Actions

Work Header

Love at First Kill

Summary:

Shin adalah seorang streamer game yang populer. Suatu hari, ia bertemu dengan seorang pembunuh bernama Nagumo, yang menyelinap ke apartemen baru Shin untuk menghabisi targetnya, namun ternyata orang yang ia cari tidak ada di sana. Alih-alih membunuh Shin, Nagumo justru terpikat oleh tingkahnya yang lucu.

Notes:

fanfiksi kali ini adalah berawal dari asbunan yang ada di twitterku killer bf x streamer game bf jadi.... KAYAKNYA BAKAL cringe pls kalo egx suka langsung skip aja gausah dibaca yaaa T__T plus ni fanfiksi lumayan ooc

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: my pretty gamer

Chapter Text

Sore menjelang malam, perutnya mulai terasa kosong. Persediaan makanan di apartemen barunya sudah habis, memaksanya bangun dari tidurnya yang nyenyak. Dengan mata yang sedikit berat, ia berjalan menuju wastafel, mencuci muka, lalu menyikat giginya dengan malas. Setelah menarik napas panjang, ia akhirnya melangkah keluar menuju minimarket terdekat. Rambut pirangnya masih berantakan, sedikit menutupi matanya yang setengah mengantuk. Di dalam minimarket, ia mengambil bahan makanan untuk bertahan dua minggu ke depan.

Pria berambut pirang itu bernama Shin Asakura. Ia baru saja lulus dari studi kuliahnya dan telah memulai karir sebagai streamer game sejak ia masih kuliah. Minggu lalu, ia pindah ke sebuah apartemen dekat kota, tempat yang cukup nyaman dan membantu menghemat pengeluarannya. Karena hari sudah mulai malam, ia segera menyelesaikan belanjaannya dan kembali ke apartemen. Begitu sampai di depan pintu, ada sesuatu yang terasa… ganjil. Bukan sesuatu yang jelas, hanya perasaan samar yang sulit dijelaskan, seperti ada yang sedikit berbeda, tapi ia tidak tahu apa. Shin mengernyit, melirik kunci pintu. Masih terkunci seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda ada orang lain yang masuk. Mungkin cuma perasaannya saja. Ia menggeleng pelan, menepis pikiran aneh itu, lalu membuka pintu dan masuk.

Di dalam apartemen, semuanya tampak biasa. Tidak ada barang yang berpindah tempat dan tidak ada suara aneh sekalipun. Namun, rasa tidak nyaman itu masih mengikuti Shin, seolah ada sesuatu yang mengawasinya dari bayang-bayang. Ia menghela napas, berusaha mengabaikan perasaan itu, lalu menyimpan belanjaan ke dapur dan melepas jaketnya menyisakan kaos dalaman tanpa lengannya yang berwarna putih. Hari ini cukup melelahkan, dan yang ia butuhkan sekarang hanya makanan.

Dengan langkah malas, ia berjalan dari dapur menuju kamar mandi untuk mengambil gelasnya yang ketinggalan di sana. Apartemennya cukup gelap, hanya sedikit cahaya rembulan yang masuk melalui jendela, tapi ia sudah hafal letaknya. Namun, saat ia hampir sampai di pintu kamar mandi

Bugh!

Shin menabrak sesuatu. Sesuatu yang keras dan besar. Tubuhnya terdorong ke belakang, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh terduduk di lantai. Dengan mata membelalak, ia menatap ke depan. Di tengah kegelapan, sebuah siluet tinggi berdiri di hadapannya. Lalu, suara laki-laki asing terdengar.

"Hmm... Kau bukan targetku. Apa aku salah lokasi?"

Shin masih terdiam, otaknya berusaha memahami situasi. Siapa dia?

Jantungnya berdetak lebih cepat. Sekujur tubuhnya terasa merinding seiring dengan kesadaran yang perlahan menghantam dirinya. Apartemen ini adalah tempat ia tinggal sendiri. Tidak ada seorang pun yang seharusnya berada di sini.

"Huh?!" Shin akhirnya bersuara. "Siapa kau?! Kenapa kau di sini?!"

Sesosok laki-laki bertubuh tinggi dan besar itu melirik tajam sekitarnya dalam kegelapan. "Yah, aku juga mau tahu... Aku seharusnya menemui seseorang di sini, tapi ternyata malah bertemu streamer terkenal."

Shin terdiam sesaat. Nafasnya masih sedikit tidak teratur. "Streamer? Kau... fansku? STALKER?!"

"Hahaha, bagaimana kalau aku jawab iya dan bagaimana kalau aku jawab tidak?" suara tertawa kecil itu terdengar santai, seolah ini bukan situasi berbahaya. "Aku memang tidak terlalu suka dengan tingkah lakumu saat live stream."

Shin merasa sedikit tersinggung. "Hei—"

"Tapi," lelaki itu menyela, suaranya terdengar lebih rendah, lebih dalam. "Kau ternyata lebih menarik kalau dilihat langsung."

Udara di ruangan terasa lebih dingin. Shin bisa merasakan tatapan pria itu menelusuri dirinya. Refleks, Shin mulai mundur perlahan, tangannya meraba lantai mencari ponselnya yang terjatuh. Jika ia bisa menyalakan lampu di belakang, setidaknya ia bisa melihat wajah orang ini dengan lebih jelas. Namun, baru saja jemarinya menyentuh sesuatu. Sosok di depannya bergerak lebih cepat. Dalam sekejap, ponselnya sudah berpindah tangan.

"Kembalikan!" Shin terkejut.

Pria itu mengangkat ponsel Shin, mengamatinya sebentar sebelum menekan tombol power. Cahaya dari layar ponsel sebentar menerangi wajahnya, memperlihatkan sepasang mata tajam dan senyum yang menggoda.

"Kau mencari ini?"

Shin terdiam. Untuk pertama kalinya, ia bisa melihat wajah lelaki itu dengan lebih jelas. Tampan, tapi dengan aura bahaya. Dan entah kenapa, jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Shin masih terduduk di lantai, jantungnya berdegup cepat. Nafasnya sedikit memburu, sementara matanya terus menatap sosok pria di depannya. 

Lelaki asing bertubuh tinggi itu memiringkan kepalanya sedikit, tatapan keemasannya menelusuri sosok Shin dengan ekspresi yang sulit diartikan. Pandangannya turun, lalu berhenti tepat di satu titik.

"Hmm…" Ia bergumam pelan, sudut bibirnya sedikit terangkat dalam seringai samar.

Shin menyipitkan mata, mengikuti arah tatapan pria itu. Saat menyadari apa yang sedang dilihatnya...

Kaos dalaman tanpa lengan yang ia kenakan sedikit melorot akibat jatuh tadi, memperlihatkan bahunya yang telanjang. Kulitnya yang pucat tampak begitu jelas di bawah cahaya lampu redup, seolah bercahaya samar. Garis bahunya yang ramping terlihat begitu lembut, sementara tulang selangkanya yang sedikit menonjol menciptakan lekukan halus yang hampir menggoda. Udara terasa lebih dingin di permukaan kulitnya yang terekspos, dan entah kenapa, tatapan pria itu membuatnya merasa lebih telanjang daripada yang seharusnya.

Refleks, Shin menarik bajunya, menutupi bahunya dengan gerakan cepat, sebelum melotot ke arah pria itu. "Hei, kau menatap apa?!"

Pria itu hanya terkekeh pelan, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatapnya dengan penuh godaan. "Kau nyaman sekali, ya, cuma pakai baju dalaman saja di malam hari?" ujarnya santai, tetapi sorot matanya tetap tidak beranjak dari bahu Shin yang masih sedikit terlihat. "Apa kau suka menggoda orang lain?"

Shin mendengus kesal, tapi wajahnya terasa mulai memanas. Wajah Shin memerah dan matanya melotot tajam, ia masih berusaha menata pikirannya. "Kau siapa, sih? Dan apa maumu datang ke sini?"

Pria itu yang belum Shin ketahui namanya hanya menyeringai santai. "Kau bisa memanggilku Nagumo, aku sedang mencari seseorang yang beralamat di sini, tetapi ternyata dia tidak ada." Ia lalu mengangkat bahu. "Dan malah aku menemukanmu."

Shin mengerutkan kening. "Jadi, kau salah alamat?"

"Yah, kurang lebih begitu." Nagumo mengamati ekspresi Shin dengan mata tajamnya, lalu menyeringai. "Oh ya, kau cukup tenang, ya, saat bertemu denganku? Kukira kau akan melawanku dengan ganas atau memanggil polisi."

Shin mendengus pelan, padahal dalam hatinya ia sedang berusaha keras untuk tetap terlihat santai. Jujur saja, Nagumo ini sangat tipenya sekali. Wajah tampan, tubuh tinggi, kulit bersih, dan tato yang cukup mencolok di kulit tubuhnya. Membuatnya terlihat sedikit berandalan, tapi di saat yang sama, malah semakin menarik.

Sial.

Tapi tentu saja, Shin tidak akan jujur mengakui itu. Ia mendengus. "Memangnya kalau aku melawan, kau akan pergi begitu saja? Hahh dan juga ponselku dicuri oleh seseorang."

Nagumo terkekeh pelan. "Hahaha, tentu tidak. Tapi, paling tidak aku bisa bersenang-senang lebih lama."

"Ugh, menakutkan. Oke aku ulangi lagi... siapa kau dan mengapa kau bisa ada di apartemenku?"

Pria tinggi itu yang jelas-jelas bukan orang biasa menghela napas santai, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding. "Hmmm, namaku Nagumo Yoichi dan kau bisa memanggilku Nagumo,"

Shin mengernyit. "Huh? Begitu saja?"

Nagumo tersenyum kecil. "Kurang lebih begitu."

Shin masih curiga. "Lalu kenapa kau masih di sini? Kalau kau salah alamat, cepat pergi."

Alih-alih menjawab, pria itu malah mengamati Shin lebih lama, tatapannya menelusuri dari kepala sampai kaki. Lalu, tiba-tiba dia menyeringai. "Oohh… jadi ini sifat aslinya seorang streamer game yang terkenal Shin Asakura?"

Shin terdiam. 

Nagumo terkekeh. "Aku pernah menonton salah satu video streamingmu yang paling populer, The Little Nightmares 2. Agak menyebalkan reaksimu, jujur saja."

Shin refleks mendelik. "Kalau menyebalkan, kenapa kau nonton?"

"Aku tidak bilang aku tidak suka."

Sialan, dia sangat menyebalkan sekali.

"Aku akan tinggal di sini sebentar."

Shin membeku. "Hah…Apa?"

Nagumo meregangkan bahu dengan santai, lalu berjalan mendekati sofa dengan memainkan ponsel milik Shin ditangannya. "Di luar sedang tidak aman untukku. Aku butuh tempat untuk berlindung sementara waktu, dan apartemen ini kebetulan kosong dan yah, setidaknya aku pikir begitu."

Shin menoleh kearah sofa mengerutkan kening. "Kalau kau dalam masalah, itu bukan urusanku. Pergi cari hotel atau sesuatu!"

"Aku tidak bisa." Nagumo duduk di sofa dengan santai, seolah ini adalah tempatnya sendiri. "Dan lagi pula, aku ingin mengenalmu lebih jauh."

Shin langsung merinding. "Hey, aku tidak tertarik dengan orang aneh sepertimu!"

Nagumo mengangkat alis. "Benarkah?"

Senyumnya semakin melebar saat melihat telinga Shin yang perlahan memerah. Shin buru-buru membuang muka, mencoba menutupi fakta bahwa orang ini benar-benar tipe idealnya.

Terlalu tinggi. Terlalu tampan. Terlalu… berbahaya.

Dan yang paling menyebalkan, dia mengetahuinya. Shin hanya bisa pasrah dengan keadaan, mau melawan dia pun juga sepertinya Shin yang akan tumbang duluan. Melihat kesehariannya dikamarnya cuman bermain game berbanding terbalik dengan pria bertubuh jangkung itu. Ia akhirnya menyerah dan bangun dari duduknya menuju ke kamar. Tetapi saat Shin mencapai pintu kamarnya ia merasakan apabila Nagumo sedang membuntutinya.

"Kau mau apa?" Shin melirik ke belakang sedikit sambil memasang muka masamnya.

Nagumo menyeringai, matanya seperti kucing. "Aku hanya ingin tidur di kasur, kok."

Shin langsung melotot. "Tidur di kasur? Ini kamarku, jadi tidurlah di sofa!"

Nagumo mengangkat bahu. "Sofanya terlalu kecil. Kasur lebih nyaman."

"Tidak peduli! Sofa masih bisa dipakai tidur!" Shin menghalangi pintu dengan tubuhnya dan membuka pintu kamarnya. Tiba-tiba tangannya terasa hangat. Tenr

Shin langsung melotot. "Tidur di kasur? Ini kamarku, jadi tidurlah di sofa!"

Nagumo mengangkat bahu santai. "Sofanya terlalu kecil. Kasur lebih nyaman."

"Tidak peduli! Sofa masih bisa dipakai tidur!" Shin mendengus, menghalangi pintu dengan tubuhnya. Ia mengulurkan tangan, meraih gagang pintu dan bersiap membukanya, Namun, tiba-tiba sebuah tangan besar dengan tato aneh diatasnya menutupi tangannya dan menahannya dengan mudah sebelum ia sempat menarik pintu. Shin terkejut dengan hal itu. Hawa hangat dari telapak tangan Nagumo terasa jelas di kulitnya, jemari pria itu membungkus tangannya dengan erat.

"N-Nagumo—"

Sebelum ia bisa berkata lebih jauh, tubuh Nagumo perlahan mendekat, membuat udara di antara mereka terasa lebih berat. Bayangan pria itu mendominasi pandangannya, begitu dekat hingga aroma khasnya menggelitik indra penciumannya.

"Kenapa kau tidak tidur di sana saja?" Suara Nagumo terdengar rendah, berbisik tepat di dekat telinganya.

Dingin. Suara itu seolah menyentuh kulitnya.

Shin merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri. Rasa panas naik perlahan dari leher hingga ke pipinya. Ia yakin wajahnya pasti memerah seperti tomat sekarang, apalagi dengan bagaimana bibir Nagumo nyaris menyentuh daun telinganya.

"A-Apa?!" Shin tersedak, refleks memalingkan wajahnya agar tidak semakin terbakar di bawah tatapan pria itu.

Nagumo terkekeh, puas melihat reaksinya. "Kau lucu sekali."

Shin menggeram dalam hati, tapi tidak bisa membantah. Apalagi tangannya masih berada di bawah genggaman Nagumo.

Kenapa pria ini suka sekali mempermainkannya?!

"Kalau begitu, sebagai pemilik apartemen, kau harus bersikap baik pada tamu." Nagumo terkekeh, lalu menyelipkan tangannya ke saku jas coklat miliknya. "Atau… kau takut tidur satu ranjang denganku?"

Shin marah, wajahnya memerah karena tersulut harga dirinya sendiri.

"Siapa yang takut?! Aku cuma tidak mau berbagi ranjang dengan orang asing!"

"Tapi aku sudah tahu namamu, kau sudah tahu namaku. Bukankah itu membuat kita bukan orang asing lagi?"

Shin membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia kehabisan kata-kata. Akhirnya, ia menggeram kesal, lalu menyerah begitu saja.

"Urgh baiklah, tapi kau harus tetap di sisi kasurmu sendiri."

Nagumo hanya tersenyum puas. "Tentu saja."

Dan maksud dari kata tentu saja itu adalah sebaliknya, ia tidak benar-benar berniat menepati janji itu. Walaupun Shin akhirnya tertidur membelakangi Nagumo, ia membungkus dirinya dengan selimut seolah sedang mendeklarasikan batas wilayah. Nagumo menatap punggung pria itu dalam diam. 

Konyol. Kenapa dia terlihat sangat menggemaskan sih?

Awalnya, Nagumo hanya berbaring diam, mematuhi "aturan" yang Shin tetapkan. Tapi semakin lama, semakin sulit menahan godaan. Udara malam ini tidak terlalu dingin, tapi ia tetap punya alasan. Alasan untuk mendekat.

Perlahan, ia bergeser.

Dari jarak sekedar berbagi kasur, menjadi jarak untuk berbagi udara. Lalu, ia membiarkan tangannya melingkar santai di pinggang Shin. Shin menggeliat sedikit, bergumam pelan dalam tidurnya. Tapi ia tidak menolak.

Nagumo tersenyum nakal.

Yah… setidaknya, dia tidak keberatan.

Dan begitulah malam itu berlalu, dengan dua orang asing yang seharusnya tak pernah bertemu, tertidur dalam kehangatan satu sama lain.

 

***

 

Keesokan harinya Nagumo terbangun di siang hari karena ranjang itu terasa lebih dingin dari seharusnya. Ia mengedipkan mata, lalu mengangkat kepalanya. Shin tidak ada. Dahi Nagumo berkerut. Matanya langsung menyapu seluruh ruangan, tapi ranjang itu hanya menyisakan selimut berantakan.

Kemana dia?

Dengan gerakan cepat, Nagumo turun dari ranjang dan keluar kamar. Tidak ada siapapun di ruang tamu. Jantungnya sedikit terpacu. Ia tahu itu konyol, tapi untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit cemas. Dengan langkah cepat, ia mulai menelusuri apartemen kecil itu. Sampai akhirnya, matanya menangkap satu pintu yang sedikit terbuka.

Perlahan, ia mendorong pintu itu…

Dan langsung mengerutkan kening. Shin sedang duduk di depan monitor, mengenakan headphone, jemarinya sibuk di keyboard.

Oh sialan, ternyata dia sedang bersiap main game.

Nagumo menghela napas panjang, separuh lega, separuh kesal pada dirinya sendiri. Ia bersandar di pintu, menatap pria berambut pirang yang terlalu sibuk dengan dunia virtualnya untuk sadar bahwa seseorang baru saja hampir panik karena menghilangnya.

Nagumo tersenyum kecil. "Kau membuatku hampir berpikir kau kabur, tahu?"

Shin akhirnya menoleh sekilas, lalu tertawa kecil.

"Seorang streamer tidak bisa kabur dari pekerjaannya, tahu?" katanya santai, lalu kembali menatap layar.

“Hahaha, memangnya game apa yang akan kau mainkan hari ini cantik?” Nagumo menggoda shin seperti biasa.

Shin mendengus, tapi warna merah samar di telinganya tidak bisa berbohong. Nagumo hanya mengangkat bahu, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum kecil.

Shin menghembuskan napas panjang, lalu kembali fokus ke monitornya. " Hari ini aku mau main MiSide. Kenapa? Kau tertarik ikut main?"

Nagumo mengangkat alis. "Tidak, tapi aku lebih tertarik melihat bagaimana reaksimu."

Shin melirik ke arahnya, mendapati tatapan pria itu yang seakan penuh rasa ingin tahu. Bibirnya menekan garis lurus, lalu kembali fokus ke layar.

"Kalau begitu, jangan ganggu aku," gumamnya.

Alih-alih menjauh, Nagumo justru bergerak mendekat, bertumpu di sandaran kursi Shin dan menyandarkan dagunya di bahu pemuda itu.

"Aku diam, kok," katanya pelan, suaranya hampir seperti bisikan.

Shin membeku. Wajahnya langsung terasa panas lagi.

Brengsek.

"Oh ya sekalian, nanti kalau sudah selesai, pergi ke ruang tamu ya cantik."

Shin reflek memundurkan kursinya dan memukul bahu Nagumo pelan.

"Ugh apa sih, iya iya nanti kalau sudah selesai aku kesana.”

Ia akhirnya pergi dari ruangan itu setelah mendengar Shin akan memulai streamingnya.

 

***

 

Beberapa jam berlalu, sekitar tiga hingga empat jam. Shin telah menyelesaikan live streamingnya dan buru-buru mematikan monitornya. Ia berjalan ke ruang tamu dengan langkah santai, masih sedikit mengantuk setelah berjam-jam menatap layar. Namun, begitu ia sampai di sana, ruangan itu kosong. Sofanya bersih, tidak ada jejak seseorang pernah duduk di sana.

“Hah gimana sih?”

Keningnya berkerut. Matanya menelusuri apartemen kecilnya, mencari sosok pria tinggi yang tadi siang masih santai menggoda dirinya.

Dapur? Tidak ada.

Kamar mandi? Kosong.

Bahkan saat ia membuka lemari pakaian dengan setengah berharap pria itu sedang bersembunyi, tidak ada juga. Nagumo menghilang. Shin menghela napas.

Yah… baguslah kalau dia pergi.

Tapi anehnya, ada sesuatu yang terasa kosong. Ia menggaruk kepalanya, lalu mengambil satu kaleng bir dari kulkas. Seharusnya hanya satu, tapi entah sejak kapan sudah menjadi dua.

Lalu tiga.

Lalu empat.

Sampai akhirnya, delapan kaleng bir kosong berserakan di atas meja.

Kepalanya mulai terasa ringan, tubuhnya mulai terasa hangat. Ia terjatuh ke sofa, tertawa kecil tanpa alasan jelas.

Namun, entah beberapa jam berlalu, tubuhnya terasa berat. Kepalanya berdenyut akibat alkohol, kelopak matanya enggan terbuka. Tapi suara klik halus dari gagang pintu yang terbuka membuatnya tersentak.

Nagumo.

Pria itu masuk tanpa banyak suara, seolah sudah terbiasa menyelinap tanpa ketahuan. Dengan santai, ia melepaskan jas coklatnya dan melemparkannya ke lengan sofa, lalu mendudukkan dirinya tepat di sebelah Shin.

Hening.

Shin masih setengah sadar, pipinya memerah karena efek alkohol, rambut pirangnya sedikit berantakan. Matanya yang setengah terbuka menatap Nagumo dengan tatapan kabur, seakan mencoba memastikan kalau ini bukan halusinasinya saja.

Lalu tiba-tiba ia bergerak.

“Heeeeh?” Nagumo menaikkan alisnya, tangannya masih menggantung di udara, tidak yakin harus berbuat apa. Bibirnya sedikit terbuka, ingin mengatakan sesuatu, tapi entah kenapa ia justru terdiam.

Lalu, dengan sedikit canggung, ia mencoba melanjutkan, “Kau sedang apa ini…sayang?” Sejenak ia ragu untuk menambahkan kata itu, tapi akhirnya ia tetap mengatakannya, suaranya sedikit menurun di akhir kalimat.

Shin bergumam pelan. Suaranya berat, lembut, dan sedikit manja.

“…Mmmhh, kau kemana saja, huh…” gumamnya seperti kucing yang merajuk karena ditinggal lama.

Nagumo terkekeh. Bocah ini bahkan tidak sadar kalau dirinya terlihat sangat menggemaskan. Dengan malas, Shin menaikkan kepalanya lebih dekat ke leher Nagumo, hidungnya sedikit mengendus, mencari kenyamanan.

"Hmmm… kau bau seperti hujan," katanya, suaranya terdengar mengantuk.

Nagumo tersenyum miring. "Kau suka?"

Shin mengangguk pelan, masih mengubur wajahnya di dada Nagumo.

"Aku suka... kau hangat… tapi entah mengapa baumu tercampur bau amis…. seperti bau darah…"

Shin menggumamkan kata-kata itu, kepalanya masih terasa ringan akibat alkohol. Pandangannya sedikit kabur saat ia mencoba mengangkat wajahnya untuk menatap Nagumo.

"Bau darah…?" ulangnya dengan suara yang sedikit bergetar, efek mabuk membuat pikirannya lebih lambat dalam memproses.

Nagumo hanya tertawa kecil, jemarinya dengan lembut menyusuri punggung Shin. "Hahaha, kau pasti terlalu banyak minum. Mungkin itu hanya imajinasimu, Sayang."

Shin mengerjap, berusaha berpikir lebih jernih, tapi otaknya masih terasa berat. Ia mengendus lagi tanpa sadar, kali ini lebih dekat ke leher Nagumo, sebelum akhirnya mendengus dan kembali bersandar dengan malas.

"Hmm… terserah… aku terlalu pusing untuk peduli," gumamnya, matanya setengah tertutup.

Nagumo tersenyum miring, menatap wajah Shin yang masih merona akibat alkohol. Jemarinya dengan santai bermain di helaian rambut pria itu, menikmati bagaimana Shin dengan polosnya terus bersandar kepadanya. Tapi di balik senyuman lembutnya, pikirannya melayang ke kejadian beberapa jam lalu, di mana bau darah masih segar menempel di kulitnya sebelum ia membersihkannya dengan hati-hati. Setidaknya untuk malam ini, ia bisa menikmati kehangatan seseorang tanpa harus mengotori tangannya lagi. Lalu, dengan nada menggoda, ia mulai membuka pembicaraan.

"Apa kau suka dengan Mita?" tanyanya sambil menoleh ke arah Shin. "Aku baru tahu kau suka wanita dan terlebih dia seorang yandere."

Shin, yang masih mabuk, mengernyitkan alisnya.

“Hmmm… hik, tidak… Aku tidak suka…” gumamnya bersamaan dengan cegukan akibat minum tadi, membuat suaranya terdengar malas dan berat.

Nagumo menaikkan sebelah alisnya. "Oh? Jadi kau tidak tertarik padanya?"

Shin menggeleng, lalu menatap Nagumo dengan ekspresi polos.

“Aku hanya suka dengan pria.”

Nagumo terdiam sejenak. Lalu,

“Pfttt… seorang streamer Shin Asakura gay?”

Nada suaranya jelas-jelas mengejek.

Shin langsung naik pitam. “Ih, memangnya kenapa? Kenapa kau begitu menyebalkan, memangnya kau tidak gay?!”

Nagumo terkekeh melihat ekspresi kesal Shin yang malah terlihat menggemaskan.

"Hmm… aku bisa menyukai pria dan wanita sih, tapi lebih berat ke pria. Apalagi…" Ia mencondongkan tubuhnya, jari telunjuknya menyentuh dagu Shin dengan ringan.

“Pria cantik sepertimu ini.”

Nagumo hanya tertawa pelan, suara beratnya terasa jelas di telinga Shin. Dari awal, satu tangannya sudah melingkar di pinggang Shin, menggenggamnya dengan santai namun tetap erat, memastikan pria kecil itu tidak berusaha kabur darinya. Perlahan, tangan satunya bergerak naik, menyelusup ke rambut pirang Shin yang sedikit berantakan. Jemarinya mengacak rambut itu dengan lembut, sesekali mengusapnya pelan, seperti menenangkan anak kucing yang sedang kesal.

“Hahaha, kau terlihat sangat manis, apa kau tahu itu?” katanya, suaranya rendah, mengalun lembut di atas kepala Shin.

Shin semakin menekan wajahnya ke dada Nagumo, tubuhnya terasa makin panas, entah karena alkohol atau karena sesuatu yang lain. Ia juga mengerucutkan bibirnya karena sedikit kesal dengan orang yang ada didepannya itu.

Shin bergerak sedikit di pelukannya, sebelum tiba-tiba mendongak dan menatap Nagumo dengan mata setengah terbuka. Tatapannya sedikit berkabut, pipinya memerah karena alkohol, bibirnya sedikit terbuka. Tiba-tiba, suasana sedikit berubah. Hening beberapa detik, sebelum akhirnya Shin bergumam dengan suara lebih pelan.

“Ngomong-ngomong… bisakah kau menceritakan tentang dirimu kembali? Aku hanya mengetahui namamu saja…. itu membuatku sedikit sedih karena aku tidak mengetahui apa-apa selain namamu saja.”

“Shin apakah kau tau, ketidaktahuan itu adalah sebuah berkah.”

Shin masih terlihat mengantuk, tapi ia berbicara dengan suara rendah dan berat, seolah kata-katanya keluar tanpa disadari. Jantung Nagumo berdetak sedikit lebih cepat.

"Hah! Omong kosong macam apa itu. Aku bahkan sampai pernah berpikir kalau dirimu ini anggota mata-mata atau pembunuh..."

Shin tertawa kecil dalam dekapannya, suaranya sedikit serak. Lalu, dengan suara yang hampir tidak terdengar.

"Uhh... tapi ya… kalau kau memang benar seorang pembunuh, aku mati di tanganmu juga tidak buruk, haha..."

Nagumo menghela napas dalam.

Kenapa pria ini bisa berbicara seperti itu tanpa sadar?

Seolah-olah kematian bukanlah sesuatu yang ia takutkan. Tanpa sadar, ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Shin, seakan ingin melindunginya dari sesuatu yang bahkan ia sendiri tak bisa sebutkan.

Dengan suara lebih rendah, hampir seperti bisikan, jemarinya terangkat, menyentuh lembut helai-helai rambut Shin yang jatuh menutupi wajahnya. Perlahan, ia menyelipkan rambut itu ke belakang telinga pria yang lebih kecil darinya.

“Hahhh… baiklah, aku mengalah. Kau benar, Sayang,” katanya lirih, suara beratnya terdengar sedikit berbeda kali ini.

Shin menatapnya dengan bingung, tapi sebelum pikirannya sempat memproses arti kata-kata itu lebih jauh, Nagumo kembali bergerak. Lalu-

Chu.

Bibirnya menyentuh kening Shin.

Shin ingin protes, tetapi kelopak matanya terasa begitu berat. Napasnya pun mulai melambat, tubuhnya semakin tenggelam dalam kantuk yang tak bisa ia lawan. Namun, di tengah kesadarannya yang mulai memudar, tangannya secara refleks mencengkeram lengan baju Nagumo, seolah tak ingin pria itu pergi. Nagumo menatapnya sejenak, lalu hanya terkekeh pelan. Tanpa mengatakan apa pun, ia menarik jas coklat panjangnya yang tergeletak di sofa, lalu menyelimuti tubuh Shin hingga ke bahunya, memastikan pria itu tetap hangat.

Alih-alih beranjak pergi, Nagumo justru membiarkan dirinya ikut berbaring di samping Shin. Dengan satu gerakan halus, ia menarik tubuh pria itu sedikit lebih dekat, hingga mereka bisa merasakan kehangatan masing-masing.

Ia tidak perlu pergi ke mana pun malam ini.

Jadi, sekali lagi, ia membiarkan dirinya tetap di sana, menemani Shin hingga terlelap sepenuhnya.

 

***

 

Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai, menyoroti ruang tamu dengan cahaya hangat keemasan. Shin membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa sedikit berat dan hangat. Terasa sesuatu menekan kepalanya dengan nyaman. Saat ia terbangun, ia menyadari sesuatu.

“Eh…?”

Kepalanya bersandar tepat di dada Nagumo, yang masih tertidur nyenyak di sebelahnya. Lengan pria itu masih melingkar longgar di pinggangnya dan wajahnya terlihat lebih tenang dibanding biasanya. 

Apa yang terjadi semalam? 

Oh… benar. Dia mabuk.

Shin menggigit bibirnya, mencoba menarik diri perlahan, tetapi sebelum ia berhasil kabur, tangan Nagumo mengerat di pinggangnya.

“Hmm…. mau ke mana, cantik?” Suara Nagumo terdengar serak karena baru bangun dari tidurnya.

Shin membeku. Ia bisa merasakan panas di wajahnya semakin menjadi-jadi.

"K-Kenapa kau masih di sini?!"

Nagumo tertawa kecil, akhirnya membuka matanya.

"Kau yang menahanku semalam, ingat?"

Shin buru-buru menjauh, tetapi keseimbangannya goyah dan hampir jatuh dari sofa. Nagumo refleks menarik pergelangan tangannya, menariknya kembali tetapi justru membuat mereka semakin dekat. Mata mereka bertemu. Jarak di antara mereka hanya beberapa sentimeter.

"Pagi, sayangku," ujar Nagumo dengan suaranya yang berat dan sedikit serak karena baru bangun tidur.

Shin, yang masih setengah sadar, langsung membeku di tempat. Otaknya yang belum sepenuhnya berfungsi memproses kata 'sayangku' lebih lama dari seharusnya. Dan begitu dia sadar…

Wajahnya langsung terasa panas.

"Sialan, aku tidak ingin mendengar kata itu dari mulutmu di pagi hari!" Shin buru-buru mendorong wajah Nagumo menjauh dengan telapak tangannya, mungkin agak terlalu keras.

Nagumo hanya tertawa sedikit, menikmati bagaimana telinga Shin yang kini memerah kontras dengan rambut pirangnya.

"Eh? Tapi kau tampak menikmatinya, sayang." godanya, semakin mendekat.

"DIAM!" Shin berbalik dengan cepat, menutupi wajahnya yang semakin panas dengan lengan bajunya. Sial, kenapa dia harus terlihat semenyebalkan ini di pagi hari?

Shin akhirnya berhasil lolos dari sofa setelah adu mulut kecil dengan Nagumo. Dengan rambut masih berantakan, dia berjalan ke dapur sambil menguap. Perutnya keroncongan, dan efek mabuk semalam masih terasa sedikit.

Nagumo, yang masih duduk di sofa, menatapnya dengan senyum santai. “Kau mau masak? Wah, aku penasaran apa makanan seorang streamer terkenal.”

Shin meliriknya dengan tatapan malas. “Jangan berharap sesuatu yang mewah, aku hanya akan menggoreng telur saja.”

"Boleh aku memasak untukmu?"

Shin mengerutkan kening. "Kau bisa masak?"

Nagumo menaruh tangan di dadanya, pura-pura tersinggung. "Sayang, kau benar-benar meremehkanku, ya? Perkataanmu itu kejam sekali, tau."

Ia menyeringai, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Percaya atau tidak, aku ini cukup jago memasak, loh.”

Shin menatapnya tajam. "Komentarmu itu sama sekali tidak meyakinkan."

Tapi Nagumo sudah melangkah ke dapur, menggulung lengan bajunya dengan santai, memperlihatkan otot tangannya yang terdefinisi dengan sempurna, tidak berlebihan tetapi jelas menunjukkan bahwa ia bukan orang biasa. Tato-tato yang menghiasi kulitnya semakin mencolok di bawah cahaya dapur. Shin, yang awalnya ingin memprotes, malah terpaku sejenak.

Pemandangan ini… jujur saja, terlalu bagus untuk diabaikan.

Shin mengalihkan pandangan, berdeham pelan seolah ingin mengusir pikirannya sendiri. Tapi ya sudahlah, mungkin lebih baik melihatnya memasak daripada memikirkan hal-hal yang aneh.

Beberapa menit kemudian setelah Nagumo selesai memasak....

Sial, beneran lezat makanan buatannya.

Shin memakan, makanan buatan nagumo dengan pelan. Dia gengsi harus memberi tau kalau makanannya enak. Jadi ia menikmati secara perlahan sambil memicingkan mata kepada chef pagi hari itu.

Ia menatap Nagumo, yang dengan santai menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya sendiri, lalu mengangkat alis. "Kenapa? Kau tersihir oleh pesonaku lagi?"

“Sok tau."

Nagumo terkekeh, memandangi Shin yang mengunyah dengan pipi sedikit menggembung.

Astaga. Kenapa dia malah terlihat semakin menggemaskan?

"Kau ini seperti kucing liar, ya."

Shin melirik tajam ke arahnya. "Kucing liar?"

"Iya," jawab Nagumo santai. "Awalnya galak, tapi begitu diberi makanan dan sedikit perhatian, jadi manja."

Shin langsung melotot tajam. "Hei, kau bilang siapa yang galak dan manja, hah?!" serunya, sendok di tangannya hampir terangkat seperti hendak menusuk seseorang.

Nagumo tertawa kecil, mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. "Pria bernama Asakura Shin."

Shin mendengus kesal, ia mengunyah makanannya dengan lebih agresif, seolah sedang menggigit kepala Nagumo di dalam pikirannya. Dan untuk pagi ini, tanpa rahasia, tanpa ancaman, hanya ada mereka berdua, berbagi sarapan dalam kehangatan sederhana yang tidak biasa. Shin mengunyah makanannya secara perlahan, sesekali meminum susu kotaknya yang ia ambil dari kulkas. Nagumo duduk di seberangnya, makan dengan santai sambil sesekali melirik ke arah Shin.

Nagumo melirik ke arah Shin yang sedang fokus pada makanannya. Dengan nada santai, ia membuka percakapan, "Oh ya, ngomong-ngomong… kemarin kau terlihat lucu seperti biasa saat sedang streaming."

Shin, yang baru saja menyesap minumannya, langsung tersedak. "T-Tunggu, kau nonton replay stream-ku?"

Nagumo menyeringai, mengambil ponselnya dengan santai. "Yup. Reaksimu saat meminkan game itu benar-benar menghibur."

Shin mengerutkan kening, merasa tidak terima. "Aku tidak sekaget itu!"

Tanpa berkata apa-apa, Nagumo hanya menekan layar ponselnya dan dalam hitungan detik, suara teriakan Shin memenuhi ruangan. Di layar, terlihat jelas bagaimana Shin berteriak sambil melempar joysticknya saat first mita mengikuti Shin dan tiba-tiba memanjangkan lehernya.

Mata Shin membelalak. Dengan wajah merah padam, ia buru-buru merampas ponsel Nagumo.

"SIALAN! MATIKAN ITU! KAU MENYEBALKAN!"

Nagumo hanya tertawa puas, tangannya terangkat tanda menyerah. "Hahahaha oke oke, aku akan berhenti menggodamu." Ia bersandar ke kursinya, masih terkekeh kecil sebelum melanjutkan, "Tapi aku harus mengakui, streammu lumayan menghibur. Aku bisa paham kenapa banyak orang suka menontonnya."

Shin mendelik curiga. "Hah? Bukannya kemarin kau bilang aku terlalu berisik?"

Nagumo mengangkat bahu dengan santai. "Ya… aku akui aku menjilat ludahku sendiri. Tapi tetap saja, reaksi berlebihanmu itu yang bikin menarik."

Shin menggeram kesal, tapi akhirnya hanya mendengus dan kembali fokus pada makanannya. "Dasar menjengkelkan..."

Nagumo terkekeh lagi, lalu menambahkan, "Aku juga melihat siapa saja yang menyawermu. Kau cukup populer, ya? Ada beberapa nama yang sering muncul di chatmu."

Shin mendesah malas. "Ya, beberapa dari mereka memang sering menyawer. Ada yang benar-benar mendukung, ada juga yang cuma mau cari perhatian."

Nagumo menyipitkan matanya, nadanya terdengar sedikit lebih dalam. "Hoo… menarik."

Shin menoleh dengan waspada. "Apa maksudmu dengan 'menarik' itu?"

Nagumo hanya tersenyum misterius, membuat Shin semakin kesal tapi juga sedikit was-was. Shin memutar matanya dengan malas. Namun, perlahan ekspresinya berubah lebih serius. Ia menggigit makanannya tanpa semangat, lalu berkata dengan suara lebih pelan.

“Ngomong-ngomong… kapan kau akan pergi lagi?”

Nagumo berhenti mengunyah.

Shin menatap piringnya, menghindari tatapan pria itu. Entah kenapa, ia tidak ingin mendengar jawabannya.

Nagumo menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Apa kau ingin aku pergi dari sini?”

Shin buru-buru mengalihkan pandangan. "Bukan itu maksudku. Hanya… kau datang tiba-tiba, jadi aku penasaran kapan kau akan menghilang lagi."

Nagumo meletakkan garpunya, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekati Shin. “Kalau aku bilang, aku ingin tinggal lebih lama, bagaimana?”

Jantung Shin berdebar.

Ia mendongak, menatap Nagumo, tetapi pria itu hanya tersenyum santai seolah tidak mengatakan sesuatu yang berarti. Shin buru-buru meneguk minumnya, berusaha mengalihkan rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya.

“Terserah kau saja.”

Untuk sesaat, hanya suara piring dan sendok yang terdengar. Shin tidak ingin mengakuinya, tetapi memikirkan Nagumo pergi membuat dadanya terasa sedikit sesak. Ia tidak tahu kapan pria itu akan benar-benar pergi. Dan yang lebih buruk… Ia tidak tahu kenapa ia merasa tidak ingin ditinggalkan.

Nagumo mengangkat alis. “Kau belum menjawab, Shin.”

Shin terdiam. Ia menggigit bibirnya pelan, tatapannya menunduk ke arah meja, tetapi pikirannya melayang ke tempat lain. Sejak kuliah, ia sudah terbiasa sendirian.

Tidak ada keluarga yang menunggunya pulang. Tidak ada suara yang memenuhi apartemennya selain suara game dan keyboard yang terus-menerus ia tekan. Shin menutup matanya sebentar. Lalu, dengan suara pelan, ia akhirnya berkata.

“Ugh…Aku tidak akan menyuruhmu pergi.”

Nagumo menatapnya beberapa detik. Lalu, pria itu tersenyum hingga matanya menyipit. Dengan santai, ia mengulurkan tangan dan mengacak rambut pirang Shin.

"Senang mendengarnya." Suara Nagumo terdengar lembut, lebih lembut dari biasanya.

Shin mencibir, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memanas. "Berhenti mengacak rambutku, dasar bodoh."

Nagumo hanya tertawa, lalu berbalik mengambil gelasnya. "Aku akan pergi kalau kau benar-benar menyuruhku."

Shin terdiam.

Matanya memandang punggung Nagumo yang sedang menuju ke wastafel, lalu tanpa sadar menggenggam erat sendok di tangannya. Entah kenapa, ia tidak ingin mengucapkan kata-kata itu. Ia hanya berharap Nagumo tetap di sana. Untuk sedikit lebih lama.

Setelah sarapan, Shin membanting tubuhnya ke sofa dengan ekspresi bingung. iPadnya tergeletak di meja di depannya, sementara jarinya sibuk menggulirkan daftar game di steam yang ingin dibeli, tapi ia malah semakin bimbang. Nagumo, yang baru selesai merapikan meja makan, berjalan mendekat dengan secangkir kopi di tangannya. Ia bersandar di punggung sofa, menatap layar iPad yang dipandangi Shin dengan alis terangkat.

"Kenapa ekspresimu seperti anak kecil yang bingung memilih es krim?" sindirnya, meniup kopi sebelum meminumnya.

Shin mendesah frustasi. "Aku sedang bingung mau main apa. Aku kepikiran dua game, Pocket Mirror atau The Silent Hills 2. Argh aku bingung, aku rindu memainkan puzzle rpg horror tapi aku belum pernah memainkan The Silent Hills 2 dan sangat ingin memainkannya."

Nagumo melirik layar. "Terus kenapa tidak langsung mainkan saja keduanya sekaligus?"

Shin menggembungkan pipinya. "Kau ingin aku mati dengan memainkan dua game sekaligus huh? Hmm tapi sepertinya aku akan memainkan Pocket Mirror terlebih dahulu karena harga game The Silent Hills 2 agak mahal… jadi mungkin aku akan membelinya nanti.”

Nagumo menatapnya sebentar sebelum tertawa kecil. Ia meletakkan kopinya di meja, lalu tanpa aba-aba, ia mengambil iPad Shin dengan santai.

"Heh? Hei, jangan sembarangan sentuh!"

Terlambat. Dalam hitungan detik, jari-jari lincah Nagumo sudah bergerak di layar, membuka iPad milih Shin dengan mudah seolah itu miliknya sendiri.

Shin kaget. "Kau! Apa yang kau lakukan?!"

Tanpa menggubris teriakannya, Nagumo tetap fokus menekan beberapa menu hingga akhirnya sampai ke halaman friendlist dan tanpa ragu, menambahkan dirinya ke daftar teman Shin.

Shin yang menyadari hal itu langsung merebut kembali iPad-nya dengan ekspresi geram. "Dasar tangan usil! Kau pikir ini milikmu, hah?!"

Nagumo hanya tersenyum licik melihat wajah kesal Shin yang merah padam, seakan ingin menggigitnya hidup-hidup. "Yah, sekarang kita sudah berteman di steam... Lumayan, kan?"

Shin mendengus, dengan cepat mengecek daftar teman di layarnya, memastikan apakah ada hal lain yang diutak-atik oleh pria itu. Sementara itu, Nagumo yang masih tersenyum santai mengambil ponselnya sendiri. Dengan beberapa ketukan di layar, ia membuka aplikasi steam dan masuk ke menu pembelian.

Tak lama kemudian...

Ding!

Notifikasi Gmail muncul di layar iPad Shin.

You've received a gift copy of the game Silent Hill 2 - Digital Deluxe on Steam.

Your friend nagum0 has given you Silent Hill 2 - Digital Deluxe on Steam.

Click the button below to accept this gift and add it to your Library.

Shin membelalakkan mata. Ia menatap layar iPad, lalu beralih menatap Nagumo yang sedang meminum kopinya dengan ekspresi puas.

"H-HAH? K-KAU SERIUS?!"

Sebelum Nagumo sempat menjawab,

Notifikasi lain muncul.

You've received a gift copy of the game Pocket Mirror ~ GoldenerTraum on Steam.

Your friend nagum0 has given you Pocket Mirror ~ GoldenerTraum on Steam.

Click the button below to accept this gift and add it to your Library.

Shin nyaris menjatuhkan iPad-nya. "TUNGGU, APA MAKSUDNYA INI?!"

Nagumo hanya menyeringai. "Yup. Kan kau mau main, bukan?"

Shin terdiam, otaknya masih berusaha memproses. Jari-jarinya menggenggam iPad lebih erat, sementara wajahnya perlahan memanas. "Aku bisa beli sendiri kalau mau, tahu!"

"Tapi kau tidak membelinya." Nagumo terkekeh, lalu dengan santai mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Shin, gerakan yang membuat Shin mendongak tajam, seperti anak kucing yang baru saja dikagetkan. "Sudah, tinggal main. Aku ingin melihatmu memainkannya."

Shin mengerang frustasi, tetapi tatapannya tetap terpaku pada layar iPad-nya, seakan masih tidak percaya bahwa game yang diinginkannya kini ada di sana. Perlahan, alisnya bertaut curiga.

Shin makin terkejut. "T-Tapi ini mahal! Kau pikir aku ini siapa? Pacarmu?!"

Nagumo mendekat, menyeringai lebih lebar. "Boleh saja."

Jantung Shin langsung melompat. Wajahnya semakin panas.

Nagumo mengambil paksa iPad itu dan menaruhnya di meja, lalu bersandar lebih dekat ke arah Shin, membuatnya sedikit terdorong ke sudut sofa. Tatapan pria itu tampak sedikit nakal saat ia mengangkat dagunya.

"Tapi aku tidak memberi sesuatu secara gratis, Sayangku," ujarnya santai.

Shin menelan ludah. "…huh apa maksudmu?"

Nagumo menunjuk pipinya. "Sebagai bayaran, kau harus menciumku dulu."

Shin langsung tersedak udara. "HAH?!"

Nagumo tertawa ringan. "Apa? Cuma pipi, kok. Bukan sesuatu yang besar, kan?"

Shin menatapnya tidak percaya. "Kau pikir aku ini anak kecil yang bisa disuap dengan hadiah?!"

Nagumo mengangkat bahu. "Terserah. Kalau tidak mau, ya silahkan hapus emailnya."

Shin mendadak terdiam. Tangannya langsung mencengkeram erat hoodienya, menatap Nagumo dengan ekspresi terkejut seolah pria itu baru saja mengancam kehidupannya.

"…Kau benar-benar iblis," gumamnya.

Nagumo hanya tersenyum, menikmati wajah merah Shin yang kini semakin merah seperti tomat matang. Shin menggigit bibirnya, lalu memejamkan mata sebentar untuk menenangkan diri. Setelah menarik napas dalam, dengan wajah cemberut, ia akhirnya mendekat dan–

Chu.

Sebuah ciuman cepat mendarat di pipi Nagumo. Nagumo membeku sejenak. Lalu, bibirnya perlahan melengkung membentuk seringai. Shin langsung mundur dengan ekspresi terguncang, menutupi wajahnya dengan satu tangan.

"DIAM. JANGAN KOMENTAR," serunya dengan panik.

Nagumo hanya terkekeh, matanya berbinar penuh kemenangan. "Hahaha, okay. Tapi itu manis sekali, dasar kau ini."

Shin ingin melempar bantal ke wajah pria itu, tapi ia terlalu sibuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Sementara itu, Nagumo hanya bersandar santai di sofa, menikmati ekspresi malu-malu bocah yang diam-diam sudah mencuri hatinya sejak awal. Dengan suara manja, Nagumo mendekatkan diri ke tubuh Shin yang lebih kecil darinya, menempelkan dirinya kepada tubuh shin sambil menggembungkan pipinya seperti anak kecil yang meminta perhatian.

"Aaaa kenapa kau suka bermain game yang aneh-aneh? Kenapa gak main sudoku saja sih."

Shin, yang baru saja membuka steam di iPad-nya, langsung memutar bola matanya dengan malas. "Sudoku? Serius? Itu terlalu mudah," ujarnya dengan nada meremehkan.

Nagumo tersenyum licik. "Oh ya? Berarti kau tidak akan keberatan kalau kita bertanding, kan?"

Shin meliriknya sekilas, sedikit curiga dengan nada percaya diri pria itu. "Hmph. Oke, ayo kita bertanding." Ia menyeringai menantang. "Dengan syarat bahwa yang kalah harus melakukan apa yang pemenang inginkan."

Tanpa ragu, Nagumo mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Shin sebagai tanda kesepakatan. "Oke, sayang. Tantanganmu aku terima."

Shin mendengus, lalu bertanya, "Kita main di device siapa?"

"Kita gunakan saja dua device. Kau mainkan punyaku, dan aku mainkan punyamu," jawab Nagumo santai.

Mereka akhirnya mengambil posisi masing-masing di sofa. Shin menyerahkan iPad-nya kepada Nagumo, sementara ia menerima ponsel pria itu. Begitu permainan dimulai, keheningan memenuhi ruangan, hanya diiringi oleh suara jemari mereka yang mengetuk layar dengan cepat.

Shin menggigit bibirnya, matanya terpaku pada layar. Ia terbiasa bermain game yang lebih rumit dari ini, tapi tingkat kesulitan hard di Sudoku tetap saja membutuhkan konsentrasi penuh. Sesekali, ia melirik Nagumo yang tampak serius, alisnya sedikit berkerut, bibirnya melengkung tipis seolah menahan diri untuk tidak menggerutu.

"Heh, kau kesulitan?" ejek Shin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.

"Enggak juga~" jawab Nagumo dengan nada santai, meskipun ekspresi frustasi di wajahnya mulai terlihat. "Aku hanya menikmati ekspresi fokusmu yang menggemaskan ini."

Shin mengernyit, pipinya sedikit memanas. "Hentikan ocehanmu dan fokuslah pada permainan."

Tak butuh waktu lama sebelum akhirnya…

"Aku menang," kata Shin dengan senyum puas, meletakkan ponsel Nagumo di atas meja.

Nagumo menatap iPad di tangannya yang masih belum selesai. Ia mendesah dramatis, lalu meletakkannya di atas meja. "Hahh, baiklah, baiklah. Kau menang, cantik. Lalu, apa permintaanmu?"

Shin berpikir sejenak, lalu menatap Nagumo dengan mata menyipit. Ia sejujurnya ingin meminta pria itu untuk mencium- tidak, tidak, pikirannya terlalu kotor. Ia buru-buru menghapus pikirannya yang aneh-aneh dan kembali ke tujuan awalnya.

"Aku ingin kau memberitahuku tentang asal-usulmu."

Nagumo mengangkat sebelah alisnya. "Oh? Itu saja? Seperti yang sudah aku tebak."

Shin menyilangkan tangannya, menunggu jawaban.

Nagumo menghela napas, lalu mulai berbicara, "Yah, aku sudah mengatakannya kemarin, tapi baiklah, akan kuulang. Aku seorang pembunuh."

Shin tetap diam, membiarkan Nagumo melanjutkan.

"Niat awalku adalah membunuh seseorang yang tinggal di apartemen ini. Tapi aku tidak menemukannya, dan sebagai gantinya, aku malah menemukanmu." Ia tersenyum tipis. "Seharusnya aku juga membunuhmu karena kau telah melihat wajahku, tapi aku mengurungkan niatku untuk itu."

Shin menghela napas cukup dalam, ia mendongak keatap dan menutup matanya memproses apa yang nagumo katakan. Lalu ia menatap Nagumo dengan ekspresi bingung. Matanya sedikit menyipit, mencoba mencari celah kebohongan di wajah pria itu. Namun, alih-alih menemukan tanda-tanda bahwa Nagumo hanya bercanda, yang ia lihat hanyalah ketulusan yang aneh.

“…Kau bercanda, kan?” Shin mendengus, berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang mulai tak beraturan.

Nagumo hanya tersenyum, kali ini tanpa nada menggoda atau ejekan seperti biasanya. Ia perlahan mengulurkan kedua tangannya, menyentuh pipi Shin dengan gerakan lembut yang bertolak belakang dengan profesinya.

“Sayang, apa aku terlihat seperti sedang bercanda?” bisiknya.

Jari-jarinya yang panjang membelai pelan pipi Shin, membuat pria itu terdiam. Shin mengerjap, merasa tubuhnya menegang tanpa bisa dikendalikan. Ia ingin menjauh, tapi di sisi lain, tubuhnya tetap terpaku di tempatnya seolah menerima sentuhan itu dengan begitu alami.

“…Aku tidak mengerti,” gumam Shin, suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya.

Nagumo terkekeh kecil. “Tak perlu mengerti. Kau hanya perlu tahu satu hal, Shin-ku sayang, aku tidak akan pernah membunuhmu.”

Shin menggigit bibirnya, mencoba memahami perkataan itu.

“…Lalu, apa yang akan kau lakukan denganku?” tanyanya akhirnya.

Pria berambut hitam itu tersenyum lebih lebar, kemudian tanpa peringatan, ia menarik tubuh Shin ke dalam pelukannya.

“Memilikimu,” bisiknya tepat di telinga Shin.

Shin tersentak, wajahnya langsung memanas. “B-Bodoh! Jangan bicara seperti itu!” Ia mencoba mendorong Nagumo, tapi pria itu justru semakin mempererat pelukannya, membuat tubuh mereka semakin dekat.

“Aku serius,” ujar Nagumo, suaranya terdengar lebih dalam dari biasanya. “Aku akan melindungimu, tetap di sisimu, dan memastikan tidak ada yang bisa menyentuhmu.”

Shin bisa merasakan detak jantung Nagumo yang stabil di dadanya, berbanding terbalik dengan detak jantungnya sendiri yang berantakan. Tangannya yang awalnya ingin mendorong justru terdiam di dada Nagumo.

“…Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayai seorang pembunuh,” ucapnya akhirnya.

Nagumo hanya tersenyum kecil, menundukkan kepalanya hingga dahinya menyentuh dahi Shin. “Kalau begitu, aku akan membuatmu percaya.”

Shin menahan napas, wajahnya semakin memerah. Ia benci bagaimana pria ini bisa membuatnya kehilangan kata-kata.

“Dasar bajingan…” gumamnya.

Nagumo tertawa kecil, tetapi matanya tetap tertuju pada pria di hadapannya. Dalam cahaya ruangan, kulit Shin tampak begitu lembut, rona merah di pipinya menghiasi kulitnya yang indah. Mata birunya, yang biasanya dipenuhi sorot tajam, kini tampak berkilau dalam kebingungan dan semua mengenai hal Shin terlihat semakin menarik di mata Nagumo.

Ah… Cantik sekali, pikir Nagumo.

Dengan gerakan lembut, ia mengusap kepala Shin, jarinya menyusuri helaian rambut pirang itu sebelum akhirnya menenggelamkan pria itu kembali dalam kehangatan pelukannya. Tubuhnya kecil dibanding dirinya, tetapi justru itulah yang membuatnya ingin melindunginya lebih dari apa pun. Ia tidak peduli lagi tentang targetnya. Karena sekarang, satu-satunya hal yang ada dalam pikirannya adalah pria yang ada di pelukannya ini.

Nagumo tersenyum miring. “Aku akan terus bersamamu.”

Shin tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan genggamannya pada baju Nagumo, lalu menutup matanya, menikmati setiap detik dari kehangatan ini. Tanpa mereka sadari, mungkin… sejak awal mereka bertemu, takdir sudah mempermainkan mereka dengan cara yang tidak terduga.