Work Text:
Di tengah keramaian Pondok Pesantren Al-Hikmah, suasana Ramadhan begitu terasa. Semua santri sibuk mempersiapkan diri untuk menjalankan ibadah puasa dengan semangat. Namun, ada dua santri tampil berbeda dari yang lainnya. Rangga, dengan gaya slengekannya yang khas dan wajah penuh kelucuan, selalu mendapatkan perhatian. Sementara itu, Bisma—santri teladan yang sangat disayangi para ustadz— baru saja terpilih menjadi mu'adzim untuk sholat. Namun, ketenaran Bisma tak selalu membawa keuntungan; ia sering dicibir oleh santri dari pondok sebelah hanya karena gelar tersebut.
Suatu sore yang cerah, Rangga dan Bisma sedang berada di teras masjid. Mereka baru selesai belajar mengaji dan sedang bercanda. Rangga, dengan wajah serius dan nada mengada-ngada, berkata, "Bis, menurut lo, kalau bulan puasa ada dosanya, bisa ditanya sama Dukun Puasa, kagak, ya?"
Bisma hampir tersedak karena tertawa. "Lho, Rangga, masa dukun puasa? Itu kan kadang-kadang jadi mitos yang kagak ada di kitab suci!"
Rangga menggaruk-garuk kepalanya, "Tapi, berita tentang dukun puasa itu kan menarik, ya? Katanya dia bisa bikin puasa jadi lebih mudah."
"Sa ae lu, Rang! Tapi yang penting, kita harus menjaga niat baik," jawab Bisma sambil tersenyum.
Tak jauh dari tempat mereka duduk, Ustadz Ali, pengajar mereka, terlihat sedang membereskan buku-buku dan alat tulis. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. "Ayo, anak-anak! Mari berkumpul, aku punya sesuatu yang menarik untuk kalian!"
Dengan cepat, Rangga dan Bisma berlari mendekat. "Apa yang menarik, Ustadz?" tanya Rangga sambil melompat-lompat penuh semangat.
Ustadz Ali tersenyum dan mengeluarkan sebuah benda dari tasnya yang terlihat sangat tua dan berdebu. "Ini adalah kitab kuno yang mengandung ilmu pengetahuan yang luar biasa. Katanya, jika kalian bisa memahami isi kitab ini, kalian bisa menemukan kekuatan untuk melakukan perjalanan waktu."
Rangga terbelalak. "Perjalanan waktu? Berarti kita bisa pergi ke zaman Nabi Muhammad SAW! Bayangkan, kita bisa belajar langsung dari beliau!"
Bisma, meskipun skeptis, ikut bersemangat. "Tapi, Ustadz, bagaimana kita bisa yakin itu benar?"
Ustadz Ali hanya tersenyum bijak. "Yang terpenting adalah niat kalian untuk belajar dan mengamalkan ilmu yang baik. Sekarang, coba kalian buka halaman pertama dan lihat apa yang ada di dalamnya."
Dengan penuh rasa ingin tahu, Rangga dan Bisma membuka kitab tersebut. Halaman demi halaman tertulis dengan kaligrafi yang sangat indah dan penuh dengan pengetahuan. Mereka membaca, memahami, dan terkagum-kagum dengan tulisan-tulisan yang ada, terutama bagian yang menjelaskan tentang "Kekuatan Niat" yang diyakini bisa membawa mereka ke masa lalu.
Bisma berbisik, "Rang, kita kudu coba ini! Kita gunain niat yang baik, dan semoga Allah ngasih kita barokah perjalanan kita!"
Rangga mengangguk bersemangat. "Baik, kita pilih salah satu tempat yang menunjukkan masa lalu yang indah, kayak masjid Nabawi!"
Setelah mengucapkan niat yang tulus, Rangga dan Bisma merasa tubuh mereka bergetar dan tiba-tiba menghilang. Ketika mereka membuka mata, mereka sudah berada di tengah-tengah padang yang luas dan indah dengan ubin masjid berkilau di bawah sinar matahari.
"Kita berhasil! Kita benar-benar berada di masa lalu!" teriak Rangga, menggeliat kegirangan.
Bisma mengamati sekeliling. "Tapi kita kudu hati-hati ya, Rangga. Kita kagak boleh mengganggu berjalannya sejarah."
Keduanya mulai menjelajahi tempat tersebut. Mereka melihat orang-orang yang begitu bahagia, berkumpul dan saling menyapa. Bisma melihat sekelompok anak kecil yang sedang bermain di halaman masjid. "Rangga, ayo kita ikut bermain!"
Rangga sangat senang. "Ayo! Kita akan membuat mereka ketawa!"
Mereka berlari ke arah anak-anak dan memperkenalkan diri. Rangga dengan cepat mulai menampilkan akrobat dan lelucon konyol, sementara Bisma menyanyi dengan suara merdu yang mengundang tepuk tangan riuh dari energi ceria anak-anak.
Namun, tanpa disadari, seluruh kejadian tersebut menarik perhatian seorang ulama tua yang sedang memperhatikan dari kejauhan. Ketika dia mendekat, Rangga dan Bisma merasa canggung.
“Siapa kalian, dan dari mana?” tanya ulama itu tegas.
Bisma menjawab dengan sopan, "Kami dari jauh, ingin belajar tentang cara beribadah dengan lebih baik, dan kami ingin membuat orang-orang di sini bahagia."
Ulama itu mengangguk perlahan. "Baiklah, jika niatmu tulus, lanjutkan. Namun, ingatlah, kebahagiaan yang sejati berasal dari hati yang ikhlas."
Mendengar hal itu, Rangga berakting seperti Usain Bolt dan berlari keliling sambil berteriak, “Ya Allah! Tolong saya jadi sprinter! Nanti saya jadikan ini olahraga Ramadan!”
Bisma hanya memegang wajah dan merasakan malu, tapi tak bisa menahan tawa.
Hari itu berlalu dengan penuh tawa dan pembelajaran, hingga akhirnya mereka merasakan getaran kembali dan seiring itu, tubuh mereka kembali menghilang.
Saat mereka terbangun kembali di teras masjid Pondok Pesantren Al-Hikmah, Bisma dan Rangga merasa lebih dekat satu sama lain. Mereka telah belajar tentang niat dan kebahagiaan yang sebenarnya datang dari memberi dan berbagi.
"Rangga, Lo tetap humoris walau berada di sana, ya?" tanya Bisma.
Rangga menjawab dengan percaya diri, "Ha, itu ciri khas gue! Toh, jika kita bahagia, orang lain juga akan ikut bahagia. Dari sekarang, kita harus berusaha untuk membagikan kebahagiaan ini kepada semua santri, terutama saat Ramadhan!"
Bisma mengangguk setuju. “Kan kita di Rohis, kita harus bawa positive vibes kemana-mana!”
Keduanya saling tersenyum, merencanakan berbagai kegiatan seru untuk menyambut Ramadhan yang penuh berkah di Pondok Pesantren Al-Hikmah.
Dalam petualangan yang tidak terduga itu, mereka menemukan bahwa kadang-kadang, ilmu paling berharga berasal dari niat yang tulus dan kebahagiaan yang dibagikan. Dan mungkin, mereka tidak hanya menemukan mesin waktu, tetapi juga menemukan jalan menuju hati mereka sendiri.
