Actions

Work Header

Love on the Weekend

Summary:

Ini cerita sederhana tentang bagaimana Jeno—yang sudah kelewat tenggelam dan kalaupun dikasih pelampung bakal ditolak mentah-mentah—menghabiskan akhir pekannya dengan manusia paling berharga di seluruh semesta (versi dia, tentu saja).

Notes:

Draft tahun 2023 yang akhirnya bisa aku published 2 tahun setelahnya. Tapi maaf ya kalau yang ini bucin keterlaluan, semoga kalian gak mual bacanya.

Work Text:

Telepon itu masuk tepat saat Jeno sedang membereskan meja kerjanya. Ia melirik layar ponsel yang menyala di meja—nama yang sudah ia hafal luar kepala. Ia tersenyum kecil sebelum menggeser ikon hijau di layar.

“Are you REALLY not working overtime today, Jen?”

Ada nada waspada di suara itu, seakan-akan orang di seberang sana sudah siap menginterogasi lebih lanjut jika jawaban Jeno tidak sesuai harapannya.

“Hei, nggak sayang. I swear, no overtime today. Gak percaya?” Jeno menyeimbangkan ponsel di bahunya sambil memasukkan laptop ke dalam tas.

“You better be serious, soalnya kita udah gagal ketemu dua kali loh,”

Jeno terkekeh pelan, tahu betul kalau kekasihnya bukan hanya sekadar mengeluh—Donghyuck merajuk. “Hehe, maaf yaa, sayang.” Ia melirik jam di pergelangan tangannya. “Tapi tenang, ini aku udah siap-siap kok. Jadi ‘kan ketemu hari ini?”

“OF COURSE?? GILA KALI GAK JADI. AKU NAHAN KANGEN SAMPE HAMPIR GILA SENDIRI KAMU TAU GAK SIH?!?”

Tawa lepas lolos dari bibir Jeno. Ia bisa membayangkan Donghyuck di seberang sana, mungkin sedang bersandar di meja kantornya dengan tangan yang mengetuk-ngetuk permukaan meja karena gemas.

“Yang kangen gak kamu doang yaaa…” godanya.

“Terserah deh kamu mau kangen aku apa nggak. Yang jelas, aku kangen, dan aku butuh kamu jemput aku sekarang di kantor. Bisa gak, Lee Jeno?”

Jeno mengambil kunci mobil dari laci. “Siap, Lee Donghyuck! Mau nitip sesuatu?”

“Gak usah, nanti belinya bareng kamu aja. Kira-kira sampai kantorku jam berapa?”

“Wait, aku cek Gmaps dulu.” Jeno membuka aplikasi itu, memeriksa keadaan jalan sambil menyambungkan AirPods di kedua telinganya. “Setengah jam nih.”

“Make it ten minutes, could you?”

“Aku beli helikopter dulu kalo gitu.”

“Yaudah daripada beli helikopter mahal dan kita juga gak punya helipad, aku rela nunggu kamu tiga puluh menit kalau gitu. Hati-hati di jalan, love you, sayang.”

Jeno tersenyum kecil, merasakan hangatnya perasaan yang selalu Donghyuck bawa bersamanya. “Love you more.”

Ia hampir menutup telepon ketika suara Donghyuck terdengar lagi, dan lebih cepat.

“Gak boleh pake ‘more’, yang boleh bucin kebangetan cuma aku. Udah cepet kesini, bye!”

Sambungan terputus sebelum Jeno bisa membalas. Ia tertawa kecil sebelum memasukkan ponselnya ke saku.

Di luar, hujan gerimis mulai turun, menciptakan pola samar di kaca depan mobilnya. Jeno menghembuskan napas pelan, sedikit meregangkan lehernya yang terasa pegal setelah seharian duduk di depan komputer. Jaketnya sudah ia lepas begitu masuk mobil tadi, kini tergeletak di kursi penumpang.

Tangannya meraih kemasan kopi kaleng yang ia beli saat keluar dari kantor tadi. Masih dingin. Ia menyesap sedikit sebelum meletakkannya di cup holder, menyalakan mesin mobil, dan memasang sabuk pengaman.

Jeno melajukan mobilnya dan menyusuri jalanan yang mulai basah. Jeno melirik layar ponselnya sejenak, memastikan pesan terakhir dari Donghyuck sebelum sampai di kantornya.

“Aku turun sebentar lagi, tungguin ya.”

Jeno tersenyum kecil, jemarinya mengetuk-ngetuk setir dengan ringan. Dadanya terasa hangat, hampir geli sendiri membayangkan akhirnya bisa melihat Donghyuck lagi. Rasanya konyol, bagaimana satu pesan sederhana saja sudah cukup buat hatinya penuh.

Tak butuh waktu lama setelah Jeno tiba di kantor Donghyuck, sosok itu muncul di balik pintu kaca lobby. Donghyuck melangkah cepat, satu tangan memegangi tas selempangnya, sementara tangan lain sibuk menyesuaikan jaket yang ia pakai untuk menutupi kepalanya dari hujan. Rambut cokelatnya sedikit berantakan, mungkin karena terburu-buru.

Jeno sudah membuka kunci mobil sebelum Donghyuck sempat mengetuk jendela. Begitu pintu terbuka, hawa dingin dari luar langsung menyelinap masuk, bercampur dengan aroma hujan yang masih segar di udara.

Donghyuck masuk dengan sedikit terburu-buru, menutup pintu dengan satu dorongan. “Hujannya deres,” gumamnya sambil melepaskan jaket dari kepalanya.

Jeno melirik sekilas, tersenyum melihat beberapa helai rambut Donghyuck yang masih acak-acakan. “Makanya aku suruh bawa payung.”

Donghyuck tidak menjawab, dia hanya menoleh dengan sudut bibir yang naik sebelum akhirnya merapat, tangannya dengan santai menyusup ke lengan Jeno dan menggenggam erat.

“Akhirnya ketemu juga,” gumamnya, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.

Jeno, yang baru mau menyalakan mesin, menoleh. Ekspresi Donghyuck setengah merajuk, matanya berbinar dengan campuran rindu, sedikit ngambek, dan… sesuatu yang lain.

Sesuatu yang membuat Jeno refleks tersenyum kecil sebelum tangannya terangkat, menyentuh pipi Donghyuck dengan lembut. Ibu jarinya mengusap kulit itu, membelainya perlahan.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

Donghyuck tidak langsung menjawab. Sebagai gantinya, dia malah menyandarkan kepalanya di bahu Jeno, menghela napas panjang sebelum bergumam, “Kangen banget.”

Jeno terkekeh. “Aku juga, Sayang.”

Donghyuck mengangkat kepalanya, lalu menatap Jeno dengan mata berbinar. “Kalau gitu, kiss dulu dong.”

Jeno menaikkan satu alis. “Oh? Baru ketemu udah main nyosor aja?”

Tangan Donghyuck mencubit lengan Jeno pelan. “Ya abisnya kalau nunggu kamu gerak dulu, kelamaan.”

Jeno tertawa, tapi sebelum dia bisa berkata apa-apa lagi, Donghyuck sudah menarik wajahnya mendekat dan mengecup bibirnya singkat. Cuma sedetik, tapi cukup bikin yang dikecup jantungnya berdebar.

“Hyuck…”

“Apa?” Donghyuck terkikik puas.

Jeno menghela napas, lalu tanpa pikir panjang, menarik Donghyuck lebih dekat dan membalas dengan ciuman yang lebih dalam. Bukan yang terburu-buru atau penuh nafsu, tapi cukup untuk menunjukkan kalau dia juga merindukan ini sama banyaknya.

Donghyuck membiarkan Jeno menciumnya dengan segala perasaan yang tersimpan, menikmati kehangatan yang mengalir dari genggaman di tengkuknya, dari bibir Jeno yang terus mengecupnya dengan penuh cinta. Jari-jarinya yang tadi mencengkeram lengan Jeno kini melemah, lalu berpindah ke dadanya, merasakan detak jantung di balik kemeja itu—cepat, tapi stabil, seakan bicara lebih banyak dari kata-kata.

Mereka nyaris lupa di mana mereka berada sampai suara ketukan keras terdengar dari jendela mobilnya.

Tok tok tok.

Mereka berdua berhenti dengan bibir yang masih dekat.

Jeno melirik ke sisi kanan jendela, tepat saat seorang satpam berdiri di sana dengan menggunakan jas hujan, ekspresi datarnya jelas terlihat meski kaca sedikit buram karena embun.

Donghyuck mengedip beberapa kali sebelum membeku di tempatnya.

“Oh…,” gumamnya pelan, otaknya baru menangkap situasi.

Jeno menahan tawa, menutup wajah dengan satu tangan sementara tangan yang lain buru-buru menurunkan kaca jendela. “Maaf, Pak,” katanya dengan suara sedikit serak.

Satpam itu hanya menghela napas. “Kalau mau pacaran, jangan di sini ya, Mas. Ini area drop-off.”

Donghyuck langsung menyembunyikan wajahnya di bahu Jeno, entah karena malu atau ingin tertawa.

Jeno hanya bisa mengangguk cepat. “Iya, iya. Kita jalan sekarang.”

Begitu kaca dinaikkan kembali, Donghyuck tertawa pelan, masih menempel di bahunya. “Rasanya pengen lanjut ciuman sampe dipisahin warga, tapi malah satpam duluan yang pisahin kita.”

Jeno tertawa, tangan satunya mengusap punggung Donghyuck sekilas sebelum akhirnya memasukkan gigi ke D dan mulai menekan pedal gas.

Mobil Jeno melaju dengan tenang di tengah jalanan kota yang mulai dipenuhi lampu-lampu malam. Hujan sudah reda, menyisakan sisa gerimis tipis di kaca depan. Dari kursi penumpang, Donghyuck bersandar santai di bangkunya, sesekali menggoyangkan kakinya sambil menatap ke luar jendela.

Di dalam mobil, lagu mellow yang berasal dari playlist Jeno mengalun pelan. Namun, tak sampai tiga detik setelah menyadarinya, Donghyuck langsung meraih ponsel Jeno yang tersambung ke sistem audio mobil.

“Please, kita butuh sesuatu yang lebih asik,” katanya tanpa basa-basi, ibu jarinya dengan lincah mencari lagu lain.

Jeno hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus ke jalan. “Aku lagi suka lagu itu, loh.”

“Tapi aku lagi sama kamu,” balas Donghyuck, tepat sebelum intro Love on the Weekend dari John Mayer mengalun memenuhi mobil.

Donghyuck tersenyum kecil, jemarinya mengetuk-ngetuk pahanya, mengikuti irama. Lalu, begitu suara John Mayer mulai bernyanyi, dia ikut menyenandungkan liriknya dengan suara pelan.

“It’s a Friday, we finally made it…”

Jeno melirik ke sebelahnya, senyumnya tak bisa ditahan saat melihat ekspresi Donghyuck yang larut dalam lagu.

“I can’t believe I get to see your face…”

Donghyuck menoleh ke arahnya sekilas, matanya berbinar seperti tahu persis lagu ini pas sekali dengan situasi mereka sekarang.

“You’ve been workin’, and I’ve been waitin’…”

Jemari jeno ikut mengetuk setir mengikuti irama. “Lagu untuk kita, ya?”

Donghyuck mengangguk sambil tertawa, masih setengah bernyanyi.

“To pick you up and take you from this place~”

Jeno menggeleng kecil, tapi senyumnya makin lebar. Rasanya aneh bagaimana hal sesederhana ini bisa membuatnya merasa begitu bahagia.

Setengah jam kemudian mereka sampai. Supermarket di dekat apartemen Donghyuck cukup ramai malam itu, tapi dua orang laki-laki yang sedang mendorong troli bersama di lorong bahan makanan seakan punya dunia sendiri.

Donghyuck sibuk memilih tomat dengan sangat serius, sementara Jeno di sebelahnya hanya bersandar ke troli dengan wajah pasrah.

“Kamu gak usah sedetail itu, Hyuck. Tomat ya tomat.”

“Tomat itu bukan cuma tomat, Jen,” sahut Donghyuck tanpa menoleh. “Ini penting. Kalo tomatnya jelek, sausnya gak enak.”

Jeno menghela napas, “Oke, terserah Chef Hyuckie.”

Setelah Donghyuck puas dengan pilihannya, mereka lanjut ke bagian daging. Kali ini, Jeno yang memilih, sementara Donghyuck sibuk menyusun snack yang entah sejak kapan muncul di troli mereka.

“Kamu kapan masukin ini semua?” Jeno mengangkat sekantong besar keripik.

Donghyuck pura-pura sibuk melihat harga daging. “Gak tau, mungkin masuk sendiri.”

Jeno mengangkat alis, tapi memilih tidak berdebat. “Oke, tapi kalau besok kamu ngeluh pipi kamu makin chubby, jangan salahin aku.”

“Aku suka pipiku yang chubby,” balas Donghyuck santai. “Kamu juga suka, kan?”

Jeno hanya tertawa kecil, tidak menyangkal.

Setelah membayar belanjaan, mereka lanjut ke apartemen Donghyuck. Perjalanan ke apartemen Donghyuck memakan waktu hampir setengah jam karena beberapa lampu merah di sepanjang jalan. Donghyuck terus berkutat dengan pilihan lagunya dari ponsel Jeno, kadang ikut bernyanyi pelan, kadang hanya diam menikmati suasana.

Begitu mereka sampai di basement apartemen, Donghyuck melihat kantong-kantong belanja di kursi belakang. “Kayaknya kita kebanyakan belanja, deh.”

Jeno mematikan mesin mobil, menoleh dengan alis terangkat. “Kita?”

Donghyuck menatapnya sebentar sebelum mengerucutkan bibir. “Oke, aku. Tapi kamu juga gak nolak pas aku ambil es krim tadi.”

Jeno terkekeh, melepas seatbelt sebelum membuka pintu. “Itu pengecualian.”

Donghyuck hanya mendecak pelan sebelum ikut keluar dari mobil. “Terserah, yang penting sekarang kita harus angkut ini semua ke atas.”

Jeno menghela napas dramatis sebelum mengambil kantong belanja, Donghyuck langsung menoleh dan mengancam, “Kalo ngeluh, gak aku masakin.”

Jeno berhenti sebentar, lalu dengan cepat mengangkat kantong belanja tanpa suara.

Donghyuck tersenyum puas. “Bagus.”

Mereka mulai memasak, meski dengan beberapa insiden kecil—Jeno hampir menjatuhkan wajan saat membalik daging, sementara Donghyuck mengumpat kecil ketika tanpa sengaja menyentuh tutup panci panas. Namun, setelah beberapa kali cekikikan dan adu argumen kecil soal bumbu, makanan akhirnya tersaji di meja makan kecil apartemen Donghyuck.

Lampu dengan warna kekuningan di atas mereka menciptakan suasana nyaman. Donghyuck menarik kursinya, duduk di seberang Jeno, lalu meraih sendoknya dengan antusias. “Aku laper banget.”

Jeno terkekeh, mengambil sendok juga. “Sama. Semoga ini bisa dimakan.”

Donghyuck meliriknya tajam. “Optimis dong.” Dia mengambil potongan daging pertama, mengunyahnya pelan sebelum matanya melebar. “Eh, ini enak banget.”

Jeno mencicipi bagiannya dan mengangguk. “Not bad.”

Donghyuck mendecak, lalu dengan sengaja mengambil potongan daging paling besar di piring. “Yaudah, buatku aja semuanya.”

Jeno refleks menahan piringnya. “Eh, eh, jangan gitu dong.”

“Lha, katanya not bad doang?”

Jeno mendesah dramatis. “Oke, ini enak banget.”

Donghyuck tertawa puas. “Nah, gitu dong.”

Mereka menikmati makan malam dengan nyaman, obrolan tentang kerjaan dan hal-hal sepele mengisi sela-sela di antara suapan. Sesekali, Jeno dengan santai menyuapi Donghyuck tanpa aba-aba, seolah itu hal yang paling wajar di dunia. Donghyuck sempat mengernyit, tapi pada akhirnya, dia tetap membuka mulut tanpa banyak protes.

Setelah selesai makan, mereka tidak langsung membereskan meja.

Donghyuck bersandar ke kursinya, menatap Jeno yang masih memegang gelas berisi teh hangat.

“Jen.”

“Hm?”

“Aku pengen waktu berhenti biar kamu bisa di sini lebih lama.”

Jeno menoleh, menatapnya dalam diam sebelum tersenyum kecil.

“Aku juga.”

Donghyuck mengerjapkan mata beberapa kali, lalu meraih tangan Jeno yang ada di atas meja, menggenggamnya erat.

“Jangan sering-sering lembur dong,” gumamnya. “Aku kangen.”

Jeno membalas genggaman tangannya erat, ibu jarinya mengusap punggung tangan Donghyuck pelan.

“Aku usahain,” jawabnya. Lalu dengan nada santai, ia menambahkan, “tapi kalau aku gak ambil lembur, it’ll take longer for me to put a ring on your finger.” ucapnya sambil menyentuh pelan jari manis Donghyuck.

Donghyuck yang tadinya masih mellow langsung nge-freeze. “HAH?”

Jeno nyengir kuda. “Aku ambil lembur biar tabungan nikah kita cepet cukup.”

Mata Donghyuck langsung membesar. “TABUNGAN APA?!”

“Tabungan buat nikahin kamu, apalagi?”

Donghyuck membuka mulut, mau protes, tapi yang keluar cuma, “Kok aku gak tau apa-apa?!”

“Ya kalo aku bilang dari awal, kamu pasti overthinking,” jawab Jeno sambil cengengesan.

“Jeno…,” Donghyuck hampir melempar sesuatu ke pacarnya. “Aku pikir kamu lembur karena beban kerjaan, ternyata biar bisa nikahin aku?! Sejak kapan rencana ini ada?!”

Jeno terkekeh. “Udah lama, dari pertengahan tahun lalu.”

“Gila,” gumam Donghyuck. Pipinya mulai panas. “Terus… kalo aku bilang gak usah buru-buru, berarti kamu bisa lebih sering pulang cepet?”

Jeno menatapnya dengan mata berbinar. “Kamu ngajak nabung bareng?”

“THAT’S NOT WHAT I MEANT—”

Jeno tertawa, puas melihat Donghyuck yang sekarang justru lebih panik daripada tadi. “Yaudah, aku tetep usahain gak sering-sering lembur. Tapi kalo kamu mau cepet dinikahin, aku harus kerja lebih keras, dong?”

Donghyuck mendengus, pura-pura sebel, tapi tangannya tetap menggenggam tangan Jeno erat. “Aku gak harus cepet-cepet dinikahin kok,” katanya, lalu menatap Jeno lebih lama sebelum melanjutkan dengan nada lebih lembut, “Yang penting kamu jangan lupa istirahat. Aku gak mau kamu sakit gara-gara kebanyakan kerja.”

Jeno tersenyum kecil, menggenggam tangan Donghyuck lebih erat. “Iya, aku ngerti, Sayang.”

Mereka saling menatap dalam diam selama beberapa detik sebelum Donghyuck tiba-tiba menghela napas panjang dan bersandar ke sandaran kursinya. “Duh, gimana sih… aku tadinya mau marah karena kamu kebanyakan lembur, tapi sekarang malah jadi melting sendiri.”

Jeno tertawa kecil, “Ke balkon yuk, cari angin.” Udara malam pasti lebih baik daripada hawa panas yang Donghyuck rasakan sekarang.

Donghyuck meliriknya, lalu mengangguk setuju. Mereka membereskan meja makan dan setelahnya melangkah ke balkon, membiarkan udara malam yang sejuk menyambut mereka.

Jeno masih menyesap tehnya perlahan, sementara Donghyuck menatap langit malam, menikmati momen ini dengan penuh kenyamanan.

“Jeno.”

“Hm?”

“Kamu udah serius soal nikah?”

Jeno menoleh, menatap wajah Donghyuck yang kini terlihat lebih serius. Ia tersenyum kecil. “Menurutmu?”

Donghyuck menggigit bibirnya, berpikir sebentar sebelum menjawab, “Gak tau… Aku cuma… gak nyangka kamu udah mikirin sampai sejauh itu.”

Jeno meletakkan cangkir tehnya di meja kecil di sampingnya, lalu meraih tangan Donghyuck. “Aku gak mau buru-buru juga, kok. Aku cuma pengen kamu tau kalau aku gak main-main sama hubungan kita.”

Donghyuck mengangguk pelan. “I know.”

Mereka terdiam sejenak, menikmati kebersamaan mereka dalam hening.

“Are you scared?” tanya Jeno akhirnya.

“No, I’m not…” Donghyuck menatap Jeno, lalu tersenyum kecil. “I just… never thought I’d be in a serious relationship like this. With you.”

Jeno menatapnya lebih lama, memperhatikan setiap detail yang membuatnya jatuh cinta sejak awal—mata yang selalu berbinar ketika bicara tentang sesuatu yang ia suka, cara bibirnya melengkung saat tersenyum, bahkan kebiasaannya menggigit bibir ketika berpikir.

Donghyuck gak pernah sadar seberapa luar biasa dirinya di mata Jeno.

Dengan ibu jarinya, Jeno mengusap punggung tangan Donghyuck dengan lembut. “Aku juga gak pernah kepikiran bakal sejauh ini sama kamu.” Ia menarik napas dalam, lalu tersenyum penuh keyakinan. “Dulu aku cuma bisa suka kamu dari jauh, tapi sekarang aku di sini, di samping kamu, bisa jadi bagian dari hidup kamu—dan aku gak mau itu berubah.”

Jeno tahu Donghyuck masih butuh waktu untuk memproses semuanya, dan itu gak apa-apa.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berbaring di kamar, berbagi selimut sambil menonton film. Apartemen Donghyuck sunyi, hanya suara pelan AC dan gemerisik dari layar TV yang masih menyala.

Di atas kasur, Jeno menoleh ke sebelahnya. Donghyuck sudah tertidur, badannya sedikit meringkuk ke arah Jeno, nafasnya pelan dan teratur. Rambutnya berantakan di atas bantal, matanya terpejam dengan damai, bibirnya sedikit terbuka seolah masih ingin berkata sesuatu sebelum jatuh ke alam mimpi.

Jeno tersenyum kecil.

Dia menggeser sedikit, menumpukan kepalanya di satu tangan sambil menatap wajah tidur Donghyuck. Menyimpan setiap detailnya dalam ingatan.

Jari-jarinya mengusap pelan punggung tangan Donghyuck di bawah selimut, gerakan kecil yang mungkin tidak akan terasa, tapi cukup untuk membuat Jeno sendiri merasa tenang.

“Aku gak tahu apa yang udah aku lakuin di hidup ini sampai bisa dapetin kamu,” gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan. “Tapi kalau aku bisa milih satu hal yang selalu bisa aku syukuri setiap hari… itu pasti kamu.”

Hening.

Jeno mengembuskan napas pelan sebelum menambahkan, suaranya bahkan lebih lirih, namun penuh kepastian,

“Aku mau lamar kamu akhir tahun ini, Hyuck.”

Jantungnya berdebar sendiri saat mengatakannya, meskipun dia tahu Donghyuck tidak bisa mendengar. Atau mungkin justru karena itu—karena ini rahasia kecilnya untuk sekarang, sesuatu yang hanya bisa ia akui di malam ini.

Jeno tersenyum, mengulurkan tangan untuk merapikan rambut Donghyuck dengan lembut sebelum akhirnya ikut memejamkan mata.