Work Text:
Hao suka dengan Taerae. Tidak, bukan seperti itu cara memulai cerita yang sesungguhnya. Namun, pada kenyataannya memang itu alasan terbesar yang membuat Hao menjadi seperti ini. Tidak ada alasan yang lebih kuat baginya untuk belajar giat selama Senin sampai Jumat, agar mulai dari malam Sabtu-nya ia bisa bersantai bersama teman-temannya, dan di situlah ia dapat menghabiskan waktu lebih dengan Taerae – tentunya dengan Karina, Giselle, Hanbin, Matthew, Winter, dan Ningning juga.
Persahabatan mereka berdelapan berawal dari kelompok mata kuliah. Saat itu, pembentukannya dipilih acak oleh sang dosen, meninggalkan mahasiswa pasrah atas hasil kombinasinya. Sejak sekolah, masing-masing individu pasti sudah pernah merasakan “kerja kelompok,” yang terkadang hanya dikerjakan oleh satu orang saja, tetapi yang mendapatkan nilai tetap seluruh anggotanya – kelompok seperti ini biasa disebut “zonk.” Beberapa pribadi kerap merasa terhantui dengan hal ini hingga di jenjang perkuliahan.
Akan tetapi, para anggota dari grup “Kelompok 8 Kalkulus 1” itu ternyata mampu menyelesaikan tugas dengan berdiskusi dan bekerja sama, dan Hao bisa bilang bahwa kelompok ini jauh dari kata “zonk.” Bahkan mereka berdelapan berakhir belajar bersama untuk mata kuliah lain juga setelah menemukan kecocokan dan keunggulan dari masing-masing anggota. Karina dan Winter yang suka dengan perhitungan; Hao dan Matthew yang dapat menjelaskan logika dengan mudah; Giselle, Hanbin, dan Ningning yang rajin mencatat materi kuliah; Taerae yang dapat diandalkan dalam praktikum.
Seiring berjalannya waktu, momen-momen belajar bersama tersebut begitu saja membangun kedekatan mereka; dari yang tadinya hanya hubungan profesional, sekarang sudah menjadi personal. Maka dari itu, setelah semester satu usai, mereka semua sepakat untuk tidak membubarkan grup kelompok mereka dan tetap berbincang melalui ruang obrolan tersebut.
Semester dua pun mulai dan materi yang dibahas sudah tidak lagi dapat tergolong dalam kategori “mengulas kembali pelajaran SMA” – dalam kata lain, silabus yang semakin padat, capaian pembelajaran yang semakin banyak, buku referensi yang semakin tebal, tugas yang semakin berat, semuanya turut menambah beban studi mereka.
Mungkin Hao akan berlebihan jika ia mengatakan bahwa ia dapat menjalani semester dua ini berkat kehadiran ketujuh temannya. Maka dari itu, ia tidak tahu harus bagaimana jika ia harus terpisah dengan salah satu dari mereka. Ia tidak bisa membayangkan keseharian perkuliahannya tanpa Taerae, sebab temannya itu berniat untuk mengikuti ujian lagi demi mengejar jurusan impiannya.
Meski Hao tahu bahwa Taerae sangat tertarik dengan transportasi dan yakin bahwa pengetahuan teknologinya akan sangat terpakai pada saat berkuliah di Program Studi Teknik Mesin, tetap saja ia tidak bisa merelakan skenario itu untuk terjadi. Namun, Hao siapa? Ia tidak punya kuasa atas keputusan Taerae, yang bisa dilakukan Hao hanyalah memanfaatkan waktu-waktu yang tersisa agar dapat ia habiskan bersama orang yang ia sukai.
Kini mereka semua berkumpul di apartemen milik Giselle yang memang sudah menjadi tempat mereka berkumpul sejak jaman kerja kelompok. Ruang tamu yang ternyata cukup untuk delapan orang itu telah menyimpan banyak kenangan kebersamaan, mungkin juga menjadi saksi bisu Hao yang seringkali memilih untuk duduk berdekatan dengan Taerae.
Dan malam ini merupakan malam Sabtu dengan rangkaian kegiatan yang biasa mereka lakukan, mereka bertukar cerita tentang kejadian menarik dari kelas masing-masing selama makan bersama, dan setelah itu dilanjut dengan menegak beberapa minuman dengan kadar alkohol ringan.
Semua, kecuali Taerae, meminum karena memang berniat untuk bermalam sehingga tidak perlu memikirkan tentang berkendara ketika pulang. Tidak, bukan berarti Taerae berniat untuk menyetir malam ini, ia memang tidak mengonsumsi alkohol, dan juga ia perlu belajar sebab tanggal ujiannya yang mulai mendekat.
Tengah malam itu Taerae sedang mengutak-atik laptopnya ketika tiba-tiba ada kepala yang bersandar pada pundaknya, “Lagi belajar apa?”
Tanpa perlu menebak, Taerae sudah tahu bahwa orang tersebut adalah Hao. Ia sudah hafal dengan kebiasaan temannya itu ketika mabuk, mendadak menjadi manja, dan terkadang lebih banyak bicara dari biasanya.
“Fisika,” balas Taerae singkat, lengan kanannya yang tadinya sibuk menggerakan kursor guna membaca buku digital di komputernya itu sekarang tergerak untuk merangkul pundak Hao. Tangan kirinya menyisir pelan rambut Hao, mencoba merapikan anak-anak rambut yang jatuh dan menutupi jidatnya, sedangkan si empunya memejamkan mata.
Melihat tidak ada respons lagi dari Hao, Taerae kembali bersuara, “Mau bantal?”
Taerae mencari keberadaan bantal-bantal di sofa terdekat, tetapi semuanya telah digunakan, mau tidak mau pundaknya lah yang perlu dijadikan sebagai sandaran – yang sebetulnya ia juga tidak masalah, bahkan setiap kali dirinya menyetir dan Hao tertidur di kursi penumpang, rasanya pengemudi itu selalu ingin menawari lengan kirinya dibandingkan kepala itu menyandar pada kaca pintu.
“Semangat ya.” Beginilah cara komunikasi mahasiswa Jurusan Aktuaria ketika sedang dalam pengaruh alkohol, pertanyaan X, tetapi jawabannya Y. Untung saja kedua variabel tersebut masih berhubungan dengan Taerae sekarang sehingga ia jawab, “Makasih ya,” tidak lupa mencubit pipinya yang terlihat tumpah pada pundaknya.
“Udah cuci muka? Mau cuci muka?” Taerae merasakan permukaan kulit Hao yang sedikit berminyak. Maka dari itu, ia mematikan perangkatnya setelah Hao mengangguk dan setuju untuk ditemani ke kamar mandi.
Kalau boleh jujur, Taerae tidak menyangka bahwa ia mampu mengangkat dan memposisikan Hao untuk duduk di meja wastafel. Ia juga tidak menyangka bahwa ia yang akan membantu rutinitas perawatan kulit cowok manis ini.
Probabilitas Hao untuk melupakan semua ini mungkin saja besar, tetapi tentu saja nilai probabilitas tersebut adalah nol bagi Taerae, ia tidak akan melupakan bagaimana lucunya Hao saat menolak untuk membersihkan wajahnya sendiri ketika Taerae menawari kapas yang sudah dituangi micellar water.
“Yaudah, ditutup ya matanya.” Taerae pun mulai menyapu pelan wajah cantik itu dengan kapas halus. Seharusnya tidak ada yang sulit dari kegiatan ini, tetapi perlu diingat bahwa Hao yang sedang mabuk itu selalu berusaha untuk menyuarakan apa yang sedang dipikirkan di kepalanya.
Yang matanya masih tertutup itu memanggil, “Taerae,” ada hening sejenak sebelum ia melanjutkan kembali, “Lu pernah kepikiran gak, kenapa sekarang ada AI?”
“Jawaaab.” Hao merengek ringan karena tidak mendengar suara Taerae setelah sepuluh detik lamanya.
“Biar teknologi yang ada jadi lebih maju? Terus bisa mempermudah pekerjaan orang-orang?” Aslinya Taerae memiliki banyak opsi jawaban di kepalanya, tetapi yang ia katakan justru seperti pertanyaan kembali, hal ini agar tidak memakan waktu lebih bagi Hao untuk menunggu balasannya.
“Dulu kan ide-ide yang membantu kita bangun mindset dateng dari para ahli filsuf– filsafat– ya itu pokoknya, Pythagoras, Socrates, Aristotle, dan masih banyak lagi–”
“Zhang Hao,” potong lelaki yang kini mengambil beberapa lembar tisu untuk mengeringkan wajah orang yang ia sebut namanya barusan.
“–Ih, gue mah bukan filsuf.” Keduanya terkekeh pelan sebelum Taerae mengatakan kepada Hao untuk melanjutkan kalimatnya.
“Karl Marx, Charles Darwin, Albert Einstein, itu juga termasuk. Nah, pemahaman-pemahaman ahli filsafat itu terakhir ada sebelum tahun 2000. Gak tau sih, tapi yang gue pernah cari tau kayak begitu. Belasan tahun setelah tahun 2000 tuh kita stagnan, kayak gak bener-bener ada pemikiran baru di tahun-tahun segitu–”
“Oke udah, sekarang boleh dibuka matanya.” Lagi-lagi Taerae menyahut di tengah-tengah, tetapi Hao tidak masalah. Mata sayu itu pun akhirnya dapat ditatap kembali oleh Taerae, ia tersenyum setelah diucapkan terima kasih karena sudah membantu Hao dengan skincare-nya.
“–Kalau nggak ada AI, kayaknya sampai sekarang masih stuck aja deh pemikiran kita.”
Taerae terus setia mendengarkan kata demi kata yang Hao keluarkan. Jika ketika Hao matanya tertutup, reaksi yang ia berikan berupa deheman, memastikan bahwa pemuda yang sedang berbicara itu tahu bahwa dirinya mendengarkan. Sekarang ia cukup mengangguk sambil sesekali mengelus telapak tangan Hao – yang keduanya tidak sadar siapa yang mulai menyelipkan jarinya duluan – dan mengayunkannya pelan.
“Tapi yang bikin AI juga ngaku kalau sebenernya dia kepikiran dampak buruknya pas lagi membangun modelnya, baru ketauan sekarang pas udah banyak yang mengaplikasikan AI, dan jadinya sekarang ethics of AI diserahkan kepada para penggunanya deh...”
Meski kalimat terakhir dari Hao terlihat seolah topiknya selesai, percayalah, itu hanya pemantik dari obrolan yang semakin tidak berarah. Taerae setelahnya menambahkan dengan fakta bahwa film “Oppenheimer” merupakan contoh nyata dan terdahulu dari dampak sains dan teknologi, yang kemudian berlanjut kepada series “Black Mirror” yang betul-betul menggambarkan penggunaan teknologi dengan dampak buruk di masa kini.
Lalu sama halnya seperti tautan tangan, tidak tahu siapa yang memulai ciuman, bibir keduanya menyentuh satu sama lain untuk beberapa detik, sampai akhirnya Taerae tersadar dan memundurkan badannya.
Dengan cepat Hao menarik kembali tangan Taerae yang masih dalam genggamannya, “Do you want it? I’m sober enough to give consent.”
“I was even able to hold a conversation about philosophy with you. We can really do it if you want to.” Hao menekan kembali bahwa mereka dapat melakukannya kembali jika Taerae memang ingin.
Untuk kesekian kalinya, Taerae menambahkan hal baru dalam daftar “tidak menyangka”-nya pada tengah malam ini. Siapa sangka bahwa dirinya akan semudah itu untuk mendapatkan dan menerima izin dari sang empunya.
Maka dari itu, dipertemukan kembali kedua bibir mereka, dengan Hao yang menuntun Taerae pelan dalam ciumannya; tangan Hao pada tengkuk Taerae, tangan Taerae pada pinggang Hao, semua terasa sempurna bagi mereka.
And maybe, starting from today, it’s not only the apartment’s living room that has been a wordless witness to their togetherness, but also its bathroom that now witnesses how Hao and Taerae don’t need words to get together.
