Actions

Work Header

BSD x Mafia Games

Summary:

Apa yang terjadi jika anggota Biro Detektif Bersenjata bermain mafia game? Sebuah game dimana kita harus menebak siapa mafia yang membunuh warga pada malam hari. Seperti apa kericuhan setiap anggota dalam menebak pelakunya?

×××

Cerita tertulis sedikit tidak formal dan terlalu serius. Hanya untuk ditertawakan.

Notes:

Cerita ini terbuat hanya karena melihat kawan-kawan sang penulis yang sedikit-sedikit memainkan game Mafia. Mungkin game ini juga terkenal dengan nama Werewolf.

Hal-hal yang terjadi di cerita ini adalah hasil pengamatan penulis pada apa yang terjadi di selama permainan Mafia yang dilakukan kawan-kawan. Semuanya nampak absurd dan layak ditertawakan apalagi kalau disaksikan secara langsung.

Dan, cerita ini tidak seperti biasanya. Memakai bahasa yang ringan-ringan saja.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Biro Detektif Bersenjata

Chapter Text

Satu hari yang damai di Kota Yokohama.

"Rasanya bosan ya, tidak ada kasus menarik yang harus kita selidiki?"

Seorang pria berbaring di sofa yang terletak di belakang tempat kerja, hanya bersantai ria. Pasalnya ia terlalu bosan mengurus laporan suruhan rekannya dan berakhir seluruhnya dikerjakan oleh rekannya sendiri. Kunikida alias rekannya itu, yang tak jauh darinya, duduk di hadapan laptop merasa jengkel karena pria itu terus-terusan mengeluhkan hal yang sama namun malah tidak melakukan apa-apa. Siapa juga yang tidak jengkel?

"Ini masih tengah hari. Baru juga kita tadi makan siang. Mending kau tidur saja."

Kunikida tak memikirkan bahwa suara ngorok Dazai akan lebih mengganggu suasana kantor.

"Apa kita perlu istirahat sejenak?" Atsushi membuka mulut. Kepalanya juga terasa pening karena tugas yang banyak diurus.

"Sedikit permainan tidak masalah sepertinya!" Kenji tiba-tiba berseru, hanya dirinya saja yang suasana hatinya masih senang dan semangat. Kata-katanya langsung memberikan pencerahan bagi orang-orang yang sedang bekerja dalam kantor ini.

Ranpo yang daritadi memakan permen menanggapi seruan Kenji. "Ah, iya! Bagaimana kalau kita bermain mafia game?"

"Mafia game?" Di bayangan Kyouka, mereka sepertinya akan memburu warga biasa dan membunuhnya dengan brutal...!

"Um, begini Kyouka. Di mafia game, akan ada dua kelompok, ada yang jadi warga biasa dan ada yang ditunjuk menjadi mafia. Mafia bertugas untuk membunuh para warga pada malam hari. Warga biasa bertugas untuk menebak siapa mafia yang membunuh warga pada pagi hari. Permainan akan terus berjalan sampai akhirnya mafia berhasil tertebak." Atsushi berbaik hati menjelaskan, agar Kyouka tak berpikiran untuk membunuh betulan para pekerja Biro.

"Mafia game?! Aku tahu game itu! Ayo kita mainkan!" Dazai yang awalnya bosan langsung bangkit dengan penuh semangat dari sofa tempat ia tidur tadi. Kenji juga bersemangat untuk memainkan game dari orang-orang kota!

Tak lupa, Dazai menarik Kunikida dari tempat duduk agar mereka semua berkumpul di tengah ruangan. Kunikida hanya mendengus kasar, mau tak mau ia harus mengikuti permainan ini, sedikit refreshing mungkin akan membuat otaknya lebih jernih untuk mengerjakan tugas.

Atsushi, Dazai, Kunikida, Kenji, Kyouka, Naomi, Ranpo, Tanizaki, dan Yosano telah berkumpul dan membentuk sebuah lingkaran. "Ya! Jadi kalian semua tutup mata! Aku akan menjadi narator di kasus pembunuhan kali ini!"

Ranpo akan mengawali permainan ini, pembaca yang budiman.

"Kalau ada yang kutendang, artinya kalian mengambil peran tersebut ya! Tutup mata semuanya!" Tentu semua orang menuruti perintah tanpa protes kalau Ranpo yang tiba-tiba jadi narator. Lantaran kalau Ranpo yang ikut permainan, ia malah dengan mudah menebak mafianya, permainannya jadi tidak seru, kan? Maka lebih baik ia yang mengatur.

Ranpo berkeliling dan mencari-cari siapa yang cocok untuk mengambil peran mafia. Apakah Dazai...? Ya, sepertinya dia cocok.

Dazai yang sedang menutup mata dengan kedua tangannya merasakan tendangan pelan dari Ranpo. Ia tersenyum mendapatkan peran mafia—yang sebenarnya ia memang mantan dari pekerjaan tersebut. Lalu ia mendapatkan pengarahan bahwa ia harus menunjuk orang yang akan ia bunuh.

"Tanizaki."

Ranpo mengangguk-angguk sembari tersenyum. Ia pun langsung berjalan untuk mencari dokter dan polisi. Jadilah Yosano adalah dokter dan Atsushi seorang polisi.

"Ya! Malam pun berakhir, dan pagi pun tiba..."

Semuanya menaruh kedua tangan pada sisi tubuh mereka, mendengarkan Ranpo yang tidak berada di tengah-tengah lingkaran lagi. Pembahasan mengenai siapa mafia akan dimulai.

"Sang mafia membunuh Tanizaki!"

Semua pandangan mengarah pada pemuda bersurai oranye tersebut. Ia setengah terkejut setengah lagi tidak, memang sedikit menyangka ia target yang empuk untuk dibunuh.

"Namun, dokter berhasil menyelamatkan Tanizaki. Sehingga ia tak mati..."

Saat Tanizaki sudah menghela napas. Perdebatan langsung dimulai untuk mencari siapa mafia sebenarnya.

"Menurutku, kalau orang yang membunuh Tanizaki pasti dia adalah..."

"Dazai."

"Hah? Aku?" ucap Dazai pura-pura bego.

"Ekspresimu yang pura-pura bodoh seperti itu semakin menunjukkan kau benar-benar mafia di ronde game kali ini!"

"Aha! Jadi kalian menebak Dazai ya?" Ranpo menebak, tanpa ia bilang pun, Kunikida sudah daritadi mengangkat tangan, ia langsung memilih Dazai tanpa ragu lagi dan analisis panjang.

Karena semuanya nampak bingung untuk memilih siapa mafianya, maka semua orang mengikuti pilihan Kunikida. Semua orang mutlak memilih Dazai.

"Ah! Rasanya kayak gak seru kalo aku kepilih cepet begini!" kata Dazai dengan nada setengah ngambek.

"Ahahahah! Tenang Dazai. Itu tadi hanya pemanasan agar semuanya dapat mengerti dengan mafia game. Di permainan selanjutnya, akan lebih serius," ucap Ranpo dengan penuh penekanan pada akhir kalimat seraya merangkul Dazai, seakan memberitahu niat jahatnya ke seluruh pekerja Biro. Namun sebenarnya ia melakukan hal tersebut karena mengetahui Kyouka masih belum paham dengan permainannya, untungnya, Kyouka pun paham.

"Permainan baru, pelaku kali ini tak akan tertebak! Jadi kuharap, kalian semua bisa serius! Jangan sampai mafia membunuh seluruh warga!"

Suasana mulai terasa serius. Semuanya menutup mata saat aba-aba permainan dimulai. Ranpo melangkah pelan untuk menandai peran pada setiap orang. Dan ketika semuanya sudah melaksanakan tugas, Ranpo kembali ke tempat semula.

"Pagi pun tiba, dan kabar heboh terdengar, bahwa Naomi telah terbunuh!"

Sekarang adalah saudarinya, para pembaca!

"Dokter memilih untuk menyelamatkan diri sendiri."

Naomi terpaksa mundur dari permainan.

"Silahkan dimulai diskusinya. Kuberi waktu lima menit."

"Dokter menyelamatkan diri sendiri, heh? Aku baru tahu itu bisa dilakukan." Yosano mengawali diskusi tentang hal tersebut. Pasalnya di permainan sebelumnya ia memang mendapatkan peran dokter dan berhasil menyelamatkan Tanizaki. Ia merasa bisa menebak siapa dokter tersebut.

"Memang bisa. Tetapi rasanya sayang sekali."

"Membunuh Naomi, ya? Tidak mungkin Tanizaki melakukan hal tersebut." Kunikida menatap ke Tanizaki yang ada di seberang.

"Iya! Kasihan Naomi malah terbunuh di awal permainan. Aku tidak mungkin melakukannya..."

"Jadi memang kau mafianya, Tanizaki!" seru Dazai tiba-tiba membuat jantung Tanizaki hampir loncat.

"Hah?!" Tidak hanya Tanizaki saja yang kebingungan, hampir semuanya juga.

"Kau masuk dalam jebakan, Tanizaki. Polosnya dirimu. Kau berpura-pura bahwa tidak mungkin kau yang membunuh Naomi, tetapi, aku tidak akan tertipu!"

Tanizaki menggigit giginya sendiri, merasa panik dengan semua pandangan yang mengarah ke dirinya. Aduh, dia harus membuat alibi seperti apa ya?!

"Kalian jangan tertipu juga! Dazai bisa saja manipulatif!" elak Tanizaki agar ia tak terpojok.

"Apa-apaan. Aku dapat peran tetapi bukan mafia ya!"

"Oi, polisi! Siapa polisi?!" tanya Dazai dengan suara keras. Kenji pun mengangkat tangan.

"Heh, memangnya boleh polisi langsung berbicara sekarang?" Kunikida lebih dulu bertanya, perasaan game-nya gak kayak gini deh.

"Boleh-boleh saja. Sesuka mereka ingin memberitahu apa tidak." Ranpo menjawab.

Baiklah kalau begitu.

Kenji pun akhirnya berbicara. "Aku tadi pilih Naomi."

KOK BISA MALAH PILIH KORBAN?!!

Diskusi ini semakin rumit dan tak menemukan konklusi, padahal waktu terus berjalan dan tertinggal 1 menit lagi. Ranpo telah memperingatkan. Masing-masing mulai mencurigai dan diskusi semakin panas. Pada akhirnya, tercipta sebuah kesimpulan yang bodoh.

"Kita kembali ke tersangka awal saja! Tanizaki!!"

"Jadi siapa yang vote Tanizaki?!"

Semuanya mengangkat tangan kecuali tersangka. Mau tak mau, Tanizaki mundur dari permainan.

"Maaf, tetapi Tanizaki bukanlah pelakunya!"

Setidaknya kakak adik ini bisa bersama di luar permainan. Naomi senang karena kakak kesayangannya bersama dirinya lagi.

"Ronde kedua pun dimulai. Malam telah tiba dan para warga terlelap."

"Mafia, bangun dan pilih korban yang ingin dibunuh."

Tanizaki dan Naomi hampir menjerit kaget mengetahui mafianya. Namun untungnya Ranpo sudah ber-shhh keras.

Sang mafia menunjuk salah satu orang. Dan ia kembali menutup mata.

"Dokter, silahkan bangun."

Tak ada yang bangun.

"Dokter! Silahkan bangun!"

Akhirnya Ranpo mendekat ke sang dokter dan menendang orang tersebut agar sadar.

"Aw! Sakit, Ranpo-san!"

"Cepat pilih siapa yang ingin kau selamatkan, Dazai!"

"Diriku sendiri."

"..."

Namanya juga Dazai, ya.

"Polisi, bangun."

Kenji menunjuk Atsushi.

"Malam berakhir dan pagi pun tiba."

Terdengar helaan napas yang nyaring sehabis semuanya membuka mata. "Mafia lagi-lagi melakukan pembunuhan dan korbannya adalah...

"Sang polisi, Kenji!"

Tentu semuanya kaget mengetahuinya, dan Kenji merasa terdiam mengetahui dirinya berhasil dibunuh sang mafia. Terpaksa, Kenji mundur dari permainan.

"Dokter menyelamatkan dirinya sendiri. Lagi."

"Ya Tuhan..." Yosano akhirnya tahu juga siapa dokter tersebut. Karena jelas-jelas ia mendengar suara erangan Dazai yang ada di sebelahnya tadi karena ditendang Ranpo.

"Waktu dimulai untuk diskusi."

"Siapa yang berani pilih Kenji, ya?!"

"Jelas-jelas ini kayaknya Atsushi, gak sih?"

"Oi. Jangan ngelantur sembarangan, dong," peringat Kunikida

"Kayaknya iya, deh." Kyouka berkata pelan, menyetujui perkataan Dazai.

"Dazai-san?!" seru Atsushi kaget. "Cepat sekali kau menuduhku seperti itu! Sekarang kita hanya tinggal berlima, loh..."

Tertinggal Atsushi, Dazai, Kunikida, Kyouka dan Yosano. Dazai sudah diketahui dirinya adalah dokter. Sehingga hanya empat orang saja, yang salah satu dari mereka memiliki peran mafia tersebut.

"Apakah kau mafianya, Kunikida?"

"Ck, aku pasti akan memilih untuk membunuh dirimu terlebih dahulu, Dazai..."

"Kyouka...? Yosano...?"

Jujur, Kunikida merasa tak enak untuk memilih siapa mafianya. Yosano adalah seniornya, dan Kyouka hanyalah seorang anak kecil. Atsushi? Aduh, kenapa ia malah terpikirkan untuk memilih anak tersebut seakan-akan tak ada pilihan lain.

"Siapa yang pilih Atsushi?"

Kyouka mengangkat tangan. Yosano juga sama.

"Hanya dua?" Ranpo memastikan. Akhirnya Dazai juga mengangkat tangan. Keputusan langsung diambil.

"Atsushi pun dihukum dengan dibelahnya kedua tubuhnya! Tetapi sayang, bukan dia mafianya!! Hahahahhahahh! Benar-benar mafia yang tak tertebak!"

Tentu kata-kata itu tak benar, hanya karangan lewat dari seorang Ranpo yang bisa membuat Atsushi bergidik ngeri seraya keluar dari lingkaran permainan. Ia melihat sisa pemain yang tinggal empat orang saja, hampir diisi oleh orang dewasa dan hanya satu anak kecil saja yang di sana yakni Kyouka.

"Tak tertebak... ya?" Atsushi membatin. "Jangan-jangan... memang benar tebakanku..."

"Malam pun tiba dan mafia bangun untuk melakukan lagi aksi pembunuhannya!"

Sang mafia benar-benar bangkit dengan pelan. Atsushi hampir bersorak kaget karena mengetahui mafianya. "Tuh, kan, benar...! Kenapa aku tak berani bilang, sih?!"

"Dokter bangun. Tetapi kali ini, kau tak dapat menyelamatkan dirimu sendiri, ya."

"Apa?! Aku tak dapat pilih diriku lagi?"

"Kau sudah curang dua kali, Dazai! Kau jadi dokter yang tak berguna! Pilihlah orang lain, cepat!"

Tak tahu siapa yang ingin diselamatkannya, Dazai menunjuk Kyouka saja.

"Pagi hari telah tiba!"

"Lagi-lagi, mafia berhasil membunuh satu orang, yakni Dazai."

"APA?!!" seru Dazai dramatis mendengar namanya disebut. Hatinya terpotek-potek. Dan jiwanya serasa disedot sampai dirinya benar-benar mati. "Terima kasih, telah membunuhku, mafia yang cerdas."

Dazai pun rela mundur dari permainan dengan anggun, bersisian dengan Atsushi untuk menonton permainan kali ini, dan rupanya saat itu, Kunikida benar-benar dilanda tekanan yang menginjak akalnya.

Akankah Kunikida memilih Yosano... atau Kyouka...?

×××

"Maaf, tanpa mengurangi rasa hormatku kepada Yosano-san. Aku memilih Yosano-san..."

Adegan terasa lebih dramatis seakan Kunikida mengkhianati Yosano, pada sebuah janji terbesarnya untuk tetap patuh pada idealismenya, dan kehormatan dirinya kepada seniornya. Semuanya benar-benar diuji pada permainan konyol seperti ini...

"Yosano disangka sebagai mafia. Dan... Dia bukanlah mafianya!!"

Mendengar hal itu, Kunikida semakin terpuruk. Terbenam wajahnya di lantai keramik kantor. Sungguh lebih dramatis suasananya daripada adegan Dazai yang tadi hatinya terpotek-potek.

"Sudahlah, Kunikida. Ini hanya permainan. Idealismemu tak ada kaitannya sama sekali di game mafia..."

"Kenapa... Kenapa harus selalu ada korban...?! Kenapa aku juga payah untuk menemukan pelakunya yang ternyata... hanya anak perempuan berumur 14 tahun yang banyak diam saja?!"

Kyouka berdiri dari posisi duduknya tadi dan diberi tos oleh Ranpo karena telah menjadi pemenang game mafia setelah memilih Kunikida sebagai warga terakhir yang masih bertahan. Kunikida tentu kalah telak. Dan Kyouka juga diberi sebatang permen oleh Ranpo sebagai hadiah.

"Harusnya ia tadi sangat mencurigakan! Harusnya aku memilih Kyouka saja daripada mengorbankan kehormatanku kepada Yosano-san!"

"Sudahlah, Kunikida-kun. Sepertinya bekerja lebih baik bagimu daripada bermain." Seperti di awal permainan tadi, Kunikida yang ditarik untuk ikut bermain juga harus ditarik lagi untuk kembali ke meja kerjanya. Tidak hanya Dazai saja yang menyeretnya, tetapi juga dibantu Atsushi yang disuruh sembari menghiburnya.

Ternyata, memberi permainan untuk menyegarkan otak tak sepenuhnya benar, buktinya Kunikida yang malah terbawa suasana.

Setidaknya, Kunikida bisa mendapatkan satu batang permen dari Kyouka, yang diberi dari Ranpo juga, sebagai pemain warga paling serius di Biro Detektif Bersenjata.

End

Notes:

Terpikirkan untuk Mafia Game dengan Port Mafia... Apakah bisa menulis chapter selanjutnya dengan isi cerita Biro Detektif Bersenjata bermain permainan ini lagi dengan Port Mafia? Belum tahu. Tetapi saya harap saya bisa karena telah merancang alur permainan ini yang rumit (karena banyaknya karakter) dan penuh kejutan.

Tunggu saja chapter berikutnya.