Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-04-05
Words:
4,217
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
55
Bookmarks:
3
Hits:
638

the pomegranate’s will

Summary:

Jauh dari ketinggian awan dan bunga-bunga yang bermekaran—Sunghoon temukan arah di antara sesat, seiring dengan Heeseung yang dapatkan sinar di tengah kegelapan.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Berbeda dengan dewa dan dewi lain yang tinggal berdampingan di Olympus, Sunghoon telah selalu hadir di tengah kehidupan. Sebab dibanding berada di ketinggian awan, ia jauh menyukai tinggal di antara bunga-bunga yang bermekaran.

Orang-orang mengenal Sunghoon sebagai lelaki ramah berparas rupawan—yang bahkan senyum indahnya digadang sebagai hadiah dari Dewi Kecantikan. Tentu saja, sebab ia adalah putra dari Dewi Kesuburan.

Sunghoon diimpikan dapat mengikuti jejak sang Ibu dalam menjaga kesuburan bumi. Yang mana merupakan hal yang tak perlu diminta, karena siapa lagi yang mencintai biru langit berpadu terang mentari, merdu cicitan burung yang bernyanyi, dan hamparan rumput hijau yang menanti kala Sunghoon berlari?

“Jangan pergi terlalu jauh, jangan—“

“—mengikuti makhluk tak dikenal, jangan sembarang memasuki wilayah asing,” lanjut Sunghoon menimpali lantunan Ibunya yang telah ia hafal di luar kepala. “Ini kali keseribu kau mengatakan itu, Ibu.”

Seperti biasa, ketika rutinitas memantau hasil panen manusia dengan Sang Ibu telah selesai, Sunghoon akan pergi ke tempat ia temukan rasa nyaman; padang bunga yang letaknya tak jauh dari sebuah desa. Dari sudut itu, Sunghoon dapat melihat macam rupa manusia yang tengah beraktivitas. Satu hal yang ia suka selain melihat refleksi indahnya di air sungai, yaitu memandang hiruk pikuk kehidupan manusia dari kejauhan. Manusia itu kompleks, jauh dari yang diceritakan sebagai makhluk lugu tanpa kekuatan.

“Aku hanya khawatir, Sayang,” tukas Demeter beri tatapan lembut pada anak semata wayang di hadapannya. Jemari lentiknya membelai surai legam halus milik Sunghoon penuh kasih.

“Mungkin Ibu harus sedikit mengurangi rasa khawatirmu yang berlebihan itu.”

“Dan bagaimana bisa aku kurangi sementara kau adalah anakku satu-satunya? Oh, Sunghoon, bayi kecilku yang telah tumbuh dengan sangat cantik.”

“Ibu, kau berlebihan sekali,” ucap Sunghoon sambil mendengus pelan walaupun bibirnya sulit untuk menahan senyum. “Tapi, baiklah. Aku tidak akan pergi terlalu jauh, tidak akan mengikuti makhluk tidak dikenal, dan tidak akan sembarang memasuki wilayah asing.”

 


 

Langkah Sunghoon terhenti kala menemukan sebuah celah berbentuk seperti gua kecil yang terimpit bebatuan besar. Layaknya anak kecil yang penuh rasa penasaran, ia mulai melangkah mendekat.

Antusiasmenya bertambah saat netranya menemukan sekumpulan bunga dengan kelopak putih mengerucut, bagian tengahnya mencorong sewarna mentari, dengan batang tinggi yang tumbuh tegak. Aroma yang menguar dari tumbuhan itu seakan memberi efek magis agar Sunghoon terus berada di sekelilingnya—manis, lembut, dan menenangkan.

Pandangan Sunghoon mulai mengitari setiap sudut gua tersebut. Senyum berhasil terbentuk dari bibirnya saat ia melihat bunga serupa yang tak jauh dari titik awalnya. Satu tangkai ia petik, digenggam penuh sukacita untuk sesekali menghidu wangi lembutnya.

Jejaknya terus mengikuti raksi manis yang terus menguar hingga tanpa sadar bahwa ia telah jauh memasuki gua gelap tanpa penghuni itu—dan melanggar petuah terakhir sang Ibu.

Namun, lama-kelamaan tiap langkah Sunghoon mulai dipenuhi kegelapan. Sunyi mulai memenuhi indra pendengaran, meninggalkan langkah kakinya yang terus menggema. Sunghoon semakin menjauh dari arah sumber sinar matahari. Ah, mungkin Helios sudah mulai bosan menemaninya, pikirnya.

Sunghoon terus menelusuri jalan setapak yang tersuguhi, sampai akhirnya langkahnya harus terhenti.

Tepat di depannya, tertidur pulas seekor makhluk yang belum pernah ia temui sebelumnya. Makhluk yang berlipat kali jauh lebih besar dibanding Sunghoon, rupanya bagai anjing dengan tiga kepala yang menghiasi. Dan di balik tubuh raksasanya, ia rasa terdapat suatu gerbang megah yang berdiri kokoh penuh intimidasi.

Sunghoon pernah sebelumnya mendengar eksistensi anjing berkepala tiga yang ditugaskan menjaga gerbang menuju dunia milik dewa bawah tanah. Kalau benar makhluk di hadapannya ini ialah anjing bernama Cerberus yang dimaksud, jangan bilang…

“Kau siapa?”

Suara baru yang bersumber dari balik tubuh Sunghoon sukses membuatnya menoleh kaget.

Berdiri di hadapannya seorang lelaki tinggi dengan postur tegap dan kuat. Fitur wajahnya tajam dengan raut tegas yang mengintimidasi. Ia mengenakan jubah hitam panjang yang melindungi tubuh atletisnya dengan tongkat berujung tombak bercabang dua di tangan kanan. Yah, parasnya mungkin termasuk salah satu kriteria yang cukup Sunghoon akui di menempati posisi setelah Apollo, tetapi ekspresi serius penuh kekakuan itu memberi efek ngeri. Walaupun begitu, lelaki ini penuh aura misterius yang berhasil buat ia penasaran.

“Demi Dewa! Kau mengagetkanku,” ucap Sunghoon mengelus dadanya yang berdetak kelewat kencang saat lelaki yang kini di hadapannya bersuara.

“Salahmu. Kenapa juga berdiri diam di depan gerbang rumahku.”

“Hah? Ru-rumahmu…?” ucap Sunghoon penuh kaget sambil membandingkan pandangannya dari gerbang besar itu pada sosok di depannya berulang kali. “Kau siapa?!”

“Justru harusnya aku yang tanya begitu.” Lelaki di hadapannya memutar bola matanya malas. Wajahnya masih kaku dan penuh keseriusan. “Aku Heeseung, walau mungkin orang lebih mengenalku dengan sebutan Hades. Dewa Dunia Bawah.”

“Ha-Hades?! Dewa … apa?!”

Berkali-kali Sunghoon menemukan dirinya terkejut akan tiap kalimat yang keluar dari lawan bicaranya. Namun, yang kali ini lebih dari mengejutkan. Bayangkan saja, di depanmu berdiri salah satu sosok yang masuk ke dalam daftar makhluk yang harus hindari semasa hidupnya. Berurusan dengan Dewa Dunia Bawah adalah hal yang paling Sunghoon jauhi, seharusnya.

“Aku rasa telingamu perlu dibersihkan segera,” ucap Heeseung dengan nada datarnya yang sulit dikenali apakah ia hanya bergurau atau bermaksud sebenernya. Tapi, seorang Dewa Dunia Bawah bergurau? Rasanya sulit dipercaya.

Sunghoon mengerjap pelan, sadar bahwa lelaki mengerikan ini mulai meledeknya. Sesaat, perasaannya mulai dipenuhi kejengkelan. “Aku dengar kok! Kau ini Heeseung, Dewa Dunia Bawah.”

“Baguslah kalau kau sudah mengerti. Sekarang minggir, aku ingin kembali.”

“Ya, silakan saja. Tapi, aku peringatkan hati-hati akan anjing berkepala tiga di depan sana. Jangan sampai makhluk itu bangun, mereka sangat menyeramkan.”

“Aku lebih dari tau. Mereka peliharaanku,” ucap Heeseung mengangkat salah satu alisnya penuh heran. Entah siapa lelaki yang baru saja ia temui ini, tetapi satu hal yang Heeseung ketahui bahwa ia tentu sok tau sekali.

Bodoh. Tentu saja Heeseung akan lebih tau tanpa perlu diperingatkan.

Heeseung melangkah maju melewati tempat Sunghoon berdiri. Dan tanpa perlu sepatah kata pun, sepertinya Cerberus memahami bahwa majikannya telah kembali. Makhluk mengerikan itu mulai terbangun diikuti dengan gerbang megah yang terbuka lebar hingga tanpa sadar Sunghoon memosisikan diri di belakang punggung tegap milik Heeseung.

Gerbang hitam yang terbentang lebar itu berukuran terlampau besar dengan dipenuhi ukiran. Walaupun terlihat menyeramkan di tengah kegelapan, Sunghoon merasa gerbang ini sekaligus menjadi pelindung bagi apa yang di baliknya tersimpan. Kala kedua daun pintunya terbuka, Sunghoon dapat melihat sebuah dunia lain yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Terlalu dipenuhi dengan rasa takjub, Sunghoon melewatkan kepergian Heeseung yang mulai melangkah masuk.

“Hei, mau sampai kapan kau berdiri di sana? Cepat kembali ke asalmu,” ucap Heeseung dengan nada yang naik satu oktaf dengan posisi beberapa langkah jauh melewati gerbang.

Dibanding kembali ke tempatnya semula, Sunghoon dengan kesadaran penuh justru mengikuti Heeseung masuk. Hal ini menghasilkan Heeseung memijat pelipisnya, pusing. Tak seharusnya ada makhluk yang pergi ke dunia bawah jika belum waktunya.

“Maaf, tapi aku tidak tau arah jalan pulang,” ucap Sunghoon sambil menghela napas terpanjangnya.

Dan Heeseung memijit pelipisnya sekali lagi.

 


 

Entah bagaimana caranya, tetapi kini Sunghoon berhasil memasuki salah satu sudut kediaman milik Dewa Dunia Bawah. Figurnya yang lebih kecil konstan setia mengikuti kemana pun langkah Heeseung membawa. Sesekali ia curi lirikan menuju seluruh inci interior yang didominasi warna gelap di antara ribuan jejak Heeseung yang terlalu cepat. Pencapaiannya ini patut diberi ribuan tepuk tangan karena tak sembarang orang akan diizinkan menjejakkan kakinya di kediaman Sang Dewa Dunia Bawah. Bahkan tak semua bawahan dewa tersebut diberi kesempatan untuk memasuki istana megah penuh kegelapan ini.

Entah apa yang terkandung dalam tatap penuh binar milik Sunghoon ketika kedua netra mereka bersitatap. Yang Heeseung tau, ia kehilangan kemampuan untuk berkata tidak.

Maka di sini lah mereka sekarang. Langkah Heeseung yang berhenti mendadak di depan pintu besar sebuah ruangan mengakibatkan sosok Sunghoon yang lengah justru menabrak bahu kokohnya.

“Aw!”

Heeseung membalik tubuh tegapnya dan menemukan lelaki yang lebih muda tengah mengusak surai hitamnya. “Berhenti mengikutiku.”

“Lalu, aku harus mengikuti siapa?” ucap Sunghoon penuh heran dengan jari-jemari lentik yang masih sibuk mengusap kepala indahnya itu.

“Menurutmu saja,” balas Heeseung yang justru menambah tanda tanya baru di kepala Sunghoon yang sudah sangat sibuk. “Tidak usah ikuti siapa-siapa, kau istirahat saja di ruangan ini. Besok aku antar pulang.”

“Hah?”

Selepas mengucap kalimat terakhirnya itu, Heeseung langsung pergi meninggalkan ribuan pertanyaan yang seharusnya Sunghoon tanyakan. Tanpa sempat memberi jejak, sosok berjubah hitam itu telah menghilang dari lapang pandang milik lelaki yang lebih muda. Ingin dikejarpun percuma, sebab berapa persen kemungkinan Sunghoon akan kembali bertemu Sang Dewa tanpa tersesat di antara pilar yang besarnya tiga kali lipat dibanding tubuhnya? Nyaris nol.

Sunghoon menghelas napas terpanjangnya hari itu.

Setidaknya berada di sebuah ruangan—yang mungkin gelap, lembab, dan seratus delapan puluh derajat berbeda dibanding kamar hangatnya di bumi—itu jauh lebih baik daripada tertidur di gua, bukan?

Lengan seputih susunya mendorong pintu megah dengan tinggi jauh berada di atasnya itu. Netranya melebar kala menangkap sesuatu yang tidak disangka bahwa—sebuah kamar didominasi warna krem dengan chandelier besar yang menggantung sebagai penerangan. Sunghoon rasa di tengah kastil yang penuh kegelapan ini, hanya ruangan yang ia tempati kini yang punya perasaan hidup seakan eksistensinya sudah diprediksi.

Sulit dipercaya bahwa terdapat sebuah ruang yang keberadaannya kontras dengan dunia di mana tempat ini berada.

Pandangannya mengedari luas ruang yang seakan ditakdirkan tercipta untuknya itu. Bulu mata panjangnya beberapa kali mengedip kala menemukan sebuah detil indah yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Lantai marmer megah tanpa debu, nakas putih yang masing-masing dilengkapi dengan lampu, dan langit-langit ruangan yang tercipta penuh ukiran. Oh, dan jangan lupakan kasur besar di tengah ruang yang lebih dari cukup untuk dirinya sendiri yang bahkan jika ditambah Heeseung pun mungkin akan tetap menyisakan ruang lebar—tunggu, kenapa ia jadi membayangkan satu kasur bersama lelaki kaku tersebut? Sunghoon menggeleng cepat, ini pasti efek dunia bawah.

Sunghoon mengambil duduk sejenak. Kalau dipikir, kamar ini memang jauh lebih indah, jauh sekali jika dibanding kamarnya di bumi. Namun, belum ada satu hari, ia mulai merindukan Ibunya itu.

Sunghoon pernah mendengar kalau jiwa yang memasuki dunia ini, tidak akan kembali lagi. Bagaimana kalau… seandainya ia tidak bisa pulang? Tapi, Heeseung sudah berjanji akan mengantarnya pulang, bukan?

“Ah, aku lebih baik mendengar omelan Ibu seminggu tanpa henti dibanding harus mengabiskan waktu lebih lama di sini…”

Memikirkannya terus tanpa henti tanpa sadar buat Sunghoon masuk ke alam mimpi.

 


 

“Kau ini bodoh ya, Heeseung?!”

Sebuah teriakan frustrasi terdengar menggelegar di sebuah ruangan yang bertempat di istana megah milik Heeseung. Suara bariton itu milik Jongseong, si Dewa Laut yang dini hari sudah datang berkunjung.

“Sst, diamlah. Nanti ia bisa dengar.” Heeseung mendecak malas akan kelakukan saudaranya yang sulit dikontrol itu. “Dan, apa maksudmu?”

Keduanya kini tengah duduk berhadapan di meja makan panjang yang telah tersaji berbagai jenis makanan. Piring berisi ambrosia dan secangkir nektar dihidangkan penuh goda dengan buah delima sebagai pencuci mulut.

“Setelah semua hal yang kau rencanakan sebelumnya itu, dan kau dengan sukarela akan mengantarnya pulang?!”

“Yah, mau bagaimana lagi. Aku tidak tega,” balas Heeseung penuh santai seakan apa yang ia lakukan sebelumnya bukanlah hal berarti.

Mendengar balasan tersebut sukses buat Jongseong makin frustrasi. Ia memijat keningnya pelan dan berkata, “Demi tongkat petir Zeus! Dewa Dunia Bawah yang dikenal tak punya empati dan rasa kasihan ini merasa tidak tega pada seorang keturunan dewi?! Kau pasti bukan Heeseung, si Hades.”

“Aku Heeseung.”
“Kembalikan Heeseungku!”
“Kau menjijikan.”

“Kau harus sadar kalau kau yang sedang jatuh cinta itu jauh lebih menjijikan,” balas Jongseong tak mau kalah. Ia mengeluarkan tiap jarinya demi menghitung seberapa banyak anomali yang sebelumnya telah Heeseung perbuat. “Repot-repot meminta bantuan Gaia untuk menciptakan bunga penarik perhatian, membangun sebuah ruangan dengan penerangan menyakiti mata, dan sekarang tiba-tiba ingin menghentikan ini semua? Konyol.”

Heeseung menghela napasnya. “Bagaimana bisa aku tolak kalau dia memintaku dengan kedua binar di mata bulatnya?”

“Apa?”
“Lupakan.”

“Jadi, kau sungguh ingin menyerah dan membiarkan dia pulang?” tanya Jongseong sekali lagi berusaha memastikan. Keningnya mulai mengerut heran menantikan jawaban saudaranya yang lebih tua. “Aku dengar Demeter gelisah mencari putranya di atas sana hingga bumi diselimuti kesedihan.”

Heeseung mengerti. Sulit bagi Demeter untuk menerima ketika putra semata wayangnya tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan jejak. Namun, bukan berarti Heeseung juga harus menyerah memperjuangkan cinta pertamanya, kan? Ia juga ingin didampingi di tengah gelapnya dunia ini.

“Tidak. Aku akan bicara dengan Demeter nanti.”

Jongseong mengangguk setuju mendengar penuturan milik Heeseung. Sebelum akhirnya perhatian keduanya teralih pada bunyi gedebuk yang tercipta dari lorong yang mengarah ke tempat mereka berada.

Belum sempat keduanya menghampiri, muncul sosok yang jadi objek pembicaraan mereka sedari tadi. Panik memenuhi kepala Heeseung.

“Sejak kapan kau di sana?” tanya Heeseung tegas. Memastikan bahwa percakapannya dengan Jongseong sebelum ini tetap terjaga.

Sunghoon berdiri di depan pintu masuk dengah wajah penuh bingung. Heeseung dapat mengetahui dengan jelas bahwa ia benar baru saja terbangun. Tanpa sadar lengkung kecil tercipta di sudut bibirnya kala melihat Sunghoon—sebelum akhirnya tersadar dan langsung ia hapus kembali.

“Uh, baru saja? Maaf aku terbangun dan malah tersesat ke sini…”

“Duduk.” Heeseung mulai beri perintah tanpa bantah dengan dagu yang mengarah pada kursi kosong tepat di sebelahnya. “Sini.”

Sunghoon bingung, sedangkan Jongseong bersiul menggoda.

“Hai, Sunghoon. Aku Jongseong, saudara Heeseung dan penguasa laut yang paling keren. Senang bertemu denganmu,” sapa Jongseong dengan senyum miring di wajahnya. Tangan kanannya sedikit terangkat menyapa demi memberi gestur ramah. Terlalu sering direpotkan Heeseung yang jatuh cinta membuat pertemuan ini bukan jadi kali pertama Jongseong melihat putra manis Demeter itu.

“Hai juga, Jongseong?” ucap Sunghoon malu-malu. Semburat merah tipis tercipta di kedua pipinya yang jutsru buat Heeseung sedikit geram.

“Jongseong ada urusan sehingga harus pergi sekarang,” tukas Heeseung sebelah pihak. Bahaya jika terlalu lama membiarkan Jongseong berada di sini, bisa-bisa satu dunia bawah hancur.

“Memang iya? Urusan apa?” balas Jongseong penuh tanda tanya. Namun, melihat tatapan tajam dan aura mengerikan yang Heeseung keluarkan, Jongseong mulai paham. “Oh, tentu saja. Aku harus kembali sekarang, Jake membutuhkan bantuanku.”

Enggan terus dipelototi oleh Heeseung, Jongseong segera mengangkat kakinya untuk meninggalkan istana paling megah di dunia itu. Sebelum sepenuhnya beranjak, Jongseong menyempatkan diri untuk bisikkan sesuatu pada Sunghoon yang entah mengapa membuat wajah lelaki paling muda itu makin memerah.

“Hei!” Heeseung melihatnya makin geram dan hampir reflek melayangkan garpu menuju kepala saudara tengilnya itu.

Jongseong hanya tertawa puas. “Hahaha, sampai jumpa, Sunghoon!” Sebelum akhirnya sosok itu mulai menghilang sepenuhnya dari balik pilar.

Sepeninggalan Jongseong, Sunghoon mulai melangkah perlahan mendekati di mana Heeseung berada. Ia mengambil tempat tepat sesuai dengan instruksi yang diberikan Heeseung.

Hening sesaat memenuhi ruangan besar yang kini hanya berisi dua keturunan dewa tersebut.

Heeseung berdeham pelan, enggan terlarut lebih lama dalam keheningan. “Bagaimana tidurmu?”

“Tidak buruk, walaupun tidak senyenyak ketika berada di kamarku.” Sunghoon menoleh ke arah lelaki di sebelahnya. Wajahnya ia tumpukan pada salah satu tangan yang bersiku pada meja dengan perhatian kini penuh pada Heeseung. “Kau sendiri, bagaimana denganmu?”

“Aku baik,” balas Heeseung singkat menyatakan hal yang ia rasakan. Walau faktanya tidurnya cukup terganggu karena tugasnya sebagai penguasa dunia bawah cukup menguras tenaga.

Entah dari mana kebeneranian pada jiwa Sunghoon datang, tetapi ia mulai menjawab Heeseung penuh gurau. “Benarkah? Aku rasa kantung hitam di bawah matamu itu berkata sebaliknya.”

Berada di dekat Heeseung kini tak lagi jadi suatu ancaman besar baginya. Mungkin karena Sunghoon yang mulai merasa nyaman, atau Heeseung yang ternyata tak semengerikan cerita orang-orang. Entahlah. Namun, satu hal yang kini Sunghoon yakini: di balik dinginnya sosok Heeseung, ia dapat merasakan adanya kehangatan yang jauh tersimpan.

“Sok tau sekali,” ucap Heeseung masih tak ingin kalah.

“Biar begini, aku tau banyak hal.”

Heeseung mendengus kecil, tetapi ia tidak dapat menahan sudut bibirnya yang kini mulai terangkat kembali. Sunghoon memang beda. Ketika hampir semua makhluk akan spontan menunduk dan enggan membalas ketika Heeseung melayangkan tatapan pada sosok mereka, Sunghoon melakukan sebaliknya. Mata legamnya yang penuh pendar itu kini menyala dengan menatap balik milik Heeseung. And, he loves him for that.

“Kau cantik.”
“Tentu saja, aku putra Dewi Panen yang disegani manusia.”

Heeseung tersenyum miring sekali lagi. “Aku suka keberanian dan kesoktauanmu itu,” katanya penuh ketulusan.

“Aku anggap itu pujian.” Sunghoon mendengus. Bibirnya melengkung sempurna membentuk senyum paling indah yang pernah Heeseung saksikan. Senyum yang kini tercipta sebab perbuatannya.

“Memang.”

“Oh ya, Heeseung.” Sunghoon tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan kembali percakapan yang tertunda. “Sebelum aku pulang, aku punya satu permintaan.”

Ah, pulang ya.

Menghabiskan waktu bersama lelaki dambaannya buat Heeseung hampir lupa akan hal itu. Fakta bahwa Sunghoon akan kembali ke bumi dan kemungkinan bahwa ia akan sepenuhnya meninggalkan Heeseung kembali cukup membuat ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Heeseung tidak mengenal perasaan apa itu, tetapi rasanya sangat menakutkan.

“Apa itu?”

“Bolehkah kau membawaku mengelilingi duniamu? Aku mungkin tak punya kesempatan kembali.” Sunghoon menyampaikan tiap kata penuh harap. Ada sedikit sendu tersirat di balik senyumnya yang menguat. “Tak apa, kalau ternyata kau sibuk.”

Oh, Sunghoon. Kalau saja kamu tau bahwa Heeseung akan sukarela memberi seluruh waktu hidupnya tanpa dipinta.

 


 

Menurut pandangan Sunghoon, Heeseung itu—jauh dari kata menakutkan dari kisah yang beredar. Untuk seorang dewa yang menguasai seluruh dunia bawah, Heeseung jauh lebih tenang dan bijak bahkan jika dibanding dengan dewa-dewi yang lain. Heeseung bukan Dewa Perang yang harus darah dan kuasa, bukan juga pendendam yang membunuh musuhnya secara paksa.

Boleh jadi, Heeseung memang mengerikan dengan kekuatan besarnya yang mampu mengendalikan kematian. Namun, di lain sisi, Heeseung bagai seorang dewa kikuk yang kurang bersosialisasi.

“Sudah kubilang, tidak ada yang menyenangkan, ‘kan? Yang bisa kau temui hanyalah kegelapan dan jiwa-jiwa orang mati.”

Keduanya kini berada di atas sampan yang mengarungi tenang riak air sungai Styx. Heeseung sibuk mengendalikan dayung pada sisi kanan dan kirinya, sedangkan Sunghoon duduk membelakanginya demi melihat pemandangan yang mungkin tak akan ia saksikan kembali. Mungkin.

“Setidaknya kini aku punya kebebasan,” balas Sunghoon penuh kagum. Pada wajah indahnya tercipta raut penuh takjub. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, walaupun netra legamnya tetap hanya temukan kegelapan. “Wow, aku salut denganmu yang menghabiskan hidup di sini.”

“Memang kau tidak bebas di atas sana?”

“Ibu selalu melarangku banyak hal. Yah, aku mengerti demi kebaikanku, katanya. Tapi, bagaimanapun, aku ingin hidup untuk diriku sendiri. Aku ingin berkelana bebas tanpa larangan apa pun.”

Meski dengan pencahayaan terbatas, Heeseung masih mampu melihat figur indah wajah Sunghoon yang kini menoleh ke samping. Oh, betapa Heeseung iri pada bumi yang berhasil miliki sosok berparas penuh kasih itu. Kini ia mulai yakin bahwa putra Demeter itu merupakan perwujudan dari segala hal indah yang dunia miliki.

“Kau bebas melakukan apa pun yang kau mau di sini, Sunghoon,” ucap Heeseung memberi afirmasi. Mungkin, hari itu jadi hari di mana senyum paling tulus Heeseung pertama kali terbentuk. Untuk Sunghoon, lelaki yang jadi pemikat hati dewa yang paling ditakuti.

Sunghoon mengubah posisi duduknya hingga kini keduanya berhadapan. “Bagaimana denganmu? Senang berada di sini?”

“Senang tidak senang, aku memang ditakdirkan hidup di sini.” Heeseung masih sibuk mendayung. Kapan lagi kau akan menemukan sosok dewa yang repot mendayung sampannya sendiri ketika mereka punya seorang ferryman, bukan? Terlebih dewa ini yang menguasai seluruh daerah yang mereka arungi kini. Hanya Sunghoon yang mampu. “Lagipula, tempat ini punya kisahnya sendiri. Mungkin terlihat menyeramkan, tetapi aku tau bahwa tiap jiwa yang datang punya nilai kehidupan mereka masing-masing.”

“Ah, benar juga…”

“Orang-orang memandang dunia bawah sebagai sesuatu yang menakutkan, well, mereka tidak sepenuhnya salah sih.” Heeseung tersenyum tipis. Memorinya kembali pada waktu ia menyaksikan satu hal berharga. Ia melanjutkan. “Ada kalanya mereka yang terpisah dalam hidup, kembali bersatu setelah berhadapan dengan kematian. Dan aku pikir, jika aku tidak berada di sini, aku tidak akan menyaksikan hal itu secara langsung.”

Sunghoon mengangguk setuju akan kalimat yang dilontarkan Heeseung. “Terkadang kematian baru membuatmu sadar akan hal-hal berharga yang selama ini kau tinggalkan…”

Mungkin sebagai dewa yang abadi, Sunghoon tidak akan merasakan kematian secara langsung. Namun, hidup berdampingan dengan manusia buat ia mengetahui bahwa menghadapi kematian orang yang terkasih adalah salah satu tahap tersulit hidup.

“Yah, benar sekali. Beberapa orang bahkan rela mati demi orang yang mereka cintai,” balas Heeseung menanggapi. Kala tiap kata keluar dari mulutnya, fokusnya enggan beralih dari sosok cantik putra Demeter yang kini kembali mengarungi dunia sekitar.

Dan andai tak mengenal abadi, mungkin Heeseung akan jadi salah satu orang yang menyerahkan diri.

 


 

Mereka telah sampai di gua awal yang menjadi pintu perantara Sunghoon menuju dunia bawah yang jadi tempat kekuasan Heeseung.

Enggan berdusta, tetapi Heeseung ikut senang kala melihat senyum manis tercipta di wajah Sunghoon kala mengetahui ia semakin dekat dengan kepulangannya.

Menyedihkan.

Yang mana jauh dalam lubuk hati Dewa Dunia Bawah itu masih enggan melepas kepulangan Sunghoon. Kalau Jongseong tau, ia akan mengomel tanpa henti sekali lagi akan kebodohannya. Namun, Heeseung bisa apa? Kalau dengan menahan Sunghoon di dunia bawah selamanya sama saja dengan merelakan kehilangan senyum cantik yang memikat hati Heeseung selama ini, lebih baik ia digigit Cerberus ratusan kali.

Sunghoon menghentikan langkahnya yang semula memimpin di depannya penuh antusias. Ia berbalik dan mulai menghadap mendekati sosok Heeseung. “Terima kasih ya, Heeseung.”

“Untuk?”

“Membuat ruangan nyaman untukku dan membiarkan aku beristirahat di sana, membawaku mengelilingi duniamu, menjagaku selama di sana, dan untuk segalanya.”

“Kau—“

“Maaf, aku mendengar percakapanmu dengan Jongseong sedari awal. Saat itu, amarahku rasanya memuncak sebelum akhirnya Jongseong berkata bahwa—“ Sunghoon tampak berdeham kecil. Jemarinya sibuk menggenggam sudut pakaiannya, sedangkan di wajahnya mulai muncul semburat merah muda. “‘Tolong jangan marah pada Heeseung, ia hanya bodoh. Dia sungguh menyukaimu.’

“Demi Dewa… Memang si Bajingan itu!”

Sunghoon terkekeh. “Lagipula, aku juga masuk ke gua ini ‘kan karena kebodohanku sendiri.”

“Tapi, aku yang menyuruh Gaia untuk menciptakan bunga itu hingga membawamu kemari.”

“Toh, aku juga tidak menyesal. Kalau bukan karena hal itu, aku tidak akan pernah bertemu denganmu.” Sunghoon mengembalikan pandangannya menuju kedua netra legam Heeseung. “Justru, mungkin seharusnya aku berada di sana lebih lama…”

Hanya dalam waktu singkat, Heeseung berhasil berikan hal yang selama ini tak pernah Sunghoon raih: kebebasan. Heeseung selalu menghormatinya bahkan ketika seharusnya ia adalah penguasa satu dari tiga bagian dunia, lebih-lebih lagi Sunghoon bukan apapun dari dunia itu. Heeseung memberinya kesetaraan, memperlakukannya bagai ratu, hingga memberi rasa nyaman yang tak pernah Sunghoon dapatkan.

“Maksudmu?” tanya Heeseung memastikan. Apa yang diucapkan Sunghoon barusan? Rasanya telinga Heeseung mulai mengalami malfungsi. Tidak mungkin Sunghoon ingin lebih lama di dunia bawah, bukan?

“Sebelum aku pulang boleh aku minta satu permintaan lagi?”
“Apa?”
“Boleh dulu, tidak?”
“Kalau aneh-aneh aku tidak mau.”

Dan saat itulah, tengkuk Heeseung ditarik dengan cepat hingga kedua bibir lembut mereka bertemu. “Mmph!” Dewa Dunia Bawah itu membelalakkan mata terkejut, sebelum akhirnya ikut serta dalam meraih kasih oleh lelaki dengan figur yang sedikit lebih kecil darinya itu.

Bertahun-tahun terbiasa dengan kelam kehidupan buat Heeseung belum pernah menyadari bahwa kasih sayang dapat menimbulkan perasaan yang sangat nyaman seperti ini. Heeseung tidak tau dan belum pernah merasakan ini sebelumnya. Dan jika diberi kesempatan, ia menginginkan perasaan ini sepanjang hidupnya. Mungkin bahkan dewa mengerikan sepertinya pun masih pantas untuk merasakan cinta.

Ciuman singkat itu disudahi kala Sunghoon mulai menjauhkan dirinya. Wajahnya sudah jauh lebih merah dari magma apapun yang selama ini Heeseung temukan di dunianya.

Sunghoon hendak mengusap bibir penuh liur yang tercampur dengan punggung tangannya, sebelum ibu jari milik Heeseung lebih dulu mengambil alih.

“Manis,” ucap Heeseung sambil mengecap sisa peraihan kasih mereka. Ia tampak berpikir sejenak sebelum berkata dengan sedikit ragu. “Boleh… Boleh aku minta lagi?”

Sunghoon hanya mengangguk pelan sebelum akhirnya membiarkan raganya didominasi. Heeseung menyatukan kembali keduanya, dengan kedua lengan Sunghoon yang kini mengalung indah pada tengkuk lelaki tegas di hadapannya itu. Kali ini, organ lingua mereka ikut berkontribusi.

 


 

Seperti yang telah Jongseong sebelumnya bilang, bumi diselimuti kesedihan.

Kepergian Sunghoon nyatanya meninggalkan sedih mendalam yang kini dialami oleh Demeter. Sebagai Dewi Panen, eksistensi perasaannya sangat memengaruhi keadaan bumi dan rasa sedihnya ini mampu membuat bumi kehilangan keseimbangannya. Kekeringan terjadi di semua wilayah, manusia gagal panen akibat tanaman yang berhenti tumbuh oleh instruksi dari Demeter, dan kini bukan hanya Dewi Panen tersebut yang mengalami kesedihan, tetapi seluruh makhluk di bumi ikut merasakan.

Namun, ketika Sunghoon kembali, bumi ikut mengalami kesenangan membuncah yang Demeter rasakan saat kembali menatap wajah indah putra semata wayangnya. Tanaman kembali tumbuh subur, bunga-bunga bermekaran dengan indahnya, dan seluruh makhluk kembali menari dengan makanan yang berlimpah.

Saat itu juga, Sunghoon memantapkan diri meminta izin kepada Sang Ibu untuk tinggal di dunia bawah bersama dengan Heeseung. Meski berat untuk melepasnya, Demeter mampu melihat bagaimana antusiasme putranya ketika menceritakan dewa hebat yang menemaninya ketika tersesat. Sang Ibu memahami bahwa akan ada masa di mana putranya yang kini telah tumbuh dengan indah akan menemui takdirnya yang telah ditentukan, dan mungkin inilah saatnya.

Selama ini Sunghoon telah miliki rumah hangat yang mampu jadi tempat terbaiknya untuk tumbuh. Beranjak dewasa, ia mulai sadar bahwa tak hanya rumah, ia juga butuh sosok lain di rumah tersebut yang mampu memperjuangkan eksistensinya.

Heeseung.

Heeseung mampu membuatnya hidup sebagai dirinya sendiri. Bukan hanya sebagai putra seorang dewi, tetapi seseorang yang mampu menentukan pilihannya sendiri tanpa intervensi.

Dan kini, Sunghoon telah kembali memilih jalan takdirnya yang ia yakini.

Berdiri di depan tempat di mana semuanya berawal. Gua yang menjadi pembatas antara dunia atas dan bawah. Lorong penuh misteri yang jadi pemikat Sunghoon telusuri. Tempat yang menjadi saksi ketika Heeseung dan Sunghoon pertama kali saling memberi afeksi.

Sunghoon melangkah pelan ketika netranya kembali melebar. Di hadapannya berdiri Heeseung, yang kini juga membeku. Tanpa mengulur waktu, Sunghoon membawa langkah kakinya menuju lelaki yang mengisi pikirannya selama ini.

“Aku terus menunggumu di sini walaupun kecil kemungkinannya kau akan kembali,” ucap Heeseung penuh terkejut. Rautnya melembut ketika kembali berhasil menemui kasihnya. Ia menangkup wajah lelaki di hadapannya penuh cinta. “Aku merindukanmu.”

“Kau harus tau bahwa aku memikirkanmu sepanjang waktu,” balas Sunghoon tak ingin kalah. Maniknya memandang Heeseung penuh rindu, sebelum kemudian menunjukkan kepalan tangannya yang kini menggenggam sebuah delima.

“Kau yakin?”

Sunghoon menjawabnya dengan cara memberi sebuah gigitan hingga enam buah biji delima ikut masuk ke dalam tubuhnya. “Kalau begini, aku bisa hidup denganmu selama-lamanya, ‘kan?”

Heeseung hanya terkekeh mendengarnya. “Tentu saja,” ucapnya sebelum kemudian mencuri satu buah kecupan pada bibir lembut Sunghoon yang kini semerah buah delima.

Notes:

hiii, this is the hades!heeseung x persephone!sunghoon that no one asked for :D this fic is purely for my own fun and may not be mythologically accurate, though some parts are inspired by the ancient greek myths. i apologize for any mistakes, feel free to contact me through twitter if you notice any, thank you!