Actions

Work Header

leehan ngambek, woonhak pusing

Summary:

“Donghyun nangis tuh.” ujar Taesan begitu Riwoo masuk ke ruangan mereka.

“Hah beneran nangis?” Riwoo yang baru masuk langsung diberitahu begitu jadi panik sendiri. “Gak nangis sih, cuma anaknya ngambek aja dielim sama Woonhak.” jelas Taesan.

Saat itulah mereka sadar, Leehan serius kesal sama Woonhak.

Notes:

Hello!! I choose to wrote this instead of sleeping. Beneran tulisan ngasal karena gemes banget liat nunsarangz di what door ep 29 & 30 hihi~ Enjoy reading guys!

Work Text:

Woonhak pusing. Bukan cuma Woonhak, tapi semua teman satu timnya pusing.

Saat ini mereka sedang syuting untuk konten What Door mereka, bertemakan mereka yang harus memberikan contoh yang nantinya akan Woonhak pilih sebagai role modelnya dalam rangka dirinya telah menginjak 20 tahun.

Mereka secara bergantian mencoba memberikan kesan baik pada Woonhak agar tidak tereliminasi dan berakhir menjadi role modelnya Woonhak.

Namun mereka malah menjadi panik sendiri ketika Leehan yang selalu dikenal sebagai abang kesayangan Woonhak, malah tereliminasi. Kata Woonhak, awalnya ia ingin memilih Leehan tapi melihat hasil masakan Riwoo, akhirnya ia lebih terkesan dan memutuskan memilih Riwoo.

Leehan jadi kesal sendiri setelah dieliminasi, padahal ia sudah merasa telah berusaha memberikan kesan baik pada Woonhak. Ia pun berjalan memasuki salah satu kamar tempat mereka memonitor kegiatan Woonhak dan member lain yang mendapat giliran.

Taesan dan Sungho pun masih menertawai Leehan yang berakhir tereliminasi, sesekali memberikan kata-kata penyemangat. Yang tidak mereka ketahui adalah Leehan serius kalau dia benar-benar jengkel dengan Woonhak.

“Woonhak tuh selalu ya kaya gini. Udahlah emang hubungan kita sampe sini aja.” ujar Leehan yang setelahnya langsung menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.

Syuting pun berlanjut dengan Woonhak, Jaehyun dan Riwoo. Dan Woonhak kembali mengeliminasi salah satu dari mereka, Riwoo, karena berniat me-revive member lain. Yang dikira Leehan yang akan di revive tapi ternyata malah Sungho, Leehan semakin jengkel.

“Donghyun nangis tuh.” ujar Taesan begitu Riwoo masuk ke ruangan mereka.

“Hah beneran nangis?” Riwoo yang baru masuk langsung diberitahu begitu jadi panik sendiri. “Gak nangis sih, cuma anaknya ngambek aja dielim sama Woonhak.” jelas Taesan.

Saat itulah mereka sadar, Leehan serius kesal sama Woonhak. Riwoo mencoba mencari cara agar Leehan tidak begitu terpuruk. Hingga Woonhak yang tidak sengaja mengeliminasi Sungho, Riwoo dengan cepat langsung mengusulkan Leehan untuk kembali bermain.

“Oh iya! Kak Donghyun, ayo main lagi ya! Aku kangen kakak!” Woonhak langsung memanggil Leehan, lumayan panik karena yang dipanggil tidak merespon. 

“Kakak tuh selalu nomor 1 di hati aku, ayo main lagi ya please?” bujuk Woonhak menarik selimut Leehan. Yang dibujuk terlalu mudah dibujuk, apalagi dibujuk langsung oleh Woonhak.

Akhirnya Leehan kembali bermain. Dirinya tiba-tiba merasa sangat kompetitif melawan Jaehyun, demi memenangkan hati Woonhak, pikirnya. Mereka tentu bisa melihat Leehan begitu kompetitif lebih dari siapapun pada hari itu.

Permainan pun selesai, hasil yang didapat ternyata seri, membuat Woonhak yang harus memilih sendiri. Jantung Leehan rasanya sudah hampir meledak, takut Woonhak tidak memilihnya dan malah memilih Jaehyun.

Jaehyun menyadari Leehan begitu gugup. “Han, kenapa gugup banget sih? Kasian banget ih liatnya!” Yang ditanya cuma memberikan kekehan malu, kalau dipikir memang dia agak berlebihan sih, tapi wajar kan kalau dia mau mempertahankan gelar abang kesayangan Woonhak?

“Jadi yang bakal aku pilih buat jadi abang kesayangan aku adalah…”

Leehan menahan napasnya, ia rasa ia sudah hampir pingsan rasanya.

Dan sirine milik Jaehyun pun berbunyi.

Woonhak memilih Leehan. Ia menang.

Semua member pun bertepuk tangan, merasa Leehan memang pantas mendapat gelar abang kesayangan Woonhak. Bahkan dari awal, effort yang diberikan Leehan untuk menarik perhatian Woonhak juga tidak main-main.

Selanjutnya, Woonhak pun memberikan hadiah yang telah disiapkan staff, sebuah kalung dengan liontin berisi foto Woonhak dan Leehan.

“Tapi ya sebenernya Donghyun tuh gak begitu peduli sama hadiahnya, cuma kalau dia gak menang dia pasti beneran ngambek gak mau ngomong sama Woonhak.” jelas Jaehyun sambil bercanda, Leehan hanya terkekeh, dalam hati sedikit membenarkan omongan Jaehyun.

“Asli, dia di akhir kompetitif banget, pokoknya dia harus menang gitu!” ujar Taesan menambahkan.

“Tau gak yang lucunya apa? Woonhak juga kepikiran mulu terus ngomong sendiri ‘Kak Donghyun kayanya bakal ngambek deh..’ sambil hela napas.” ledek Jaehyun sambil memeragai Woonhak.

Leehan jadi malu diledeki membernya, ia melirik Woonhak yang hanya merespon dengan senyuman sambil merangkul Leehan sedari tadi.

 


 

Woonhak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sedari tadi terus melirik ke arah pintu kamar Leehan yang tertutup rapat. 

Begitu mereka selesai syuting dan kembali ke dorm, Leehan langsung memasuki kamarnya. Itu sudah 30 menit yang lalu, dan sejak saat itu Woonhak duduk di sofa berpikir keras apakah ia harus menemui Leehan atau tidak.

“Woonhak, gak usah kebanyakan mikir, samperin aja.”

Jaehyun yang sedang mengambil minum di dapur, menghela napas melihat Woonhak yang sedari tadi terlihat gelisah. Tentu ia tahu penyebab kegelisahan Woonhak.

Woonhak ragu. Takut ia salah langkah, takut Leehan benar-benar tidak ingin bicara dengannya lagi. Berlebihan tapi begitulah yang ada dipikirannya saat ini.

Setelah berpikir beberapa menit, Woonhak pun beranjak, mendekati kamar Leehan perlahan. Diketuk pelan pintunya hingga pemilik kamar menyuruhnya masuk. Leehan sedang duduk menyender, sibuk memainkan ponselnya. Melirik untuk melihat orang yang memasuki kamarnya dan mengalihkan atensinya kembali ke ponselnya begitu melihat Woonhak.

Aduh mati, apa beneran marah ya?

Woonhak mendekati Leehan dan duduk di sebelahnya. Leehan masih fokus dengan ponsel di tangan kanannya. Woonhak menghela napas pelan, mengelus telapak tangan kiri Leehan dengan lembut.

“Kak.. kamu marah ya sama aku?” tanya Woonhak hati-hati, Leehan tidak menjawab.

“Itu kan cuma konten aja, kan kakak juga tau kakak selalu jadi kesayangan aku..”

Masih tidak ada jawaban.

Fix marah ini mah, mampus lah gue

Sebenarnya Leehan tidak marah. Tapi melihat Woonhak kalang kabut panik begini membuat Leehan jadi ingin mengerjain yang lebih muda.

Tidak disangka Woonhak malah memeluknya, menenggelamkan kepalanya pada bahu Leehan. Yang dipeluk kaget bukan main, ponselnya hampir jatuh kalau bukan karena tertahan guling disebelahnya.

“Kak Donghyun maaf ya, aku beneran gak kepikiran kakak bakal marah gara gara tadi.. Tapi beneran aku minta maaf banget.” jelas Woonhak.

Leehan terkekeh mendengarnya, tangannya beralih mengusap puncak kepala adik termuda di grup mereka.

“Aku gak marah Woonhak, kesel dikit aja soalnya aku udah effort banget dari awal tapi malah kamu elim. Aku sebel huft!” ujar Leehan, Woonhak yang mendengar itu makin merapatkan pelukannya pada Leehan.

“Beneran gak marah?” tanya Woonhak, Leehan merespon dengan gelengan pelan. “Kecuali aku bukan kesayangan kamu lagi, aku gak mau ngomong lagi sama kamu.”

Woonhak langsung bangkit, melepas pelukannya. “GAK! Kak Donghyung tetep nomor 1 di hati aku pokoknya!” Leehan terkekeh gemas melihat tingkah Woonhak.

Bagaimana ia tidak sayang dengan Woonhak, adiknya semenggemaskan ini. Tapi awas saja sampai posisinya tergantikan, ia mungkin benar-benar tidak mau bicara lagi dengan Woonhak.