekeh, "tapi karena kamu nggak bisa tiup lilin lagi, nanti aku aja yang tiup, ya, hehehehe. Aku juga mau ucapin harapan dulu untuk, kamu, oke?"
Sang gadis kemudian menarik napas panjang dan mengeluarkannya sebelum kembali berbicara, "selamat ulang tahun, Sanji. Semoga kamu selalu bahagia di sana, ya. Tenang aja, walaupun kamu udah nggak di sini, aku selalu rayain ulang tahun kamu, kok," ucapnya sembari terkekeh kecil.
"Ya, walaupun nggak bisa dipungkiri kalau aku masih mau ngerayain bareng kamu di sini. Aku masih mau lihat kamu senyum atau ketawa waktu aku kasih kamu kejutan, aku masih mau diusap-usap kepalanya samu kamu, aku—" ia memejamkan matanya lalu membukanya kembali, membiarkan air matanya secara perlahan mengalir dari ujung mata, "aku kangen banget sama kamu, Sanji, kangen banget. Coba aja waktu itu aku nggak maksa kamu pulang, kamu pasti masih di sini, masih sama aku, masih ngerayain ulang tahun kamu bareng aku. Maaf, Sanji, maaf. Ini semua gara-gara aku, maaf," ucapnya sembari mulai terisak kecil.
Beberapa saat kemudian, ia akhirnya kembali menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, menenangkan dirinya sebelum akhirnya tersenyum kecil dan kembali berbicara.
"Maaf, ya, aku malah nangis-nangis gini. Padahal aku tau kamu paling nggak suka lihat aku nangis," ia kembali terkekeh, "yah, pokoknya walaupun kamu udah nggak di sini, aku akan selalu inget ulang tahun kamu. Inget, kan? Aku ini nggak pikun, cuma sibuk," lanjutnya.
"Aku juga akan selalu inget semua tentang kamu. Kue kesukaan kamu, tempat favorit kamu, warna favorit kamu, film favorit kamu, semuanya. Aku akan inget semuanya tentang kamu. Jadi, aku harap kamu juga selalu inget sama aku, ya. Terus, karena aku juga akan selalu sayang sama kamu, aku juga berharap kamu bukan cuma disayang dari sini, tapi juga di sana. Semoga kamu akhirnya dapetin semua rasa sayang di sana, dikelilingi oleh cinta, hehehehehe."
"Terakhir, aku harap kamu masih sayang sama aku. Yah, walaupun kita udah beda dunia," ucapnya sembari tertawa kecil, "aku harap kamu masih mau lihat aku menjalani di sini dari sana. Tenang aja, aku udah berusaha maksimal untuk bahagia, kok, seperti yang kamu mau. Jadi, kamu bisa tenang di sana, dan bahagia, hahahaha."
Sang gadis kemudian mengangkat kue tersebut dan mendekatkannya pada wajahnya, "sekali lagi, selamat ulang tahun, Sanji," ucapnya sebelum bergerak meniup lilin tersebut. Namun, sebelum ia berhasil meniupnya, ia dapat merasakan angin berhembus di sekitarnya sehingga membuat lilin tersebut padam. Ia mengerjap sebelum akhirnya tersenyum kecil dan kembali meletakkan kue tersebut.
"Ternyata kamu mau niup lilin sendiri, ya?" ia tertawa kecil, "makasih udah mau tiup lilin bareng aku lagi, Sanji."
