Chapter Text
Padma menatap satu per satu bahan di atas meja dapur apartemennya, memastikan semua bahan telah lengkap untuk membuat minuman cokelat. Tidak banyak bahan yang dibutuhkan untuk membuat minuman cokelat ini—gula, garam, irisan cokelat batang, bubuk cokelat Venezia, air, susu, ekstrak vanila dan kayu manis. Resep sederhana yang juga sering digunakan di banyak kafe.
Ia menyalakan kompor gas untuk memanaskan air, kemudian meraih bungkusan bubuk cokelat Venezia. Ketika Padma membuka plastiknya, ia mendapati isinya tinggal sedikit, namun masih cukup untuk membuat dua gelas minuman cokelat malam ini. Setelah ini ia harus memesan lagi bubuk cokelat Venezia langganannya untuk persediaan.
Begitu air mendidih, Padma menuangkan bahan-bahan dengan bertahap. Aroma cokelat yang kaya segera memenuhi dapur. Ia menutup mata sejenak, mengirup aroma cokelat yang begitu nikmat.
Tak lama, minuman cokelat itu pun siap. Padma menuangkannya pada dua gelas berisi es yang telah ia siapkan sebelumnya. Ia kemudian membuka kulkas, mengambil whipped cream buatannya sendiri, dan menambahkannya sebagai topping. Whipped cream ini adalah rahasia kelezatan minuman cokelat buatannya.
Sejenak, Padma teringat sesuatu. "Sepertinya aku punya croissant yang belum kumakan."
Ia kembali membuka kulkas, mengambil bungkusan croissant yang dibelinya pagi tadi dari toko langganannya. Setelah memanaskannya sebentar di microwave, ia membawa semuanya ke ruang tamu.
Di sana, seorang pria tengah duduk dan menunggu dengan sabar seluruh kegiatannya di dapur. Padma membuang napas. Satu lagi orang beruntung yang bisa mencicipi minuman cokelat buatannya.
Ketika sudah berdiri di dekat pria itu, ia meletakkan minuman cokelat dan sepiring croissant di hadapan Bujang. Pria yang telah menunggu dengan sabar itu memanglah Bujang.
Ada sedikit rasa tidak ikhlas yang menggelayuti hatinya saat ia selesai menyajikan minuman cokelat itu, kemudian duduk di sisi kiri pria itu. Terlebih saat ia melihat bagaimana Bujang memandang minuman itu dengan seksama, seolah sedang menilai sesuatu yang sangat berharga.
Ini semua gara-gara Nina.
Sahabatnya itulah yang awalnya membocorkan soal minuman cokelat buatan Padma kepada Bujang. Dengan sikap hiperbolisnya, Nina memuji minuman itu habis-habisan, seolah itu adalah cokelat terenak di dunia. Mungkin karena itulah Bujang menjadi sangat penasaran. Sejak hari itu—tepatnya sebulan lalu—ia mulai merecoki Padma, terus-menerus memintanya untuk dibuatkan.
Padma sudah berulang kali menegaskan bahwa jika Bujang benar-benar menginginkannya, ia bisa membelinya di book café miliknya, yang setiap hari menyediakan lima puluh gelas untuk dijual.
Namun, nasib Bujang tidak semulus itu. Setiap kali ia datang, minuman cokelat itu selalu terjual habis. Bujang sempat berkata untuk menginap di book café miliknya demi memastikan bisa mendapat satu gelas. Tentu saja Padma langsung menentangnya. Oh, Demi Tuhan…. Ini book café, bukan hotel, vila, ataupun tempat penginapan lainnya.
Pada akhirnya, setelah sebulan berlalu—dan setelah Bujang membantunya menemukan satu buku yang sudah lama ia incar—Padma pun menyerah. Sebagai tanda terima kasih, ia akhirnya menghadiahkan satu gelas minuman cokelat buatannya pada Bujang.
"Silakan diminum. Aku tidak tahu apakah rasanya akan memenuhi ekspetasimu atau tidak, tapi… ya, inilah minuman cokelat buatanku yang sering dibicarakan Nina," ujar Padma.
Bujang mengangkat sebelah alis. "Sepertinya akan memenuhi ekspetasiku."
"Kalau begitu minumlah," pinta Padma.
Namun, alih-alih meminum, Bujang justru menggeser gelas itu kembali kepada Padma. Apa maksudnya?
"Sayangnya, aku tidak bisa meminumnya," ujar Bujang.
"Apa?"
"Aku tidak bisa meminumnya," ulang Bujang.
Padma semakin bingung, "Kenapa begitu?"
"Karena kau tidak mengizinkannya."
Padma menatapnya, tidak percaya dengan kalimat absurd itu. "Apa? Aku sudah membuatkannya khusus untukmu, dan sekarang kau bilang tidak bisa meminumnya karena aku tidak mengizinkannya? Omong kosong macam apa itu, Monyet?”
"Kalau begitu jawab pertanyaanku ini…." Bujang turut menatapnya, ekspresinya sulit dibaca. "Apa kau tidak keberatan jika aku meminumnya? Aku tahu kau pada akhirnya membuatkan minuman cokelat ini untukku, tapi apa kau benar-benar tidak keberatan jika aku meminumnya? Karena aku bisa melihat ekspresi tidak ikhlas di wajahmu itu," ungkap Bujang.
Padma terdiam.
Jadi… itu masalahnya. Pria itu menyadarinya.
Lengang.
Padma mendengus, mengalihkan pandangan. "Lalu kenapa? Jika ekspresi tidak ikhlas ada di wajahku, kau benar-benar tidak ingin meminumnya?"
"Jadi kau memang tidak ikhlas memberikan minuman cokelat ini kepadaku."
"Sejak kapan kau peduli dengan ekspresi ataupun perasaanku? Bukankah kau selalu melakukan hal yang bertentangan dengan keinginanku?”
Bujang mengangkat bahu. "Benar juga," katanya santai. "Tadi aku hanya ingin memastikan ekspresi itu memang nyata, atau aku yang salah membacanya."
Bujang kembali meraih gelas itu, menghirup aromanya dalam-dalam. "Aromanya lezat," komentar Bujang.
Padma menatapnya datar.
"Seperti yang kau bilang tadi, aku selalu melakukan hal yang bertentangan dengan keinginanmu. Jadi, aku tetap akan mencobanya, meskipun kau sedikit tidak ikhlas." Bujang sengaja menekankan kata sedikit pada kalimatnya.
"Seharusnya kau sudah melakukannya sejak tadi, bukannya malah banyak bicara," cetus Padma.
Bujang terkekeh, kemudian akhirnya menyesap minuman cokelat itu. Padma turut melakukan hal yang sama.
"Rasanya akan lebih lezat jika kau menyantapnya dengan croissant—"
Suara Padma tertahan ketika melihat Bujang yang tiba-tiba terdiam setelah menyesap minuman cokelat buatannya. Alisnya berkerut, sedikit heran. Ekspresi pria itu sulit dibaca. Ada apa? Apakah rasanya tidak sesuai ekspetasi Bujang?
"Kau kenapa?" tanya Padma.
Bujang perlahan menoleh ke arahnya, tapi tetap diam.
"Apa ternyata tidak sesuai ekspetasimu?" tanya Padma sekali lagi.
Kembali lengang.
Alih-alih menjawab, Bujang justru kembali menatap gelas di tangannya, lalu mencicipinya sekali lagi. Setelah itu, barulah ia mengarahkan pandangannya kembali ke Padma, yang masih menunggu dengan penuh tanya.
"Hei, Monyet—"
"Kau tahu," potong Bujang, tiba-tiba tersenyum manis. "Kurasa dibandingkan Miss Vigilante, sekarang kau lebih cocok dipanggil Miss Chocolate." Matanya menatap Padma lekat-lekat sebelum melanjutkan, "Ini minuman cokelat terlezat yang pernah kucoba."
