Work Text:
Dibanding keempat kawan mereka, jaegyeon sudah pasti jadi yang paling sering membawa diri mampir ke chunryang.
Si surai merah jarang datang dengan tangan kosong, biasanya sambil menenteng sembako di tangan kanan dan jajanan di tangan kiri karena kasihan kalau lihat si penghuni lokal yang miskin keseringan makan makanan bergula yang itu itu aja (tapi sebenarnya mau dikasih atau engga, intensitas seongji makan makanan bergula bakal tetap stagnan, sih). Kalau sudah begitu, pasti jajanannya bakal langsung habis dimakan sama anak-anak chunryang family, menyisakan sembako yang cukup untuk dimakan beramai-ramai selama seenggaknya sebulan dua minggu.
Walau sering diberi sembako khas incheon yang harganya nggak murah di pasaran, seongji lebih senang kalau jaegyeon hanya membawa dirinya sendiri. Seutuh utuhnya jaegyeon tanpa perlu kelimpungan karena ngeluarin banyak barang dari mobil norak miliknya.
Bukannya kurang bersyukur, seongji cuman berharap kalau jaegyeon bisa menikmati pertemuan mereka. Dari paling awal saat jaegyeon planning untuk datang sampai pada akhirnya kembali pulang ke kota asal, seongji ingin jaegyeon menikmati semua prosesnya tanpa perlu repot memikirkan dan membawa banyak barang untuk diberi. Seongji hanya ingin jaegyeon baik-baik jaga diri.
Tapi toh terlepas dari yang dipikirkan seongji, jaegyeon tetap selalu memperhatikan well-beingnya dalam banyak aspek. Kadang, sampai repot bikin segmen tersendiri untuk wawancara penghuni chunryang family.
Sayang, hal itu tak bisa dilakukannya hari ini karena kebetulan jaegyeon datang lebih pagi saat yang lain masih sekolah, kebetulan sekarang awal semester, semua sedang semangat-semangatnya kejar nilai. Setelah keduanya repot mengeluarkan sembako dan jajanan dari inisial N kesayangan jaegyeon, jaegyeon berbaring di padang rumput berbunga sisi lain gunung dengan seongji yang pergi entah kemana.
Jaegyeon dapat merasa cuaca di sekitarnya lebih hangat dibanding minggu lalu, khas awal datangnya musim semi. Yang turut menghangat ternyata bukan hanya cuaca, jaegyeon juga ikut merasa hangat di hatinya dampak dari selalu mendamba ketenangan. Kalau ini di pusat kota incheon, pasti suasananya akan lebih overwhelming karena hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur dan selalu terburu-buru.
Namun di sini jaegyeon merasa bahkan bukan lagi kehangatan, melainkan semua hal baik menghampirinya di saat yang bersamaan. Here, no one rushing him or expecting him to do anything. Just him being him. Dalam tatapannya saat pandangi langit yang berawan jarang, jaegyeon berharap hari ini bisa berjalan untuk selama-lamanya.
"Coba kamu duduk." Keheningan yang menyelimuti jaegyeon itu pecah saat seongji tetiba duduk di sampingnya sambil menyembunyikan tangan kanan dibalik punggungnya.
Jaegyeon menengok ke sumber suara, langsung duduk begitu diminta. Baru saat ia bertanya untuk apa, jaegyeon bisa merasa telinga kirinya menerima tekstur baru, tekstur batang kayu tipis dan di pelipisnya ada sesuatu yang lembut. Seongji menyelipkan bunga plum putih-merah pucat di telinga jaegyeon. Bunga plumnya terlihat menyatu dengan apik di telinga jaegyeon karena sama sama bernuansa merah.
"Ini ada uletnya, ya," tuduh jaegyeon dengan tangan kiri melayang bingung di sekitar telinganya. Ia tak mau hal ini dimanfaatkan oleh si lawan bicara, tapi tak mau juga melepas pemberian seongji dengan mudahnya.
"Tadinya mau kufoto terus kirim ke grup biar bisa dijadiin candaan sama yang lain sampe kiamat." Seongji abaikan pertanyaan tak serius jaegyeon tadi. Kini ia bercerita sambil masih pandangi jaegyeon yang tampak lebih kebingungan sekarang.
"Tadi?"
"Ngga jadi soalnya ternyata kamu makin cantik, mau dikeep buat sendiri dulu."
... Hah?
Jujur, jaegyeon agak salah tingkah karena dipuji cantik oleh seongji. Sebenarnya seongji bukan termasuk yang jarang memberi pujian. Tapi rasanya aneh dipuji cantik. Biasanya dia dipuji ganteng, jago berantem, ceweknya banyak, fafifu wasweswos.
He's just not used being called pretty. Especially by seongji.
Mau tak mau, jaegyeon jadi lebih kaku dan menolehkan kepalanya ke sisi yang berlawanan, enggan kalau harus bertemu tatap dengan mata hitam mengkilap seongji. Ia lempar kembali candaan sejenis dengan senyum kikuk, cuman berharap suasana jadi lebih ringan untuk diri sendiri.
"Okay the dead wife that haunts the narrative. Thank you for your compliment."
"You're my husband in that narrative, then."
... Wadidaw dibalik jadi wadidaw
Kalau sekarang dibanding salah tingkah, jaegyeon lebih ke bingung. Seongji lagi flirting ya ini? Rasanya dia ngga pernah gitu ke anak-anak circle yang lain? Saking bingungnya, suasananya jadi hening lagi dengan seongji yang masi sibuk pandangi jaegyeon dan jaegyeon yang sama sekali clueless soal perubahan sifat mendadak seongji.
Karena itulah, saat itu juga jaegyeon dalam hati mulai bertanya kenapa ia tak dilahirkan jadi belalang sembah saja supaya tak harus menghadapi entitas nirlogika di hadapannya seperti sekarang.
Sepanjang ia bisa mengingat hidup, itu pertama kalinya jaegyeon bisa merasa wajahnya menghangat saat... Saat apa ya? Diflirt? Ini serius bukan jaegyeonnya yang kegeeran?
Tangan jaegyeon kembali terangkat bingung. Opsinya masih sama, melepas bunga plum di telinganya (tapi takutnya nanti malah membuat seongji sakit hati) atau membiarkan bunganya tetap di situ (betul-betul kayaknya bakal dijadikan candaan sampai kiamat). Yah, mungkin jaegyeon bukannya tak ingin menyakiti hati seongji saat ia melepas plumnya, mungkin ia cuman terbawa suasana dipuji seongji.
Seongji tetap harus bangga karena dia jadi yang pertama buat jaegyeon seperti sekarang.
Paham akan kebingungan anak adam di sampingnya, seongji tersenyum lebar penuh kemenangan. Walah, ternyata ia betulan bangga karena berhasil membuat the infamous na jaegyeon jadi kayak orang linglung.
Lantas, seongji menangkat tangannya untuk meraih tangan jaegyeon. Tak benar-benar digenggam, ia raih untuk menaruh tangan itu ke permukaan tanah. Ia kembali mengangkat sendiri tangannya untuk mencabut bunga plum yang terselip di telinga jaegyeon. Selama sepersekian detik itu, jaegyeon hanya melihat wajah seongji dari ujung matanya, ia biarkan seongji berbuat sesuka hati dengan rambutnya. Walau tampak kalem, isi kepala jaegyeon masih gelagapan harus menanggapi situasi sekarang dengan seperti apa.
Setelahnya, ia rapikan kembali rambut jaegyeon sehingga jadi seperti semula lalu meletakkan bunga plum tersebut ke rumput di tengah-tengah mereka
"Tengil banget lu, ji. Pantes ngga ada cewek yang mau." Barulah jaegyeon menjawab dengan lebih kasual. Walaupun merapikan rambut tadi adalah insiden yang tak perlu, syukur-syukur ia bisa kembali tenang dalam sela-sela waktu tadi. Apa kabar harga dirinya kalau orang lain tahu ia sempat mematung gara-gara seongji, duh.
"Yaudah sama jaegyeon aja."
... Okay, seongji, okay.
Itu jadi puncak ke-gatau-harus-ngomong-kayak-gimana-lagi-nya jaegyeon sebab setelah itu, ia bangkit berdiri dan berjalan menjauh dari seongji tanpa aba-aba untuk kembali ke rumah si rambut hitam. Semua logika jaegyeon berlari pindah ke dada, membuat dadanya yang tadi tenang jadi berisik dan kepalanya yang berisik jadi kosong.
Saat kabur, jaegyeon sempatkan mengambil ponsel di kantongnya, membuka grup circle yang notifnya menumpuk lalu dengan segera ia mengetik sambil berjalan dengan langkah dipercepat karena sadar seongji memanggil dan mengejarnya.
Tolong siapapun kalo ketemu seongji, pukulin aja kepalanya.
Setelah mengirim pesan rancu tersebut, jaegyeon berharap hari ini bisa cepat usai. Ia ingin cepat-cepat kembali ke incheon.
