Work Text:
Caleb menggulung lengan bajunya, kemudian menyalakan keran air, bersiap untuk mencuci peralatan makan bekas makan malam. Dia ambil spons cuci yang sudah dibubuhkan sabun, meremas-remas hingga penuh buih dan menggosoknya pada piring kotor satu-persatu. Suara air yang jatuh menutupi sayup-sayup suara tv yang menyiarkan berita malam di ruang tengah, tapi tidak cukup untuk menyembunyikan suara langkah yang mendekat di dapur.
Caleb menoleh pada Zayne yang kini berdiri di sampingnya, lalu turun pada tangan Zayne yang membawa kain lap. Pria berkacamata itu mengambil piring yang sudah Caleb cuci, lalu mengeringkannya sebelum diletakkan di rak piring.
“Masa tamu ikut bersih-bersih.”
“Ga tega, dari siang kamu bersih-bersih sendirian,” balas Zayne seraya mengambil piring basah dari tangan Caleb.
Caleb teringat meja makan dan lantai yang berantakan karena keributannya dengan Josephine siang itu, juga Zayne yang jadi terlibat. Alisnya mengernyit, Caleb ingin menutupi wajahnya yang malu akan keluarganya yang tidak akur, tapi tidak bisa karena tangannya masih basah dan penuh sabun.
“Maaf, ya—aku sama Nai Nai ribut mulu.”
Zayne menggeleng.
“Aku yang minta maaf, kayaknya aku ganggu acara keluarga.”
Caleb mendengus geli. Bahkan jika Zayne tidak datang pun, Josephine akan selalu punya cara untuk membuat kening Caleb mengerut.
“Yang ganggu itu mulutnya Nai Nai, kok,” keluh Caleb. Namun, dari ekor matanya, bisa dia lihat Zayne yang masih merasa bersalah menekuk sudut bibirnya sedikit. Hal itu menimbulkan rasa canggung di antara keduanya dan membuat kesunyian yang tidak nyaman di seisi dapur.
“Harusnya kita makan bertiga aja, gak usah ngajak Nai Nai,” ucap Caleb lagi dengan tawa kecil di ujung, berusaha membuat lelucon kecil untuk menghilangkan rasa bersalah Zayne.
Mata Zayne terbelalak mendengar hal itu.
“Kamu mau jadi adikku?”
Kini Caleb yang tertegun. Keduanya terdiam dan saling menatap bingung.
Caleb mencoba menebak jalan pikir Zayne—karena hari itu adalah acara keluarga, maka menukar Nai Nai dengan Zayne artinya Zayne-lah yang menjadi keluarganya, dan karena Zayne lebih tua dua tahun darinya, berarti dia akan menjadi kakak—begitukah?
Caleb tertawa kecil.
“Kamu mau aku panggil ‘gege’?”
Tidak menjawab, Zayne menaikkan kedua alisnya. Meski Caleb lebih muda darinya, sang pilot tidak pernah memanggilnya “kakak” atau panggilan honorifik lainnya, dia sendiri juga bukan tipe yang mempermasalahkan itu, jadi dia biarkan Caleb memanggil namanya langsung sejak dulu. Tapi setelah mendengar panggilan itu dari mulut Caleb, sepertinya tidak buruk.
“Gege?” panggil Caleb sambil tersenyum jahil.
Ah, bukan “tidak buruk”, tapi Zayne yang anak tunggal dan tidak pernah dipanggil begitu ternyata sangat suka dengan panggilan itu.
Caleb melihat pantulan dirinya di bola mata Zayne, jarak mereka membuatnya teringat ciuman mereka siang itu; menggelikan dan kacau, tapi menghantarkan panas dari ujung kaki ke seluruh tubuh.
“Zayne ge,” panggil Caleb jauh lebih lembut dari sebelumnya. Telinga Zayne tergelitik mendengar itu, mulutnya terbuka sedikit, menghela napas hangat dengan semburat merah di kedua pipinya.
Mata Caleb berpindah pada bibir Zayne, sesaat terlintas ingatan akan lembut bibir itu dan lidah basah di dalamnya, lalu kembali menatap matanya dengan lurus.
“Maaf tadi siang aku keterlaluan bercandanya.”
Caleb mencoba mengendalikan diri.
Panas dalam tubuh Caleb beresonansi pada Zayne. Alisnya mengerut ke atas. Dengan mata yang membulat di balik kacamata, tatapannya fokus pada bibir Caleb. Tangannya menyentuh pipi pria yang lebih muda, memberikan sengatan kecil dari ujung-ujung jarinya yang dingin.
Zayne mencondongkan tubuhnya, mendekat pada Caleb. Dia berikan kecupan singkat pada bibir yang sejak tadi dilihatnya. Berbeda dengan jarinya, bibir Zayne terasa lembut dan hangat. Caleb tidak menghindar, tapi Zayne tahu ada sedikit kebingungan di wajahnya.
“Sekarang kita impas,” ucap Zayne sebelum Caleb sempat bertanya.
Caleb mengerjap beberapa kali, lalu tertawa kecil.
“Tadi siang ciumanku gak kayak gitu.”
“Oh, ya?”
Zayne mendekat lagi, ibu jarinya bergeser pada bibir bawah Caleb, lalu membukanya sedikit. Zayne kembali mencium Caleb, kali ini lebih dalam. Dia masukkan lidahnya ke dalam mulut pria yang lebih muda, menyapu langit-langit mulut dan bermain dengan lidah di sana. Matanya terpejam, menikmati dan mencoba mengingat bagaimana Caleb menciumnya tadi siang.
“Cale—mmph—”
Dengan tangan yang belum dibilas dan tidak berpindah dari tempat cuci, Caleb mencondongkan tubuhnya, membalas ciuman-ciuman dan sentuhan lidah Zayne. Dia pandangi wajah Zayne dengan lekat. Ada yang berubah pada dirinya hari itu. Entah sejak kapan wajah tampan Zayne terlihat menarik untuknya, terutama bulu mata cantiknya di matanya yang terpejam, yang bentuknya mengingatkan Caleb akan bentuk mata kucing.
“Zayne ge...”
Panggilan yang lepas dari sela ciuman itu membuat lutut Zayne melemas, tapi menguatkan ciumannya.
Mereka bercumbu tanpa jeda, menciptakan suara kecupan yang berlomba dengan air keran yang masih menyala di dapur. Keduanya saling menghisap dan menggigit kecil, seolah kecanduan dan akan mati jika tidak berciuman.
Suara gelas pecah membuat mereka terlonjak kaget. Ciuman mereka dilepas dan keduanya menoleh pada sumber suara; Josephine yang terbelalak di depan pintu dapur dengan gelas yang jatuh pecah di lantai.
Zayne berdeham dan kemudian membuang muka, sementara Caleb memicingkan mata dengan kesal karena lagi-lagi diusik oleh wanita tua itu.
Dalam diam, Josephine menimbang-nimbang; haruskah dia keluarkan cucu laki-lakinya yang ternyata homoseksual dari kartu keluarga atau senang karena kesempatan mendapat menantu dokter naik dua kali lipat?
