Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Lucius
Stats:
Published:
2025-03-28
Words:
435
Chapters:
1/1
Kudos:
4
Hits:
37

Manis

Summary:

Brant pernah bilang Lucius manis.

Notes:

🤸 yak selamat mmbaca

Work Text:

Brant pernah bilang Lucius manis. Harusnya Lucius perlihatkan saja rekaman kapten itu mabuk sambil menangis. Namun dari pada ketahuan merekam si narsis, Lucius cuma memutar mata sambil meringis. Serius, dari mananya dia ini terlihat manis?

Lucius bisa paham kalau yang mengatakannya itu Cantarella yang terkenal sadis. Definisi manisnya mengabur sisa tipis, dan dia cuma bisa terkekeh miris. Masalahnya yang mengatakan itu adalah Brant, aneh sekali sampai Lucius mengerutkan alis.

Memangnya manis yang Brant sebutkan itu berarti apa, kira-kira?

Jujur, memikirkan itu Lucius sampai tidak bisa tidur. Padahal dia terjaga sampai larut karena lembur, tapi tak bisa memejamkan mata saat sudah di atas kasur. Duh, jadwal tidurnya hancur gara-gara pujian yang Brant katakan setengah melindur.

Waktu mereka berjumpa esok-esoknya, Brant berkomentar bahwa kantung mata Lucius makin tebal mirip panda. Sedang penyebabnya tertawa-tawa, Lucius menghela napas dan menyandarkan kepala ke meja. Tidak adil sekali dia kepikiran sampai sakit kepala sedangkan Brant cuma tersenyum tanpa dosa.

"Apa ada masalah, Lucius?"

Yang ditanyai menggeleng setengah meringis. Tidak mungkin dia bilang tidak bisa tidur karena Brant mengatakan dia manis.

"Serius, kau terlihat kayak tidak tidur seminggu." Brant berceloteh seraya menopang dagu.

Lucius tertawa kecil mendengarkannya. "Kelihatan separah itu rupanya?"

"Iyaa, wajahmu juga terlihat keruh."

Lucius mengangkat bahu pura-pura tak acuh. "Mungkin cuma jenuh."

"Sungguh? Aku bisa menghibur kalau kau butuh."

Bila boleh jujur, Lucius jadi ingin minum anggur. Detak jantungnya babak belur cuma karena Brant bicara ngawur. Namun jika ia menegur, Lucius khawatir perasaannya akan bebas berhambur.

Habis ini mungkin Lucius akan tidak bisa tidur lagi. Semenjak menyadari kemungkinan dia jatuh hati, ia tidak bisa tenang barang sehari. Salahkan Brant yang mengocehkan keambiguan tanpa henti. Atau itu salah Lucius sendiri yang bodohnya jatuh hati.

Bukan berarti dia bisa memilih, bukan.

"Tidak bisakah kau bicara normal tanpa membuat orang lain salah paham?" Sambil merehatkan pipinya di meja, Lucius bergumam.

Brant mengangkat sebelah alis dan bertanya, "contohnya?"

"Banyak, tahu." Lucius menyalakan satu cerutu. "Seperti saat kau bilang aku manis waktu itu." Yang bikin Lucius tidak bisa tidur dan merasa dungu. "Apa coba maksudmu?"

Kapten itu menyeringai dan tergelak lepas. "Tidak ada arti lain, aku mengatakannya cuma karena gemas~"

Kerutan di dahi Lucius bertambah satu.

"Serius, manis ya manis. Atau Lucius enggak tahu dimananya kau terlihat manis?"

Sungguh, dia itu tidak jemu mengatakan hal-hal rancu. Sebelum merah di wajah Lucius mekar gara-gara malu, ia beranjak pergi dengan buru-buru. Bahkan tanpa basa-basi pamit lebih dulu.

Belum jauh langkahnya beranjak, Lucius dapat mendengar suara Brant terbahak.

"Aku bisa lihat telingamu memerah, Lucius!"

Lucius setengah berlari keluar bar sambil menutup telinga. Detak jantungnya gila sampai kedengaran di kepala. Mulutnya menyumpah meski dadanya mekar berbunga.

Kapten sialan. []

Series this work belongs to: