Actions

Work Header

Miles Between Us

Summary:

Sky and Nani sebelum LDR 10 hari.

Notes:

The author is being dramatic. I just miss them so much.

Work Text:

Nani berjalan lunglai ke sofa saat baru saja berpamitan dengan p'som yang sudah mengantarkannya pulang setelah menghadiri event sore tadi. Tubuhnya ia hempaskan kemudian menengadah ke atas, kepalanya cukup berisik setelah mengetahui bahwa Sky akan terbang ke LA besok pagi.

Nani sebenarnya tidak tau apa yang terjadi pada dirinya. Seharusnya ia baik-saja, Sky hanya pergi selama 10 hari. Tidak lama. Itu yang nani hafalkan di dalam hatinya, berharap perasaannya sedikit jauh lebih baik. Ia menghembuskan nafasnya kasar sebelum bangkit untuk membersihkan diri, sambil menunggu kedatangan Sky yang baru saja mengabari bahwa ia sebentar lagi akan sampai.

-

"Masuk,"

Nani mempersilahkan lelaki bermarga Nateetorn itu berjalan memasuki apartemennya sembari menenteng dua plastik yang berisi makanan dan cemilan, yang jumlahnya nampaknya terlalu berlebihan.

"Sky, banyak banget?"

Nani membuka plastik pertama sambil mengintip ke dalam isinya, cemilan dalam jumlah banyak membuat Nani mendelik kesal ke arah Sky yang kini sudah duduk di sofa sambil menanggalkan jaketnya, meninggalkan kaus hitam dan juga pants hitam yang membalut tubuh atletis sang pemilik.

"Buat stok, siapa tau kamu kepengen ngemil malem-malem,"

Nani mendengus pelan kemudian beranjak ke dapur untuk memindahkan makanan yang akan mereka santap bersama. Sky membelikan beberapa makanan berat beserta Mango Sticky Rice yang selalu menjadi favorit Nani.

Baru saja Nani meletakkan piring kosong ke atas counter dan mengambil makanan yang masih berada di dalam plastik, ia merasakan nafas seseorang menerpa tengkuknya seiring dengan sebuah lengan kekar melingkari pinggangnya dari belakang. Lengan itu semakin menarik tubuhnya agar semakin masuk ke dalam rengkuhan hangat sang pemilik yang kini sudah meletakkan dagunya di bahu kiri Nani.

"10 hari," Sky bergumam pelan. "10 hari lama banget," Lanjutnya.

Nani belum mengatakan apapun. Tangannya ikut mengelus lengan yang melingkar di perutnya dengan perlahan, tubuhnya dibiarkan melemas, melebur ke dalam rengkuhan pria di belakangnya.

"Lebay," Nani menjawab dengan kekehan kecil, merasa geli dengan dirinya sendiri yang tidak ingin mengakui bahwa ia sama resahnya dengan Sky.

"Ikut aku aja ya? Mau gak? Aku pesenin tiketnya sekarang,"

Pertanyaan Sky dijawab dengan tepukan pelan oleh Nani pada lengan kanannya.

"Yakali, ngacooo,"

Nani terkekeh geli saat merasakan Sky menghirup lehernya dengan rakus, mengecupnya beberapa kali dan mengedusnya dengan perlahan, tampak tak ingin melepaskan Nani barang sedetikpun.

Nani memutar tubuhnya hingga ia berhadapan dengan Sky yang sekarang meletakkan kedua tangannya pada counter di kedua sisi Nani, mengurung lelaki berambut coklat itu yang kini sedikit mendongak dan mempertemukan kedua mata mereka.

"Kok sedih, kayak nggak pernah pisah lama aja,"

"Kan emang nggak pernah. Kita pisah paling lama dua hari, nggak pernah lebih dari itu,"

"Loh waktu aku di Milan perasaan lebih dari dua hari?"

"Selain itu maksud aku.."

Sky sedikit merengek, kembali menyadarkan Nani kepada realita bahwa lelaki bertubuh besar di hadapannya ini satu tahun lebih muda dari dirinya. Nani mengulum senyumnya, tangan kanannya terangkat untuk merapihkan rambut sang empu yang beberapa helainya turun menutupi dahinya.

"Yaudah, nanti kita vc setiap hari, sebelum kamu tidur atau sebelum aku tidur, deal?"

Sky memejamkan matanya, menikmati elusan tangan Nani pada pipinya. Lelaki bermarga Nateetorn ini bahkan tidak terlalu mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Ia belum pernah merasa se-terikat ini dengan seseorang. Hidupnya flat, saat menempuh jarak jauh untuk bekerja pun ia tak pernah terpikir untuk merindukan seseorang. Namun, kehadiran Nani tampaknya memberikan perubahan yang cukup signifikan dalam hidupnya yang awalnya penuh dengan kesendirian.

Sky membuka kedua matanya saat merasakan elusan pada pipinya berhenti. Menemukan kedua mata cantik milik Nani yang sekarang menatapnya tepat di mata. Jarak wajah keduanya terpaut cukup dekat, kedua tangan Sky yang mengurung Nani masih pada tempatnya.

"Deal. Aku chat setiap hari, kamu harus bales maksimal paling lama 30 menit. Kalo nggak aku telpon,"

Sky mendekatkan wajahnya, mempertemukan hidung keduanya dan memejamkan matanya, menempelkan kedua dahi mereka. Tidak ada pilihan bagi Nani selain mengiyakan permintaan lelaki di hadapannya. Ia juga tidak protes, ia sangat menikmati afeksi yang diberikan oleh Sky yang tak pernah malu-malu ditunjukkan saat hanya ada mereka berdua, contohnya di saat-saat seperti ini.

"Huum. Yaudah. Sekarang aku boleh makan?"

Ah, hampir saja keduanya melupakan eksistensi makanan yang belum tersentuh. Nani sebenarnya tidak tidak selapar itu, ia hanya tiba-tiba merasa malu dengan suasana ini. Sky yang malam ini entah kenapa terlihat sangat percaya diri untuk menumpahkan afeksinya membuat Nani merasakan darah yang tiba-tiba mengalir deras ke pipi nya yang tampaknya sekarang sudah merona.

Namun belum sempat Nani bergerak untuk beranjak, matanya melebar saat Sky mengecup bibirnya pelan. Terlalu cepat. Nani bahkan tidak sempat berkedip dan hanya melebarkan kedua matanya, menatap Sky yang sekarang sudah memberikan jarak untuk wajah keduanya.

"Ih.."

Nani menunduk. Ia malu. Ini memang bukan pertama kali, namun setiap Sky melakukan itu, dirinya tidak bisa menahan jantungnya yang berdegup dengan cepat.

Sky terkekeh pelan. Membawa dagu Nani agar wajahnya yang awalnya menunduk menjadi terangkat. Mengelus bibir pink sang empu yang malam ini tampak mengundang Sky untuk mengecupnya. Entah apa yang terjadi pada dirinya malam ini, Sky tidak bisa menahannya.

Sky membawa wajahnya kembali maju, mencuri satu kecupan lagi pada bibir Nani. Tangan kirinya masih mengurung sisi kiri Nani, sementara tangan kanannya mengelus pipi mulus yang kini sudah memerah malu. Nafasnya memburu, menerpa wajah Nani yang berjarak sangat dekat di hadapannya.

"Ni.."

Sky mengecupnya lagi. Nani memejamkan kedua matanya.

"Aku bakal kangen kamu banget,"

Lagi, dan lagi. Sky mengecup bibirnya berulang, tanpa sadar membuat Nani sedikit terkekeh geli ditengah kegiatan keduanya dan mengangkat tangannya untuk dilingkarkan pada leher yang lebih tinggi.

"Tadi dichat katanya mau peluk doang?"

Nani bertanya pelan, matanya menelusuri lekuk wajah Sky yang tak pernah bosan ia pandang. Sedikit terkejut saat tubuhnya dibawa semakin menempel oleh kedua lengan kekar yang sekarang sudah melingkar indah pada pinggangnya.

Hidung keduanya hampir bersentuhan, posisi ini membuat pandangan Nani semakin kabur. Nani dengan perlahan menutup kedua matanya saat merasakan bibir Sky kembali menjamah bibirnya.

Kali ini bukan hanya kecupan, bibir itu bertahan cukup lama sebelum bergerak pelan. Melumat bibirnya dengan hati-hati sambil mengelus pinggang ramping Nani dengan jemarinya.

Nani melenguh pelan, mulai membalas ciuman Sky yang terasa lembut, tidak menggebu-gebu namun dapat Nani rasakan bagaimana lelaki yang lebih tinggi tampak tidak ingin melepaskannya. Jemarinya bergerak menyisir pelan rambut belakang Sky, membiarkan lelaki itu menjamah bibirnya dan menyerahkan seluruh kontrol pada lelaki bermarga Nateetorn itu.

Tubuh Nani semakin melemas saat Sky menjauhkan wajah keduanya, menatap mata Nani yang berkedip pelan. Tangan kanan Sky meraih plastik dan piring kosong yang berada tepat di belakang Nani untuk diletakkan sedikit menjauh, mengosongkan space di belakang Nani dengan sengaja.

Baru sempat Nani mengambil nafas, ia dikejutkan dengan Sky yang mengangkat tubuhnya agar menduduki counter dan menempatkan dirinya di antara kedua kaki Nani. Kedua tangan Nani memegang bahu lebar Sky, mencari keseimbangan sebelum kembali memejamkan mata ketika Sky kembali menempelkan bibir keduanya. Melumat bibir itu dengan tempo yang membuat Nani semakin terbuai.

Tangan lentiknya bergerak pelan mengelus rambut belakang Sky sembari menyisirnya pelan. Sambil sesekali membalas lumatan demi lumatan yang semakin terasa intens seiring dengan tangan Sky yang mulai berani menyibak kausnya dan mengelus pelan pinggang Nani.

Tubuh Nani meremang, Sky menarik tengkuknya untuk semakin memperdalam ciuman keduanya. Kembali membawa jemarinya untuk masuk ke dalam kaus Nani dan mengelus pinggangnya di dalam sana.

Suara kecipak basah memenuhi dapur apartemen Nani. Tak mengindahkan makanan yang jika saja bisa bersuara, sudah merengek agar cepat untuk disantap. Namun tampaknya kedua insan yang ada disana tak mengindahkan apapun selain keberadaan satu sama lain.

Sky akhirnya menjauhkan wajahnya, mencuri waktu untuk memandang wajah Nani yang sekarang tampak cantik, bibirnya sedikit membengkak dan sibuk memberikan pasokan udara untuk paru-parunya.

Sky menyelipkan rambut yang hampir menyentuh ujung mata Nani ke belakang telinganya. Menikmati wajah cantik yang akan dirindukannya dalam beberapa hari ke depan.

"Cantik,"

"Kamu cantik, Ni,"

"Indah banget,"

Sky bergumam dengan berulang, tampak frustasi karena kata-kata rasanya tidak cukup untuk mengekspresikan bagaimana perasaannya saat ini. Ia memeluk tubuh Nani dan menghirup aroma dari leher Nani yang selalu menjadi favoritnya sambil sesekali mengecupnya secara berulang, kemudian membiarkan kepalanya bersandar disana dan menikmati elusan tangan Nani pada kepalanya.

"Kenapa sih kamu manja banget. Se-enggak mau itu pisah sama aku?"

Sky menganggukkan kepalanya, membuat rambut-rambut itu sedikit menggelitik leher Nani yang saat ini terkekeh geli.

"Aku kayak dipelet rasanya. Gini ya rasanya dipelet Nani? Maunya deket Nani terus,"

Saat ini Sky sudah menurunkan Nani dari counter dengan hati-hati, tertawa saat Nani memberikan respon dari perkataannya dengan mencubit pinggangnya pelan. Keduanya menyantap makanan yang sudah mulai dingin dan beberapa cemilan sambil sesekali melempar candaan di meja makan. Menikmati waktu yang terus berjalan sebelum Sky harus pamit pulang untuk membereskan beberapa keperluannya untuk flight besok pagi.

-

Sky mengenakan jaket yang tadi ia sampirkan di sofa milik Nani, bersiap untuk pulang ke rumah dan menghadapi realita yang membuat suasana hati Sky terasa berat.

Suara langkah kaki cepat dari arah tangga mengalihkan perhatian Sky yang sibuk mengancingkan jaketnya. Beranjak dari duduknya dan tersenyum saat Nani menyodorkan sebuah syal putih dan juga headphone hitam.

"Ini dipake kalo kamu dingin. Aku gak tau di LA sekarang cuacanya gimana, kalo emang dingin, harus dipake. Kalo panas, disimpen aja," Nani mengoceh sambil melilitkan syal itu ke leher Sky, tidak mau membalas tatapan milik lelaki yang lebih tinggi yang kini tersenyum. Dada Sky terasa hangat, semain berat rasanya untuk meninggalkan lelaki cantik di hadapannya ini.

"Ini headphone dipake kalo kamu bosen, aku juga punya tapi warna putih. Aku beli yang pasangan jadi yang hitamnya bisa kamu pake," Nani bergerak memakaikan headphone tersebut pada kepala Sky. Matanya masih tak ingin menatap Sky, ia merapihkan rambut Sky sebelum menepuk dada bidangnya dengan pelan dan tersenyum tipis.

"Ganteng, udah kayak bule beneran,"

Nani akhirnya mempertemukan tatapan keduanya. Bola matanya sedikit bergetar. Ia tidak tau apa yang terjadi pda dirinya, merasakan tatapan Sky yang sangat lembut membuat Nani rasanya ingin melompat ke dalam pelukan lelaki itu sekali lagi. Namun Nani tetaplah Nani, si gengsi yang suka malu untuk menunjukkan perasaannya.

"Hahaha bule jamu kali aku cocoknya. Makasih ya," Sky mendekat dan Nani reflek memejamkan mata saat Sky mengecup keningnya. Kemudian menyentuh syal dan juga headphone yang baru saja Nani bantu kenakan. Hatinya terasa penuh, setidaknya terasa jauh lebih baik dari sebelumnya.

Nani mengekori Sky menuju pintu sambil meremas jemarinya, menunggu lelaki itu selesai mengenakan sepatunya. Nani benci situasi ini, pikiran bahwa keesokan hari sampai beberapa hari kedepan ia tidak akan bertemu dengan Sky membuat dadanya seakan dihantam keras. Kenapa perasaan ini baru benar-benar terasa disaat last minute berpisah seperti ini.

Headphone dan syal tadi Sky letakkan tepat di sebelahnya sembari ia mengikat tali sepatu. Kemudian ia bangkit dan mendapati Nani yang mengedarkan pandangannya ke segala arah, seakan berusaha menghindari tatapan Sky.

"Hey? What's wrong?"

Sky memegang lengan nani dan bertanya khawatir saat tak sengaja menangkap kedua mata Nani yang berkaca-kaca. Nani masih berusaha menghindari tatapannya, berusaha mengedipkan kedua matanya berharap air mata itu tak semakin menggenang di pelupuk matanya.

Namun usahanya tampak sia-sia, Nani merasakan pandangannya semakin memburam sebelum Sky menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukan. Wajahnya ia benamkan pada pundak lebar Sky, membawa tangannya turut melingkar pada tubuh besar lelaki itu.

Isakan tangis Nani mulai terdengar seiring dengan Sky yang mengelus pelan punggungnya dan mengecup kepala Nani. Membiarkan Nani menangis di dalam pelukannya.

"Sky.."

"Hmmm?"

Nani meremat jaket Sky, semakin mengeratkan pelukannya. Ia malu, ia bingung dengan perasaannya sendiri yang tiba-tiba meledak tanpa bisa ia tahan. Padahal sejak Sky datang tadi, ia lah yang tampak lebih banyak menenangkan Sky yang cemas karena harus jauh dari dirinya. Nani pikir dia kuat, Nani pikir dia mampu, namun tampaknya Nani memang tidak sanggup harus terus berpura-pura kuat dihadapan Sky. Ia akhirnya kalah juga.

Sky mengelus pelan kepala Nani, merasakan lelaki kecil yang dalam dekapannya masih sedikit sesenggukan, berusaha menghentikan tangisannya yang tidak mau berhenti.

"Yaudah ikut aku aja yuk, aku pesen tiketnya sekarang,"

Nani melepaskan pelukannya dengan cepat, menyeka sisa air mata dan juga ingus yang sedikit keluar dan mengotori jaket Sky.

"Ih maaf, ada ingus aku.."

Nani berusaha mengelap noda pada pundak Sky akibat dari tangisannya tadi. Namun Sky menggenggam pergelangan tangannya erat.

"Makin gak mau pergi aku kalo kayak gini,"

"Udah sanaaa, gapapa kok, nanti telpon terus,"

"Gak mau ikut aku aja?"

"Nggak lah, aku juga lagi syuting. Kamu disana juga buat kerja,"

"Bener?"

Sky menggenggam erat jemari Nani. Melihat lelaki yang sedikit lebih pendek darinya mengangguk lucu, membuat poninya bergetar, ditambah pucuk hidungnya yang memerah karena habis menangis, Sky mengigit bibir bawahnya, Nani sangat menggemaskan.

"Yaudah, aku pergi ya,"

Tangan Sky bergerak menepuk pucuk kepala Nani, memeluknya sekilas dan mencuri kecupan pada dahi, mata, hidung, kedua pipi dan pada bibir lelaki cantik di hadapannya.

Nani menyenderkan kepalanya pada sisi pintu seiring menatap punggung Sky yang semakin jauh. Nani menghembuskan nafasnya kasar, berusaha terlihat baik-baik saja walaupun rasanya ia ingin menangis lagi.

Sky kecintaan, namun Nani juga tak kalah kecintaan.