Work Text:
Bagi Kei, dunia sungguh tidak adil. Jutaan tanya tanpa jawab hadir setiap detik dalam kepalanya. Memenuhi benak bagai aliran air yang terus menuju ke laut, bercampur dalam riuh ombak lautan yang tak terbayang luasnya. Membentuk kusut yang sulit diuraikan.
'Mengapa aku seorang Omega?'
Mengapa manusia harus memiliki gender keduanya?'
Mengapa kami harus terikat seumur hidup?'
Mengapa ada cinta di dunia ini?'
'Bahkan saat pasangan hidupmu sudah ditentukan sejak lahir.'
'Apakah karena ibuku, seorang Omega yang mencintai seorang Beta?'
Apakah karena gender utama saja tak cukup?'
Apakah karena manusia adalah makhluk yang tak kenal rasa cukup?'
'Apakah untuk memberikan rasa sakit pada manusia?'
Seluruh tanya hanya dapat bergema dalam benaknya, menjadi suara imajiner yang selalu sempat hadir saat Kei lengah. Bersahutan dengan riuh tanpa membawa jawab untuk memberi titik terang. Membiarkan Kei semakin tersesat dalam labirin semu yang seolah tak memiliki jalan keluar di kepalanya.
***
Tsukishima Kei, Omega berusia 25 tahun, yang kini bekerja sebagai seorang barista di sebuah cafe, tempat sederhana yang Ia temukan di hari dirinya memilih mundur dari tempatnya bekerja selama tiga tahun. Sebuah keputusan besar yang jelas memengaruhi hidup pemuda jangkung itu. Kei hanya dapat bersyukur saat keputusannya didukung penuh oleh keluarga dan seluruh sahabatnya.
“Loh, kakak pernah kerja di perusahaan itu?! Kok sekarang di sini?” — adalah pertanyaan yang cukup sering Kei dapatkan, surai kuning keemasannya akan bergerak lembut mengikuti gelengan kepalanya saat berbagai tebakan diarahkan tentang 'Alasan seorang Tsukishima Kei memilih resign dari pekerjaan sebelumnya'
“Pasti karena tempatnya toxic!”
“Oh! atau underpaid?!”
“Tau nih aku, pasti karena ada Alpha brengsek kan kak?!”
Kei menghentikan jawaban berulangnya, senyum tipis yang awalnya terukir manis di wajahnya pun perlahan menghilang, tak lagi mampu menutupi tatap sedihnya saat teringat alasan utamanya mundur dari pekerjaan impian sejak duduk di bangku SMA, “Haha, ngga lah kak, ada alasan pribadi aja. Kakak gimana kopinya hari ini?”, senyum kembali hadir, menemani topik baru yang jelas merupakan pengalih perhatian payah, hasil cepat yang dapat terpikirkan oleh Kei saat ini.
Benar, Tsukishima Kei melepas mimpinya karena seorang Alpha, seseorang yang begitu dicintainya selama hampir 10 tahun lamanya, menjadi bagian penting dalam perjalanannya meraih mimpi. Seseorang yang dulu membawa tawa dan ketenangan dalam hidupnya. Seseorang yang nyatanya bukan milik Kei sepenuhnya, meski 10 tahun sudah mereka lewati bersama sebagai sepasang kekasih dengan penuh kebahagiaan.
Karena Alphanya, bukanlah mate-nya. Karena Alphanya, milik seorang Omega cantik bernama Keiji. Karena Alphanya, Kak Bokuto Koutaro, adalah mate dari Akaashi Keiji, Omega yang merupakan senior Kei di tempatnya bekerja, tempat impian Kei yang selalu Ia ceritakan pada Bokuto.
Lalu bagaimana Kei harus bertahan? Saat cintanya direnggut paksa oleh takdir di hadapannya, di tempat yang merupakan pandangan Kei satu-satunya selama hidup, terlebih saat cintanya dimiliki penuh oleh senior terdekatnya, seseorang yang sudah Ia anggap sebagai kakak. Semua hadir bagai badai yang menumbangkan kokohnya benteng milik Kei, meratakan pertahanannya seolah Kei tak layak memilikinya, membuat raga bahkan lisan Omega cantik itu terdiam penuh tanpa dapat merespon.
Satu bulan terasa seperti selamanya, begitu sesak dan menyiksa untuk Kei, seolah waktu mencoba memberi dirinya rasa sakit bertubi – tubi setiap harinya. Di hari terakhir Kei bekerja, Keiji memeluk tubuhnya erat, rengkuhnya tak lagi terasa menenangkan bagi Kei, terlebih kini sosoknya dipenuhi feromon yang dahulu merupakan kepemilikannya, “Kei, I'm so sorry, please forgive me and especially him.” ucap Keiji pelan, namun tanpa sengaja berhasil menoreh luka baru untuk Kei.
“I'm not an angel like you, Kak. But I'll try. Kalian gak salah, kok.” balas Kei, berbisik. “Selamat buat pernikahannya nanti ya kak. Salam untuk Kak Kou. Aku gak yakin aku bisa datang soalnya.” lanjutnya singkat, dengan ucapan tanpa doa yang mengiringi, karena Kei tidak sanggup membawa dirinya untuk berbohong pada Keiji, pun pada dirinya sendiri. Karena Kei tidak ikut berbahagia, karena Kei tau Ia tidak mampu dengan tulus mengirim doa, dan Keiji memahaminya. Sangat.
***
“Kalau Kei yang buat, rasa kopinya jadi lebih enak, deh!” puji Shoyo, sahabat sekaligus pelanggan setia Kei.
“Stop sweet talk, Boncel.” balas Kei, masih dengan kesibukannya membersihkan mesin kopi yang baru saja Ia gunakan, kebiasaan kecil yang baru Kei dapatkan setelah enam bulan bekerja sebagai barista.
“Apaan, beneran tau! Nanti gue bawa anak kantor deh buat buktiin! Sekalian, kali aja ada yang nyantol buat lo, Kei!” Shoyo berujar riang, antusiasnya membuncah saat idenya dirasa sangat menarik. Senyuman lebar hadir menampakkan kebahagiaan, berbanding terbalik dengan raut Kei yang justru terlihat datar.
“Gak dulu, gak minat.” balas Kei singkat, memilih pergi meninggalkan slow bar tempat Shoyo duduk dan beralih ke kasir saat pandangannya menangkap sosok jangkung datang, melangkah masuk ke area cafe dengan feromon layaknya biji kopi yang baru saja dibakar, pekatnya bahkan jauh lebih kuat dari kopi yang baru saja Kei buat, menguar cepat ke seluruh penjuru ruang hingga Kei merasa sesak, “Tuhan, Alpha gila mana yang lepasin feromon di tempat umum?” keluhnya, diikuti netra coklat yang berputar di balik bingkai tebal kacamatanya.
Setiap langkah yang diambil si pelanggan menuju ke arah Kei, membuat sang Omega semakin gelisah, terhitung tiga kali sudah Kei meneguk liurnya, coba telan seluruh rasa yang timbul sebagai reaksi dari feromon yang menguar, dan Kei berani bersumpah, seluruh tubuhnya nyaris berakhir di lantai saat sosok Alpha berferomon pekat kopi itu tiba tepat di hadapannya.
“Ekhem, excuse me, but maybe you want to tone it down a little bit? your strawberry pheromones is all around the place.“
Kei terkesiap, pandangannya yang semula tertuju pada mesin kasir beralih menatap legam milik sang Alpha dengan banyak kata cibiran yang siap mengudara dari bilah bibirnya, namun terpaksa berhenti bahkan saat Kei belum sedikitpun membuka mulutnya.
Karena bagaimana Kei sanggup mencibir, saat kepalanya dipenuhi kilasan masa depan antara dirinya dan pria di hadapannya? Saat raganya seolah lupa bagaimana caranya bergerak ketika netra gelap malam menatapnya dengan puja? Ini jelas pertemuan pertama, namun Kei seolah mengenal, memahami, bahkan mencintai segala hal yang ada pada pria di hadapannya. Ini jelas yang pertama baginya, tapi Kei sudah sangat memahaminya. Ia bertemu mate-nya. Enam bulan sejak berakhirnya hubungan percintaannya. Enam bulan yang Ia habiskan untuk mengutuk takdir.
Lalu apakah seluruh lukanya telah hilang?
***
Bertemu dengan mate-nya tentu tidak termasuk dalam rencana tahunan seorang Tsukishima Kei. Dirinya jelas belum siap kembali menjalani hubungan romansa. Hubungan yang seharusnya seimbang, hubungan yang seharusnya memberi tawa dan damai, hubungan yang seharusnya tidak ada yang terluka maupun melukai.
Namun apa yang dapat Kei lakukan untuk melawan takdir? Tidak ada.
Hatinya jelas mendamba sang Alpha, namun seolah rantai yang mengekang, jutaan kenangannya bersama Koutaro seolah menariknya, mencegah Kei meraih cintanya, meraih bahagianya yang telah takdir berikan.
“Kei, gimana kamu suka gak sama cake-nya? Jago kan aku cari tempatnya?”
“Kei! pasti kamu suka kan? Ini cake kesukaan kamu!”
“Suka banget Kak K-Kuroo, terima kasih, ya.” 'Karena sialnya ini tempat favorit Kei sama Kak Kou dulu.'
“Kei, Moonshine, gimana udah enakan belum badan kamu? Mau scenting sama kakak gak? Hahaha, maaf bercanda aja kok.”
“Hey, hey, pacar aku! Kok bisa sih pacar Bokuto Koutaro sakit begini?! Gak bisa dibiarin! Sini, sini, scenting sama aku!”
“Hahaha, sudah gak apa-apa kok kak. Tapi aku mau dong... itu... scenting, boleh?”
Melakukan pendekatan, berkencan, berbincang ringan untuk lebih mengenal satu sama lain, atau kegiatan lainnya yang biasa para pasangan di luar sana lakukan. Tak peduli banyak waktu yang diberikan Kei untuk Tetsurou—sang Alpha, tak peduli banyaknya usaha Tetsurou untuk membawa tawa hadir dalam bincang keduanya. Bagi Kei, seluruh hal yang mereka lakukan, seolah kutukan yang menyelubunginya, seolah tapak berduri yang coba Ia lewati dengan genggam Tetsurou bersamanya.
***
“Kei...” Rengkuh lembut melingkar di pinggangnya, mengusap lembut perut Kei yang kian membesar, “I love you.“
“I will love you back, Kak Tetsu. I know I will. So will you wait for me?“
Satu tahun sudah Kei menikah dengan Tetsurou. Namun luka lamanya terlalu dalam. Kei perlu waktu lebih untuk benar – benar memberikan cintanya untuk Tetsurou.
“Of course, baby. I will harvest my strawberries happily when the time comes.“
Dan Tetsurou, bersedia menunggu selama apapun itu untuk Omeganya.
.
.
—fin, Seravanie.
