Work Text:
“Rin.” Rintarou mendongak menatap wajah sahabatnya ketika namanya disebut. Kening Rintarou berkerut ketika melihat sahabatnya itu ternyata tidak menatapnya, justru menatap sesuatu di belakangnya.
“Lo kenapa, Ken? Liatin apa?” tanya Rintarou akhirnya.
Kozume Kenma—sahabat Rintarou—akhirnya menatap wajah Rintarou di depannya. “Lo percaya soulmate nggak?” tanya Kenma.
“Kenapa tiba-tiba nanya gituan?” tanya Rintarou heran. Pasalnya tidak biasanya sahabatnya itu membahas tentang soulmate atau ungkapan yang biasa dipakai oleh orang-orang yang menurut mereka berhasil menemukan satu-satunya belahan jiwanya. Mitos jaman dahulu yang sudah tidak banyak didengar oleh orang-orang pada jaman modern seperti sekarang ini.
“Ya lo percaya apa nggak?” tanya Kenma.
Rintarou terdiam sejenak, “percaya nggak percaya, sih. Tergantung orangnya juga mau percaya apa nggak,” jawab Rintarou.
“Rin, lo tau kan kalo dulu orang-orang sering nganggap gue gila gara-gara gue sering bilang ke orang lain kalo mereka bukan soulmate?” tanya Kenma, Rintarou hanya mengangguk ragu. Kenma tiba-tiba menunjuk kecil kumpulan remaja lain yang duduk di meja lain di belakang Rintarou dan Kenma. “Benang merah lo nyambung sama cowok itu, Rin.”
Rintarou lagi-lagi terdiam. Sejujurnya ia tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Ia memang sudah paham dengan kelebihan Kenma yang bisa melihat semacam benang takdir yang bisa mengetahui siapa soulmate atau belahan jiwa seseorang. Awalnya Rintarou tidak percaya, namun lama-lama Rintarou biasa saja. Dulu ia dan Kenma sering mendapat masalah karena Kenma yang terkadang keceplosan mengatakan pada orang-orang jika mereka tidak berjodoh. Namun semakin bertambah umur, Kenma menjadi lebih banyak diam dan tidak pernah berkomentar masalah benang takdir itu.
Kini tiba-tiba Kenma mengatakan jika soulmate Rintarou ada di belakangnya, tentu saja Rintarou tidak tahu harus berbuat bagaimana.
“Ken, nggak usah ngadi-ngadi! Gue aja nggak kenal sama mereka!” sangkal Rintarou.
“Gue serius!” tukas Kenma, ia meraih jari kelingking tangan Rintarou, “benang di sini, nyambung sama punya itu cowok!” tegas Kenma.
“Udahlah, Ken!” Rintarou menarik kembali tangannya. “Balik aja udah, yuk! Mata lo udah kayak panda kurang tidur tuh!” tuding Rintarou.
“Eh, Rin—”
Kenma tidak sempat menyelesaikan ucapannya ketika tubuh Rintarou sudah lebih dulu menabrak seseorang yang lewat di belakangnya. Bagaikan adegan sebuah sinetron, tubuh Rintarou yang limbung hilang keseimbangan hampir saja jatuh menyentuh lantai kafe jika sama seseorang yang Rintarou tabrak tadi tidak reflek menahan tubuh Rintarou agar tidak jatuh.
Dua pasang mata bertemu. Jantung Rintarou tiba-tiba berdetak lebih cepat ketika melihat tatapan khawatir seseorang yang kini tampak memeluknya.
“Sorry, sorry. Lo nggak apa-apa?” tanya pemuda itu membantu Rintarou berdiri.
Lidah Rintarou kelu, ia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun selain anggukan kecil yang menandakan ia baik-baik saja.
“Rin! Itu dia!” tukas Kenma yang membuat Rintarou dan pemuda itu menatap Kenma.
Jantung Rintarou semakin berdetak cepat. Pemuda di depannya ini adalah soulmate-nya? Belahan jiwanya? Benarkah?
Pandangan Rintarou turun menatap name tag pada seragam sekolah di depannya.
Semi Eita, Akademi Shiratorizawa.
“Lo beneran nggak apa-apa?” tanya pemuda itu kepada Rintarou lagi.
“Nggak apa-apa. Sorry juga gue nggak liat-liat tadi,” ucap Rintarou.
“Oh, sorry,” pemuda itu mengulurkan tangannya kepada Rintarou, “gue Semi Eita. Nama lo?” tanyanya.
Rintarou dengan ragu menyambut uluran tangan itu. Sensasi kejut tiba-tiba Rintarou rasakan begitu ia menjabat tangan pemuda bernama Semi Eita itu. Perutnya terasa seperti digelitiki pelan. “Suna. Suna Rintarou.” Rintarou membalas.
Eita tersenyum ketika mendengar nama Rintarou. “Salam kenal, ya, Suna. Semoga kita bisa akrab.”
Keduanya belum sadar, bahwa karena pertemuan tidak disengaja itu akan menuntun mereka ke hubungan yang selamanya.
FIN
