Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-03-05
Completed:
2025-03-05
Words:
2,585
Chapters:
2/2
Comments:
2
Kudos:
6
Hits:
76

Mille-feuille

Summary:

Mille-feuille; thousand leaves.
Seperti judulnya, fanfic yang satu ini akan menampung random short fiction mengenai Kazuma dengan Hokuto.

Chapter 1: Nox

Chapter Text

Kazuma masih memikirkan bagaimana mereka berdua—dia dan Hokuto—berakhir dalam kondisi saat ini; berbagi tempat di atas ranjangnya dan berusaha untuk tidur. Suara tetesan hujan masih terdengar dari luar. Dari bunyinya, nampaknya masih deras. Bahkan mungkin jauh lebih deras dari tadi, saat malam belum larut, saat mereka masih berada di toko buku.

***

Hari itu merupakan hari perilisan volume terbaru dari serial komik yang cukup lama Kazuma nantikan. Sayang, Ia memiliki jadwal pemotretan majalah bersama rekan satu grupnya, hingga Ia hanya bisa mengunjungi toko buku sepulang dari sana.

"Pantas saja mood-mu terlihat sangat bagus sedari tadi," gurau Hokuto.

"Benar, saking bersemangatnya, dia bahkan sampai kena tegur karena berkali-kali terlalu banyak tersenyum," celutuk Makoto. Kazuma hanya tersenyum kecut. Fotografernya memang sempat menegurnya beberapa kali tadi. Bagaimana tidak? Seharusnya Ia memperlihatkan wajah seriusnya, namun malah kelepasan tersenyum setiap membayangkan komik yang akan dibelinya nanti.

"Mau pergi bersama?" Entah angin apa, Hokuto tiba-tiba menawarkan diri untuk menemaninya. Melihat reaksi yang diberikan Kazuma, pemuda kelahiran Miyazaki itu buru-buru menambahkan. "Kebetulan ada buku yang ingin kubeli juga,"

"Ah, begitu," Kazuma mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau begitu, kita pergi setelah ini?"

"Oke,"

***

Kedua pemuda itu mematung di depan toko. Langit sudah benar-benar gelap dan hujan masih juga belum berhenti—parahnya lagi, hujan ini cukuplah deras. Hokuto menghela napas. "Bahkan tak ada satupun taksi yang lewat," keluhnya.

Ia kemudian memandang ke arah langit yang tampaknya sama sekali tidak berbelas kasihan pada mereka berdua. "Bagaimana kalau hujannya tidak berhenti sampai pagi?"

"Mau... menginap di tempatku?" Ragu-ragu Kazuma menawarkan ide tersebut. Bukan tanpa alasan, tapi memang rumahnya hanya berjarak beberapa blok saja dari toko buku tersebut. "Lagipula, besok kita free 'kan?"

Hokuto menoleh ke arah rekan vokalisnya di The Rampage itu. Usulan dari Kazuma bukanlah hal yang buruk—bahkan, bisa dibilang itu satu-satunya jalan keluar terlogis saat ini. Apartemennya cukup jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Menerobos hujan menuju tempat tinggalnya jelas sangat tidak mungkin. Ia bisa saja pergi menuju halte bus terdekat, namun akan berbahaya jika identitasnya sampai ketahuan.

"Apa tidak merepotkan?" tanya Hokuto. Pertanyaan yang sebenarnya hanya ucapan basa-basi karena Ia berharap bisa menumpang setidaknya semalam ini saja di sana.

"Sama sekali tidak merepotkan!" sahut Kazuma. "Kebetulan ibuku juga sedang di Osaka sekarang. Kau bisa tidur di kamarku dan aku akan tidur di kamar ibuku,"

Hokuto menarik napas lega. "Kalau begitu, aku terima tawarannya,"

Kazuma melirik ke arahnya kemudian ke arah jalanan yang basah dijatuhi tetesan hujan. "Tapi, kita harus menerobos hujan terlebih dahulu, tidak apa-apa?"

Hokuto menyeringai kecil. "Hujan begini sih kecil,"

Kazuma terkekeh mendengarnya. Ia kemudian memberi isyarat aba-aba pada Hokuto sebelum keduanya lantas berlari menembus tetesan air hujan yang mengguyur mereka dengan derasnya.

***

Kazuma melemparkan handuk putih yang langsung ditangkap oleh Hokuto. "Mandi duluan sana, aku akan membawa baju ganti untukmu,"

Hokuto hanya tersenyum seraya mengangguk. "Thanks,"

***

"Kazuma, aku sudah selesai. Kau bisa menggunakan kamar mandinya sekarang," sahut Hokuto selepas Ia keluar dari kamar mandi. Sebenarnya, jika Ia saat ini tengah berada di rumahnya, Ia akan menghabiskan 30-60 menit lagi untuk setidaknya berendam di dalam air hangat. Tapi, tidak untuk sekarang. Karena Ia tengah menumpang, ditambah Kazuma bahkan sama sekali belum menggunakan kamar mandi, sebagai tamu yang baik dan tahu diri, Hokuto berusaha untuk mandi secepatnya.

"Sudah?" tanya Kazuma. Ia langsung menolehkan kepalanya ke arah kamar mandi. Dilihatnya Hokuto tengah berdiri seraya mengeringkan rambutnya di sana menggunakan handuk. Kazuma terdiam melihatnya. Padahal mereka sepantaran, tubuh keduanya juga tidak begitu jauh berbeda. Tapi, entah mengapa, kaus polos yang dia pinjamkan terlihat sedikit kebesaran di badan Hokuto, atau ini hanya perasaannya saja?

"Sudah," jawab Hokuto. Dia memiringkan kepalanya kala melihat Kazuma hanya tertegun sembari memandanginya? Sebentar, Kazuma memandanginya atau memandangi sesuatu di belakangnya? Eh, tapi 'kan Kazuma bukan Rui yang bisa melihat makhlus halus.

"Kazuma...?" panggil Hokuto sedikit ragu. Kazuma langsung tersentak. Apa tadi dia melamun? Tebak Hokuto dalam hati.

"Ah, ya—ya, aku sudah menyeduh cup ramen untuk makan malam kita," ujar Kazuma. "Eh, tidak masalah 'kan?"

Hokuto menggelengkan kepalanya. "Aku berterima kasih sekali malah," ujarnya. "Padahal kalau bilang, aku bisa memasak sesuatu untuk makan malam,"

"Haha, mana mungkin aku meminta seorang tamu untuk melakukannya,"

Hokuto menaikkan alisnya. "Padahal sudah lama juga kita saling mengenal, masih saja sungkan,"

Kazuma hanya terkekeh, garing. "Maaf. Aku mandi dulu ya,"

***

"Fu~h! Fu~h!" Hokuto meniup ramen yang berhasil Ia capit menggunakan sumpitnya. Kazuma yang duduk di hadapannya memperhatikannya. "Slurp!" Mulut kecil Hokuto menyeruput ramen tersebut dengan cepat. "Panas!"

Kazuma kembali terkekeh melihatnya. "Makanya, makannya pelan-pelan dong,"

Keduanya kemudian tergelak bersama.

"Makan seperti ini somehow mengingatkan pada masa-masa musha shugyo ya?" ujar Kazuma.

"Ah, wakaru, wakaru! Ingat tidak, saat—"

Entah bagaimana, makan malam itu menjadi ramai dengan obrolan nostalgia keduanya.

***

"Bagaimana?" tanya Hokuto. Keduanya kini berada di depan pintu kamar ibu Kazuma. Terkunci.

"Tidak bisa," Kazuma menghela napas, Ia berusaha memutar kenop pintu tersebut, entah untuk yang keberapa kalinya. "Padahal biasanya juga tidak dikunci,"

"Kalau begitu, aku tidur di sofa saja," usul Hokuto. "Kazuma yang tidur di kamar,"

"Tidak boleh begitu!" Kazuma langsung menolak mentah usulan itu. "Masa kamu yang tidur di sofa? Sudah, kamu di kamar saja,"

"Masa tuan rumah tidur di sofa sih?"

"Lebih tidak sopan membuat tamu tidur di sofa,"

Keduanya saling bertukar pandang sebelum kembali tertawa.

"Tunggu dulu, rasanya hal ini pernah terjadi sebelumnya," ujar Hokuto sembari menahan tawanya.

"Ya, saat di New York," jawab Kazuma. Salahkan Riku yang berbadan besar sehingga mereka berdua harus berbagi kasur yang sama di hotel. Saat itu sebenarnya Kazuma sempat mengalah dan mengatakan Ia bisa tidur di sofa, tapi Hokuto membujuknya untuk berbagi kasur. Lagipula kasurnya juga sebenarnya berukuran cukup besar.

"Kalau begitu, tidak masalah 'kan?" celutuk Hokuto tiba-tiba.

"Apanya?" tanya Kazuma.

"Kita berdua tidur bersama," jawabnya. "Toh ini bukan yang pertama 'kan?"

Kazuma bersumpah, pipinya terasa panas saat itu juga.

***

Entah sudah berapa lama Kazuma berusaha untuk menutup kedua matanya. Suara dentingan jam dinding saling bersahutan dengan ketukan yang ditimbulkan hujan saat menyentuh atap. Entah bagaimana, waktu rasanya begitu lama berlalu, bahkan seolah sama sekali tidak bergerak. Tunggu sebentar, waktu tidak berhenti 'kan?

Kazuma menoleh ke arah samping. Tampak Hokuto terbaring di sana dengan mata yang terpejam. Suara napasnya terdengar pelan. Kazuma memperhatikan garis wajahnya. Sesekali Ia dapat mencium harum bunga menyeruak keluar dari tubuhnya. Aneh sekali bukan? Padahal barusan Hokuto mandi mengenakan sabun dan shampo miliknya, tapi wangi tubuhnya masih terasa seperti wanginya yang biasa, yang menenangkan, setidaknya bagi Kazuma.

Kazuma sendiri sebenarnya bingung, sejak kapan Ia mulai tertarik pada rekannya yang satu ini. Yang pernah dia ingat, dulu saat mereka bersama-sama mengikuti vocal battle audition 4, Kazuma sempat melihatnya menangis karena kesulitan mengikuti dance lesson. Saat awal-awal mengenalnya pun dia terlihat seperti seseorang yang lemah. Tapi, lihat dirinya sekarang. Dia benar-benar sudah banyak berubah, menjadi seseorang yang begitu dapat diandalkan. Mungkin. Ini hanyalah sebuah kemungkinan, perubahan pesatnya itu menimbulkan rasa kekaguman sendiri bagi Kazuma.

"Hokuto...?" panggil Kazuma. Pelan. Hanya untuk memastikan pemuda itu sudah terlelap atau tidak.

Tidak ada jawaban. Tidak ada balasan. Kedua mata Hokuto masih terpejam.

Kazuma sedikit memiringkan tubuhnya. Entah bagaimana, jemari tangannya mulai bergerak, menyentuh helai demi helai poni rekan vokalisnya itu.

"Nee, Hokuto, what if I fall in love to you...?" gumam Kazuma, sepelan mungkin. Tubuhnya tersentak saat pergelangan tangannya, yang tengah mendarat di kening Hokuto, tiba-tiba digenggam oleh tangan pemuda yang disangkanya sudah tertidur itu.

Kedua kelopak mata Hokuto terbuka, menatap kedua bola mata Kazuma, menyelami dalam-dalam pandangannya. "Then, why don't you realize it more faster?"

Belum sempat Kazuma berkilah, Ia merasakan tangannya ditarik, membuat badannya bergerak mendekat ke arah Hokuto. Pemuda yang satu itu, walau badannya terlihat kecil, tenaganya cukup besar juga.

Detik berikutnya, kedua bola mata Kazuma membulat lebar saat merasakan bibirnya menabrak sesuatu yang lembut; bibir Hokuto. Did they just kiss...?

Otak Kazuma masih memproses apa yang tengah terjadi sebelum akhirnya Hokuto kembali memberi sedikit jarak di antara keduanya.

"Ba~ka!" Hokuto memamerkan lidahnya sebelum kemudian berbalik memunggungi Kazuma. Tak lupa Ia buru-buru menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Benar-benar seluruh tubuhnya karena Ia menutupinya hingga area kepalanya. Wajahnya kini memerah padam. Dia sendiri juga terkejut dengan aksinya tadi.

Bukan apa. Ia sebenarnya tahu Kazuma beberapa kali diam-diam memperhatikannya. Ia tidaklah bodoh. Ia bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi, namun Ia sendiri berusaha untuk mengabaikannya. Lucunya, semakin Ia berusaha, semakin Ia kepikiran akan rekan vokalisnya itu.

Hokuto kini berusaha keras untuk menahan detak jantungnya agar tidak terdengar sekencang mungkin—Ia tidak ingin Kazuma turut mendengarnya. Sayang, usahanya nampaknya sia-sia karena detakan itu terasa semakin cepat dan kencang saat Hokuto bisa merasakan kehadiran Kazuma mendekatinya.

Berbataskan selimut yang menutupi kepalanya, Hokuto bisa mendengar deru napas Kazuma yang terdengar begitu dekat dengan telinganya. Ia bersumpah, jantungnya terasa akan meledak saat itu juga.

"Suki..."

Satu kata. Penuh makna. Keluar dari mulut seorang Kawamura Kazuma. Hokuto menyerah. Oknum KK berhasil merebut hatinya.

fin