Work Text:
Aku… gugup.
Selama aku hidup, aku tidak pernah merasa segugup ini sebelumnya. Padahal, biasanya aku amat percaya diri dengan segala usaha yang aku lakukan. Namun, tidak dengan yang satu ini.
Aku akan bertemu Kak Soria.
Kami berdua biasa berhubungan sebatas melalui pesan saja. Kesibukan membuat kesempatan kami untuk bertemu menjadi amat langka.
Karena itu, aku tidak tanggung-tanggung mempersiapkan kencan kami hari ini. Aku melakukan reservasi di salah satu restoran ternama dan memastikan mereka menyajikan makanan dan pemandangan yang kemungkinan besar akan Kak Soria sukai.
Kami tiba di restoran tersebut tepat pada jam yang disepakati. Layaknya seorang gentleman , aku menarik kursi milik Kak Soria dan membungkuk untuk mempersilahkannya duduk.
“Silahkan, kak.” Ujarku dengan senyum terlembut yang dapat aku lukiskan pada wajahku, mengabaikan tanganku yang mulai terasa dingin dan sedikit bergetar akibat rasa gugup.
Kak Soria tersenyum geli. Tidak mungkin Kak Soria menyadari tanganku yang bergetar, kan?
“Terima kasih, Nayu.” Kak Soria pun duduk pada bangku yang sudah aku tarik untuknya dengan anggun.
Aku pun turut duduk pada bangku di hadapan Kak Soria. Benar, berhadap-hadapan. Tujuannya sederhana, supaya aku dapat melihat wajah Kak Soria yang aku rindukan dengan lebih jelas (rahasiakan ini dari Kak Soria).
Tanpa berselang lama, seorang pelayan datang memberikan buku menu untuk kami. Aku yang sudah melihat hidangan apa saja yang mereka sajikan secara daring sudah tahu hendak memesan apa.
Namun, Kak Soria belum tahu. Aku memperhatikan raut Kak Soria saat dia membolak-balik halaman buku menu.
Rasanya aneh tapi juga menyegarkan melihat Kak Soria yang tidak sedang berkutat pada pekerjaannya. Aku tidak bisa banyak berkomentar soal hal itu, karena aku pun juga seringkali tenggelam dalam pekerjaanku.
Hubungan kami mungkin terlihat membosankan di mata orang lain, tapi menurutku, momen-momen langka seperti inilah yang membuat hubungan ini terasa spesial untuk kami jalani.
“Ini,” Suara Kak Soria menyadarkanku dari lamunanku, “aku mau pesan yang ini, apakah tidak masalah?”
Padahal aku sudah berjanji untuk membayar semua makanan kami, tapi Kak Soria tetap saja meminta izin, “Tentu saja tidak masalah, kak. Pilihlah apa yang kakak mau.”
Seusai memesan makanan, kami pun menunggu sejenak.
Aku menjadi yang pertama memecah keheningan, “Bagaimana kabar kakak?”
“Baik,” Jawab Kak Soria, “bagaimana denganmu, Nayu?”
“Aku juga baik.”
Percakapan kami pun berlanjut seperti percakapan pada umumnya. Membicarakan pekerjaan merupakan topik yang menarik bagi kami. Bagaimanapun, kami mencintai pekerjaan kami.
Di tengah percakapan, pelayan yang berbeda datang dengan makanan yang kami pesan.
Kak Soria tidak berkata apa-apa, tapi aku tahu dia senang dari matanya yang tampak berbinar-binar. Aku pun turut senang.
“Selamat makan, kak.”
“Selamat makan, Nayu.”
Menghormati makanan di hadapan kami, kami sama sekali tidak berucap sepatah kata. Fokus kami tertuju pada menghabiskan makanan hingga tidak lagi bersisa. Ya, seharusnya begitu. Sayangnya, aku sama sekali tidak dapat melepaskan pandanganku dari Kak Soria.
Ah… aku begitu merindukan Kak Soria hingga melihat sosok Kak Soria menyantap makanan miliknya saja membuatku terpesona.
Aku menghabiskan makanan milikku beberapa lama setelah Kak Soria menghabiskan makanan miliknya. Aku harap Kak Soria tidak menyadari bahwa aku terus memperhatikannya sejak tadi (dia pasti menyadarinya).
“Terima kasih, Nayu,” Kak Soria menaruh tangannya di atas tanganku, “aku sangat menikmati hari ini.”
Sontak, wajahku memanas melihat senyum tipis Kak Soria, “B-begitu, kah? Aku lega.”
Kebahagiaan Kak Soria adalah prioritas utama bagiku. Aku senang dapat menjadi kebahagiaan milik Kak Soria.
