Work Text:
Hari itu dimulai seperti biasa di apartemen kecil yang ditempati Suguru Geto dan Satoru Gojo—dengan Suguru duduk di sofa, tangan melindungi perutnya yang membesar, dan wajahnya memancarkan aura "jangan dekati aku" yang bisa dirasakan dari jarak satu kilometer. Kehamilannya sudah memasuki bulan ketujuh, dan meskipun dia tidak akan pernah mengakuinya dengan lantang, Suguru merasa seperti balon yang kelebihan udara—berat, tidak nyaman, dan siap meledak kapan saja. Kakinya bengkak, punggungnya berdenyut-denyut, dan yang paling parah, Satoru Gojo, pasangannya yang terlalu antusias, tidak bisa diam barang semenit pun.
Dari dapur, terdengar suara Satoru bernyanyi—atau lebih tepatnya, berteriak—dengan nada sumbang yang entah bagaimana berhasil membuat lagu pop ceria terdengar seperti serenade maut. "Suguruuuu, aku bikin teh spesial buat kamu! Ada madu, lemon, jahe, dan sedikit cinta dariku—ups!" Bunyi cangkir yang jatuh ke lantai menginterupsi nyanyiannya, diikuti tawa kecil yang jelas-jelas tidak menyesal. Suguru menutup mata, mencoba menahan dorongan untuk melempar bantal ke arah dapur.
"Satoru," panggil Suguru dengan nada datar yang penuh peringatan, "aku bilang tadi pagi aku nggak mau teh. Aku cuma mau duduk diam, sendirian, tanpa suara apa pun dari kamu."
Tapi tentu saja, Satoru Gojo bukan tipe orang yang paham konsep "diam". Dalam hitungan detik, dia muncul di ambang pintu ruang tamu, memegang cangkir teh yang sedikit tumpah di tangan kanannya, sementara tangan kirinya sibuk menyesuaikan celemek bertulisan "Best Dad Ever" yang dia kenakan dengan bangga. Rambut putihnya acak-acakan seperti biasa, dan senyum lebar di wajahnya seolah-olah dia baru saja memenangkan lotre. "Tapi aku harus pastikan kamu nyaman, sayang! Lihat, aku bahkan pakai celemek biar kelihatan serius!"
Suguru memelotot padanya, matanya menyipit penuh kejengkelan. "Kamu bukan yang hamil, Satoru. Aku yang menderita di sini—24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Dan celemek itu bodoh. Siapa yang nulis ‘Best Dad Ever’ di situ? Kamu sendiri?"
Satoru cengengesan, sama sekali tidak tersinggung oleh sindiran itu. Dia melangkah masuk dengan langkah dramatis, meletakkan cangkir teh di meja kecil di depan sofa, lalu tanpa permisi langsung melompat duduk di samping Suguru—terlalu dekat, tentu saja, sampai bahu mereka bersentuhan. "Aww, jangan gitu. Kamu cantik banget pas cemberut, tahu nggak? Kayak kucing galak yang lagi hamil. Apa aku boleh panggil kamu ‘Mpus’ mulai sekarang?"
"Kalau aku kucing, aku udah nyakar kamu dari tadi dan buang kamu ke luar jendela," balas Suguru tajam, memalingkan wajahnya ke samping agar Satoru tidak melihat sedikit rona merah yang muncul di pipinya. Dia benci mengakuinya, tapi ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa tersentuh oleh usaha Satoru—meskipun usaha itu sering kali berakhir dengan kekacauan.
Satoru tertawa terbahak-bahak, suaranya menggema di ruangan kecil itu. Lalu, dengan gerakan yang tiba-tiba, dia berlutut di lantai di depan Suguru, menempelkan telinganya ke perut Suguru yang membulat. "Halo, bayi kecil! Papa Satoru di sini. Jangan dengerin Mama Suguru ya, dia lagi sensi gara-gara kamu bikin dia capek. Tapi dia sayang kamu kok! Kita berdua sayang kamu!"
Suguru memutar mata, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat—sesuatu yang dia coba sembunyikan dengan memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Kamu ngomong sama perutku tiap hari, Satoru. Bayinya nggak bakal jawab. Dan aku bukan ‘Mama Suguru’. Panggil aku gitu lagi, aku bikin kamu tidur di sofa sampe bayi ini lahir."
Satoru mengangkat kepalanya, matanya yang biru cerah berkilau penuh kenakalan. "Tapi aku suka ngomong sama bayi kita! Siapa tahu dia denger dan jadi lebih deket sama aku duluan. Bayangin, Suguru—bayi kita lahir, trus langsung bilang ‘Papa Satoru’ sebagai kata pertamanya. Aku bakal menang telak!"
"Kalau bayi ini lahir dan kata pertamanya ‘Satoru’, aku bakal cek DNA-nya," canda Suguru dengan nada kering, tapi ada nada lembut yang terselip di balik sarkasmenya. Dia menggeser posisinya di sofa, mencoba mencari posisi yang nyaman, tapi perutnya yang semakin besar membuatnya sulit bergerak. Dia menghela napas frustrasi, dan Satoru langsung menyadarinya.
"Eh, tunggu bentar!" Satoru melompat berdiri, berlari ke sudut ruangan, dan kembali dengan bantal besar berbentuk donat yang dia beli minggu lalu—khusus untuk kehamilan Suguru. "Nih, aku taruh di belakangmu biar punggungmu nggak sakit lagi. Aku kan bilang, aku jagain kamu full!"
Suguru memandang bantal itu dengan ekspresi skeptis, tapi akhirnya mengangguk kecil dan membiarkan Satoru menyelipkannya di belakang punggungnya. Ketika dia bersandar, dia harus mengakui—dalam hati, tentu saja—bahwa itu memang membantu. "…Terima kasih," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Satoru, yang biasanya melewatkan detail kecil, kali ini mendengarnya dengan jelas. Matanya membelalak, dan senyumnya melebar sampai hampir membelah wajahnya. "HAH? Suguru bilang terima kasih?! Catet tanggalnya, ini hari bersejarah! Bayi, kamu denger nggak, Mama Suguru akhirnya—"
"Satoru, aku serius bakal buang kamu ke luar kalau kamu nggak diam sekarang," potong Suguru, tapi nada suaranya tidak sekeras sebelumnya. Dia terlalu lelah untuk benar-benar marah, dan entah kenapa, kehadiran Satoru yang menyebalkan itu mulai terasa… menghibur.
Satoru hanya terkekeh, lalu duduk kembali di samping Suguru—kali ini sedikit lebih hati-hati agar tidak terlalu mengganggu. Dia meraih tangan Suguru, memainkan jari-jarinya dengan lembut, dan untuk pertama kalinya hari itu, dia diam beberapa saat. Suguru meliriknya, curiga dengan keheningan yang tiba-tiba.
"Apa?" tanya Suguru, alisnya terangkat.
Satoru tersenyum, tapi kali ini senyumnya lebih lembut, lebih tulus. "Nggak apa-apa. Cuma… aku seneng banget, tahu nggak? Kamu, aku, bayi kita… rasanya kayak mimpi. Bahkan pas kamu galak, aku tetep nggak bisa bayangin hidupku tanpa kamu."
Suguru terdiam. Dia tidak pernah siap menghadapi sisi Satoru yang tiba-tiba serius seperti ini. Biasanya, dia bisa membalas dengan sindiran atau candaan, tapi sekarang, dengan hormon kehamilan yang berantakan dan perasaan yang tiba-tiba meluap, dia merasa matanya sedikit panas. "…Idiot," gumamnya, memalingkan wajahnya lagi. "Jangan bilang gitu tiba-tiba. Aku nggak mau nangis gara-gara kamu."
Satoru tertawa pelan, lalu merangkul Suguru dengan hati-hati, menariknya ke dalam pelukan hangat. "Yah, kalau kamu nangis, aku bakal peluk kamu sampe berhenti. Aku kan spesialis peluk!"
Suguru mendengus, tapi dia tidak menolak pelukan itu. Dia bersandar ke bahu Satoru, membiarkan dirinya rileks untuk pertama kalinya hari itu. "Kamu spesialis bikin orang gila, itu iya."
"Tapi kamu sayang aku, kan?" goda Satoru, suaranya penuh harap.
Suguru diam sejenak, lalu menghela napas. "…Iya, sayang. Tapi jangan kebanyakan minta dipuji, aku capek."
Satoru bersorak kecil, dan meskipun Suguru mengeluh, dia tidak bisa menahan senyum kecil yang akhirnya muncul di wajahnya. Di tengah kekacauan, kebisingan, dan kehamilan yang melelahkan, ada satu hal yang pasti—Satoru Gojo mungkin menyebalkan, tapi dia adalah milik Suguru, dan Suguru tidak akan menukarnya dengan apa pun di dunia ini.
---
Malam menjelang di apartemen kecil mereka, dan suasana akhirnya sedikit lebih tenang—setidaknya untuk standar Satoru Gojo. Suguru masih duduk di sofa, bantal donat di belakang punggungnya, sementara Satoru sibuk di dapur lagi, kali ini dengan misi baru: membuat camilan malam untuk Suguru. Cahaya lampu dapur yang hangat menyelinap ke ruang tamu, membawa aroma manis dari sesuatu yang sedang dipanggang—mungkin mochi, mungkin kue, atau mungkin sesuatu yang akan berakhir jadi bencana kuliner khas Satoru.
Suguru menghela napas panjang, mencoba menikmati momen damai yang langka ini. Tapi tentu saja, kedamaian itu tidak bertahan lama. Dari dapur, terdengar suara Satoru berbicara sendiri—orang itu memang tidak pernah bisa diam, bahkan saat sendirian. "Oke, bayi kecil, Papa Satoru lagi bikin mochi spesial buat Mama Suguru. Kalau dia bilang nggak enak, kita tabrak aja protesnya, ya? Kita tim, kan?"
Suguru memijat pelipisnya. "Satoru, aku bisa denger kamu dari sini. Dan aku nggak mau mochi. Aku cuma mau tidur."
Satoru muncul di pintu, tangannya penuh tepung dan wajahnya dihiasi senyum lebar yang sama sekali tidak terpengaruh oleh nada kesal Suguru. Dia mengenakan celemek "Best Dad Ever" yang sekarang sudah belepotan tepung, dan entah bagaimana, ada sedikit adonan menempel di rambut putihnya. "Tapi aku udah setengah jalan, Suguru! Ini mochi rasa stroberi, favoritmu! Aku tambahin krim ekstra biar kamu nggak bisa nolak."
"Aku nggak suka stroberi lagi," balas Suguru datar, melipat tangannya di atas perutnya. "Sekarang aku cuma suka yang asin. Hormonku berubah, Satoru. Ikutin perkembangan, dong."
Satoru membelalak, tampak seperti anak kecil yang baru saja diberi tahu bahwa Santa Claus tidak nyata. "Hah? Sejak kapan?! Kemarin kamu masih bilang stroberi enak!"
"Sejak tadi siang," jawab Suguru dengan nada yang jelas-jelas menantang Satoru untuk membantah. "Aku pengen keripik asin sekarang. Bukan mochi, bukan stroberi, bukan apa pun yang manis."
Satoru menatapnya sejenak, lalu tiba-tiba berlari kembali ke dapur dengan kecepatan yang tidak perlu. "Oke, oke, keripik asin! Aku cari stoknya! Tunggu bentar, aku improvisasi!" Terdengar bunyi lemari dibuka-bukakan, diikuti suara kantong plastik yang berderit dan sesuatu yang jatuh—lagi.
Suguru menggelengkan kepala, tapi dia tidak bisa menahan rasa penasaran. Dia bangkit perlahan dari sofa—gerakan yang sekarang terasa seperti misi militer karena perutnya—dan berjalan ke arah dapur. Ketika sampai di ambang pintu, pemandangan di depannya hampir membuatnya menyesal bangun: Satoru berdiri di tengah kekacauan tepung, adonan mochi yang setengah jadi tercecer di meja, dan dia sedang mencoba membuka tiga bungkus keripik sekaligus dengan ekspresi serius yang lucu.
"Apa yang kamu lakuin?" tanya Suguru, bersandar di kusen pintu dengan alis terangkat.
Satoru menoleh, matanya berbinar. "Aku bikin kombinasi spesial! Keripik asin buat kamu, mochi stroberi buat aku, trus aku campur sedikit biar kita bisa makan bareng. Romantis, kan?"
Suguru menatapnya dengan ekspresi yang bercampur antara jijik dan takjub. "Kamu mau campur keripik sama mochi? Satoru, itu menjijikkan. Bahkan aku yang hamil nggak bakal makan itu."
Satoru cengengesan, lalu melangkah mendekat sambil membawa semangkuk keripik yang baru saja dia tuang. "Yah, minimal aku bawa keripiknya. Nih, aku suapin kamu biar nggak capek." Dia mengambil sepotong keripik dan mengarahkannya ke mulut Suguru dengan gerakan berlebihan, lengkap dengan suara "nyam nyam" yang konyol.
Suguru memelotot, tapi akhirnya membuka mulut dan menggigit keripik itu—lebih karena lapar daripada ingin menuruti Satoru. "Aku bukan bayi, aku bisa makan sendiri," gerutunya sambil mengunyah.
"Tapi aku suka nyuapin kamu," balas Satoru, duduk di kursi dapur dan menatap Suguru dengan ekspresi penuh kasih sayang yang hampir terlalu manis untuk ditoleransi. "Lagipula, kamu bawa bayi kita, jadi aku harus manjain kamu dua kali lipat."
Suguru mendengus, tapi dia tidak menolak ketika Satoru menyodorkan keripik kedua. Mereka duduk di dapur dalam keheningan yang relatif damai untuk beberapa menit, hanya diisi suara renyah keripik dan sesekali tawa kecil Satoru saat dia mencoba membuat bentuk hati dari sisa adonan mochi di meja.
Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba, Suguru merasakan tendangan kecil dari dalam perutnya—yang pertama kali terasa begitu jelas hari itu. Dia tersentak, tangannya otomatis menekan perutnya, dan wajahnya berubah dari kesal menjadi terkejut.
Satoru langsung menyadari perubahan itu. "Apa? Apa yang salah? Suguru, kamu baik-baik aja?!" Dia melompat dari kursi, hampir menjatuhkan mangkuk keripik dalam prosesnya.
Suguru menggelengkan kepala, lalu mengambil tangan Satoru dan meletakkannya di perutnya. "Tunggu… rasain ini."
Satoru diam, matanya membelalak saat dia merasakan tendangan kecil di bawah telapak tangannya. Dalam sekejap, wajahnya berubah dari panik menjadi kegirangan murni. "SUGURU! DIA NYANYI! Bayi kita nyanyi buat aku! Aku bilang kan dia bakal lebih deket sama aku!"
"Itu bukan nyanyi, idiot, itu tendangan," balas Suguru, tapi dia tidak bisa menyembunyikan senyum kecil yang muncul di wajahnya. Melihat Satoru begitu excited entah kenapa membuatnya merasa… hangat.
Satoru tidak peduli dengan koreksi itu. Dia berlutut lagi di depan Suguru, menempelkan kedua tangannya ke perutnya dan mulai berbicara dengan nada penuh semangat. "Halo, bayi kecil! Tendang lagi dong, Papa Satoru mau main sama kamu! Kita bisa bikin kode rahasia—satu tendangan artinya iya, dua tendangan artinya aku mau mochi!"
Suguru memutar mata, tapi dia membiarkan Satoru melanjutkan ocehannya. Setelah beberapa saat, dia akhirnya berkata, "Kamu tahu nggak, Satoru, kadang aku mikir bayi ini bakal lebih mirip kamu—berisik, nggak bisa diam, dan bikin orang gila."
Satoru mendongak, tersenyum lebar. "Bagus dong! Artinya dia bakal ceria dan penuh cinta kayak aku. Tapi aku yakin dia juga bakal pinter dan cool kayak kamu, Suguru. Kombinasi sempurna."
Suguru terdiam, tidak tahu harus membalas apa. Kata-kata Satoru, meskipun disampaikan dengan nada jahil seperti biasa, terasa tulus. Dia memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan perasaan yang tiba-tiba meluap. "…Kamu terlalu optimis," gumamnya.
"Optimis itu nama tengahku," balas Satoru sambil berdiri dan memeluk Suguru dari belakang, dagunya bertumpu di bahu Suguru. "Satoru Optimis Gojo. Keren, kan?"
"Konyol, itu iya," jawab Suguru, tapi dia tidak menolak pelukan itu. Malam itu, di tengah dapur yang berantakan dan tawa Satoru yang tak pernah berhenti, Suguru merasa bahwa mungkin—hanya mungkin—kehidupan mereka yang kacau ini adalah sesuatu yang patut disyukuri.
---
Pagi hari di apartemen kecil mereka dimulai dengan suasana yang sedikit berbeda. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah-celah tirai, menerangi ruang tamu yang masih dipenuhi jejak kekacauan malam sebelumnya—mangkuk keripik kosong di meja, bantal donat yang sedikit miring di sofa, dan celemek favorite Satoru yang tergeletak sembarangan di lantai. Suguru duduk di sofa dengan ekspresi yang lebih muram dari biasanya, tangannya memijat perutnya yang terasa semakin berat. Tendangan bayi semalam memang membawa sedikit keajaiban, tapi pagi ini, dia bangun dengan rasa lelah yang luar biasa dan suasana hati yang berada di titik terendah.
Satoru, seperti biasa, tidak menyadari gelombang bad mood yang memancar dari Suguru. Dia masuk ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi sarapan yang jelas-jelas dia buat dengan semangat berlebihan: pancake bertumpuk tinggi dengan sirup maple yang meluber, sepiring telur orak-arik yang sedikit gosong, dan segelas jus jeruk yang entah kenapa warnanya agak mencurigakan. “Sarapan spesial dari chef Satoru! Aku bikin pancake bentuk hati buat kamu sama bayi kita!"
Suguru melirik nampan itu dengan ekspresi yang sulit dibaca, lalu mengalihkan pandangannya ke jendela. "Aku nggak laper," katanya datar, suaranya rendah dan penuh kelelahan.
Satoru membeku di tempatnya, nampan masih di tangan. Biasanya, dia akan langsung membalas dengan candaan atau tingkah konyol, tapi ada sesuatu dalam nada Suguru yang membuatnya berhenti. Dia meletakkan nampan di meja dengan hati-hati, lalu duduk di samping Suguru—kali ini dengan jarak yang sedikit lebih sopan dari biasanya. "Eh… kamu baik-baik aja, kan? Apa aku bikin salah lagi?"
Suguru tidak menjawab segera. Dia menatap ke luar jendela, matanya kosong, dan setelah beberapa detik, dia akhirnya berbicara. "Aku capek, Satoru. Bukan cuma fisik—semuanya. Aku nggak tahu aku bisa lanjutin ini berapa lama lagi. Perutku berat, aku nggak bisa tidur, dan kamu…" Dia berhenti, menghela napas. "Kamu nggak pernah berhenti. Aku tahu kamu cuma mau bantu, tapi kadang aku cuma butuh… diam."
Kata-kata itu terasa seperti tamparan bagi Satoru, meskipun Suguru tidak mengatakannya dengan nada marah. Satoru menatapnya, matanya yang biasanya penuh keceriaan kini sedikit redup. "Oh… aku nggak nyadar aku bikin kamu tambah stres. Aku cuma mau kamu seneng, Suguru. Aku takut kamu ngerasa sendirian."
Suguru akhirnya menoleh ke arahnya, dan untuk pertama kalinya pagi itu, matanya bertemu dengan mata Satoru. Ada sesuatu di sana—kelembutan yang tersembunyi di balik lapisan kelelahan dan kekesalan. "Aku nggak sendirian. Aku tahu kamu ada di sini. Tapi aku nggak selalu butuh kamu lompat-lompat kayak kelinci hiperaktif. Kadang aku cuma butuh kamu… ada. Tanpa suara, tanpa drama."
Satoru mengangguk pelan, mencerna kata-kata itu. Dia tidak biasa diam—itu bukan sifatnya—tapi untuk Suguru, dia bersedia mencoba. "Oke. Aku bisa diam. Mulai sekarang, aku jadi Satoru Mode Senyap. Lihat nih!" Dia membuat gerakan pura-pura mengunci mulutnya, lalu duduk tegak dengan ekspresi serius yang lucu karena jelas-jelas dipaksakan.
Suguru mendengus, tapi ada sedikit senyum yang muncul di wajahnya—hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat Satoru merasa sedikit lega. "Kamu nggak bakal tahan lima menit," tantang Suguru.
"Watch me!" balas Satoru dengan bisikan dramatis, lalu benar-benar diam. Dia hanya duduk di sana , tangannya bertumpu di lutut, menatap Suguru dengan mata penuh harap seperti anak anjing yang menunggu pujian.
Lima menit berlalu dalam keheningan yang aneh. Suguru awalnya merasa lega, tapi entah kenapa, setelah beberapa saat, keheningan itu mulai terasa… salah. Dia melirik Satoru, yang masih duduk kaku dengan ekspresi berlebihan, dan akhirnya dia tidak tahan. "…Kamu boleh ngomong sekarang. Tapi pelan-pelan aja."
Satoru langsung berseri-seri, tapi dia menuruti perintah dengan berbicara dalam nada yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Aku cuma mau bilang… aku tahu aku berisik dan kadang nyebelin. Tapi aku serius, Suguru—aku nggak mau kamu ngerasa tertekan gara-gara aku. Aku bakal coba lebih peka. Janji."
Suguru memandangnya lama, lalu mengangguk kecil. "…Aku tahu kamu serius. Dan aku nggak benci kamu, Satoru. Aku cuma… kewalahan. Ini semua baru buat aku, dan aku takut aku nggak cukup baik buat bayi kita."
Kata-kata itu membuat Satoru terdiam lagi—kali ini bukan karena disuruh, tapi karena dia benar-benar terkejut. Dia meraih tangan Suguru, memegangnya dengan lembut tapi tegas. "Suguru, kamu bakal jadi orang tua terbaik. Aku yang harusnya takut—aku cuma bisa bikin pancake gosong sama nyanyi sumbang. Tapi kamu? Kamu kuat, pinter, dan… aku nggak bisa bayangin orang lain yang lebih cocok buat jadi mama bayi kita."
Suguru memutar mata, tapi ada rona merah samar di pipinya. "Aku bilang jangan panggil aku mama."
Satoru tersenyum kecil. "Oke, oke. Tapi serius—kita tim, kan? Aku mungkin nggak sempurna, tapi aku bakal belajar. Buat kamu, buat bayi kita."
Untuk pertama kalinya hari itu, Suguru merasa beban di dadanya sedikit berkurang. Dia membiarkan tangannya tetap di genggaman Satoru, lalu bersandar ke sofa dengan mata terpejam. "…Iya, kita tim. Tapi tolong, buang pancake gosong itu. Bau nya bikin aku mual."
Satoru tertawa pelan, lalu bangkit untuk membuang sarapan gagalnya. Tapi sebelum pergi, dia menunduk dan mencium kening Suguru dengan lembut—gerakan sederhana yang jarang dia lakukan di tengah tingkah konyolnya. "Aku sayang kamu, Suguruku, sayangku, cintaku. Jangan lupa itu."
Suguru membuka mata, menatap Satoru yang sudah berjalan ke dapur, dan menggumam pelan, "…Aku juga sayang kamu, idiot."
Hari itu berjalan lebih lambat setelahnya. Satoru memang tidak sepenuhnya berhasil jadi "Mode Senyap", tapi dia berusaha—mengurangi volume suaranya, membawakan Suguru air putih tanpa diminta, dan bahkan memijat kaki Suguru yang bengkak dengan canggung tapi penuh perhatian. Suguru tidak banyak bicara, tapi dia membiarkan Satoru berada di dekatnya, dan itu sudah cukup.
Di dalam hati, Suguru tahu bahwa meskipun kehamilan ini berat dan Satoru kadang membuatnya ingin menjerit, dia tidak akan melewati ini bersama orang lain. Dan Satoru? Dia mungkin konyol dan sedikit jahil, tapi dia adalah pilar yang tidak pernah goyah—bahkan saat Suguru sendiri merasa rapuh.
---
Beberapa hari setelah pagi yang penuh emosi itu, Suguru merasa sedikit lebih baik—setidaknya secara fisik. Hormonnya masih naik-turun seperti roller coaster, tapi tendangan bayi yang semakin sering terasa entah kenapa memberinya sedikit semangat. Namun, dia mulai merasa terkungkung di apartemen. Sofa, dapur, dan suara Satoru yang tak pernah berhenti sudah menjadi rutinitas yang membuatnya gelisah. Jadi, ketika Satoru dengan santai menyarankan, "Mau jalan-jalan bentar? Biar kamu nggak bosen," Suguru—meskipun awalnya ragu—akhirnya setuju.
"Ke mana?" tanya Suguru, berdiri di depan cermin sambil mencoba mengenakan jaket yang sekarang terasa sempit di bagian perut. Dia mengerutkan kening pada bayangannya sendiri, merasa seperti paus yang salah kostum.
Satoru muncul di belakangnya, sudah siap dengan kacamata hitamnya yang khas dan senyum lebar. "Ke taman deket sini! Udara segar, burung-burung, sama aku pikir bayi kita bakal suka denger suara alam. Aku bawa kursi dorong… eh, maksudku, aku bawa bantal buat kamu duduk kalau capek!"
Suguru memutar mata. "Aku belum butuh kursi dorong, Satoru. Aku hamil, bukan lumpuh."
"Tapi aku harus siap-siap jadi suami dan papa yang perhatian!" balas Satoru sambil mengambil tas kecil berisi air, camilan, dan—entah kenapa—sebuah mainan karet berbentuk bebek yang dia klaim "buat bayi kita latihan". Suguru memilih untuk tidak bertanya.
Perjalanan ke taman tidak jauh, tapi bagi Suguru, setiap langkah terasa seperti maraton. Satoru berjalan di sampingnya, tangannya siap menyangga kapan saja, meskipun Suguru terus menggerutu, "Aku nggak bakal jatuh, mundur sedikit." Tapi Satoru hanya cengengesan, tetap berada dalam jarak satu inci, seperti pengawal pribadi yang terlalu antusias.
Saat mereka sampai di taman, udara segar memang terasa menyegarkan. Pepohonan hijau bergoyang pelan ditiup angin, dan suara anak-anak bermain di kejauhan membawa sedikit kehidupan ke suasana. Suguru duduk di bangku kayu yang menghadap danau kecil, sementara Satoru langsung berlutut untuk meletakkan bantal di belakang punggungnya. "Nih, biar nyaman! Aku kan bilang, aku spesialis kenyamanan!"
Suguru mendengus, tapi dia tidak menolak. "Kamu spesialis bikin orang takut dan kabur, itu iya."
Satoru tertawa, lalu duduk di sampingnya, untuk pertama kalinya tidak terlalu dekat—mungkin karena dia masih ingat permintaan Suguru untuk "diam" beberapa hari lalu. Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman untuk beberapa saat, menikmati pemandangan bebek-bebek yang berenang di danau. Tapi tentu saja, Satoru tidak bisa diam terlalu lama.
"Eh, Suguru," katanya tiba-tiba, nadanya penuh semangat, "bayangin kalau bayi kita lahir trus kita ajak ke sini. Aku bakal beli roti buat kasih makan bebek, trus kita bikin piknik kecil. Kamu bawa buku, aku bawa mochi, sama bayi kita main di rumput!"
Suguru meliriknya, alisnya terangkat. "Kamu yakin bayi yang baru lahir bisa main di rumput? Dia bakal cuma tidur sama nangis, Satoru."
"Ya Tuhan, kamu pesimis banget!" balas Satoru, pura-pura terkejut. "Aku yakin bayi kita bakal luar biasa. Mungkin dia langsung jalan pas lahir—bayi super, anaknya Satoru Gojo!"
"Kalau dia langsung jalan, aku minta cek DNA," canda Suguru kering, tapi ada tawa kecil yang lolos dari bibirnya. Satoru langsung menangkap itu dan bersorak.
"HA! Kamu ketawa lagi! Aku menang hari ini!" Dia mengangkat tangan seperti juara, dan Suguru hanya menggelengkan kepala, tapi suasana hatinya jelas membaik.
Tiba-tiba, angin bertiup lebih kencang, dan Suguru merasakan tendangan yang lebih kuat dari biasanya. Dia tersentak, tangannya menekan perut, dan wajahnya berkerut. Satoru langsung panik. "Apa?! Apa yang salah?! Suguru, jangan lahir di sini, aku belum bawa tas bayi!"
"Tenang, idiot," balas Suguru, meskipun suaranya sedikit tegang. "Cuma tendangan. Dia… aktif banget hari ini."
Satoru menghela napas lega, lalu berlutut di depan Suguru lagi, menempelkan tangannya ke perutnya. "Halo, bayi kecil! Jangan takutin Papa Satoru gitu dong. Kalau mau tendang, tendang pelan-pelan, ya? Atau kasih kode Morse, aku bisa belajar!"
Suguru memandangnya, dan untuk sesaat, dia lupa betapa lelahnya dia. Tingkah Satoru yang konyol, meskipun kadang menyebalkan, selalu punya cara untuk membuatnya merasa… aman. "Kamu beneran bakal belajar Morse cuma buat ngerti tendangan bayi?" tanyanya, nada sarkastiknya bercampur rasa ingin tahu.
"Tentu aja!" jawab Satoru dengan penuh keyakinan. "Aku bakal jadi papa paling siap di dunia. Aku udah download aplikasi Morse di hp, tinggal latihan!"
Suguru tidak bisa menahan tawa kecil kali ini, dan Satoru langsung berseri-seri. "Lihat! Aku bikin kamu ketawa dua kali hari ini! Aku layak dapat medali!"
"Medali buat bikin orang gila, mungkin," balas Suguru, tapi dia membiarkan Satoru memegang tangannya, jari-jari mereka saling bertautan dengan alami.
Mereka duduk di taman sampai matahari mulai condong ke barat. Satoru akhirnya berhasil membujuk Suguru untuk mencoba sepotong mochi yang dia bawa di tas—tanpa campuran keripik kali ini—dan Suguru mengakui (dengan sangat pelan) bahwa rasanya lumayan. Saat mereka berjalan pulang, langkah Suguru lebih lambat dari biasanya, dan Satoru dengan sabar menyesuaikan diri, tangannya siap menyangga kapan saja.
"Satoru," panggil Suguru tiba-tiba saat mereka hampir sampai di apartemen.
"Hm?" Satoru menoleh, matanya penuh harap.
Suguru diam sejenak, lalu berkata, "…Makasih udah bawa aku ke taman. Aku butuh ini."
Satoru membelalak, lalu tersenyum lebar—tapi kali ini tanpa tambahan drama berlebihan. "Kapan aja buat kamu, Suguru. Aku kan bilang, kita tim."
Suguru mengangguk kecil, dan meskipun dia tidak bilang apa-apa lagi, Satoru tahu itu adalah caranya mengatakan "aku sayang kamu" tanpa kata-kata. Malam itu, saat mereka kembali ke apartemen dan Suguru langsung ambruk ke sofa, Satoru duduk di lantai di sampingnya, memijat kakinya dengan hati-hati sambil bersenandung pelan—lagu yang sumbang, tapi penuh cinta.
Dan di dalam hati, Suguru berpikir bahwa mungkin, hanya mungkin, dia bisa melewati sisa kehamilan ini—selama ada Satoru yang berisik tapi setia di sisinya.
---
Hari-hari berlalu dengan cepat setelah kunjungan mereka ke taman, dan kehamilan Suguru akhirnya memasuki minggu-minggu terakhir. Perutnya sekarang terasa seperti beban yang tidak pernah lepas, dan setiap gerakan—bahkan sekadar bangun dari sofa—membutuhkan usaha yang luar biasa. Tendangan bayi semakin kuat, seolah-olah si kecil sudah tidak sabar untuk bertemu dunia. Suguru, meskipun masih sering cemberut dan mudah kesal, mulai merasa campuran aneh antara ketakutan dan antisipasi. Sementara itu, Satoru tetap setia pada misinya: menjadi pendamping yang paling antusias, meskipun kadang usahanya malah berakhir dengan kekacauan.
Malam itu, apartemen mereka dipenuhi suasana yang sedikit tegang. Suguru duduk di sofa dengan tangan memegang perutnya, wajahnya berkerut karena kontraksi ringan yang mulai muncul sejak sore. Dia belum yakin apakah ini tanda persalinan atau hanya alarm palsu, tapi rasa tidak nyaman itu membuatnya semakin gelisah. Satoru, yang baru saja selesai mencuci piring (dengan cara yang sangat berisik), masuk ke ruang tamu sambil membawa segelas air dan handuk kecil yang dia basahi—entah untuk apa.
"Suguru, kamu yakin nggak mau ke dokter sekarang? Aku bisa nyetir cepet banget, kayak pembalap F1! Vroom vroom!" katanya sambil membuat gerakan tangan yang berlebihan, seolah-olah sedang memutar setir mobil imajiner.
Suguru memelotot padanya. "Aku nggak mau mati di jalan sebelum bayi ini lahir, Satoru. Ini cuma kontraksi kecil, belum waktunya. Duduk aja, jangan bikin aku tambah stres."
Satoru mengangguk cepat, lalu duduk di lantai di depan Suguru, tangannya memegang tangan Suguru dengan lembut. "Oke, oke, aku diam. Tapi aku siap kapan aja, ya? Tas bayi udah di mobil, aku udah cek bensin, sama aku bawa mochi cadangan buat tenaga!"
"Mochi nggak bakal bantu aku lahiran," balas Suguru kering, tapi ada nada lemas di suaranya yang menunjukkan dia mulai lelah. Dia menutup mata, mencoba mengatur napas, sementara Satoru menatapnya dengan ekspresi campuran antara khawatir dan kagum.
Beberapa jam berlalu, dan kontraksi itu tidak lagi "kecil". Suguru akhirnya mengakui—dengan sangat terpaksa—bahwa ini mungkin saatnya. "Satoru… kayanya kita harus ke rumah sakit," katanya pelan, suaranya terputus oleh napas yang tersengal.
Satoru langsung melompat berdiri, matanya membelalak. "HAH?! SEKARANG?! OKE, JANGAN PANIK, SUGURU! Aku ambil kunci, aku bantu kamu jalan, trus—eh, apa lagi ya?!" Dia berlari ke arah pintu, lalu balik lagi karena lupa membantu Suguru berdiri, dan akhirnya berhasil menyangga Suguru dengan tangan gemetar tapi penuh tekad.
Perjalanan ke rumah sakit adalah kekacauan yang bisa diprediksi. Satoru mengemudi dengan kecepatan yang—meskipun tidak secepat pembalap F1—cukup membuat Suguru mencengkeram pegangan pintu sambil menggerutu, "Kalau aku mati di mobil, aku hantuin kamu selamanya." Satoru hanya tertawa gugup, matanya bolak-balik antara jalan dan Suguru, sambil terus mengoceh, "Kamu kuat, Suguru! Bayi kita bakal bangga sama mama-nya!"
Setelah tiba di rumah sakit, semuanya berjalan cepat. Suguru dibawa ke ruang persalinan, dan Satoru—setelah dibujuk untuk tidak membawa mochi ke dalam—duduk di sampingnya, memegang tangannya dengan erat. Prosesnya panjang dan melelahkan, dan Suguru, meskipun biasanya pendiam, tidak bisa menahan diri untuk tidak mengumpat setiap kali kontraksi datang. "Ini salah kamu, Satoru," gerutunya di tengah napas tersengal, "aku nggak bakal lupa ini."
Satoru hanya tersenyum lemah, mengusap keringat dari dahi Suguru. "Aku tahu, aku tahu. Tapi kamu hebat, Suguru. Aku bangga banget sama kamu."
Dan akhirnya, setelah berjam-jam penuh perjuangan, tangisan kecil mengisi ruangan. Bayi mereka lahir—seorang bayi perempuan kecil dengan rambut hitam halus yang jelas-jelas mirip Suguru, tapi matanya… matanya biru cerah, warisan tak terbantahkan dari Satoru. Dokter menyerahkan bayi itu ke pelukan Suguru, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, wajah Suguru yang biasanya cemberut berubah menjadi ekspresi lembut yang penuh cinta.
Satoru, yang berdiri di samping, langsung menangis—bukan tangisan pelan yang elegan, tapi tangisan berisik dengan air mata dan ingus yang membuat perawat tertawa kecil. "SUGURU! DIA SEMPURNA! LIHAT MATA NYA! ITU MATA AKU! Aku bilang kan dia bakal lebih deket sama aku!" katanya sambil sesenggukan, tangannya gemetar saat dia menyentuh pipi kecil bayi itu.
Suguru meliriknya, masih lelah tapi tersenyum tipis. "Diam, Satoru. Kamu bikin dia takut."
"Tapi aku nggak bisa diam! Ini hari terbaik dalam hidupku!" balas Satoru, lalu menunduk untuk mencium kening Suguru dan bayi mereka secara bergantian. "Kalian berdua… aku nggak tahu aku bisa sebahagia ini."
Mereka menamakan bayi itu "Hana"—yg artinya bunga, sesuatu yang sederhana tapi indah, seperti harapan yang mereka bawa untuk masa depan. Malam itu, setelah dokter dan perawat meninggalkan ruangan, Suguru dan Satoru duduk bersama di ranjang rumah sakit, Hana tertidur di pelukan Suguru. Satoru bersandar di bahu Suguru, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama terlihat benar-benar tenang.
"Suguru," bisik Satoru pelan, "aku tahu aku berisik, aku tahu aku kadang bikin kamu gila. Tapi… makasih udah tahan sama aku. Makasih udah kasih aku keluarga."
Suguru menoleh, matanya bertemu dengan mata Satoru yang masih berkaca-kaca. Dia diam sejenak, lalu mengangguk kecil. "…Kamu nggak sempurna, Satoru. Tapi aku juga nggak. Dan entah kenapa, aku nggak bisa bayangin ini tanpa kamu."
Satoru tersenyum lebar, lalu memeluk Suguru dan Hana dengan hati-hati, berusaha tidak membangunkan bayi kecil itu. "Kita tim, kan? Selamanya."
"Iya," jawab Suguru pelan, membiarkan dirinya bersandar ke pelukan Satoru. "Selamanya."
---
Hari-hari setelah itu tidak langsung mudah. Hana ternyata mewarisi sifat berisik Satoru—sering menangis di tengah malam—dan Suguru masih sering menggerutu setiap kali Satoru mencoba menyanyi untuk menenangkannya. Tapi di tengah kekacauan baru sebagai orang tua, ada kehangatan yang tidak pernah pudar. Satoru tetap berisik dan jahil, selalu siap dengan pelukan atau candaan konyol, sementara Suguru, meskipun sering menggerutu, menemukan dirinya tersenyum lebih sering dari yang dia akui.
Suatu sore, beberapa minggu setelah kelahiran Hana, mereka duduk di ruang tamu. Hana tertidur di ayunan kecil yang Satoru beli (dan rakit dengan susah payah), sementara Suguru membaca buku dan Satoru sibuk menggambar sesuatu di kertas—ternyata rencana "piknik keluarga pertama" yang dia janjikan di taman. Suguru melirik gambar itu, lalu mendengus. "Kamu beneran nggak nyerah sama ide piknik itu, ya?"
"Tentu nggak!" balas Satoru, matanya berbinar. "Aku udah janji sama Hana. Kita bakal bawa mochi, keripik asin buat kamu, sama bebek karet buat dia main di danau!"
Suguru menggelengkan kepala, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan. "Idiot," gumamnya, tapi nada suaranya penuh kasih sayang.
Dan begitulah mereka melanjutkan hidup—dengan tawa, gerutuan, dan cinta yang tumbuh lebih kuat setiap hari. Suguru mungkin tidak pernah benar-benar lepas dari sifat marah-marahnyya, dan Satoru pasti tidak akan pernah berhenti jadi berisik dan jahil. Tapi bersama Hana, mereka menemukan keseimbangan yang sempurna—sebuah keluarga kecil yang kacau, tapi utuh.
---
