Work Text:
Mazui naa…
Padahal semuanya terlihat baik-baik saja sampai sebelum aku kembali ke kampung halaman. Tapi setelah pesan itu kuterima, Dazai sama sekali tidak bisa dihubungi.
Libur musim panas sedang berlangsung. Setelah berdiskusi panjang, aku dan Dazai memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan cara masing-masing. Karena kami sudah sangat terikat dan selalu bersama hampir setiap waktu. Berkat ikatan soulmate yang kuat, Dazai tidak bisa berdekatan dengan alpha lain. Aku juga berusaha keras untuk tidak tergoda dengan aroma omega lain demi melindungi hubungan kami.
“Odasaku harus kembali ke kampung halaman ‘kan? Anak-anak pasti sangat merindukanmu.” Kata-kata tulus yang diselingi senyuman itu membuatku tidak ragu untuk meninggalkannya.
Benar… aku harus kembali ke kampung halaman sesekali. Untuk mengurus rumah, atau sekedar memeriksa keadaan anak-anak di panti asuhan. Karena itu, aku pergi di pertengahan musim panas. Lebih tepatnya setelah memastikan semua tugas liburan Dazai selesai dikerjakan. [Dazai tidak akan mengerjakan satu tugas pun jika aku tidak menemaninya].
Omegaku tidak melarangku untuk pergi. Ia juga tidak menahanku atau bersikap manja agar aku terus di sisinya. Karena soulmateku tahu kalau orang-orang di kampung halaman juga memerlukanku.
Begitulah… aku kembali ke kampung halaman sejak satu Minggu lalu.
Hari kuawali dengan membantu beberapa orang tua mengurus kebun buah dan sayur mereka. Lalu setelah sarapan, aku mengerjakan pekerjaan biasa seperti mencabut rumput, memperbaiki pipa air, menambal atap, menjaga anak, hal-hal yang biasa dilakukan pria sehat. Lansia yang tinggal di desa ini cukup banyak, karena itu aku membantu mereka sebisaku.
Setidaknya sampai siang ini.
Sebuah pesan masuk tepat saat aku baru saja menghabiskan makan siang di panti asuhan. Isinya singkat, namun berhasil membuatku merasa tidak tenang.
「Kapan Odasaku pulang?」
“Are? Itu dari Dazai.” Ucap Kousuke yang tidak sengaja melihat layar ponselku.
“Sou da naa.”
“Kenapa Dazai nii-chan tidak ikut datang?” Tanya Sakura.
“Dazai memiliki urusannya sendiri.” Harusnya pesan seperti ini tidak dikirimkannya sampai aku pulang. Kami sudah membicarakan hal ini sebelum kepergianku. Selain itu, Dazai juga sudah mengetahui kapan aku akan kembali.
Apa jadwal heatnya terganggu karena jauh dariku? Atau mungkin… ia terlibat masalah dengan seseorang?
Dazai memang sering bertingkah jahil di sekolah. Tapi aku tidak yakin jika ia melakukan hal yang sama di luar sekolah, terlebih saat aku pergi.
Karena merasa tidak tenang, aku pun membalas pesan itu.
「Apa terjadi sesuatu?」Balasku. Pesan langsung terbaca. Dengan kata lain, Dazai memang sedang menunggu balasan dariku. Tapi ia tidak langsung membalas— tidak. Anak itu mengetik cukup lama dan berakhir mengirimkan pesan singkat yang semakin membuatku kebingungan.
「Tidak. Bukan apa-apa. Hehehe.」Setelahnya, aku tidak bisa menghubungi Dazai. Mungkin ia mematikan ponselnya karena tidak ingin menggangguku.
Yappari, sesuatu pasti terjadi padanya.
“Anak-anak…” Panggilku seraya memasukan ponsel ke saku celana. Aku baru melanjutkan kalimat setelah perhatian lima anak yang baru saja makan siang bersama benar-benar tertuju padaku.
“Kurasa aku harus kembali ke Yokohama besok.”
***
Orang-orang di desa menjadi heboh saat tahu bahwa aku akan kembali ke Yokohama. Mereka berbondong-bondong ke rumahku untuk memberikan oleh-oleh sampai hari kepergianku. Mulai dari sayuran, hasil tangkapan di sungai, camilan khas desa ini, hingga buah persik yang ditanam secara khusus agar bisa dipanen lebih awal.
Aku yang tidak bisa menolak berakhir membawa banyak bahan pangan saat kembali ke Yokohama.
Aku tiba di depan rumah pukul dua siang. Rumah Dazai yang berada tepat di samping kanan tempatku tinggal tampak begitu sepi. Tidak seperti biasanya.
‘Aku akan mencarinya setelah menaruh semua oleh-oleh.’ Pikirku sebelum membuka pintu.
“Tidak dikunci…”
Alas kaki yang biasa Dazai kenakan tergeletak dengan menyedihkan di genkan. Samar-samar aku juga dapat mencium pheromones miliknya dari arah kamar. Itu artinya, aku tidak perlu mencari keberadaannya lagi.
“Dazai?” Panggilku.
Tidak ada jawaban.
Dazai selalu tidur siang di jam seperti ini. Karena itu, aku tidak merasa curiga dan memilih untuk menaruh semua oleh-oleh yang kubawa di dapur.
Apa yang kutemukan di dalam kamar bukan hanya Dazai yang tertidur. Omega yang menyimpan banyak rahasia itu menumpuk seluruh pakaianku di atas ranjang kali ini.
Sudah lama sekali aku tidak melihatnya melakukan nesting. Biasanya Dazai tidak perlu melakukannya saat masa heat akan datang karena selalu berada didekatku. Rumah kami bersebelahan, karena itu Dazai bisa datang atau menyelinap ke dalam rumahku setiap ia membutuhkanku.
Dia jadi seperti ini karena aku meninggalkannya lebih dari seminggu.
“Dazai…” Laki-laki yang sedang meringkuk di atas ranjang masih tidak merespon. Napasnya terdengar berat dan keringat juga membasahi pakaiannya.
Omegaku memang agak berbeda dengan orang lain. Ia sering menyimpan rahasia tidak terduga. Jangankan mengungkapkan rahasia, menceritakan masalah padaku juga hampir tidak pernah. Sikap seperti inilah yang membuatku sering mengkhawatirkannya. Meskipun aku senang karena ia sudah berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri, tapi melihatnya bersedih juga membuatku tidak tenang. Sebagai alpha dan juga soulmatenya, wajar jika aku menginginkan yang terbaik untuk Dazai.
Aku pun berjalan mendekatinya, melepas kaos juga coat yang kukenakan, lalu menyelimuti tubuh Dazai dengan pakaianku. Tak lupa, berbaring tepat di depannya dan menyusup masuk ke dalam pelukannya.
Aku sengaja memposisikan kepalaku tepat di depan dadanya agar Dazai dapat memelukku sampai rasa cemasnya hilang.
Benar saja, napas berat itu mulai terdengar teratur seiring berjalannya waktu. Perlahan tangannya bergerak, memeluk kepalaku, sesekali mengusap rambutku dengan jemarinya.
“Odasaku kembali…” Gumamnya.
'Ah, dia terbangun.'
“Begitulah.”
Kondisinya kali ini memang terlihat tidak terlalu baik. Ia hanya mau memakai kemeja lengan panjang dengan celana bahan saat pergi ke rumah orang tuanya. Aku juga tahu kalau hubungan Dazai dan ayahnya tidak terlalu baik. Beliau tidak pernah menyukai Dazai karena terlahir sebagai omega.
Mungkin ia baru saja kembali setelah mengalami hal buruk dengan ayahnya di tempat itu.
Dazai menarik nafas panjang saat tanganku masuk ke dalam pakaian yang dikenakannya. Perlahan kuusap punggung mulus yang kali ini tidak mengenakan perban.
“Mn… m-maaf sudah mengganggu waktu liburanmu, Odasaku.” Ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.
“Aku tidak pernah merasa terganggu olehmu.” Tubuhnya sedikit bergerak setelah mendengarku berbicara. Isakan samar juga dapat terdengar olehku.
Ia tidak akan bercerita jika aku memintanya sekarang. Yang bisa kulakukan saat ini hanya membuat Dazai tenang hingga mau menceritakan semua hal yang disembunyikannya dariku.
“...Aku merindukanmu.” Rengeknya.
“Aku sudah disini, Dazai… Aku disini.”
Pengalaman kami mungkin berbeda saat menghabiskan libur musim panas tahun ini. Tapi aku tidak ingin melihat Dazai terus bersedih sampai liburan berakhir. Kuharap usahaku dapat membuahkan hasil meskipun waktu yang tersisa hanya sedikit.
Tamat
