Work Text:
Hanyalah orang gila yang dapat bertahan hidup di dunia serba rumit yang dikacaukan oleh orang gila juga. Bagaimana jika ada kawasan khusus yang tidak pernah tersentuh oleh pemerintah, sebagaimana hukum tidak mampu menegakkan apa pun yang bukan dalam tanggung jawab mereka? Bayangkan betapa liarnya keinginan manusia untuk menguasai sesamanya sampai tertindas di bawah dominasi mereka. Namun, yang punya tidak memiliki hal yang dimiliki lagi―terkuras habis―dan kesengsaraan akan menular kepada yang menguasai mereka. Lambat-laun, mati kelaparan menyerang serta menurunkan populasi mereka. Di antara mereka, dua orang, muncul―berdiri di depan orang yang sedang tergeletak; berupaya mengumpulkan kesadaran yang tersisa. Pandangan mereka berkunang-kunang tidak mampu menyadari kehadiran dua orang.
“Riou-san! Apa yang harus kita lakukan dengan mereka?” tanya salah satu yang berambut biru tua panjang terikat. Tinggi badan lebih pendek dengan orang di sampingnya, dengan penampilan lebih berantakan pula. Tudung jaket serta yang menutupi satu bahu terlambai-lambai oleh angin ringan, mengeksposkan kaos putih polos. Kontras dengan jaket dan celana panjang yang agak nyentrik pada warna kuningnya. Namun, sesuai untuk dirinya yang memancarkan ekspresi seringai di tengah situasi semacam ini.
Empunya nama “Riou” justru diam sedari tadi, bahkan tiada pergerakan sama sekali yang tidak penting pula. Pelupuk mata baru saja mengerjap ketika memutuskan menghampiri satu orang yang kebetulan tidak jauh dari pijakan kaki bersama pria berambut biru tua. Ia tampak sedang awas―mengontrol kondisi yang menimpa para korban, selain kelaparan. Dari penglihatan sekilas saja, ia sudah memastikan bahwa ada gejala lain yang kian menggerogoti tubuh selagi lemah.
Oh, ya―pertanyaan tadi yang khusus untuknya baru dijawab selepas menoleh ke arah rambut biru gelap kembali. Pancaran seperti biasa yang hanya dikenal oleh “kawannya” itu, atau kilat lampu hijau untuk pria lainnya merespons segera―bereaksi antusias, dengan memamerkan gigi taring ciri khas miliknya seseorang. Dan itu karena safir laut milik “Riou” ini menyala bukan tebersit kelembutan, melainkan peringatan familier yang keji bagi para korban. Apalagi jika maksudnya bukan untuk mencelakai?
“Bunuh mereka semua.”
Sesuai dengan penampilannya yang serba hitam (desain jaketnya berkerah dibandingkan milik pemilik rambut biru tua), ia pembawa berita kematian. Sinar matahari dari ujung gang tidak mencapai sampai sini, tetapi sebilah pisau bayonet tampak masih berkilau setelah disembunyikan rambut biru tua. Kemudian, suara rintihan menggaung bersamaan cairan merah yang menodai tanpa arah yang pasti.
Waktu berlarut cepat; rintihan tadi tidak terdengar sama sekali, kini keheningan mencekam menguasai. Namun, berada di tengah kekacauan sehabis berbuat ulah memuaskan si rambut biru. Lebih-lebih, empunya nama “Riou” sedang mendampinginya.
“Riou-san, aku sudah selesai semuanya!” Kepalanya menoleh, mencari sosok dimaksud. Sayangnya, yang dinantikan tidak kunjung bersuara―padahal seorang seperti Riou ini biasanya cepat menyahut. Dan benar―orang itu tidak berada di tempat yang terakhir kalinya ia ingat dan temukan.
“Loh? Riou-san?” Celingak-celinguk tidak tentu arah, seiring geser sana dan sini―memutari tempat yang sama. Tentu saja, upaya itu tidak pernah membuahkan hasil yang ia inginkan.
Derapan kaki yang datang dari arah yang sama dengan awal kedatangannya memperlihatkan sosok Riou. Pria bersurai oranye tersebut turut ternodai dengan darah pada bagian perut. Tidak terlalu deras maupun tidak terlalu sedikit. Suara beratnya memanggil supaya pemilik rambut tua itu tidak salah target rasa waswasnya, “Arisugawa. Rupanya, kau sudah selesai juga.”
Sebutan namanya sangat terbantu, memang. Jarak mereka terkikis berkat kegesitan si rambut biru tua mendekat dengan keceriaannya menyebutkan nama, ”Riou-san~!”
Tepukan mendarat di atas kepala “Arisugawa”, “Seperti biasa, kau melakukan dengan baik.”
Pun, yang lain menikmati afeksi kecil berharga tinggi, sebelum melantangkan, “Nyahaha~! Itu sudah pasti!” Lagi, deretan dua gigi taring menyembul, melengkapi senyuman yang tidak pernah kenal berhenti. “Ngomong-ngomong, Riou-san habis dari mana? Habis cek di tempat lain?”
“Ada beberapa yang masih hidup di dekat bekas kedai kue kering.” Menghilang tanpa pemberitahuan adalah kebiasaan buruk yang mendarah daging. Menurutnya, apa yang ia lihat, lebih baik dituntaskan segera.
“Kedai kue kering itu, ya?” Mendengarkan nama itu mengingatkan pula akan kenangan lampau ia selalu menyerbu penjualan kue itu setiap baru buka. “Sayang sekali, tempat itu sudah tidak ada.”
“Aku bisa buat kalau kau mau. Tapi―ya, tentu saja, aku harus mencari bahannya.”
Bahan disebut bukanlah sekadar bahan. Hanya Arisugawa yang tahu di balik penggunaan kata terdengar biasa tersebut. Sesuatu yang bukanlah hal aneh bagaimana mereka bisa tampak amat akrab karena reaksi Arisugawa berubah ke antusias. Ingat, senang berbeda dengan antusias; Arisugawa tidak sabar menantikan hari itu kunjung tiba. Air liur tanpa sadar mengalir di ujung bibir, akibat membayangkan makanan tersebut lebih dulu.
“Aku kangen masakan buatan Riou-san!”
Riou tidak hanya tersenyum; kebahagiaan untuk membuatkan sesuatu demi Arisugawa adalah harta yang tidak tergantikan. Apalagi orang itu jelas sangat senang memakannya. Siapa yang tidak, bukan?
“Mungkin saja ada sesuatu yang berguna di perjalanan selanjutnya nanti.”
Percakapan biasa selayaknya situasi tidak separah sekarang justru menegaskan bahwa mereka MEMANG ORANG GILA. Ketahuilah, bukan itu saja; justru mereka lebih daripada sekadar gila karena sudah berada di dasar paling dalam, dan itu tertuju kepada orang yang berkencimpung di dunia kejahatan. Belum lagi mereka berdua terlihat sangat akrab makin mempersulit siapa pun yang terkena nasib sial menjadi musuh mereka.
Teman? Sahabat? Semua salah. Justru ikatan mereka terbilang jauh; mereka adalah sejoli yang bisa dijumpai di altar putih suci. Ya, tidak salah membaca. Mereka adalah sepasang yang dianggap orang yang pernah menikah. Namun, nyatanya, pernikahan mereka tidak semacam acara biasa dan perlu mengundang banyak para hadirin. Pernikahan yang diselenggarakan oleh mereka dan disaksikan oleh mereka sendiri, lebih tepatnya. Sungguh―di sini serba tiada terikat peraturan hingga hal di luar nalar lengkap di sini.
Mereka memiliki satu sama lain saja. Bergenggaman tangan tanda memulai kekacauan sekaligus kemungkinan akhir mereka. Kehangatan saling terjalin erat di tengah simbahan darah bukti nyata mereka amat saling mencintai. Tatapan mereka mengarah pada tempat yang masih makmur serta orang yang mendiami di bawah rumah nyaman. Kebebasan di sana bersifat semu, sayangnya, yang dilindungi oleh aturan pemerintah serapi mungkin.
“Mari kita mulai misi pertama dan terakhir kita.”
Demi yang tidak dapat bertahan hidup di kawasan ini. Tanpa merampas jiwa dan harta mereka, mereka tidak bisa bertahan sampai sekarang. Pembuktian itu harus mereka perjuangkan dengan merobek pula kawasan makmur itu.
DOR!
Suara timah panas memelesat tajam, berusaha mengenai seseorang. Namun, target lebih lincah dan telah menghindar dalam sekejap mata.
DOR!
Sekali lagi, suara tersebut terdengar. Para penduduk yang polos pun lari tunggang-langgang demi menyelamatkan diri. Berpencar satu sama lain dengan lainnya, menyisakan tanah lapang. Suasana dari toko demi toko yang semulanya cerah, kini suram. Tiada yang berani menyaksikan selanjutnya, kecuali yang ingin tiket kematian gratis.
DOR!
“DICE!” Seruan nyaris serempak suara letusan pistol, dan pemiliknya tiada lain adalah Riou. Seruan itu tidak biasa dari seorangnya yang terlampau tenang dan sabar. Ya, mana mungkin ia pengecualian jika belahan hati TERTEMBAK dalam upaya menyelamatinya.
Dunia milik mereka berdua seakan ambruk, seiring hatinya tertusuk. Biarpun tidak berdarah, rasa sakit itu tidak sebanding dengan penderitaan yang pernah mereka lalui.
Safirnya melotot pada badan Arisugawa yang terkulai lemas di pangkuannya (tentu saja, ia menangkap; tidak membiarkan raga itu jatuh terbanting ke tanah).
TIDAK. Safirnya membelalak terus, seakan tidak percaya akan apa yang terjadi. Alih-alih rela membiarkan orang dicintai mati, ia lebih menerima nasib mereka menjadi sepasang kriminal yang ditangkap―atau pilihan terburuk lain dari kehidupan tidak adil; harusnya ia yang tertembak.
Ruang lengah darinya itu dimanfaatkan polisi sekitar untuk mendekat di jarak yang tepat dan menutup jalan kabur. Satu persatu senjata dikerahkan, siap menembak kapan saja bilamana target pengusik keamanan bertindak semena-mena jauh daripada peringatan.
“Menyerahlah. Kau sudah terkepung.” Peringatan lewat mikrofon, sebelum denging kecil di ujung.
Tiada bedanya dengan situasi menyudutkan binatang buas. Perandaian itu justru bukanlah perandaian lagi―safir yang selalu memancarkan kehangatan, kini berubah total menjadi setajam pisau, setara dengan niat membunuh tanpa pandang bulu (setelah mengikat luka dengan kain demi menghambat pendarahan).
Satu? Tidak, tiga polisi sekaligus telah tumbang tanpa perlu menunggu lama begitu Riou menggerakkan sekujur badannya untuk melancarkan pukulan dan berlanjut tikaman.
“Sialan! Enyahlah kau, penjahat!” Baru saja ujung pistol menengadah, benda itu tidak lagi berada di dalam genggaman polisi pemarah. Pita suara sudah mati, begitu pula raga turut mati. Tiada lagi protes dan mata untuk melihat selanjutnya di dunia ini.
Siapa pun tidak ada yang mungkin bisa menghentikan mereka. Nyawa melayang terus bertambah. Yang pasti penyerangan tidak jauh dari Arisugawa, sekaligus membuat lingkaran demi melindungi Arisugawa. Namun, satu-satunya orang yang sanggup justru masih ada; tentu saja orangnya adalah belahan jiwanya.
“Ri―ou-san! Aku baik-baik saja!” Suara itu mengundang atensi empunya nama, bahkan menarik untuk mendekat di samping Arisugawa yang sedang rebahan.
“Kau tidak perlu memaksakan diri dan istirahatlah.”
“Riou-san―maksudku, Riou.”
“Ya, aku di sini, Dice.” Tangan besar Riou menyambut tangan lainnya dalam keeratan yang masih nyaman diandalkan.
Tidak selalu orang menggunakan nama kecil jika ikatan sangat erat. Cara memanggil nama dengan formal membuktikan kebiasaan mereka yang tidak pernah padam sejak mereka bertemu kali pertama. Kini, berbeda; mereka saling memanggil dengan nama kecil untuk mengingatkan bahwa mereka tidak pernah akan meninggalkan satu sama lain.
Biarpun jumlah polisi kian bertambah.
Biarpun mereka akan berada di dalam tahanan.
Yang penting, mereka tetap bersama; HIDUP.
