Actions

Work Header

Blindfold

Summary:

Ketika indra penglihatan tertutup, indra lainnya akan menjadi lebih sensitif. Itulah yang dirasakan Ruze saat ini.

Notes:

⚠️ Fanfiction dibuat dengan Bahasa Indonesia karena aku meromantisasi bahasa indah ini

⚠️ Fanfiction dibuat berdasarkan karakter Crimzon Ruze dan tidak berkaitan dengan orang yang berada di belakang layar. Karakter Crimzon Ruze adalah milik Hololive Production dan Cover Corp.

⚠️ Walau ini PolyArmis, di akhir, cerita akan condong ke arah TaviRu. Mohon kebijaksanaan pembaca untuk lanjut membaca atau tidak.

Selamat membaca

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Gelap. Mendadak semuanya hitam.

Ruze meraba-raba wajah untuk memastikan, ternyata memang benar matanya ditutup oleh sebuah kain hitam.

Semuanya terjadi begitu cepat. Belum sampai semenit lalu dirinya berhadapan dengan Ruzaders yang dirasuki oleh Corruption Beast. Begitu melihat dirinya mendekat, makhluk merah itu langsung menyerang membabi buta. Zephyr ia gunakan sebagai tameng sementara. Heran, sejak kapan makhluk pemakan permata ini bisa sekuat itu. 

Belum sampai sedetik lalu, tiba-tiba muncul kabut hitam tebal membutakan mata. Kabut menghilang, namun indra penglihatannya tidak kunjung kembali. Barulah di titik ini Ruze sadar bahwa dirinya sengaja dibutakan dengan kain penutup.

Ruze berusaha sekuat tenaga melepaskan penutup mata itu. Tapi nihil, mau ditarik bahkan sampai disobek pun, kain tersebut tidak bergeming. Agaknya, ini sihir manipulasi kode yang digunakan oleh Monster Galat Data, membuat barang ciptaannya tidak dapat dihancurkan oleh penduduk dunia maya Elysium.

“Ah, sekarang gimana aku bisa kembali?” Ruze bermonolog yang dibalas oleh gaung berulang.

Memang dari awal mengambil Bounty yang lokasinya tepat di tengah gua adalah ide buruk. Siapa sangka ARMIS akan terpencar karena diserang oleh Corruption Beast? 

Ruze terus merutuki Jurard dalam hati dan akan segera menyemprotnya ketika sudah bertemu nanti.

“Ruzee—!”

Terdengar teriakan Jurard dari jauh. Diikuti oleh Octavio dan Gibby yang meneriakkan namanya juga.

Senyum langsung merekah di wajah Ruze. Walau dirinya tidak bisa melihat di mana teman-temannya, Ruze merasa lega.

“Aku di sini bodoh! Cari yang betul!” teriak Ruze, membalas sahutan kawannya.

“Oh, si Tuan Paling Berani ada di sana. Ayo Gibby, Octavio,” bisik Jurard, “Tunggu di sana Ruze, jangan bergerak!”

Ruze menurut. Di saat ini tidak perlu dirinya bersikap menyebalkan seperti biasanya. Sekarang nyawa taruhannya, dia harus serius.

Suara langkah kaki terdengar semakin keras mendekatinya. Kira-kira dari lima meter sekarang sudah semeter.

Hah? Entah kenapa ketika matanya tidak mampu melihat, indra pendengarannya menjadi sangat sensitif. Dia bisa membedakan mana langkah kaki siapa.

Di kanan ada Octavio dan hentakan kecilnya. Di tengah ada Jurard dan suara berisik heels sepatu bootsnya. Terakhir, di kiri ada langkah berat Goldie dan suara gesekan metal milik Lorraine.

“Ruze—”

Tiba-tiba Ruze merasakan tepukan kecil di pundaknya. Dia terperanjat, kaget.

“—HAH, apaan sih, Ruze?” Jurard bertanya dengan nada tinggi khasnya.

“Aku kaget, dasar kadal keparat. Aku kan nggak tau kau ngapain ke aku?” balas Ruze.

“Ohh? Kamu beneran nggak bisa lihat Ruze? Prftt…” kata Jurard dengan nada mengejek, “Coba tebak ini berapa? Kalau salah sarapan besok kamu yang traktir”

“Nol,” balas Ruze kesal, “karena habis jarimu aku tebas pakai Zephyr.”

“Salah, weekkk—” Jurard menekan-nekan dada Ruze, “Jawabannya lima. Nggak usah sok galak deh Crimzon Ruze. Oke besok kamu traktir.”

Ruze menggeram. Menyebalkan sekali. Untung dirinya sekarang tidak dapat melihat muka menyebalkan apa yang sedang dibuat oleh fosil purba tersebut.

“Jurard, kita serius dulu. Coba, Ruze, kamu ceritakan gimana kok bisa kamu matanya tertutup begitu,” tanya Gibby mencari solusi.

Ruze menghela nafas dan menceritakan semuanya. Diikuti oleh anggukan dan suara “ohh” ria dari teman-temannya.

“Ini penutup mata memangnya nggak bisa dilepas?” tanya Octavio sambil mencoba melepaskan ikatan dari belakang.

“Oh pertanyaan pintar. Kalau bisa, sudah aku lepas dari tadi,” satir Ruze.

Octavio hanya menghela nafas dan mengiyakan.

“Arghh, gimana cara ngelepasin penutup mata ini?” Ruze sudah frustasi karena segala pergerakannya menjadi terbatas.

“Lebih baik, kita bawa Ruze keluar dulu. Nanti kita minta tolong orang yang paham sihir di Badlands,” kata Octavio.

Jurard dan Gibby setuju dan mengiyakan.

“Tapi sebelum itu,” Octavio menahan tubuh Ruze yang sudah ingin beranjak pergi.

“Aku mau mengetes sesuatu.”

Ruze mendecih, “Apa lagi, Octavio?!”

“Tes indra.”

Ruze, Jurard, dan Gibby bersamaan mengeluarkan suara “Hah”

“Tes indra: peraba dan pendengar. Dari beberapa buku yang aku baca, jika suatu indra ditutup—dalam kasus ini adalah indra penglihatan—dan tidak berfungsi seperti biasanya, maka sensitivitas indra lainnya akan meningkat,” terang Octavio pada ketiga kawan satu sambungan otak itu. 

“Ohh,” Ruze menepuk tangannya, “Sepertinya teorinya benar karena telingaku menangkap suara lebih baik dari biasanya. Aku bahkan bisa membedakan siapa kalian hanya dari langkah kaki.”

“HAH? Beneran?” Jurard tidak percaya.

“Iya, Bodoh,” decih Ruze, “dan aku juga merasa lebih sensitif ketika disentuh. Makanya tadi aku kaget sewaktu jari tajam Jurard mengenai kulitku.”

Octavio mengangguk dan bergumam.

Tanpa aba-aba, Octavio menyentuh dada Ruze, kemudian turun mengikuti alur menuju ke bagian perut. Sentuhan yang sangat ringan, seharusnya tidak terasa. Namun, Ruze bergetar sesaat. Geli, merinding, pikirnya.

“GELI, BERHENTI OCTAVIO!” Teriak Ruze.

Namun perkataan Ruze tidak digubris. Perlahan jemari turun dari perut, menekan lembut sampai berhenti di milik Ruze.

Sensasi yang dirasakan Ruze? Seperti tersetrum oleh listrik. Segala gerakan Octavio terekam sempurna di pikirannya. Buta dirinya tidak dapat melihat, sehingga dia hanya bisa membayangkan jemari lentik menuruni dirinya.

“Gimana?” tanya Octavio, belum mengangkat jarinya.

“Ergh—” Ruze merintih, “Geli. Berhenti. Jurard, Goldie bilang Octavio untuk berhenti.”

Namun kedua kawan hijau dan merahnya itu tidak berkutik. Mereka berdua menatap Octavio, berkomunikasi dengan gerak wajah. Octavio menggeleng.

Octavio melanjutkan, dari jemari yang berhenti tadi, berpindah ke gerakan memutar. Mengelilingi gundukan yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana. Dari bawah gundukan berpindah ke atas.

“Ahn,” desahan keluar dari mulut Ruze.

Jurard, Gibby, dan Octavio terkejut. Mereka bertiga saling melirik, seakan bertelepati. Namun, Tavi tetap melanjutkan ‘eksperimen’-nya. 

Dari satu jemari, berubah ke satu telapak tangan. Sarung tangan hitam Sang Maestro bergesekan dengan kain celana Ruze. Mencoba menstimulasi lebih jauh. Octavio ingin mencari tau, batas sensitivitas indra peraba ini.

Desahan demi desahan mulai terdengar. Awalnya rintihan, namun perlahan berubah menjadi desahan seksi yang tidak pernah didengar oleh ketiga pemburu misi bayaran tersebut. 

Ruze? Entah sudah di mana pikirannya. Dia tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Octavio selanjutnya. Sekarang kakinya lemas, dia merasa sangat kelebihan stimulasi. Ketiadaan indra penglihatan benar-benar membuat apapun menjadi sensitif. Sentuhan kecil di miliknya saja terasa seperti kejutan listrik beribu volt.

“Octav—ahh mmh

Percuma dirinya ingin bicara, segala nikmat yang terasa membuat lenguhan terus keluar.

Jurard yang sudah ikut panas mendengar suara Ruze, menunduk dan berbisik ke Octavio.

“Ada yang bisa aku bantu?”

Tavi, tanpa berhenti menggerakkan tangannya, membalas, “coba tes indra pendengaran Ruze.”

“Gimana caranya?”

“Halah, tinggal bisik-bisik aja. Pelan-pelan ya, jangan teriak. Aku penasaran bagaimana reaksi, Ruze.”

Belum puas dirinya dipermainkan oleh Octavio, tiba-tiba terdengar bisikan lembut di telinga kanannya.

“Ah, Ruze~”, Jurard mengeluarkan suara pemikat wanitanya, “aku nggak menyangka kamu bisa desah kayak gini.”

Ruze merinding. Dirinya bergidik. Ah, selangkangannya sudah lemas sekali, ditambah sekarang telinganya ikut bergetar.

“Jurard?! Ka-kamu kenapa ikut-ikutan, ahn—”

“Oh, kayaknya seru aja sih,” Jurard membalas, semakin menurunkan suaranya, “Kapan lagi aku lihat orang yang suka bertingkah ini terduduk tak berdaya?”

“Bajingan.”

“Bercandaa~” Jurard meniup ke telinga Ruze, diikuti oleh geliat sang empunya tubuh.

“Kayaknya kalau begini kurang ya?” Jurard bertanya pada Octavio yang sekarang berganti menggenggam milik Ruze dari balik celana, bergerak naik turun konstan.

“Iya, coba tambah lagi,” Octavio membalas dengan nada datar. Jurard mengangguk.

“Ruze sayang”

“Cintaku”

Jurard mengatakan hal tersebut dengan nada yang teramat seksi bagi Ruze. Bisa gila dirinya jika dipanggil seperti itu. Tapi indra pendengarnya memang menjadi sangat SANGAT sensitif. Segala ucapan Jurard terasa menggetarkan dirinya, padahal hanya berupa bisikan.

Gibby masih berdiri mematung melihat apa yang dilakukan kedua kawannya. Wajahnya merah, panas, seperti kepiting rebus. Dia tidak menyangka ternyata Ruze menyembunyikan sosok binal ini di balik persona garang dirinya.

Gibby tau bahwa kedua temannya yang lain memang menaruh hati pada empunya Zephyr ini. Termasuk dirinya. Tapi tidak pernah ada yang berani menyatakan duluan, tembok yang harus ditembus terlalu tinggi. Terlebih, sepertinya Ruze tidak menaruh hati sedikitpun pada yang lain.

Sekarang? Dengan kedua mata terbuka dia melihat Jurard dan Octavio memanfaatkan peluang. Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Memang penelitian Tavi hanya kedok.

Gibby terdiam mematung bukannya apa. Namun dia juga merasakan nafsu yang sama. Dia juga ingin mengambil kesempatan. Walau caranya memang dipertanyakan.

Gibby mendekat. Menangkup wajah Ruze.

“Ruze,”

“Goldie?” balas Ruze sambil terengah-engah.

“Buka mulutmu.”

“Hah?”

Gibby segera menyambar mulut Ruze. Mengecap rasanya bibir merah ranum yang setiap hari digunakan untuk mengatai orang. Lidah perlahan bergabung. Mengajak Ruze untuk ikut menari, mengikat, dan bertaut di dalam mulut.

Kecupan demi kecupan basah terdengar. Bergaung di dalam gua yang sempit ini. Ketika kecupan terhenti, demi mengambil nafas, segera digantikan oleh lenguhan. Bergantian, terus menerus dan berulang.

Pikiran Ruze sudah kacau. Dirinya sudah tidak peduli lagi siapa melakukan apa karena apa. Kelebihan stimulasi, terlalu sensitif. Sekarang dirinya hanya ingin keluar.

“Ah, sepertinya Ruze sudah mau keluar,” ujar Octavio sambil mengacungkan jempol, “makasih ‘bantuan’-nya.”

Detik itu juga, Ruze klimaks. Diikuti dengan penutup mata yang berubah menjadi piksel dan lenyap tak bersisa. Sekarang Ruze bisa melihat kembali.

“Ah, sudah lepas!” Jurard berteriak, seperti biasanya.

Gibby dan Octavio menghela nafas lega. 

Ruze yang masih memejamkan mata, membuka matanya. Benar, ternyata dia sudah bisa melihat, jelas dan nyata. Tidak lagi hitam.

“Gimana, Ruze, coba kamu tebak ini angka berap—”

“Berisik, Kadal sialan.” Ruze menepis muka Jurard sampai terjatuh, kemudian berdiri membetulkan posisi.

“Apaan, kenapa bisa hilang begitu aja?” tanya Ruze sambil masih meraba-raba wajahnya.

“Yah, sebenarnya,” Octavio membetulkan posisi sarung tangannya, “Ini sudah pernah kejadian sih.”

“HAH?” sahut Ruze, membalikkan badan ke Octavio dengan nada tak percaya.

“Iya, dan cara untuk melepaskan penutup matanya ya…” jelas Octavio.

“...Harus mencapai klimaks, oke. Paham.” potong Ruze segera.

“Kenapa kamu nggak bilang dari awal sih?” tanya Gibby sambil mengambil kembali Lorraine.

“Jujur aku lupa sih, tehe~” balas Octavio, “baru ingat waktu kita mau keluar gua tadi.”

“Tentu saja si Bodoh ini,” gerutu Ruze.

Jurard dan Gibby hanya tertawa.

“Ha-ah, sekarang aku harus pulang dan mencuci celana yang kotor ini. Sebelum nodanya membekas—” Ruze menunduk, memperhatikan celananya.

 

“—Loh, mana?”

 

Jurard tertawa. Pundak Ruze ia rangkul. “Oohhh, ada yang baru aja dry orgasm nih~”

Ruze melotot. Bolak-balik menatap celana, Jurard, celana, Jurard. Sebelum melayangkan tinju mentah ke wajah Jurard.

Octavio dan Gibby hanya tersenyum. Sebelum ikut bergabung di sisi kanan dan kiri Duo Merah tersebut.

 


 

Octavio masih terjaga malam ini karena perlu memperbaiki boneka yang sendinya telah usang. Sebelum dia mendengar ketukan pintu. Malam sekali, pikirnya.

“Iya, sebentar,” jawabnya sambil beranjak dari meja kerja.

Pintu terbuka dan berdiri di depannya sosok manusia berambut kue.

“Ada apa malam-malam begini, Ruze? Perlu sesuatu untuk diperbaiki?” Octavio mempersilahkan Ruze masuk ke kamarnya, “Atau cuma mau ditemani ngobrol aja, ahahaha.”

Ruze menjatuhkan diri ke ranjang Sang Maestro. Tavi hanya mendengus. Ya sudahlah tidak apa-apa, pikirnya. Dirinya lanjut memperbaiki boneka di meja kerja, bodo amat dengan perilaku Ruze.

“Octavio”

“Hmm?”

“Aku ada permintaan konyol.” “TAPI KAMU JANGAN KETAWA, OKE?”

Tavi membalikkan badan.

Di ranjang, Ruze sudah melepaskan bajunya.

“Temani aku, malam ini saja,”

 

Ah.

 

“Lalu ini,” Ruze mengulurkan kain hitam panjang, “Aku akan tutup mata. IYA TERDENGAR BODOH BLA BLA BLA.”

Mata Tavi menyipit. Seringai kecil mulai muncul di wajahnya.

“Tapi aku mau merasakan sentuhanmu lagi, Maestro.”

 

AH.

 

Notes:

Blindfold Ruze MAJI tskr. Maaf aku cabul banget tapi salah sendiri Ruze bikin tweet (Hear Me Out *insert frame from 3D collab*)

Bisa tinggalkan jejak di komentar, sebisa mungkin aku balas.