Work Text:
Langit terlihat nampak biru semenjak matahari yang perlahan muncul malu-malu. Gemerisik lonceng bambu yang digantung di muka rumah saling tubruk beradu—mencipta bising yang membangunkan kicauan burung-burung di ranting pohon dan atap rumah Jihoon. Ada Bunda dan Kak Jeonghan di ruang tamu, rupa-rupanya mereka menunggu Jihoon bangun dari waktu tidurnya yang belakangan ini tak teratur.
"Jam segini baru bangun." ujar Kak Jeonghan ke arah Jihoon yang masih menggosok kedua mata, lalu menguap pelan, Jihoon menatap Kak Jeonghan kesal. Namun seketika semuanya pudar ketika Jihoon melihat seutas senyum Bunda yang paling manis itu sudah terukir pada sudut bibir-lengkap dengan netra Bunda yang selalu teduh dan penuh cinta.
"Jihoon, tolong pergi ke alun-alun, ya? Ambilkan bunga di toko bunga langganan Bunda."
Sejalan dengan ucapan Bunda baru saja, Jihoon lalu memberi anggukan dengan cepat sembari melebarkan senyumnya.
"Tapi kamu mandi dulu!" suara Bunda menggema setelah Jihoon kembali beranjak untuk memasuki kamar dan bersiap-siap sebelum berangkat."
Jika seorang penulis cerita memiliki kebiasaan menyelipkan sesuatu di bagian dalam karya tulisan yang diciptakan, maka Jihoon juga memiliki kebiasaan yang dimiliki setiap harinya. Membeli es krim di alun-alun kota. Mungkin, apabila ditelisik lebih jeli, pada dasarnya Jihoon lebih menyukai bertemu dengan penjual es krim yang menjadi langganannya. Mereka dahulu berteman sejak Jihoon masih berusia 8 tahun, ketika ia datang pasti akan selalu hadir obrolan dan candaan yang mengudara, ada juga suguhan alunan lagu favorit Jihoon di kedai es krim favoritnya.
Lalu, nanti Jihoon pasti selalu dengan sengaja melewati ruang di ujung lantai utama, ada belokan kecil di sana. Jihoon akan berjumpa dengan sekumpulan kucing yang sedang makan dan bermain bersama pelanggan, terkadang ada juga sosok anak kecil yang jemarinya lincah memainkan piano di ujung ruangan.
Jihoon sudah siap dengan segala pakaian dan wangi parfum yang menguar, masih bercermin menata rambutnya yang terlihat sudah sebahu, sejalan dengan itu Jihoon lalu memutar badannya keluar dari kamar untuk pergi ke alun-alun kota dan mengambil bunga titipan Bunda.
“Bunda, aku berangkat!”
Jihoon meninggalkan ucapan itu kepada Bunda yang sedang menyiram bunga di halaman depan, lalu membuka gerbang rumah dan berjalan santai untuk pergi ke tujuannya. Terik matahari masih bersahabat bagi Jihoon untuk menyusuri jalanan dan gang-gang kecil yang dilewati. Jihoon juga tidak masalah kalau harus pergi tanpa Kak Jeonghan yang kadang-kadang mau mengantar.
Tak lama kemudian, sesampainya sepasang kaki Jihoon di toko bunga langganan Bunda—ia langsung disambut dengan pemilik toko bunga yang sudah hafal dengan kehadiran Jihoon di sana. Mereka saling melempar senyum hingga akhirnya bunga titipan Bunda sudah ada di genggaman tangan Jihoon.
“Terima kasih. Bunda sudah bayar?” tanya Jihoon ramah.
“Sudah. Hati-hati pulangnya, ya.”
“Terima kasih lagi, Bibi.”
Mungkin pagi hari ini akan selalu diingat oleh Jihoon, suasana hatinya bagus, ada Junhui yang tersenyum di meja kasir seperti sedang menyambut pelanggan setia yang setiap hari bisa datang; Jihoon seorang. Lengkap dengan celemek panjang yang menempel di badan, Junhui beranjak dari meja kasir dan berhenti di hadapan Jihoon. Tangannya dilap sekilas ke celemek hitam polosnya.
“Bunga buat siapa itu?” pandangan Junhui tertuju pada bunga yang sedang Jihoon pegang.
“Oh, ini titipan Bunda, mungkin mau diberikan untuk temannya. Aku kurang tau.”
“Begitu, ya. Mau es krim cokelat lagi hari ini?”
“Mau.”
“Kalau mau, kamu harus di sini agak lama, ya?”
“Satu jam.” jawab Jihoon memastikan.
“Boleh. Tunggu aku buatkan es krimnya, Jihoon.”
Hanya ada anggukan dan senyum hangat yang diberikan Jihoon kepada Junhui, sebelum akhirnya Jihoon mencari tempat duduk yang tidak ditempati. Ia duduk di pojok kiri ruangan sendirian, melihat suasana kedai es krim yang sudah ramai pelanggan, padahal waktu masih menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Sejenak Jihoon memejamkan mata, menghirup dalam-dalam udara dari kedai es krim yang menghasilkan jejak wangi dan sejuk yang mengambang.
“Satu es krim cokelat untuk Jihoon.” Junhui datang dengan es krim cokelat yang sudah dipesan.
“Terima kasih.”
“Hmm, kamu gak mau bawa untuk Kak Jeonghan dan Bunda?”
“Gak perlu, Junhui. Es krimku aja udah cukup.”
Junhui mengangguk, ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Jihoon. Biasanya kursi ini akan diisi oleh salah satu pelanggan. Ia sering datang bersama adik lelakinya. Namun, pagi itu Jihoon yang lebih dahulu datang, jadi Junhui mempersilakan Jihoon untuk menempati kursi itu sekarang. Hari-hari seperti ini hanya bisa terjadi di hari-hari libur Jihoon, seperti hari Jumat hingga Minggu.
Dipikir-pikir, kedai es krim milik Junhui ini kian menenang, seolah-olah ikut tumbuh bersama waktu. Dulu Bunda, Kak Jeonghan, dan Ayah sering mendatangi tempat ini saat Jihoon belum lahir. Lalu sekarang, Jihoon berteman dengan anak sang pemilik kedai es krim, memori-memori masa kecil Jihoon dan Junhui seperti disimpan di sini, tidak pernah sembunyi bahkan sesekali.
“Selamat pagi, selamat datang.”
Suara Junhui menyambut satu pelanggan yang baru saja membuka pintu dan memasuki kedai seorang diri. Ia segera beranjak dari duduknya, sedangkan Jihoon spontan mengikuti arah pandangan Junhui yang menyambut pelanggan tersebut.
“Oh, mau bawa pulang es krim lagi? Atau dimakan di sini dulu?” ujar Junhui seperti mereka memang sudah akrab sebelumnya, tapi Jihoon tidak tahu siapakah dia.
“Bawa pulang kayak biasanya. Dua, ya?” begitu balas sang lawan bicara.
Jihoon menatap mereka berdua secara bergantian, entah apa yang dipikirkan oleh Jihoon. Namun, ia bahkan sama sekali tidak mengenali pemuda itu. Tapi bagaimana bisa ia terlihat begitu akrab dengan Junhui. Tak lama setelahnya, Junhui langsung pergi sejenak meninggalkan Jihoon yang duduk sendirian di sana. Lalu, pemuda yang menjadi pelanggan Junhui itu tiba-tiba menoleh ke arah Jihoon yang sibuk dengan es krim cokelatnya—ia berusaha menghabiskan.
Ada raut wajah dengan senyum yang diberikan, hingga kedua matanya berbentuk segaris. Jihoon kebingungan, tidak membalas senyuman itu karena menurut Jihoon, mereka hanyalah dua orang asing yang baru saja bertemu. Mungkin pemuda itu memang ramah dan murah senyum, namun Jihoon tidak membalas senyuman yang diberikan. Kesejukan udara di kedai itu masih bersemayam, pandangan Jihoon dilemparkan menghadap jendela yang menampakkan langit biru dan riuh jalanan alun-alun kota. Awan putihnya senada dengan setelan yang sedang Jihoon pakai sekarang.
“Nih, es krimnya siap dibawa pulang.”
Suara Junhui mengedar kembali dan Jihoon spontan menolehkan kepala ke sumber suara yang tercipta dari ujung meja di depan ruangan. Kursi yang tadinya kosong kini diisi oleh sosok pemuda yang melempar senyum, lengkap dengan pakaian serba hitamnya. Lalu mata Junhui dan Jihoon bertemu, sembari Junhui mengisyaratkan Jihoon untuk menunggu sejenak. Ada senyum hangat yang sangat familier, juga tatapan lembut yang lantas membuat Jihoon mengagguk.
“Sip! Pulang duluan ya keburu dicariin sama adek.”
“Okeee, besok ke sini lagi sama adeknya dong?”
“Gak janji, kalau lagi mau diajak ya nanti diajak, ya, Junhui.”
Kontan, Jihoon mengalihkan pandangannya, seperti menghiraukan. Ada getar dari ponsel yang berada di meja Jihoon tiba-tiba, berhasil menghentikan langkah pemuda yang hampir saja mendekati pintu kedai.
“Ada telfon tuh.”
Jihoon membawa kepalanya menoleh ke sumber suara, pemuda itu lagi. Netranya tertuju pada ponsel Jihoon yang menampilkan notifikasi panggilan masuk dari Bunda. Tangan Jihoon spontan meraih ponselnya, lalu ia geser ikon warna hijau pada layar kaca.
“Kenapa, Bunda?”
Sapa Jihoon setelah menempelkan benda tipis itu pada telinganya. Sementara pemuda yang tidak Jihoon ketahui siapa, sudah beranjak keluar dari kedai itu. Ada Junhui yang tersenyum tipis menghampiri kursi Jihoon yang masih pada tempatnya.
“Kok belum pulang? Sudah diambil bunganya?”
“Lagi makan es krim di Junhui, habis ini pulang.”
Jihoon melemparkan jawab sembari menengok ke arah jam dinding dengan bentuk kepala kucing berwarna abu-abu. Jarum jam panjang sudah menujuk ke angka dua. Pukul sembilan lewat sepuluh.
“Bunda tunggu di rumah, Jihoon. Jangan lama-lama.”
Bip!
Seusai mematikan panggilan, ponsel hitam itu Jihoon masukkan pada saku kanan. Hela napas akhirnya keluar dari celah bibir Jihoon.
“Gak jadi satu jam di sini deh, maaf ya. Bunda udah nyariin.”
“Iya, gak apa-apa. Besok masih hari Minggu, kamu bisa ke sini lagi.” timpal Junhui.
“Ya sudah, aku pulang dulu. Terimakasih banyak es krimnya.” Junhui melambaikan tangan ke arah Jihoon sebelum akhirnya Jihoon mulai menghilang dari balik pintu kedai.
Namun, tiba-tiba ada secarik kertas kecil yang Jihoon lihat di depan pintu, langkah kakinya terhenti sejenak—ia meraih kertas tersebut. Ada tulisan tangan Junhui yang dapat Jihoon kenali, di dalam kertas kecil itu terdapat tulisan “Besok beneran ajak Chan, ya. Jangan boong. Makasih, Soonyoung!” Baru kakinya akan melangkah masuk ke dalam kedai Junhui, ada yang menahan bahu Jihoon dengan segera.
“Itu kayaknya punyaku, jatuh. Ada tulisan nama Soonyoung, gak?” Jihoon menoleh, ini pemuda yang melempar senyum kepadanya tadi.
“Oh?”
Bingung, Jihoon menunduk tiba-tiba, seperti mencari tahu bahwa memang ada nama Soonyoung yang tertulis di kertas kecil tersebut. Soonyoung menghembuskan napas lega, untung saja dia tidak salah kena. Pasti kalau yang ditepuk bahunya bukan Jihoon, ia akan merasa malu dan mungkin tidak akan berkunjung ke kedai es krim Junhui untuk beberapa waktu.
“Soonyoung.” ucap Jihoon membaca tulisan nama itu di kertas kecil yang masih dipegang.
“Iya, kenapa?” balas Soonyoung percaya diri.
“Oh, bukan. Itu—anu, iya, nama kamu ditulis di sini.” jawab Jihoon.
Matanya tidak menatap pada wajah sang lawan bicara. Jihoon berikan kertas kecil itu kepada si pemilik.
“Makasih. Kamu yang tadi teman Junhui, ya?”
“Iya. Maaf tapi mungkin lain kali aja ngobrolnya, aku harus pulang sekarang.”
Jihoon merasa seperti hadir Soonyoung ini begitu tiba-tiba. Jihoon menatap Soonyoung sejenak, pemuda itu bernetra legam, bentuk matanya kecil, dan juga senyum yang seperti tidak pernah absen untuk bertengger di wajahnya.
“Aku juga mau pulang. Kamu ke arah mana?” tanya Soonyoung lagi.
Ia tahu betul bahwa dirinya memang tipikal yang tidak akan ragu untuk berkenalan dengan siapa saja—bahkan baru bertemu beberapa menit, Soonyoung bisa mengajak siapapun menjadi temannya. Mungkin saat ini Jihoon adalah target baru untuk Soonyoung. Entahlah. Jihoon menunjuk arah jalan pulangnya, lalu terbitlah senyum Soonyoung yang terlihat begitu antusias.
“Aku juga! Yaudah, pulang bareng aja, gimana?”
“Aku jalan kaki.” timpal Jihoon.
“Aku juga!”
Baru saja hendak melangkahkan kembali kakinya, Soonyoung sudah berdiri di samping kiri Jihoon. Kini telinga Jihoon mendadak membiarkan seluruh pertanyaan dan celoteh Soonyoung yang masuk. Soonyoung ini benar-benar tak henti bicara, begitu pikir Jihoon.
“Nama kamu siapa?”
Pertanyaan Soonyoung membuat Jihoon terkejut dan mengerutkan kening. Begini-begini, Jihoon adalah seorang introvert, yang tak begitu ingin mengetahui tentang dunia luar, apalagi bertemu orang yang baru ia kenal. Jihoon membenarkan rambutnya yang diterpa angin, melirik ke arah jalan menuju rumahnya, masih menggenggam bunga milik Bunda di tangan kanannya.
“Jihoon.”
Soonyoung mengangguk.
Memang ada-ada saja, saat ia merasa tidak begitu ingin diganggu apalagi bertemu orang baru—kini Jihoon justru bertemu dengan Soonyoung, seperti harinya akan menjadi sedikit berbeda setelah itu. Soonyoung menoleh sekilas ke arah bunga yang sedang Jihoon bawa, lalu berdeham.
“Itu bunganya bagus. Beli untuk apa, Jihoon?”
“Ini bunga titipan Bunda.”
Dihirupnya aroma bunga yang sedang Jihoon pegang. Langkah mereka terhenti. Soonyoung menunduk, sedangkan Jihoon kaku. Ia terkejut. Mungkin hal yang dilaku Soonyoung bukanlah sesuatu yang aneh atau dilarang, karena Jihoon juga terdiam—membiarkan. Hitam legam netra Soonyoung begitu jelas terlihat dari pandangan Jihoon. Jarak mereka berdua cukup dekat, tatapannya tajam, seolah Jihoon mampu terjebak di dalamnya.
“Harum…”
“bunganya.”
Soonyoung kemudian menarik diri, telapak tangan Jihoon berkeringat, mulai memerah. Rasanya seperti ingin cepat sampai di rumah saja. Semuanya bermula dari sekedar tatap, namun sepertinya ada rasa bahagia yang mulai merapat.
Menyusuri jalan pulang berdua dengan Soonyoung adalah salah satu hal baru yang Jihoon alami di hari itu. Langkah mereka dibawa menuju ke arah tempat tinggal Jihoon dan Soonyoung berada. Namun, ketika Jihoon hampir dekat dengan gang yang merupakan jalan satu-satunya untuk dapat sampai di rumah, Jihoon mengerut kening. Sedangkan Soonyoung yang berada di sampingnya kini memahat lengkung di bibir.
“Rumah kamu di gang sini juga?”
“Iya. Kamu?”
“Mungkin kita ditemuin begini supaya bisa bertukar sapa dengan baik sebagai tetangga, ya?”
“Hah?” Jihoon terlampau bingung.
Soonyoung berjalan mendahului Jihoon yang masih terpaku. Soonyoung melambaikan tangan pula. Melihat senyum yang Soonyoung berikan itu membuat kerja otak Jihoon tiba-tiba menjadi lambat. Semua ini benar-benar kejutan, entah mengapa hati Jihoon seketika berdebar.
“Jangan bilang, rumah Soonyoung itu selama ini ada di sekitar sini.”
Jihoon membuka gerbang pintu rumahnya, lalu mengusak surai hitam pekat dengan frustrasi.
“Aah, ini ada apa sih!” Jihoon bermonolog, tak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya dan tetangganya itu, Soonyoung.
“Jihoon, kamu sapa dulu ini tantenya. Dia tetangga kita.”
Aduh, lagi-lagi Jihoon harus berinteraksi dengan orang. Dirinya tidak begitu mahir dalam hal itu.
“Kenalkan, ini namanya Jihoon anak bungsu di rumah kita. Dia memang sedikit bicara, tapi terkadang juga bertingkah lucu kalau di rumah—jadi kalau sama Kakaknya gak bisa sehari gak diganggu.”
“Bunda, ih?”
Perkataan Bunda tentang Jihoon ini kelewat asal dan membuat Jihoon malu—hingga salah tingkah.
“Kalau sama Kakaknya kadang tiba-tiba jadi suka ngomong. Kakaknya juga begitu, suka adu. Akhirnya mengadu terus ke saya.”
Mama cerita dan tertawa. Wanita dengan wajah agak familier di hadapan Bunda ini mirip seseorang. Mirip Soonyoung. Itu yang terlintas dalam kepala Jihoon. Apakah memang benar kalau Soonyoung yang baru ditemuinya itu adalah tetangga Jihoon? Rasanya Jihoon ingin melontarkan banyak pertanyaan untuk Soonyoung. Tapi entahlah, Jihoon mungkin tidak akan menanyakannya.
Jam menunjuk pukul 8.50 pagi, setelah Jihoon menjabat tangan dan melempar senyum kepada wanita yang bertamu di rumahnya, ia berpamitan untuk pergi meninggalkan ruangan. Jihoon hendak jalan-jalan lalu menghampiri kedai es krim Junhui sebelum kembali melanjutkan kesibukannya di hari Senin. Jihoon benar-benar meninggalkan Bunda dan wanita itu barusan. Setelah memastikan dirinya sudah rapi, Jihoon memakai sepatu yang sudah ia siapkan di halaman depan. Pintu gerbang terbuka dan Jihoon melangkahkan kakinya tanpa buru-buru.
“JIHOON!”
Si pemilik nama itu sadar bahwa ada yang memanggilnya dari belakang, Jihoon menoleh.
“Soonyoung?”
Ada Soonyoung yang berlari kencang mendekat ke arahnya. Ada peluh dimana-mana. Soonyoung terengah, menatap Jihoon penuh rasa panik. Jihoon pun membulatkan matanya.
“JIHOON!”
“Apa!”
“Aku habis dikerjar-kejar sama anjing besar banget! Cepet banget larinya mana aku tadi lagi jalan sendirian.” ucap Soonyoung sembari mendudukkan badan, bahu lelaki itu naik-turun karena ia merasa kelelahan.
“Sekarang ke mana anjingnya?”
“Gak tau! Yang penting aku udah gak dikejar sekarang.”
“Memang kamu habis ngapain sampai dikejar?”
“Aku cuma jalan.”
Jihoon hampir terpingkal, matanya mulai membentuk sabit—muncul sedikit kemerahan di pipinya karena terik matahari pagi yang bersinar. Kepala Soonyoung terangkat sedikit saat Jihoon menampilkan senyum. Jantungnya tiba-tiba berdebar. Cantik. Begitu batin Soonyoung. Namun, tiba-tiba Jihoon membuyarkan pandangan Soonyoung. Jihoon sedikit memajukan kepalanya hingga sejajar dengan kepala Soonyoung yang masih terlihat ada peluh di sekitar dahi hampir ke matanya.
“Lain kali hati-hati, ya?”
Soonyoung bahkan tidak menjauhkan kepalanya karena merasa kaget, atau mungkin ia justru merasa senang? Namun senyum di bibir Soonyoung terlihat terbentang lebar. Itulah jawabannya. Soonyoung senang. Detik berikutnya Soonyoung tiba-tiba tergelak seketika, memperlihatkan lesung pipi kecil yang menyelinap dengan manis di wajahnya. Bahkan tanpa melihat raut wajah Jihoon di hadapannya, Soonyoung tahu bahwa Jihoon pasti sedang terdiam kebingungan sekarang.
“Iya, Jihoon. Nanti aku lebih hati-hati. Makasih udah dibawelin.”
“Hah?” Jihoon bingung.
“Ini kamu mau ke mana, omong-omong?” timpal Soonyoung mengalihkan suasana.
“Mau ke kedai Junhui.”
Mereka bertatapan. Sial, skenario ini tidak pernah Jihoon bayangkan. Mengapa ia merasa Soonyoung terlihat berbeda saat ini. Waktu bergulir dan mereka berdua tidak berbicara sejenak. Tidak ada kesepakatan di awal pertemuan mereka untuk terus bertemu, namun hari ini hadir interaksi baru yang semakin membuat keduanya terasa dekat.
“Ikut.”
“Ikut ke mana, Soonyoung?”
“Ikut kamu ke kedai Junhui.”
Ketika Jihoon berusaha untuk tidak terlihat begitu akrab dengan Soonyoung, ternyata situasinya sedikit lebih mencair. Lambat laun, Jihoon semakin sering pergi berjalan-jalan dengan Soonyoung. Lalu, Soonyoung sendiri semakin menunjukkan perhatiannya secara bebas, bahkan sudah berani memuji Jihoon, Soonyoung semakin penasaran dengan segala hal yang menyangkut Jihoon. Dan perlahan pula, Soonyoung mulai melihat Jihoon sebagai seseorang yang lebih dari sekedar tetangga dan teman; Soonyoung ingin Jihoon tersenyum karenanya. Soonyoung ingin dirinya ada di dekat Jihoon lebih lama.
Ada dentingan piano disertai nyanyian yang disuarakan memenuhi kedai Junhui pagi itu. Suasananya tenang seperti biasanya, ada anak-anak kecil yang tersenyum senang dengan memegang es krim di tangan. Kini, di hadapan Soonyoung ada Jihoon yang sedari tadi masih sibuk menghabiskan es krimnya—masih tanpa suara, lalu Soonyoung memutuskan untuk berbicara.
“Hari ini kamu gak ada kesibukan apa-apa, ya?”
“Gak ada, buktinya kita lagi di sini sekarang.”
“Hehehe, bener juga.”
Soonyoung tersenyum. Soonyoung senang melihat Jihoon yang kini menempati tempat duduk di hadapannya, netranya fokus tertuju pada Jihoon yang bahkan diam saja. Lagi-lagi Soonyoung tersenyum.
“Apa?”
“Gak apa-apa, lucu aja.”
“Siapa?”
“Kamu.”
Jihoon membuka mulutnya, hanya untuk dikatupkan kembali. Ia mendadak kehilangan kata-kata, jadilah dirinya hanya menghembuskan napas. Mendadak sebuah pertanyaan hadir memasuki benaknya, bahwa mungkin, ucapan Soonyoung baru saja mungkin gurauan semata. Jihoon bingung, namun Soonyoung masih tersenyum di hadapannya. Jihoon tidak paham.
“Seneng akhirnya bisa ketemu dan ngobrol banyak sama kamu.”
“Emang kenapa kok seneng?”
“Aku dari lama udah tau kita tetangga, tapi aku aja yang cupu gak berani nanya. Dari awal aku tau kamu, aku pikir kamu perempuan, tau. Ternyata aku salah.”
Jihoon tergelak, lalu Soonyoung kebingungan. Mungkin juga merasa malu sekarang.
“Kayaknya kamu orang pertama yang ngira aku perempuan. Lucu banget.”
Soonyoung memandangi Jihoon sejenak, mengamati rambut dan penampilan Jihoon di hadapannya. Mata dan bibirnya mungil, kulitnya bersih seputih susu, seperti keseluruhan yang dimiliki Jihoon itu indah dan Soonyoung baru menemukannya sekarang. Tak dapat ditahan lagi, sudut bibir Soonyoung pun naik sembari mengamati Jihoon yang begitu menawan. Kini, keduanya memang baru saja berkenalan, tapi demi Tuhan, baru kali ini juga seorang Jihoon mampu membuat Soonyoung tergila-gila, atau mungkin khawatir dan takut kehilangan. Jihoon ikut menatap kedua mata Soonyoung, yang setiap saatnya selalu mendebarkan jantungnya juga. Senyuman Soonyoung membuat Jihoon lemah, perasaannya campur aduk. Jihoon paham sekali bahwa baru pertama kali dirinya mengalami hal seperti ini.
“Stop senyum deh, Soonyoung. Ngeri.”
“You look pretty today.”
“Memang.”
“Setiap sama aku harus kayak begini, ya?”
“Kenapa?”
“Biar aku makin suka.”
Benak Jihoon tiba-tiba membeku, hatinya seperti diam dan tidak tahu ingin mengatakan apa. Refleksi merah muda merebak di pipi, entah mengapa kini sipu milik Jihoon ini mudah sekali dicuri. Soonyoung pelakunya. Ah, hati Jihoon harus kuat sekarang! Hembusan tawa mengudara bersama, ada dua sosok yang kini sedang memoles sketsa bahagia. Disaat itu pula, Soonyoung dan Jihoon memutuskan merangkai destinasi baru.
“Aku mau setiap hari jalan-jalan sama kamu, aku mau tahu hal-hal yang belum kamu ceritakan ke aku. Aku mau tau soal kamu lebih banyak lagi. Mau ya, Jihoon?”
Jihoon mengangguk, Soonyoung seperti memberikan dirinya alasan untuk menyambut esok hari. Waktu terasa begitu cepat berlalu namun indah. Jihoon pun berharap, semoga Soonyoung yang akan mengerti dirinya, yang menemaninya, yang ditemuinya di mana saja mereka berada.
Fin.
