Work Text:
Han Jihoon sangat menyukai Ubur-ubur.
Makhluk transparan indah yang menari-nari indah di laut seakan dapat jatuh kapan saja terlarut dalam keheningan laut. Mengambang riang bebas tanpa ada beban, hanya bergerak lembut ditengah-tengah gelombang arus deras. Dengan serabut-serabut kaki lenturnya menari kesana kemari sampai ke laut dalam.
Ubur-ubur itu bisa hidup selamanya, Mereka mempunyai kemampuan untuk membalikkan waktu biologis, kembali ke tahap hidup, lalu tumbuh lagi. Seperti mimpi yang tak akan pernah padam
Menurut Han Jihoon, ubur-ubur bisa menaklukan segalanya.
Han Jihoon membenci 'selamanya'
Selamanya, kata-kata yang dapat melambungkan hati menuju langit tertinggi. Kata yang memabukkan dan menggelitik hati siapa saja. Namun juga seperti belati apabila ingkar menghampiri.
"Kita akan bersama selamanya!"
"Kita akan debut bersama, nanti bareng-bareng terus pokoknya gitu terus yak! Selamanya,"
Senyum dengan menuturkan 'selamanya' seperti bisikan halus yang menetap di lubuk hatinya tidak bisa ia pandang sama lagi. Selamanya yang ia ukir di dinding kepala, menggantungnya dalam setiap do'a yang mengiringi langkahnya. Seolah 'selamanya' itu tidak akan pernah runtuh.
Namun ingkar dengan mudahnya meruntuhkan 'selamanya' Han Jihoon, atau sebenarnya 'selamanya' meninggalkannya. Meninggalkan Han Jihoon ditengah bintang-bintang harapan Han Jihoon, meletupnya dan menyisakan kegelapan.
Seakan dibalik ucapan "aku akan bersamamu selamanya," selalu ada ceruak kecil yang dibiarkan terbuka- untuk kabur, untuk menyerah, untuk pergi diam-diam tanpa penjelasan.
Namun, Han Jihoon masih menyukai ubur-ubur, meski membawa simbol dari kata yang mengingkarinya.
Tangan Jihoon tergesa-gesa membubuhkan tulisan demi tulisan pada kertas yang mulai lecek menjadi korban rusuh Jihoon. Keringat mulai mengucur dari dahinya, berpacu dengan waktu.
Dalam aktivitas yang tengah ia selami itu, sesekali dia menyeka wajahnya. Menghapus jejak air mata yang perlahan terus mengucur. Menurutnya keadaan dia seperti ini terlihat terlalu menyedihkan. Apa jadinya kalau orang lain melihatnya? Untungnya ia kunci ruang latihan dengan kaca menjadi saksinya menyisakan Jihoon dalam keheningan.
"Uwah aku beneran nulis ini," Jihoon melepaskan bolpoint, membiarkannya menggelinding di lantai.
Ia tangkup wajah yang berantakan itu dengan kedua tangannya, kemudian dengan gundah gundala membaca apa yang ia tulis. Tak sulit membuat Jihoon berguling-guling mencoba untuk tidak berteriak lalu meringkuk menutupi telinganya yang berubah menjadi merah.
Malu mampus ini mah
"HAN JIHOON!!!" teriakan disusul dengan gedoran pintu mengagetkannya. Buru-buru ia melipat kertas yang sudah cukup kumal, ia masukkan kedalam hoodienya.
"Y-Yaaaaaaaaa,"
"Shinyu-hyung bentar lagi ngamuk," Suara diseberang menimpalinya.
"Nggak! Han Jihoon buka pintunya," Yang ditunjuk langsung menyela, suaranya masih terdengar datar.
Jihoon melesat menuju pintu yang memisahkan mereka, memutar kunci dan pintu langsung dibuka seberang.
JDUAK
"Han Jihoon!" kelima orang yang berada diseberang kaget, Jihoon tertumbuk pintu, mencium keras dahi Jihoon. Si Pelaku, kelabakan langsung menahan tubuh Jihoon dengan empu yang mundur perlahan memegangi dahinya.
"Makanya sabar dulu Shinyu-hyung! "
"Jihoonie sakit enggak?"
"Suaranya nyaring banget gak sih tadi,"
Satu detik kemudian, Jihoon dikerubungi kelima orang itu. Membentuk barikade perlindungan? Harap cemas atau hanya sekedar menertawakannya. Sinyu meraba dahi Jihoon, ikut memijitnya perlahan. Jihoon masih tak berkata apa-apa. Tangannya ia turunkan, membiarkan Sinyu memijitnya. Anggota tubuhnya yang lain sudah penuh dipegangi keempat orang sisanya. Masih berisik menanyakan keadaannya, Jihoon hanya memanyunkan bibirnya.
Mungkin selamanya juga tak apa?
Ditengah-tengah hiruk pikuk panggung yang serba biru. Lampu-lampu temaram menyapu wajah yang telah lama menunggu, sorak sorai yang biasanya membuat jantung Han Jihoon berdebar kini terasa menjadi pelukan hangat.
Han Jihoon kali ini menjadi pusat perhatian semua orang. Ia berdiri dengan kakinya yang terlihat sedikit gemetar, mengenakan pakaian dari fanmeeting panjang yang hampir usai. Ditariknya napas pelan sambil menggenggam selembar kertas yang sudah tercetak lekukan-lekukan bekas lipatan berulang.
Baris demi baris ia ucapkan dengan lantang, gemetar merayapinya dengan tetesan air mata mengiringi.
Hanjin menatapnya.
Dohoon menatapnya.
Youngjae menatapnya.
Kyungmin menatapnya.
Shinyu menatapnya.
Diakhir surat, ia berhenti sejenak. Mengangkat pandangannya ke arah sai yang setia mengangkat lightstick tinggi-tinggi, seolah mengamini- 'selamanya' Jihoon. Jihoon tersenyum lebar, ditatapnya satu persatu kelima orang yang menjadi objek dalam suratnya.
Senyum lebar dengan mata kaca bening mengucurkan air. Mungkin saat ini itu senyum terlebar dalam hidupnya. Pertama kali dalam hidupnya ia mengakui pada dirinya sendiri, pada semuanya, pada dirinya dimasa lalu ia tidak lagi membenci 'selamanya' . Dulu kata itu membuatnya takut- terdengar seperti janji kosong yang dapat dengan mudah diingkari. Tapi malam ini, ditengah-tengah hujanan cinta yang bergitu tulus dan tak bersyarat, ia merasa 'selamanya' tidak lagi menyeramkan.
Hanjin dan Kyungmin yang berada didekatnya berjalan mendekatinya mulai memeluknya. Air mata Jihoon rupanya menular, Mereka berdua memeluknya sambil perlahan menyeka wajah Jihoon. Lama kelamaan tubuh Jihoon didatangi banyak tubuh hangat yang siap memeluknya- siap merangkul beban bersama- siap bersama dengannya selamanya.
"Kami juga, akan terus bersama Jihoonnie selamanya,". Ucapaan itu diiringi pelukan yang menghangatkan hati Jihoon, pelukan hangat yang ia akan pertahankan- selamanya.
Live perayaan ulang tahunnya telah usai. Menyisakan Jihoon yang beristirahat dikamarnya. Tangannya membolak-balikkan catatan yang berada di mejanya. Mencari sesuatu.
Matanya berbinar saat berhasil menemukannya, surat yang ia berisi curahan hatinya yang dikemas hati-hati pada secarik kertas. Dibacanya ulang dalam diamnya. Ya, ini memang cukup memalukan.
"Uwah, kok beneran bisa bikin,"
"Apaan tuh," Suara yang muncul tiba-tiba dengan kepala nongol disamping Jihoon mengagetkannya.
"Ack!" Dohoon dengan cepat merebut secarik kertas dari tangan Jihoon. Aduh bisa tidak sekali saja atau sehari saja Dohoon-hyung ini tidak aneh-aneh?
ADUH MALU WEH
"Jihoonie ini, sudah pasti kalau kita akan selalu bersama kan?" Dohoon mengembalikan kertas itu pada pemiliknya. Lalu mengusap singkat kepala Jihoon, senyumnya mengembang riang.
"Ya- aku tahu kok, tapi apa salahnya kan-,"
"Iyaaaaaa,"
"Wa, ada apeni,"
"Lah kok rame...,"
Malam itu Jihoon menghabiskan malam hangat bersama orang-orang yang ia sayangi.
"Hari Han Jihoon terbaik sepanjang masa!".
Setelah itu, keenam orang dalam satu dorm itu tidur bersama di ruang tengah dengan pelukan menjalar dari satu orang ke orang lain, menyelimuti malam berbintang yang indah.
Han Jihoon dapat menaklukan segalanya!
Han Jihoon telah menaklukan ketakutan- mimpi buruknya!
Beri tepuk tangan yang meriah kepada Ubur-ubur TWS satu ini!
