Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of The World of Gaby
Stats:
Published:
2025-03-18
Words:
1,251
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
88
Bookmarks:
4
Hits:
1,347

Semangkuk Mie Ayam Dengan Kejutannya

Summary:

Perjalanan singkat Jeno dan Haechan (beserta buntut kecil mereka) dalam menikmati mie ayam di malam hari.

Notes:

Baru aja beli mie ayam dan ngeliat keluarga kecil lagi makan bareng. Jadi kepikiran, kalau nohyuck jajan mie ayam, bakal gimana, ya?

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Haechan sudah duduk di atas motor dengan Gaby dalam gendongannya. Anak mereka yang hampir setahun itu mengenakan jumper tipis dilapisi jaket dan kaos kaki, kepalanya bersandar di dada Haechan dan ditutupi selimut kecil.

Jeno keluar dari rumah, menutup pintu dengan satu tangan sambil meraih helm. “Beneran mau ngajak By? Kan dia udah mulai ngantuk.”

Haechan melirik bayi di pelukannya yang saat ini masih sadar, tapi memang ini sudah jam tidurnya Gaby. “Gapapa cuma deket kok.” kata Haechan.

Jeno mendesah pelan, tapi tanpa protes lebih lanjut, dia naik ke motor dan menyalakan mesin. Haechan duduk di belakangnya, menggendong Gaby erat-erat.

Perjalanan ke warung mie ayam cuma lima menit, tapi malam itu angin bertiup sedikit lebih kencang, membuat Haechan refleks merapat ke punggung Jeno sambil membenarkan selimut yang menutupi Gaby.

Sesampainya di sana, mereka memilih meja yang paling nyaman—bukan yang dekat jalan, tapi juga nggak terlalu ke dalam supaya tetap dapat angin segar. Jeno menarik kursi lebih dulu, sementara Haechan duduk sambil mengatur posisi Gaby di pangkuannya.

“Aku mau mie ayam pake pangsit goreng, teh manis anget, nggak pake daun bawang,” kata Haechan ke penjualnya.

Jeno menoleh dengan alis terangkat. “Sejak kapan nggak pake daun bawang?”

“Sejak hari ini,” jawab Haechan santai. “Mau nyobain beda aja.”

Jeno terkekeh kecil sebelum memesan miliknya, lalu mereka menunggu pesanan datang sambil mengobrol ringan. Sesekali, Gaby menggeliat di pangkuan Haechan dan mengeluarkan suara gumaman kecil.

Jeno mengulurkan tangan, jari-jarinya yang besar membelai punggung tangan Gaby dengan lembut. “Dia ngantuk tapi nggak mau tidur, ya?”

Haechan menghela napas. “Kayaknya begitu. Tadi pas kita siap-siap pergi, dia udah mulai rewel.”

Saat mie ayam mereka tiba, Jeno langsung mengambil mangkuk Haechan dan mengaduknya lebih dulu. “Mau aku suapin?”

Haechan tertawa kecil. “Nggak usah. Aku masih bisa makan sendiri kok.”

Tapi tetap saja, Jeno membantu dengan memotong pangsitnya jadi lebih kecil sebelum menyodorkan kembali mangkuk itu. Sementara Haechan mulai makan, Jeno menggantikan tugas menggendong Gaby. Dia meletakkan anak mereka di pangkuannya, menepuk-nepuk punggungnya pelan.

Gaby melihat ke sekeliling dengan ekspresi bingung sebelum akhirnya bersandar ke dada Jeno.

“Kantor gimana hari ini?” tanya Haechan sambil meniup mie-nya yang masih panas.

Jeno menyendok kuah dari mangkuknya, meniupnya pelan sebelum menyeruput. “Hari ini capek banget.”

“Banyak kerjaan?”

“Bukan kerjaannya, tapi dramanya.” Jeno mendesah sebelum melanjutkan, “Si Tio ribut lagi sama bos. Tadi aku baru duduk di meja, belum nyalain komputer, udah denger suara mereka dari ruangan.”

“Ribut kenapa?”

“Katanya, proposal yang dia buat udah bagus banget, tapi tetep ditolak. Bos maunya yang lebih to the point, nggak usah kebanyakan basa-basi.”

Haechan mengunyah pangsitnya pelan, lalu menyeringai. “Jujur, aku setuju sama bos kamu.”

Jeno tertawa. “Makanya aku diem aja pas mereka ribut.”

Haechan mengambil sumpitnya, mengangkat sejumput mie ke mulut. “Tio tuh yang mana, sih? Yang dulu katanya deket banget sama si… siapa, tuh?”

Jeno berpikir sebentar sebelum mengangguk. “Yang sama Vivi?”

“Eh, iya! Yang dulu katanya sering makan siang bareng, terus tiba-tiba jadi kayak orang nggak kenal gitu?”

Jeno menelan suapan mie sebelum berbisik, “Denger-denger sih, Vivi yang dulu ghosting Tio.”

Haechan langsung menurunkan sumpitnya, matanya membesar. “Hah?! Serius?”

“Serius. Dapet cerita dari anak HR, katanya Vivi awalnya nyaman, tapi lama-lama Tio makin clingy. Vivi nggak suka dikejar-kejar terus, jadi akhirnya dia pura-pura sibuk sampe Tio nyerah sendiri.”

Haechan terkekeh sambil menggeleng. “Wah, kasihan juga, sih. Tapi ya… ngerti juga kalau Vivi capek. Berarti Tio tuh tipikal yang kalau suka sama orang, nempelnya bisa kayak perangko, ya?”

Jeno tertawa, mengangguk setuju. “Bener. Makanya pas dia ghosting, Tio tuh sempet curhat ke semua orang di kantor, bilang dia nggak ngerti salahnya di mana.”

“Terus sekarang mereka gimana?”

Jeno menyesap tehnya sebentar. “Sekarang? Udah kayak orang asing. Vivi kalau ketemu cuma senyum doang, terus jalan lagi.”

Haechan menghela napas. “Makanya, kalau ada sesuatu tuh dibicarain, jangan langsung ngilang.”

Jeno mengangguk, lalu menatap Haechan sambil menyeringai. “Untung aku gak pernah kepikiran ghosting kamu.”

Haechan memutar matanya. “Ya iyalah. Coba aja kamu ghosting, gak bakal jadi ini si bocil.”

Jeno tertawa sambil menggeleng. “Bener juga.” Dia melirik ke Gaby yang duduk anteng di pangkuannya, sibuk memainkan sendok plastik. “Untung bapaknya setia, ya, By.”

Gaby tentu saja tidak paham, tapi tetap menatap Jeno dengan mata bulatnya sebelum menggumam sesuatu yang terdengar seperti “Ba!”

Haechan terkekeh. “Tuh, By aja setuju.”

Jeno hanya tersenyum, kembali menyendok mie ayamnya. Suasana di warung terasa nyaman, dengan obrolan ringan dan suara kendaraan yang sesekali melintas di kejauhan.

Haechan menyandarkan punggungnya ke kursi, mengaduk-aduk mie di mangkuknya sebelum bersuara lagi, kali ini dengan antusias. “Oh ya, aku dapet project baru.”

Jeno yang sedang menyeruput kuah mie ayamnya langsung menoleh. “Yang mana? Klien yang kemarin itu?”

“Bukan.” Haechan menggeleng. “Ini beda lagi. Mereka liat portofolio-ku dan langsung tertarik. Tadinya cuma tanya-tanya doang, eh, tahu-tahu tadi siang mereka kirim brief.”

Jeno menaikkan alis, tertarik. “Oh? Lumayan, dong?”

“Lumayan banget,” kata Haechan, matanya berbinar. “Tapi kayaknya bakal banyak revisi, sih. Mereka agak perfeksionis. Maunya desainnya clean, tapi tetap eye-catching, terus warnanya nggak boleh terlalu terang, tapi juga nggak boleh terlalu monoton.”

Jeno terkekeh. “Jadi mereka maunya gimana, sebenarnya?”

“Nah, itu dia.” Haechan menghela napas, menyumpit mie-nya sebelum melanjutkan, “Katanya mereka pengen ‘vibe-nya elegan, tapi fun, tapi juga profesional’. Itu maksudnya apa, coba?”

Jeno tertawa pelan. “Mungkin kalau mereka sendiri nggak bisa mendeskripsikan dengan jelas, kamu bisa nanya lebih spesifik?”

“Udah, aku tadi kirim beberapa pertanyaan. Mereka jawabnya masih agak ngambang, tapi kayaknya mereka percaya sama aku. Jadi aku bakal coba kasih dua opsi desain, siapa tahu salah satunya langsung cocok.”

Jeno menyeringai bangga. “Kamu keren.”

Haechan mendengus kecil, tapi pipinya sedikit memerah. “Ya, biasa aja, lah.”

Jeno menyipitkan mata, menatapnya penuh selidik. “Jangan merendah, deh. Kalau mereka percaya sama kamu segitunya, berarti kamu emang jago.”

Haechan pura-pura sibuk menyedot mie-nya, berusaha menutupi senyumnya. “Ya udah, doain aja nggak terlalu banyak revisi.”

Jeno terkekeh lagi, lalu dengan santai mengulurkan tangan, mengusap punggung tangan Haechan yang bertumpu di meja. “Doain? Nggak perlu deh kayaknya? Aku udah tahu hasilnya pasti bagus.”

Haechan melirik tangannya yang disentuh, lalu menatap Jeno dengan senyum kecil. “Jangan bikin aku kepedean dong.”

Jeno mengangkat bahu, ibu jarinya masih mengusap punggung tangan Haechan pelan. “Lah, emang bener. Kamu jago, kok.”

Sebelum obrolan mereka bisa berlanjut lebih jauh, tiba-tiba ekspresi Haechan berubah. Dia menoleh ke Gaby yang masih bersandar di dada Jeno, lalu mengendus pelan.

“…Jeno.”

“Hm?”

Haechan berkedip beberapa kali, lalu mendesah panjang. “By pup.”

Jeno membeku sebentar. “Serius?”

Haechan mengangguk pasrah. “Serius.”

Mereka berpandangan selama beberapa detik sebelum akhirnya buru-buru menghabiskan suapan terakhir. Jeno minum es tehnya dalam sekali teguk, sementara Haechan menyuap mie-nya dengan kecepatan kilat.

Saat mereka berdiri, Haechan refleks mengulurkan tangan, dan tanpa banyak bicara, Jeno langsung memindahkan Gaby ke gendongan suaminya. Begitu anak mereka berpindah ke pelukannya, Haechan mengerutkan hidung. “Astaga, baunya…”

Sementara Jeno melangkah ke kasir untuk membayar, Haechan menghela napas pasrah. “Nak, ini bukan pup biasa… ini mah masterpiece,” gumamnya pelan, membuat seorang bapak di meja sebelah melirik ke arah mereka sambil terkekeh.

“Kayaknya lain kali kita makan mie ayamnya di rumah aja, deh.” kata Jeno saat mereka naik ke motor lagi.

Haechan tertawa kecil. “Iya, iya. Aku nggak nyangka dia pup pas kita lagi enak-enaknya makan.”

Dengan itu, mereka melaju pulang dalam kecepatan yang sedikit lebih tinggi dari biasanya. Sampai di rumah, mereka langsung menuju kamar untuk mengganti popok Gaby.

Dan saat akhirnya semua selesai, Jeno merebahkan diri di kasur sambil menghela napas panjang. “Banyak banget kejadian hari ini.”

Haechan ikut merebahkan diri di sebelahnya, mendekatkan kepala ke dada Jeno. “Tapi kita makan mie ayam.”

Jeno terkekeh, tangannya terangkat untuk mengusap punggung Haechan. “Iya, kita makan mie ayam.”

Notes:

Kalian udah makan mie ayam?

Series this work belongs to: