Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-03-22
Completed:
2025-03-22
Words:
6,986
Chapters:
9/9
Comments:
4
Kudos:
12
Bookmarks:
2
Hits:
431

MUGGLE'S MUDDLE

Summary:

Dalam kejadian tak terduga, Draco Malfoy dan Harry Potter mendapati diri mereka tinggal di dunia Muggle setelah peristiwa dunia sihir yang sangat kacau. Sekarang mereka menjadi teman sekamar di sebuah apartemen Muggle kecil, keduanya memulai petualangan lucu saat Harry mengajarkan Draco bagaimana hidup di dunia Muggle.

Notes:

Ini adalah fiksi penggemar dari fandom Harry Potter yang pertama kali aku terbitkan di AO3. Selamat membaca, semoga kalian suka, dan kutunggu pula komentar dari kalian semua!

Disclaimer: J.K. Rowling (hanya sedikit penambahan tokoh asli dariku)

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Toaster Thrill

Chapter Text

Suatu pagi yang amat cerah terbilang di pusat kota London, dua pemuda yang sama-sama mulai memasuki usia kepala tiga,  bercengkrama satu sama lain hendak memulai keseharian mereka. Ini merupakan hari pertama bagi mereka bekerja sebagai warga London pada umumnya tanpa bantuan sihir yang biasa mereka andalkan.

Draco menyapa teman sekamarnya yang memiliki mata hijau paling indah—Harry Potter—dengan niat memberikan semangat pagi. Sebenarnya dia merasa agak sedikit canggung akan hal ini, pasalnya Harry yang dulu dikenal sebagai musuh terbesarnya semasa menimba ilmu di Hogwarts, kini bisa hidup dan tinggal bersamanya dalam satu atap yang sama pula.

“Oh, hai, Draco. Siap untuk menjadi Muggle di hari pertamamu?” tanya Harry mengejek, membalas ucapan salam pagi dari Draco. Dia menuju sudut lain apartemen yang terdapat sejumlah alat-alat dapur untuk mereka memasak. Katakanlah dapur mini, mini sekali.

Pemuda lain yang memiliki rahang paling tajam di apartemen tersebut berdecak lidah menanggapi sarkasme yang Harry lemparkan kepadanya. Dia kemudian mengekor Harry untuk menuju ke dapur apartemen mereka. Dan sekarang mereka berdiri berdampingan di depan meja dapur yang sudah dipenuhi alat-alat masak yang sudah Harry siapkan.

Draco mematung terkesima memandangi mantan musuh di sampingnya itu sibuk dengan karya dapurnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dengan pikiran kalut dan penuh keheranan, benaknya diisi oleh pertanyaan-pertanyaan nyentrik akan benda-benda yang sebelumnya belum pernah dia temui sama sekali.

Melihat Draco yang memperhatikannya sedari tadi tanpa mengedipkan mata, Harry yang saat itu sedang menggoreng telur mata sapi mencoba untuk memenciptakan suara selain dari penggorengan. Dengan tangan kiri awalnya menggantung begitu saja, Harry meraih pinggang Draco dengan jari-jemarinya dan mencoba untuk menggelitik pemuda yang masih memakai baju tidur tersebut.

“Apa, sih, Potter?!” gertak Draco kesal. Dia menampik tangan Harry yang masih mencoba menggelitikinya.

Dengan menggulirkan mata hijaunya, Harry mengernyitkan dahi. “Lagi pula, kau ini kenapa? Dari tadi berdiri di sampingku, mematung, sedikit pun tak membantu,” ucapnya tak kalah kesal sambil menggerakan sudip yang dia pegang secara berlebihan dengan niat agar Draco peka rasa.

Draco menghela napas beberapa kali sebelum akhirnya menanggapi. “Bagaimana aku bisa membantumu jika selama ini tidak pernah sekali aku bersua dengan seperangkat alat dapur yang ada di hadapanku ini?” tanyanya sengaja sedikit puitis terkesan menyindir. “Lagi pula, seorang Malfoy tidak ditakdirkan untuk jadi pembantu,” cetusnya.

“Tersebutlah sebuah etika yang disebut ‘bertanya’, wahai Tuan,” tanggap Harry tak kalah puitis.

“Benarkah? Aku selalu menerima jawaban tanpa bertanya sepatah pun.”

“Dasar hina.”

“Maaf?” gerutu Draco seraya bertolak pinggang menantang Harry.

“Kubilang, hina,” racau Harry sesaat setelah meniriskan telur gorengnya dari wajan. “Sudah, sekarang bantu aku memanggang roti,” perintahnya selagi mengambil sebungkus roti gandum yang terletak di dalam lemari pendingin sebelum menyerahkannya kepada Draco.

Draco melihatnya kebingungan. “Untuk apa roti ini?”

“Untuk pakan mayat Voldemort,” cecar Harry, “tentu saja untuk kita makan, Draco! Kita buat roti lapis pagi ini.”

“Kau memaksaku memakan roti gandum keras dan dingin seperti ini? Yang benar saja!” racau Draco sambil mengangkat ujung kanan bibirnya.

Mendengar itu, Harry hanya bisa menggelengkan kepalanya terheran. Dia kemudian mengarahkan telunjuknya ke arah benda yang terbuat dari baja anti karat berbentuk persegi, mengisyaratkan kepada Draco agar melirik benda tersebut dan mulai turut membantunya.

Seakan mengerti apa yang Harry maksud, Draco lalu mendekatkan tangannya ke benda tersebut . Dia mencoba menyentuhnya secara perlahan tetapi tak pasti. Namun, akhirnya Draco memberanikan diri untuk memegangnya.

“Potter, apa ini sebenarnya? Pekerjaan sihir apa yang seharusnya dilakukan?”

 Harry terkekeh rigan mendengar pertanyaan itu. “Itu namanya pemanggang roti. Kau bisa mendapatkan tekstur roti yang renyah dan rasa yang lebih lezat dengan benda ajaib tersebut.” jelasnya.

Draco terihat skeptis. “Ajaib, kau katakan? Mari kita lihat aksinya.”

Setelahnya, Harry melemparkan sebungkus roti gandum kepada Draco dan ditangkapnya roti itu dengan mulus.

“Masukkan dua lembar roti ke pemanggang itu!” tunjuk Harry.

Draco yang diperintah seperti itu agaknya cukup kesal, tetapi akhirnya dia laksanakan juga. “Aku harus memasukannya lewat mana?”

“Kau lihat dua lubang persegi panjang yang ada di bagian atas? Masukkan masing-masing selembar roti ke dalamnya. Kemudian kau perlu tekan ke bawah tuas yang ada di samping, dan putar kenop pengatur suhunya ke nomor tiga. Lalu tinggal tunggu dua menit, the magic will work.” Jelas Harry dalam satu tarikan napas. Bahkan Draco langsung melupakan langkah-langkah yang Harry sebutkan tadi.

Masih dalam pantauan Harry, akhirnya Draco bisa menyelesaikan apa yang tadi teman sekamarnya itu bilang.

“Siap-siap kagum!” ucap Harry semangat.

Dan ketika pemanggang roti tersebut sudah mencapai durasi dua menit, seketika Draco melompat mundur terkejut saat dua lembar roti yang dia masukkan tadi meloncat keluar.

“Jenggot Merlin! Ini seperti pertunjukan kembang api Si Kembar Weasley, tapi dapat dimakan!”

Melihat reaksi pemuda berambut pirang di sampingnya itu, membuat Harry terkekeh pelan. Ternyata dunia Muggle membuat seorang Draco Malfoy yang dikenal angkuh menjadi terlihat sangat bodoh, setidaknya itu menurut Harry.

Sesaat setelah Draco memanggang dua lembar roti gandum berikutnya, Harry menyiapkan kondimen lain untuk menyempurnakan roti lapis yang akan mereka berdua makan. Sarapan pagi itu menandakan Draco benar-benar siap menjadi warga Muggle, dan untuk Harry … siap dibuat repot menjelaskan segala hal oleh Draco karena kegaptekannya.

 

Toaster Thrill