Work Text:
Engkau menghilang. Langit merah saga jadi jelaga seketika dan jeritku nyalang bilamana tetiba jarak antara kita terbentang. Engkau direngkuh bayu dan aku sendirian pulang. Hampa mengisi minda dan kau tak kunjung kembali meski loteng rumah sudah bersawang. Kau tak kunjung pulang, dan orang-orang seenaknya menyimpulkan bahwa arwahmu sudah berada di awang.
Ayah, aku rindu, aku ingin bertemu. Aku ingin mempercayai bahwa kau masih bernapas dan turut merindui aku. Atau aku hanya membenci nisan yang mereka bangun buatmu, sebab hal itu membuatku takut kau sungguh takkan pernah kembali buat memelukku.
Bunga tidurku terus-menerus memutar kembali kenangan hari itu. Suara perang yang bising dan kulihat jelas sosokmu meneriakkan komando dengan menggebu. Anehnya, Ayah, wajahmu bertambah buram di mimpi itu dari waktu ke waktu. Aku mulai lupa ekspresi apa yang terpasang di wajahmu— mata, kerut alis, atau lekuk dan luka di bibirmu. Aku mulai lupa dan itu menggangguku. Mimpi itu berulang tiap hari tapi aku tak mampu mengingatmu.
Mimpi itu akan berakhir dengan jeritku saat engkau hilang dan aku akan terbangun dengan napas terengah. Mataku sembab, bantalku basah, dan putus asa kuraih pigura berisi fotomu dan tangisku bakal pecah dengan parah.
Kemudian, Ayah, aku perlahan turut melupakan bagaimana kiranya biasanya engkau melangkah. Sedikit bungkuk atau tegakkah punggungmu, aku lupa dan itu membuatku gelisah. Sebab senyummu pun tak bisa kuingat, begitu pula caramu tertawa atau marah. Kurindukan jua pelukanmu tapi aku lupa sehangat apa tanganmu— ayah, aku gundah.
Anak macam apa yang melupakan rupa orang tuanya?
Telah kauangkat aku menjadi anakmu saat orang-orang menafikan aku, kau yakinkan darahmu mengalir padaku tapi dengan bodohnya aku melupakan dirimu. Suara, caramu bicara, dan senyummu— mengapa aku melupakan semua itu? Ayah, Ayah, durhakakah aku?
Aku rindu.
Ayah, kapan akan kembali? Aku beberes sepekan sekali, membersihkan debu di rumah kita yang sunyi. Aku menanti dan setengah gila percaya engkau akan pulang ke rumah lagi.
Aku akan jadi anak baik kali ini. Jadi, Ayah, tolong kembali. []
