Actions

Work Header

More Than What You Think

Summary:

wonwoo - mingyu musuhan, beneran musuhan gak sih?

Notes:

* This is a remake dari fanfic aku di fandom sebelah, dengan beberapa perbaikan
* Disini wonwoo, mingyu, hoshi, seungcheol, dan jeonghan seumuran, satu angkatan di jurusan teknik geologi yang lagi menempuh kuliah lapangan 2 di salah satu desa.
* Diambil dari pengalaman pribadi penulis yang kesasar waktu lagi ambil data pas kuliah lapangan, bedanya temen sekelompoknya gak seganteng wonwoo dan mingyu
* Ada beberapa istilah geologi yang nanti akan dijelaskan artinya di akhir cerita

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Untuk observasi kali ini, Mingyu sama Wonwoo sekelompok ya. Kalian fokus cari kontak batuan di daerah utara"

 

"ASTAGA SAMA SI MATA EMPAT? MALES BANGET"

 

"YEEE EH MINGYU EMANGNYA AKU MAU GITU SEKELOMPOK SAMA LANDAK TAPIR?? IDIH OGAH"

 

Terjadi lagi, dimanapun dan kapanpun Jeon Wonwoo dan Kim Mingyu, mahasiswa teknik geologi yang sedang menempuh kuliah lapangan ini selalu aja debat. Sudah mengetahui jika disatukan malah berantem dan adu bacot, Seungcheol, ketua kelompok observasi lapangan mereka kekeuh mengelompokkan Mingyu dan Wonwoo untuk jalan bersama.

 

"Jadi ya guys, gimana caranya gue gak mau tau hari ini harus ke cover semua lintasannya, supaya nanti malam kita bisa langsung nge-plot kedudukan batuan sama bikin peta geologi kasar buat bayangan rekonstruksi sesar* sama lipatan* ya. Yuk udah bubar, masuk bus! Gak pake banyak bacot!"

 

Akhirnya setelah instruksi dari Seungcheol, semua anggota kelompok masuk bus bersiap berangkat ke lokasi pengamatan mereka. Tapi sekali lagi, Wonwoo dan Mingyu malah senggol-senggolan sewaktu mau naik bus.

 

"Bisa gak sih gausah nyerobot kim Mingyu? aku duluan yang naik"

 

"Gak, gak bisa gue duluan yang naik. Minggir"

 

"Apaan sih kamu yang minggir!"

 

"JEON WONWOO AWAS!!!"

 

"KAMU YANG AWAS"

 

Gitu aja terus sampai tahun depan. Teman sekelompok mereka gak ada yang mau misahin, saking sudah bosannya melihat mereka bertengkar. Sampai akhirnya datanglah Pak Chanyeol, dosen geologi struktur killer yang teriak dari ujung lapangan.

 

"KIM MINGYU! JEON WONWOO! MAU BAPAK SURUH JALAN KAKI AJA KE KAPLING KALIAN HAH? MAU NAIK BUS AJA RIBOOOOOT TEROOOOOOS"

 

"Aduh jangan pak, iya kita naik. Kamu sih nyebelin banget" ujar Wonwoo sambil sempat-sempatnya melanjutkan adu bacotnya sama Mingyu.

 

"Lo yang nyebelin"

 

"Yee landak tapir diem aja deh"

 

"KALIAN KALO MASIH BERANTEM AJA SAYA NIKAHIN LOH YA" Teriak Pak Chanyeol pakai toa.

 

"JANGAN PAAAK"

 


 

Setelah kurang lebih 15 menit debat, akhirnya kelompok mereka berangkat juga ke lokasi pengamatan masing-masing. Kebetulan Mingyu dan Wonwoo kebagian daerah selatan kapling. Mereka harus menyusuri sungai sampai ke arah hulu, menyeberang 3 bukit dahulu dan akhirnya baru sampai di jalan raya tempat mereka rencananya bakal dijemput.

 

Disaat yang lain pada bernyanyi gak jelas sambil menikmati pemandangan sawah-bukit, cuma Wonwoo yang rajin menganalisa peta, membuat sketsa kasar, membuat hipotesa sesar mana yang kira-kira akan dia temukan  nanti menggunakan interpretasi garis kontur*. Iya, Wonwoo serajin itu, sebagai anak yang lumayan ambis dengan IPK diatas 3,7 untuk seukuran anak teknik itu udah superior kebangetan. Anaknya yang serius banget dan keliatan ambis ini membuat Mingyu pada awalnya gak seneng dan males berurusan sama dia. Tapi waktu gak sengaja satu kelompok lapangan praktikum geofisika, ternyata Wonwoo ini anaknya enak juga diisengin. Dia selalu respon dan mukanya lucu banget kalau lagi kesal. Kalau kata Mingyu sih Wonwoo gak gemesin ya, cuma lucu. Iyain aja.

 

30 menit kemudian mereka sampai di daerah Kajor, tempat Mingyu dan Wonwoo mulai jalan buat mengambil data.

"Dadah semuanya orang ganteng mau nguli dulu. Jangan telat ya jemputnya jam setengah 5 tet" ini Mingyu yang bilang.

 

"Gampang. Jangan lupa yangbeb Wonwoo dijagain. Jangan diapa-apain ya, gyu" ujar Jeonghan dari dalam bus

 

"Sampe jebol ya gyu asoy euy di hutan" Hoshi memang mulutnya terlalu frontal. Mingyu cuma bisa mesem aja males nanggepin dia. Wonwoo yang gak terima langsung pura-pura ngelempar palu geologinya ke arah Jeonghan "OCI NGACO BANGET!"

 

"Udah deh langsung cabs aja yuk won. Cabut ya guys"

 


 

"Aku yang nyatet sama deskripsi batuan ya. Kamu yang ngukur kedudukan batuan sama foto. Gak pake protes" Wonwoo langsung membagi tugas sebelum mereka jalan buat ambil data.

 

"Yaelah gue beloman juga setuju"

 

"Nurut aja sih daripada kamu yang deskripsi nanti salah"

 

"Ngeremehin banget sih gini-gini gue juga bisa kali cuma deskripsi doang" Mingyu gak terima dianggap gak bisa deskripsi batuan. Dia udah semester 7 loh, yang seperti it sudah harus bisa dan sudah diluar kepala.

 

"Gak gak gak. Pokoknya aku yang deskripsi. Cus jalan kalo gak aku tinggal ya"

 

"Yang ada lo kalo ga ada gue kesasar"

 

"Bodo amaaat"

 

Wonwoo yang sudah malas menanggapi Mingyu langsung jalan duluan. Capek juga buang-buang waktu untuk berdebat sama landak tapir, panggilan “kesayangan” Wonwoo untuk Mingyu. Kalau mereka terus berdebat disini, yang ada rencana lintasan yang sudah diplot untuk hari ini gak akan tercover.

 

Kalau kalian pikir selama jalan dan mengambil data mereka bakal lancar jaya aja, salah besar. Mereka tetep aja bertengkar gara-gara:

 

  1. Menentukan nama batuan.

 

"Wonwoo, ini bukan pasir sangat halus, udah masuk lempung ini mah"

 

"Emang iya? ini tuh udah masuk pasir, diraba nih udah ada butirannya"

 

"Mana sih gak ada kok. Lempung fix ini"

 

"Kalo lempung nanti waktu diplot di peta gak akan nyambung sama batuan di kapling bagian barat, Mingyu. Aku yakin ini masih masuk pasir"

 

"Yaudah bodo amat gue mau ngeplot lempung"

 

"Yaudah sana gak peduli"

 

  1. Mingyu yang kesal karena Wonwoo kebanyakan berhenti untuk mengambil data. Iya, Mingyu malas kalau data yang mereka ambil terlalu detail. Kerjaannya tambah banyak menurutnya.

 

"STOP"

 

"Apaan lagi Wonwoo demi kerang ajaib baru 50 meter udah ambil data lagi" keluh Mingyu.

 

"Ini batuannya aneh deh coba kamu liat. Sesar gak sih?". Mingyu langsung berjalan ke arah Wonwoo, berusaha mencari indikasi adanya sesar disitu. Tapi dia gak nemu-nemu juga.

 

"Mana sih? Gak ada ah"

 

"Itu tuuuuh yang itu"

 

"Mana?"

 

Wonwoo refleks menarik tangan Mingyu untuk mendekat ke arah batuan, berusaha menunjukkan sesar yang dimaksud. Tapi baik Wonwoo maupun Mingyu gak menyadari kalau jarak mereka terlalu dekat, sampai sewaktu Mingyu dan Wonwoo saling noleh, jarak hidung mereka cuma 5 cm. Wonwoo yang pertama sadar langsung mundur ke belakang.

 

"Ya Tuhan, hampir aja tadi ngapain siiiih" batin Wonwoo. "Ehm.. hmm... aku yang ambil datanya aja deh ya. Sini mana kompasnya mau aku ukur"

 

"E- eh iya bentar" Mingyu masih setengah sadar, dia ngerasa aneh setelah kejadian tadi.

 

"Anjir kenapa gue jadi deg-degan gini"

 

  1. Wonwoo pengen teriak rasanya pas ngecek kamera Mingyu, bukannya banyak fotoin batuan malah isi fotonya kebanyakan selfienya Mingyu.

 

"LANDAAAK KENAPA INI SELFIE KAMU SEMUAAA INI MANA BATUANNYA"

 

"Ada kok gue foto lengkap ya!"

 

"Mana woy gausah bohong"

 

Mingyu mengambil kamera dari tangan Wonwoo dan mengutak-atik folder foto di kameranya. Ternyata semua foto observasi hari ini sudah masuk ke folder khusus.

 

"Makanya nanya dulu dong fotonya ditaro dimana. Tuh di folder 1506"

 

"Ya maaf kan aku gak tau". Kamera yang sudah kembali ke tangan Wonwoo itu dilihat lagi foto-fotonya sama Wonwoo, sampai akhirnya matanya langsung mengarah ke folder kanan atas dengan nama "SI BAWEL"

 

*Ini gimana bisa ada foto-fotoku semua....? dari jaman semester lalu? Ini dia yang ambil semua fotoku? Mingyu kenapa sih.....*

 


 

Begitu masuk jam 13.00, mereka memutuskan untuk istirahat di hulu sungai untuk makan siang. Rasa canggung masih mendominasi keadaan mereka saat ini. Baik Mingyu maupun Wonwoo makan dalam diam, termasuk aneh mengingat mereka yang kalau udah ketemu gak pernah gak saling melempar omongan dan bertengkar.

 

"Ini gara-gara deketan hampir ciu-- hadeh mikir apa sih lo Kim Mingyu". Mingyu masih kepikiran yang tadi ternyata.

 

"Mingyu, aku boleh tanya sesuatu" tanya Wonwoo memecah keheningan mereka.

 

"Tanya apa?

 

"Tadi aku liat kamera punyamu, kok ada fotoku?"

 

"Ya iyalah tadi buat foto singkapan batuan kan harus ada foto orangnya juga. Ya siapa lagi kalo bukan lo yang jadi objeknya"

 

"Bukan, aku liat ada folder yang isinya fotoku semua"

 

DEGG- Mingyu rasanya mau hanyut di sungai aja. Bagaimana bisa dia ceroboh banget belum memindahkan folder yang isinya semua foto Wonwoo ke laptop.

 

"Gak cuma foto lo doang kali, banyak foto yang lain doang. Gausah geer" Mingyu coba untuk mengelak. Mulai panik.

 

"Tapi kayanya foto aku semua kok. Dan aku gak geer sama sekali ya"

 

"Kegeeran itu namanya. Bukan cuma foto lo doang kok itu. Banyak foto anak-anak juga. Lagian ngapain sih gue kurang kerjaan fotoin lo. Udah selesai kan makannya? Dah lanjut jalan lagi. Cepet. Lambat gue tinggal"

 

Mereka berdua pun langsung melanjutkan perjalanannya untuk menyeberangi 3 bukit sambil mengambil data. Tapi ya karena di daerah tinggian semakin sedikit data batuan yang bisa di ambil, jadinya mereka hanya berjalan sambil foto-foto pemandangan.

 

Baik Mingyu maupun Wonwoo sama sekali gak saling mengobrol, cuma sekali waktu Mingyu menyuruh Wonwoo jalan didepan. Sewaktu ditanya kenapa, Mingyu bilang "Lo kalo jalan lama, nanti ketinggalan nyasar terus nangis deh lo" Padahal itu semua supaya Mingyu bisa mengawasi Wonwoo dari belakang. Dasar tsundere.

 


 

Jam 15.30, mereka sudah ada di puncak bukit terakhir, yang artinya kalau mereka turun bukit, didepan sana akan sampai ke jalan raya tempat mereka dijemput. Tapi kok waktu sudah di puncak dan melihat ke sekitar, jalan raya masih ada jauh di ujung sana, 2 bukit lagi dari puncak bukit yang sekarang mereka injak.

 

"Mingyu, ini gimana ya ternyata di peta kita garis konturnya ada yang hilang jadi bukitnya gak muncul di peta" Wonwoo mulai panik, satu jam lagi mereka akan dijemput di jalan raya di ujung sana, tapi ternyata mereka masih harus melewati 2 bukit lagi.

 

"Anjir kalo gini kita gak bisa tepat waktu sampe setengah jam lagi. Paling gak kudu makan waktu 2 setengah jam buat ngelewatin 2 bukit lagi, Won"

 

"Terus gimana? masa kita sampai malem kejebak disini"

 

"Ya gak ada jalan lain kita harus tetep jalan"

 

"Apa kita balik aja ya? Didepan gak ada jalan setapak sama sekali takut nyasar"

 

"Kita balik lagi sampenya jam berapa, pinter. Udah lanjut jalan aja. Depan gih sana"

 

Sebenarnya Wonwoo mulai takut sampai malem akan terjebak di bukit ini. Dia juga khawatir kalau lanjut jalan, sama sekali gak ada jalan setapak, itu artinya mereka harus jalan di semak-semak yang gak tau didalamnya ada ular atau hewan lainya. Tapi kalau balik lagi, waktunya akan semakin gak cukup. Wonwoo yang panik begitu dan jalannya yang mulai terburu-buru, sama sekali gak memperhatikan kalau didepan dia ada bolongan sampai akhirnya Wonwoo jatuh.

 

"Aduh huhuhu sakit"

 

"Lo gapapa? Duh makanya kalo jalan hati-hati dong" Mingyu langsung lari menghampiri Wonwoo dan membantu Wonwoo untuk berdiri lagi.

 

"Ya abisnya batunya gak keliatan sih"

 

"Batu segede itu gak keliatan? Lo aja yang gak fokus"

 

"Yaudah sih namanya juga gak ngeh. Siapa sih yang pengen jatoh"

 

Wonwoo coba buat berdiri tapi ternyata kakinya keseleo, dan jatuh lagi.

 

"Keseleo kan jadinya? Bisa jalan gak itu"

 

"Gak usah khawatir aku bisa jalan sendiri. Gak akan ngerepotin kamu" Wonwoo yang gak tahan akan omelan Mingyu dari tadi, memilih untuk jalan sendiri aja, daripada dirinya harus mendengar berbagai omelan dari Mingyu. Wonwoo mencoba berdiri dan jalan pelan-pelan tapi memang kakinya sakit sekali. Mingyu yang melihat itu semua gak tega dan membungkuk didepan Wonwoo.

 

"Udah sini gue gendong aja"

 

"Gak perlu aku bisa sendiri" Sambil tertatih-tatih Wonwoo tetep keras kepala mau jalan sendiri aja.

 

"Udah nurut aja gue gendong sini"

 

"Gak usah kim Mingyu"

 

"Nurut bisa kan"

 

"Aku bisa sendiri"

 

"GUE GENDONG AJA KENAPA SIH JEON WONWOO? KALO LO TETEP KERAS KEPALA YANG ADA NYUSAHIN KITA SEMUA. KITA GAK BAKAL PULANG DAN BAKAL STAY DISINI SAMPE BESOK" Mingyu gregetan sama Wonwoo yang keras kepala sampai gak sadar malah kelepasan bicara yang agak kasar ke Wonwoo.

 

"Oh jadi aku nyusahin? Ya makanya aku jalan sendiri aja supaya gak nyusahin. Kalo takut gak bakal tepat waktu sampe ke jalan raya yaudah jalan duluan tinggalin aku aja" Wonwoo langsung berbalik arah dan lanjut berjalan dengan langkahnya yang tertatih-tatih.

 

"Gila lo! gak mungkin gue ninggalin lo sendiri”

 

"Daripada kamu gak bisa pulang, mending jalan duluan aja, Mingyu"

 

"Wonwoo, lo gue gendong atau semua peta lo gue bakar. Gue gak mungkin ninggalin lo disini sendirian. Please...."

 

Untuk pertama kalinya Wonwoo melihat Mingyu memohon dan terlihat sangat frustasi. Tapi dia sudah terlanjur tersinggung sama omongan Mingyu yang tadi.

 

"Bakar aja gapapa. Kamu duluan jalan sana nanti aku nyusul"

 

"Bisa gak sih kamu stop keras kepala begitu? Aku gendong aja yuk udah mau maghrib ini"

 

Aku-kamu

 

Aku

 

Kamu

 

Warning, Kim Mingyu beneran serius.

 

 

"Apa salahnya jalan duluan dan ninggalin aku? Toh selama ini juga aku tau kok kamu kesel dan benci sama aku. Jadi ini kesempatan kamu buat ngelampiasin kebencian kamu dengan cara ninggalin aku disini" Wonwoo masih ngotot supaya mereka berjalan sendiri-sendiri aja. Sedangkan Mingyu sudah kepalang emosi, rasanya semua amarahnya meledak begitu aja di hadapan laki-laki ini.

 

"Siapa yang benci sama kamu, aku tanya. Dan aku gak setega itu buat ninggalin kamu disini"

 

"Selama ini kamu selalu ngebully aku kim Mingyu. Semuanya udah jelas. Aku gak tau salah aku apa tapi kamu selalu keliatan gak suka dan benci kalo ada aku di-" Belum selesai Wonwoo bicara, Mingyu udah terlanjur menyela dan berteriak,

 

"Aku gak pernah ada niat sedikitpun buat ngebully kamu, Jeon Wonwoo!!!!"

 

O-ow. Kim Mingyu marah. Ok, Wonwoo mulai takut sekarang.

 

"Aku gangguin kamu setiap hari karena......" Mingyu gak melanjutkan obrolannya, melainkan tiba-tiba berjalan ke arah Wonwoo, membelakanginya, membungkuk didepannya, dan narik tangannya buat melingkar di leher Mingyu. Mingyu juga narik kakinya buat melingkar di pinggang yang lebih tinggi. Iya, Mingyu akhirnya narik Wonwoo, maksa dia untuk digendong sama Mingyu. Wonwoo yang kaget sampai gak bisa bereaksi apa-apa. Mau berontak tapi sebelum itu Mingyu udah bilang "Diem. Jangan coba-coba berontak".

Wonwoo takut dan akhirnya diem aja, menerima kalau sekarang Mingyu lagi menggendong badan kecilnya.

 

Sepanjang perjalanan, Wonwoo dan Mingyu diem-dieman lagi. Antara canggung dan berkonsentrasi untuk menerobos semak-semak yang semakin tinggi dan jalanan yang semakin menanjak. Wonwoo tahu kalau Mingyu sudah mulai kelelahan dan tangannya juga mulai luka-luka karena terkena semak-semak yang lumayan lebat itu. Rasa bersalah mulai muncul dari dalam diri Wonwoo. "Kayanya aku udah keterlaluan", pikirnya.

 

"Mingyu...."

 

"Hm"

 

"Maaf...."

 

"Hm"

 

"Aku kelewatan ya?"

 

"...."

 

"Kim Mingyu aku minta maaf"

 

"Ya"

 

"Jawab sih mau maafin apa engga"

 

"Iya"

 

"MINGYU"

 

"Iya aku maafin"

 

Mingyu mulai ngos-ngosan, mau istirahat tapi hari semakin sore, takut gak bisa keluar dari hutan ini sebelum maghrib. Wonwoo inisiatif untuk memberikan air putih terakhir dia untuk Mingyu dan langsung Mingyu minum dengan rakus.

 

"Mingyu"

 

"Apa"

 

"Tadi kamu belum selesai ngomong"

 

"Yang mana"

 

"Yang kenapa kamu selalu gangguin aku itu"

 

"Oh"

 

"Kok oh doang sih"

 

"Ya terus aku jawab apa?"

 

"Ya alasannya apa?"

 

Mingyu tiba-tiba berhenti, menoleh belakang ke arah Wonwoo dan senyum lembuuut sekali. Senyuman yang gak pernah dilihat Wonwoo dan sialnya sukses membuat Wonwoo degdegan setengah mati.

 

"Harusnya setelah liat foto-foto kamu di folder kameraku tadi, kamu udah tau jawabannya"

 

"Ya apa jawabannya? Eh kamu ngoleksi fotoku ya?"

 

"Kalo aku bilang iya?" Mingyu bertanya balik ke Wonwoo

 

"Buat apa gitu? Terpesona sama kegantengan aku ya?"

 

"Jeon Wonwoo? Ganteng? Iyain a- ADUH KENAPA DIPUKUL SIH" Langkah Mingyu sempat oleng saat Wonwoo yang sedang digendongnya, memukul kepala bagian belakang miliknya.

 

"Ya abisnya kenapaaaa kim Mingyu"

 

"Aku kasih hint tambahan ya won, aku cuma ngomong "aku-kamu" gini sama siapa aja? gak sembarang orang loh"

 

Ohiya, Mingyu dari tadi masih memakai aku-kamu ke Wonwoo. Tapi seorang Jeon Wonwoo yang IPK nya 3,7 dan langganan menang lomba paper itu masih aja gak paham sama apa yang sudah Mingyu katakan.

 

"Gak paham deh aku. Emang kenapa sih tinggal bilang aja"

 

"Jeon Wonwoo, Jeon Wonwoo. IPK cumlaude, anak akademisi banget aja lemot banget urusan ginian"

 

"Ga usah bawa-bawa IPK bisa kali" Wonwoo tidak terima kalau Mingyu selalu mengungkit besaran IPKnya itu.

 

"Ya abisnya kamu lemot banget hahaha. Lucu banget sih"

 

OMG seorang kim Mingyu sejak kapan muji begini, pikir Wonwoo, heran.

 

"Kamu kesambet ya, Min?"

 

"Jahat banget sih udah dibantuin malah dibilangin kesambet"

 

"Abis ngomongnya aneh gitu"

 

"Aneh gimana?" Wonwoo gemes banget pengen nabok ini orang. Sukanya balik pertanyaan dia terus.

 

"Ya itu bilang aku lucu"

 

"Emang kamunya lucu gimana dong"

 

Oke, stop. Jantung Wonwoo mulai gak beres. Wonwoo yakin 100% kalau Mingyu lagi kesambet. Atau efek Mingyu kecapekan jalan sambil gendong Wonwoo? Atau efek dia kehausan?

 

"Mulai aneh deh. Tau ah mau diem aja aku"

 

"Yah dia ngambek. Jangan diem aja Won, please sepi nih"

 

"Yaudah ngomong aja sendiri"

 

"Jangan dong nanti dikira orang gila"

 

"Emang Kim Mingyu udah gila"

 

"Atau kamu nyanyi deh. Atau ngomong apa gitu" saran Mingyu.

 

"Suaraku jelek"

 

"Kata siapa? suara kamu bagus kok. Kalo denger suara kamu bawaannya jadi adem gitu gak ngantuk. Biar aku semangat jalannya ini"

 

Oke fix 100000000% Mingyu semakin aneh. Akhirnya daripada Mingyu terus-terusan ngerengek minta dia ngomong atau nyanyi, Wonwoo milih nyanyi aja. Mingyu kenapa ya tadi pagi aja masih nyebelin nyolot ngeselin gitu. Kenapa sekarang jadi soft begini......

 


 

Jam sudah menunjukkan pukul 17.30 sampai akhirnya mereka keluar dari hutan dan sampai ke jalan raya. Hari mulai gelap, dan untungnya mereka sudah keluar dari hutan dan tinggal menunggu jemputan. Mingyu tadi sudah menelpon Seungcheol setelah akhirnya mendapatkan sinyal dan langsung dibalas dengan tidak santai sama Seungcheol, "GILA WOY KALIAN KEMANA AJA SIH UDAH KETAKUTAN KALO NYASAR".

 

Hoshi juga ikut menimbrung "Kirain kalian keasikan main di hutan wkwkwk".

Karena sudah kecapekan, Mingyu langsung menyuruh mereka untuk menjemput di minimarket dekat jalan raya tempat tadinya Wonwoo dan Mingyu akan dijemput.

 

Sambil menunggu jemputan, Wonwoo yang masih penasaran dengan pembicaraan mereka tadi berusaha buat bertanya lagi ke Mingyu.

 

"Mingyu"

 

"Hmmmm"

 

"Emang kenapa sih ada folder isinya fotoku di kamera punyamu?"

 

"Emang gak boleh?"

 

"Ya gak boleh lah itu fotoku. Jadi curiga nih"

 

"Curiga apa?"

 

"Foto-fotoku mau kamu jual ya?" Mingyu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Wonwoo, kamu polos banget sih.

 

"Ya kali. Gak laku dong"

 

"Terus kenapa? Jangan-jangan kamu segitu ngefansnya sama aku ya sampe foto-fotoku di koleksi gitu hayooo" Wonwoo asal ceplos aja waktu bilang begitu. Soalnya dia yakin maksud Mingyu menyimpan foto-fotonya itu pasti untuk maksud yang jelek.

 

"Kalau aku bilang lebih dari itu?"

 

"Hah lebih dari itu gimana deh?"

 

"Ya gara-gara aku lebih dari sekedar ngefans sama kamu"

 

Oh

OH

OHHHHH

 

"Hah...."

 

"Alasan aku nyimpen banyak foto kamu sama aku suka gangguin kamu... ya itu...." telinga Mingyu mulai memerah. Merah sekali. Pandangan Mingyu juga terlihat kemana-mana, kecuali Wonwoo. Iya, Mingyu sama sekali tidak menatap Wonwoo.

 

"Hah gimana...."

 

"Ya itu pokoknya. Karena aku lebih sekedar ngefans sama kamu"

 

"Gimana nih gimana jadi gimana?" desak Wonwoo. Pipi Wonwoo mulai memanas, jantung dia juga sudah mulai berdetak kenceng banget. Lebih dari sekedar ngefans.....

 

"Duh pokoknya gitu deh. Eh, itu busnya udah dateng. WOOOY DISINIIII"

 

Belum selesai Mingyu bicara, bus yang menjemput mereka sudah datang. Tapi Wonwoo masih belum beranjak dari duduknya, masih memproses perkataan Mingyu tadi.

 

"Wonwoo ayo naik keburu malem" Mingyu menarik tangan Wonwoo dan membantu Wonwoo buat berdiri dan berjalan menaiki bus. Di dalam, terlihat beberapa teman mereka menyambut dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua tadi.

 

"Won, lo kenapa dah kaya orang linglung gitu, abis diapa-apain ya sama si panjul?" Hoshi dan otak mesumnya yang gak pernah hilang tetap aja menggoda Wonwoo sampai dia blushing parah.

 

"Ci, udah deh otak lo ya. Yuk Won naik, apa mau aku gendong lagi?"

 

"WOY GILA INI MEREKA KENAPA JADI AKU-KAMUAN? GENDONG GENDONGAN? KALIAN ABIS NGAPAIN AJA HEH" Anak-anak di dalam bus langsung ribut. Mereka mengira Wonwoo dan Mingyu akan mengelak dan mengomel seperti biasa jika mereka digodain sama anak-anak yang lain. Tapi sekarang,  Mingyu malah senyum aja, senyum malu-malu lebih tepatnya.

 

Wonwoo pusing,

 

"Ini Mingyu kenapa jadi gini...."

 

 

 

 

 

 

 

 

"Lebih dari sekedar ngefans....."

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

"Lebih dari sekedar ngefans....."

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

"Suka?"

 

 

 

 

 

 

"Sayang?"

 

 

 

 

 

 

"Cinta?"

 

 

 

 

 

 

"Gak mungkin"

 

 

 

 

"Gak mungkin kan ya"

 

 

 

 

 

 

 

 

"Gak mungkin.................... Masa sih Mingyu suka sama aku?"

Notes:

- Sesar: Patahan/diskontinuitas dalam volume batuan , di mana telah ada perpindahan signifikan sebagai akibat dari gerakan massa batuan.
- Lipatan: Bentuk suatu gelombang pada permukaan batuan yang membentuk suatu penekukan.
- Garis kontur: garis yang menghubungkan titik-titik dengan ketinggian sama.