Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-03-26
Words:
2,841
Chapters:
1/1
Kudos:
22
Hits:
592

Tiga pujian untukmu

Summary:

Dohoon tau perasaan yang ia miliki adalah sebuah dosa, tetapi biarkan sekali saja ia merasakan dosa itu bersama Hanjin secara rahasia.

 

(terinspirasi dari foto christmas dohhan, dan live 300 days mereka)

Work Text:

Takkan pernah terlintas dirinya jatuh hati dengan seorang member dari grupnya yang berkewarganegaraan china, paras wajahnya yang tampan, serta garis rahang yang tajam dan tegas berubah menjadi sosok yang paling cantik dalam grup kelompok.

Membuat Dohoon jatuh hati pada pria bernama Hanjin.

Hasrat yang seharusnya tidak boleh muncul itu selalu datang saat ia berhadapan dengan Hanjin. Setiap kali bersitatapan dengannya, ingin sekali Dohoon memiliki Hanjin sepenuhnya, mencium bibir si cantik hingga bengkak mengeluarkan rasa amis ketika bibir mereka bertemu, tetapi Dohoon selalu menahannya. Karena perasaan tersebut adalah sebuah dosa.

Suatu malam, Dohoon keluar dari kamarnya berniat ke dapur untuk mengambil air minum, saat keluar kamar langkahnya dibuat terhenti menangkap pria yang selalu berkelana dalam pikirannya terlihat tengah menulis sesuatu di kertas di ruang meja makan.

Dohoon meneguk ludahnya kasar, tenggorokannya tiba-tiba semakin terasa kering. Ia memaksa melanjutkan langkah kakinya menuju dapur, dirinya melewati Hanjin yang masih terfokus dengan kegiatannya sendiri.

Ia melirik ke samping melihat Hanjin tetap fokus pada kegiatannya mengabaikan dirinya yang baru saja lewat, membuat Dohoon gemas karena bibir tersebut tidak menyapanya.

Setelah mengambil dua gelas air, Dohoon kembali mendekati meja makan dan meletakkan salah satu gelas di samping Hanjin.

"Sedang menulis apa?" tanyanya membuka obrolan

"Menulis pesan untuk perayaan 300 hari setelah debut" jawab Hanjin tanpa menoleh.

Dohoon melirik jam dinding yang terpasang menunjukkan pukul jam 4 pagi sebelum memfokuskan pandangannya kembali ke Hanjin.

"Baiklah aku akan menemanimu" suaranya terdengar seperti nada orang yang tengah cemburu.

Hanjin akhirnya menoleh kearah Dohoon, menatap Dohoon yang kini mengalihkan pandangannya.

"Kenapa gak lanjut tidur kak?" tanyanya heran

Dohoon menoleh "Liat kamu sendirian, kakak jadi mau nemenin kamu" senyum manis Dohoon berikan

Hanjin meresponnya hanya dengan mengangguk dan kembali fokus pada pekerjaannya.

Dohoon menyandarkan lengannya di atas meja, matanya tak lepas dari Hanjin. Tatapannya tenang, tapi ada sesuatu di balik sorot matanya—sesuatu yang membuat Hanjin merasa Dohoon menatap dirinya dengan tatapan ingin memiliki.

Hanjin berhasil menyelesaikan tulisan suratnya dengan total 5 lembar kertas saat fajar mulai menyingsing.

Saat Hanjin meregangkan tubuhnya karena pegal, dirinya melirik Dohoon si kakak tertua kedua di grupnya itu terlelap sambil menghadapnya

Hanjin menggoyangkan tubuh Dohoon pelan "Kak, bangun aku udah selesai,"

"Lanjut tidur di kamar aja kak. Kita masih punya waktu buat tidur kok" Hanjin melirik jam yang terpasang di dorm, jemarinya beralih mengelus surai pria disampingnya lembut berusaha membangunkannya.

Bukannya membuka mata, Dohoon justru menarik pinggang Hanjin lebih dekat, tetap memejamkan matanya sambil merengek manja.

"Mau tidur di kamar kamu," gumamnya, suaranya sedikit serak.

Kepalanya mendusel di dada Hanjin, membuatnya geli hingga refleks menghentikan pergerakan pria yang lebih tua itu.

"Iya-iya, tidur di kamar aku, ayo sekarang bangun dulu kak" Hanjin terkekeh melihat tingkah kakaknya yang selalu ia banggakan didepan para fans itu akhirnya berdiri dengan malas dengan tangannya yang terulur meminta dirinya untuk digenggam.

 

"Sebentar aku mau foto surat aku dulu"

---

Jantung Dohoon tiba-tiba berdebar saat Hanjin berbalik badan untuk membalas pelukannya.

Pelukan itu seharusnya biasa saja. Setidaknya, bagi Hanjin, ini hanya sekadar gestur mencari kenyamanan di antara mereka.

Namun, bagi Dohoon, ini adalah bencana yang tak terduga.

Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia takut suaranya bisa terdengar. Rasanya seperti selesai berlari 5 km.
Dan sialnya, Hanjin mendengarnya.

"Jantung kakak berisik," ujarnya ringan, menoleh dengan senyum menggoda. "Kakak suka sama aku, ya?"

Dohoon menegang seketika. Otot-ototnya mengeras, otaknya seperti berhenti bekerja. Namun, di tengah kepanikannya, ia justru langsung tersadar merasakan sesuatu yang lain—bahwa inilah kesempatan untuk menyatakan perasaannya yang selama ini ia pendam

Dohoon menarik napas dalam, lalu menunduk menatap Hanjin dengan lebih serius ditengah minim penerangan kamar Hanjin dan Kyungmin.

"Iya, aku suka sama kamu, Hanjin." katanya, suaranya seperti berbisik takut jika Kyungmin yang merupakan roommate Hanjin mendengar pernyataannya.

 

Hening.

Hanjin, yang sebelumnya santai, kini justru terdiam. Mata Dohoon menelusuri ekspresinya, mencari jawaban di balik keterkejutannya.

Untuk pertama kalinya, Hanjin yang kehabisan kata-kata.

"K-kak dohoon lagi bercanda kan?" tanyanya dengan suara tidak percaya.

Dohoon mengulurkan tangannya, jemarinya dengan lembut menyusuri surai rambut Hanjin. Sentuhannya pelan, penuh makna—seolah tanpa kata pun, perasaannya sudah terungkap dengan jelas.

Hanjin masih diam, matanya sedikit membesar karena terkejut. Dohoon bisa merasakan napasnya yang tertahan, seakan otaknya sedang mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

"Aku serius," Dohoon menambahkan, suaranya lebih lembut kali ini. "Aku suka sama kamu, Hanjin."

 

Jemarinya masih bertahan di rambut Hanjin, seolah takut jika ia menarik diri, kenyataan ini akan menghilang begitu saja.
"Apa aku harus mencium mu agar kamu percaya?"

 

Dohoon tersenyum tampan saat Hanjin masih terdiam
"Jika kamu diam akan aku anggap 'ya'" bisiknya sebelum benar-benar mencium ranum bibir Hanjin

 

Akhirnya… Dohoon bisa merasakan bibir Hanjin yang selama ini hanya bisa ia idam-idamkan. Ia mengecupnya dengan lembut, penuh perasaan, meski di lubuk hatinya yang terdalam, ia menginginkan lebih.

Jika mengikuti keinginannya, ia ingin mencium Hanjin sampai kehabisan napas—hingga bibir itu membengkak di bawah sentuhannya. Tapi untuk saat ini, ia menahan diri.

Karena yang terpenting, Hanjinnya tidak menolak.

Tiba-tiba, Hanjin tersadar. Ini salah.

Refleks, ia memukul pelan dada Dohoon, mencoba menghentikan ciuman itu. Dohoon menurut, menarik diri, tapi tatapannya tetap terpatri pada wajah Hanjin yang kini menunduk, entah karena malu atau bingung dengan perasaannya sendiri.

"Kak… ini salah," gumam Hanjin, suaranya nyaris bergetar.

Dohoon hanya tersenyum getir. Jemarinya kembali menyusuri surai Hanjin, lembut dan penuh perasaan.

"Aku tahu," bisiknya, nadanya penuh kejujuran. "Tapi perasaan ini nggak bisa aku kendalikan, Hanjin."

Ia menarik napas dalam, matanya menyiratkan kelelahan karena terus menyangkal sesuatu yang sudah lama ia rasakan.

"Kamu udah seperti belahan jiwa kakak," lanjutnya. "Kamu itu mentari di hidup kakak, selalu datang, selalu kasih kehangatan. Dan itu bikin aku pengen milikin kamu sepenuhnya… meskipun aku tahu ini perasaan ini salah."

Suasana hening. Hanya suara napas mereka yang terdengar di tengah ruangan.

Hanjin menggigit bibirnya, tetap menunduk tanpa berani menatap Dohoon. Kata-kata pria itu masih terngiang di kepalanya, menggema tanpa henti.

Ini salah. Ini dosa.

Hatinya mengiyakan, tapi kenapa rasanya begitu sulit untuk menolak? Kenapa jantungnya berdebar secepat ini, seolah menertawakannya yang mencoba menyangkal sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui sejak lama?

Dohoon menatapnya, menunggu. Tapi saat Hanjin tetap diam, pria itu akhirnya tersenyum maklum sambil menghela napas pelan.

"Aku nggak akan maksa kamu, Hanjin," katanya, suaranya lebih tenang kali ini. "Kalau kamu mau aku hilangin perasan ini, aku bakal coba."

Hanjin mengepalkan tangannya. Kata-kata itu seharusnya membuatnya lega, tapi justru ada sesuatu yang terasa menusuk dadanya.

Dohoon akan berhenti.

Tapi kenapa ia juga merasa sulit untuk melepaskannya?

Menelan ludah, Hanjin akhirnya mengangkat wajahnya, menatap mata Dohoon yang penuh ketulusan. Ia ingin mengatakan sesuatu—mungkin meminta Dohoon untuk tetap di sisinya, atau setidaknya, tidak membuat semuanya menjadi canggung.

Tapi yang keluar justru kalimat yang berlawanan.

"Kak dohoon harus berhenti."

Dohoon tersenyum kecil, getir. "Baiklah."

Hanjin menunduk lagi. Ada sesuatu di dadanya yang terasa sesak.

Lalu, kenapa rasanya… ia merasa bersalah?

 

"Maaf..."

Dohoon menatap Hanjin yang berada dalam pelukannya sejenak sebelum tersenyum kecil, senyum yang terasa lebih menyakitkan daripada penolakan itu sendiri.

"Tidak apa-apa," ucapnya pelan. "Maaf kalo pernyataan cinta aku bikin kamu ngerasa canggung"

"Tapi aku masih boleh tidur bareng kamu kan?" Dohoon menatapnya dengan penuh harap

Si cantik tampak terdiam sebelum akhirnya mengangguk

"Kak dohoon boleh tidur bareng sama aku kapan aja"

"Omong-omong, makasih udah nemenin aku nulis surat" kata Hanjin, Dohoon meresponnya dengan pelukan yang semakin erat, membawa tubuh si cantik berhadapan denga dada bidangnya.

 

"Sama-sama" balasnya berbisik diatas kepala Hanjin.

---

 

Perayaan 300 hari setelah grupnya debut akhirnya tiba. Para keenam anggota telah bersiap-siap untuk melakukan siaran langsung menyapa fans

 

Ditengah-tengah perayaan, Hanjin secara tiba-tiba mengungkapkan cerita saat ia sedang menulis surat yang berjumlah hingga 5 surat yang ia posting di kolom penggemar.

 

"Karena sebenarnya aku ingin mengatakan banyak hal buat sai, jadi aku menulis surat sampai lima kertas, kalian mungkin sudah melihatnya, kan?"

Dohoon, yang sejak tadi mendengarkan, tiba-tiba menimpali

"Kemarin aku lihat Hanjin menulis surat sendirian dia terlihat sangat kesepian jadi aku nemenin Hanjin disampingnya"

Hanjin tertawa kecil mendengar celetukan Dohoon sebagai saksi matanya "Benar, kak Dohoon nemenin aku sampai akhir" ujarnya sambil tersenyum.

Setelah siaran langsung berakhir, para anggota kembali bekerja untuk latihan. Namun Hanjin menyempatkan dirinya untuk menatap layar ponselnya sebentar, ia mengulir kolom penggemar, membaca komentar yang membahas suratnya dan bagaimana Dohoon menemaninya malam itu.

"Dohoon benar-benar cowok idaman"

"Hanjin aku iri padamu karena Dohoon menaruh perhatian besar kepadamu"

"Kalian berdua yakin tidak ounya hubungan apa-apa?"

Sesekali, ia menggigit bibirnya—membaca komentar yang terakhir ia liat seketika pikiran berpikir mundur mengingat kejadian sesungguhnya tadi malam

"Aku suka sama kamu, Hanjin"

 

Perkataan Dohoon semakin terngiang-ngiang dikepalanya, serumbat merah muncul di pipi.

 

Dohoon yang tidak sengaja melihat Hanjin terlihat sedang tersenyum sendirian akhirnya menegurnya

"Hanjin? Kamu kenapa? Latihannya sudah mau dimulai" interupsinya, Hanjin menjadi kelabakan menyembunyikan ponselnya kedalam saku

 

"O-oh ya? Ayo kita ke ruang latihan" Dohoon mengangguk-angguk dan berjalan lebih dulu

 

Hanjin menghela napas, menatap punggung Dohoon yang berjalan lebih dulu . Ada sesuatu di dadanya yang terasa tidak nyaman. Rasa bersalah? Atau justru sesuatu yang lebih dalam dari itu?

Hari-hari berlalu, dan tanpa ia sadari, dirinya mulai lebih sering memperhatikan Dohoon. Tatapan pria itu, suara beratnya saat sedang serius, kebiasaannya yang selalu menggodanya tapi di saat bersamaan penuh perhatian—semuanya membuat Hanjin semakin sadar bahwa ia juga merasakan sesuatu.

Sampai akhirnya, malam pergantian tahun tiba.

Para member pergi ke gunung di sekitar Seoul untuk merayakan tahun baru. Di bawah langit yang dipenuhi bintang, mereka berenam merapalkan harapan masing-masing untuk masa depan.

Selain berdoa untuk kesuksesan grupnya, diam-diam Dohoon menoleh ke samping, menatap Hanjin yang khusyuk merapalkan hajat-hajatnya dengan mata terpejam.

Dohoon menarik napas pelan, lalu dalam hati ia berbisik,

"Tuhan… meskipun terdengar mustahil, aku ingin Hanjin juga merasakan apa yang aku rasakan. Amin."

Yang dimaksud merasakan disini adalah perasaan cinta. Dohoon kembali mengharapkan cintanya dibalas, meski Hanjin memintanya untuk berhenti.

 

Tanpa menunggu kembang api pergantian tahun, kelima member grupnya kembali ke dorm untuk istirahat karena besok mereka masih ada jadwal.

Para member lain sudah masuk kedalam kamar mereka untuk istirahat meninggalkan pohon natal dengan lampu yang berkelap-kelip di ruang tengah.

Dohoon masih terjaga, duduk di sofa dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya yang sudah mengenakan piyama panjang berwarna biru, Ia menatap pohon Natal di depannya lewat kacamata minusnya, pikirannya masih melayang pada perasaan yang terus ia coba redam.

Tiba-tiba, suara pintu di sampingnya terdengar. Dohoon refleks menoleh, melihat siapa yang baru saja keluar kamar.

Di bawah cahaya temaram ruang tengah, ia mendapati Hanjin berjalan ke arahnya, mengenakan piyama putih berlengan pendek dan celana pendek senada, membawa sebuah kotak hadiah di tangannya.

 

"Belum tidur?" tanya Dohoon.

"Belum." Hanjin tersenyum kecil. "Ada yang mau aku kasihin buat kak dohoon"

Dohoon menatap kotak yang Hanjin pegang, lalu tanpa sadar menggeser duduknya agar Hanjin bisa duduk di sampingnya. Selama beberapa detik, hanya suara nafas mereka yang terdengar, ditemani cahaya lembut dari lampu Natal.

Lalu, Hanjin menyodorkan kotak kecil itu ke tangan Dohoon.

"Untuk kakak."

Dohoon mengerutkan dahi, sambil mengambil kotak hadiah itu dengan sedikit bingung. "Makasih...tapi ini apa?"

Hanjin membalasnya dengan senyuman "Buka aja."

Hanjin duduk di sampingnya, wajahnya terlihat mengalihkan pandangannya merasakan pipinya memerah.

Dengan hati-hati, Dohoon membuka bungkus kotak hadiah tersebut dan mendapati sendal karet couple berwarna hitam dan putih. Ia juga mendapati sebuah amplop disembunyikan dibalik sendal tersebut dan mengeluarkan selembar kertas berisi tulisan tangan Hanjin. Saat ia mulai membaca, dadanya terasa berdebar kencang.

 

1. Kak Dohoon adalah yang terbaik saat sedang membimbing ku belajar koreografi.

 

2. Kak Dohoon itu tampan, tinggi, baik… mirip tipe ideal aku.

 

3. Karena kakak mirip tipe ideal aku, jadi gimana kalau kita pacaran?

 

Dohoon terdiam. Matanya terus membaca ulang baris terakhir, memastikan kalau ia tidak salah lihat.

Hanjin menoleh mendapati pria kelahiran 2005 itu nampak terpaku pada tulisannya.

 

Dohoon telah selesai membaca suratnya.

Hanjin memainkan jemarinya dengan gugup. "Aku… aku nggak tahu cara mengatakannya langsung, jadi aku tulis aja."

Dohoon menelan ludah, dadanya terasa sesak oleh rasa haru yang tak bisa ia tahan lagi. Ia menatap Hanjin, lalu tanpa ragu menarik pria itu ke dalam pelukannya.

Hanjin sedikit terkejut, tapi tidak menolak. Ia bisa merasakan tubuh Dohoon yang hangat, bisa mendengar degup jantungnya yang berirama cepat.

"Aku nggak nyangka," gumam Dohoon, suaranya bergetar. "Aku pikir aku harus melupakan perasaan ini… tapi kamu malah membalasnya"

Hanjin tersenyum kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Dohoon. "Aku nggak mau kakak berhenti. Aku juga mau kita mencoba...perasaan dosa ini." katanya penuh penekanan diakhir.

 

Dohoon melepaskan pelukannya, ia menarik wajah Hanjin sedikit menjauh, menatap paras wajah cantik serta netra gelapnya dalam-dalam

Dohoon tersenyum tipis, lalu perlahan menyentuh wajah Hanjin, menangkup pipinya dengan lembut. "Boleh aku mencium mu sekarang?" bisiknya.

Hanjin tidak menjawab—hanya menutup matanya sebagai jawaban, Dohoon perlahan mendekat, jemarinya menyentuh pipi Hanjin dengan lembut sebelum akhirnya bibirnya menyentuh ranum merah milik pria itu.

Ciuman itu ringan di awal, sekadar sentuhan, seolah mereka masih saling mencari keberanian. Namun, saat Hanjin perlahan membuka mulutnya, Dohoon tak lagi ragu. Ia memperdalam ciuman mereka, mempertemukan lidahnya dengan Hanjin, saling melilit, saling menghisap air liur satu sama lain, napas mereka bercampur, hingga benang saliva di antara bibir mereka menetes jatuh ke sofa.

Suara basah pertarungan mulut mereka semakin nyaring dan mulai terdengar cabul, Hanjin pun memutuskan untuk mengakhiri ciumannya.

Menatap satu sama lain sambil terengah. Dohoon mengusap sudut bibir Hanjin yang menetes karna air liur yang entah milik siapa sambil tersenyum lebar menatap Hanjin menggigit bibirnya, malu.

"Jadi…" Dohoon mengangkat kertas yang tadi ia baca. "Mulai hari ini, kita pacaran?"

Hanjin tertawa kecil, pipinya memerah. "Iya, kita pacaran."

Dohoon menatapnya penuh kasih, lalu tanpa pikir panjang menarik ponselnya dan mengangkatnya tinggi. "Ayo foto bareng."

 

"Pake kamera polaroid aku aja kak, sebentar" Hanjin buru-buru bangkit dan masuk mengendap-endap kedalam kamar untuk mengambil kamera polaroidnya.

 

Ia kembali dengan kamera polaroid bewarna putih miliknya, lalu duduk dekat pohon natal.

"Disini aja kak, bawa kado dari aku juga"

 

Dohoon menurut, mendekat ke sisi Hanjin dengan kotak hadiah berisi sendal couple didalamnya.

Hanjin yang sudah menyiapkan meja untuk dijadikan tumpuan, mulai menyalakan timer untuk bisa foto bersama.

"Ayo angkat hadiah dari aku kak" tanpa disuruh dua kali Dohoon mengangkat, menunjukan sendal hitam yang diberikan Hanjin dengan bangga.

Mereka berpose dengan senyum yang masih tersisa di bibir, dengan latar belakang pohon Natal yang bersinar lembut di belakang mereka.

Klik.

Kertas dari kamera polaroid keluar dan jatuh di atas meja. Dohoon segera mendekat, mengambilnya sekilas sebelum kembali mengatur timer. Setelah selesai, ia kembali duduk disamping Hanjin.

Dohoon menoleh dengan senyum menggoda. "Sekarang mau sambil ciuman?"

Hanjin menatapnya sejenak, lalu tanpa ragu mengangguk. "Boleh."

Dan tanpa aba-aba, ia naik ke pangkuan Dohoon, kedua lengannya melingkar di leher pria itu sebelum mendekatkan wajah mereka. Bibirnya menyentuh bibir Dohoon dengan lembut, sebuah kecupan yang terasa manis sekaligus mendebarkan.

Klik.

Suara kamera polaroid menangkap momen mereka, tapi tak ada yang benar-benar peduli. Dohoon semakin menekan pinggang Hanjin lebih dekat, memperdalam ciuman mereka, membiarkan dirinya terhanyut dalam kehangatan yang selama ini ia dambakan.

Hanjin menggerakkan jemarinya di tengkuk Dohoon untuk memperdalam ciuman mereka, bagaimana pria itu sedikit menghela napas di sela-sela ciuman mereka. Hanjin kembali memutuskan ciuman, napasnya sedikit berantakan saat ia menatap Dohoon dengan tatapan yang sulit diartikan dan Dohoon mengerti, Hanjin mulai menatapnya 'lapar'.

Kilatan nafsu dari sorot mata Hanjin tidak bisa disembunyikan, Dohoon hanya tersenyum, menatap pria dalam pangkuannya. Dengan tidak rela Dohoon menurunkan Hanjin ke lantai

"Sebentar." Ia berjalan meraih kamera polaroid lagi dan mengarahkannya ke Hanjin

"Aku mau simpan satu foto kamu sendirian, buat kenang-kenangan."

Hanjin mendelik kecil, bibirnya sedikit maju kedepan "Tapi kan.."

Dohoon terkekeh, "Iya sayang, setelah ini kita tidur bareng ya."

Klik.

 

Sekali lagi, kamera menangkap momen berharga mereka. Hanjin, tersenyum dengan bibir yang sedikit bengkak menatap kearah kamera dengan lembut

Seolah hanya Dohoon lah yang bisa melihat Hanjin dengan kondisi sekarang.

"Nah udah selesai kan?, Ayo tidur bareng!" kata Hanjin bersemangat, Dohoon menatapnya dengan senyuman tampan mengetahui si cantik sudah tidak sabar lagi merayakan tahun barunya dengan kegiatan yang mungkin akan memjadi rutinitas mereka.

Di tengah gelapnya temaram lampu kamar Hanjin, mereka berdua saling memberi kehangatan dalam diam, takut membangunkan Kyungmin yang tidur di kasur sebelah.

Hanjin berbaring dengan napas yang sedikit berat, matanya terpejam lalu terbuka merasakan gerakan Dohoon yang berada di dalam tubuhnya sementara Dohoon berada di atasnya, menahan diri agar tidak bergerak terlalu agresif. Jemari Dohoon mengusap pipi Hanjin, lalu turun ke lehernya, merasakan denyut nadi yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Aku sampai, Hanjin. Pelan kan suaramu." Dohoon berbisik, suaranya berat tepat ditelinga Hanjin

"Erghh kak dohoonhh" racau Hanjin suaranya mengerang tertahan takut membangunkan Kyungmin.

Hanjin menghela napas panjang, tubuhnya masih sedikit gemetar saat akhirnya merasakan Dohoon keluar dari dalam dirinya. Peluh mereka bercampur, napas keduanya masih tersengal setelah melewati malam yang penuh gairah—sebuah perayaan tahun baru yang mereka akhiri dengan cara paling intim, penuh cinta, namun tetap harus mereka lakukan dalam diam.

Dohoon menatap wajah Hanjin yang masih memerah, jemarinya menyapu lembut keringat di pelipis pria itu sebelum mengecup keningnya dengan penuh kasih. "Aku sangat mencintaimu, Hanjin. Terima kasih… untuk semuanya."

Hanjin menatap balik dengan senyum kecil, jemarinya mencari tangan Dohoon lalu menggenggamnya erat. "Aku juga mencintaimu kak." bisiknya, suaranya terdengar lelah tapi penuh ketulusan.

Mereka tetap berbaring dalam keheningan, menikmati sisa kehangatan satu sama lain, menyadari bahwa mulai malam ini—perasaan terlarang yang mereka coba hindari telah menjadi sesuatu yang tak bisa lagi mereka lepaskan.

 

—End