Actions

Work Header

Two Slow Dancers (Last Ones Out)

Summary:

Hidup itu selalu tentang tiga pilihan; Tentang melepaskan, menerima, dan merelakan. Mana yang akan kau pilih?

"𝘑𝘢𝘸𝘢𝘣𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩," 𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘯.

"𝘓𝘢𝘭𝘶? 𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢?"

"𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱."

 

An AU where you and Bokuto were ballroom dancers and you used to be his partner.

A Bokuto Koutarou x Reader

Haikyuu!! belongs to Haruichi Furudate
written in Bahasa

Chapter 1: How It Started

Summary:

Your first meeting.

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Udara malam yang dingin menyentuh kulitmu bersamaan dengan suara Akaashi yang membuatmu menghentikan langkah tepat di ambang pintu gym. Kau mengangkat alis, memutar badan sembari mengurai senyum kecil pada juniormu itu.

Kegiatan membersihkan gym bersama Bokuto dan Akaashi (walaupun pemuda berambut abu-abu-kehitaman itu kabur duluan) sudah selesai. Jadi untuk apa Akaashi mencegatmu?

"Bokuto-san-"

"Oi, namaku bukan Bokuto, tahu."

Akaashi menggeleng saat kau berjalan mendekatinya dengan pandangan bingung. Kau berkacak pinggang melihatnya sedang berusaha merangkai kata-kata.

"Bokuto-san pernah berkata bahwa dirinya bukan atlet voli di masa lalu. Bukan maksudku untuk lancang, tapi mungkin itu ada hubungannya dengan emosinya yang kadang berubah?"

Ah, iya juga. Remaja kelas satu SMA itu baru mengenal Bokuto, ya.

Kau tersenyum tipis, memberi gestur Akaashi untuk duduk di sebelahmu pada bangku cadangan. Akaashi masih berdiri di tempatnya dengan mulut yang terbungkam. 

"Kenapa kau bertanya padaku?"

Tubuh Akaashi berjengit sedikit, namun tetap terlihat tenang. "Senpai sepertinya orang yang paling dekat dengannya. Kurasa tidak ada salahnya untuk bertanya."

Jadi hubunganmu dengan Bokuto terlihat seperti itu toh di mata orang-orang. Kau menghela napas berat. Membagi masa lalumu-atau masa lalu Bokuto- pada orang lain akan menjadi hal tersulit yang pernah kau lakukan.

"Akaashi-kun, kau benar-benar mau tahu?"

Alis Akaashi terangkat. Kau menariknya untuk duduk di sebelahmu dan menepuk bahunya, bersiap untuk membawanya pada sebuah perjalanan kilas balik waktu melalui suaramu.

"Aku bisa menceritakan semua yang aku tahu, kalau kau mau."

Lelaki yang lebih muda darimu itu tidak mengeluarkan jawaban apapun, jadi kau menganggapnya sebagai tanda setuju.

Kau mengangkat tangan di depan wajah, merentangkan kelima jari lalu mengatupkan ketiga jari lain secara tiba-tiba, membentuk tanda V.

"Semua dimulai ketika aku- kami- duduk di kelas dua SD-"

 

(.)

 

Kendati udara musim dingin yang membekukan, tangan ibumu terasa hangat. Ibumu melepaskan genggamannya begitu kalian berdua memasuki sebuah bangunan yang asing, membiarkanmu menunggu di kursi panjang sementara wanita itu berbicara di meja resepsionis.

Kau menghempaskan pantat secara kasar ke kursi empuk berlapis kulit tersebut. Orangtuamu sudah pernah membahas ini sebelumnya; kursus dansa. Kalau harus mengikuti kursus dansa, berarti dirimu harus berbicara dengan orang asing. Kau tidak suka orang asing. Tidak pernah suka.

"Hei,"

Ibumu berjongkok di hadapanmu, tersenyum lembut. Seharusnya ibumu tidak tersenyum seperti itu. Kau jadi susah untuk menolak.

"Nanti akan ada banyak teman di sana. Lihat?"

Kau menemukan dirimu berjalan di antara seorang instruktur dansa dan ibumu. Cermin-cermin di ruangan berlantai kayu ini berhasil menangkap perhatianmu. Beberapa anak seumuranmu sedang berbaris, mengikuti gerakan yang dilakukan oleh instruktur dansa lainnya. Kau mengepalkan tangan erat-erat. Dalam hati kau berharap agar tidak perlu berinteraksi dengan mereka.

Setelah mengganti sepatumu dengan sepatu dansa standard, kau semakin gugup. Semuanya terasa asing. Orang-orang, ruangan, cahaya, cermin-cermin, lantai kayu, dan sepatumu. Tidak ada yang pas di benak.

Suara rengekan memecah pikiranmu menjadi beberapa kepingan kacau. Kau menoleh ke kiri, mendapati seorang bocah lelaki berambut aneh sedang menarik-narik baju instruktur dansa di sebelahmu.

"Aku tidak bisa menemukan sepatuku! Seseorang pasti menyembunyikannyaaa!"

Astaga.

"Kou-chan, tenang sedikit, ya? Sepatu yang mana?"

Mata keemasan bocah itu melirikmu sebentar, tetapi kembali tertuju pada instruktur wanita tersebut.

"Sepatu latinku- pasti ada yang mencoba menyembunyikannya. Ya kan, Hanae-san?"

Hanae-san berjongkok. "Kau yakin sudah mengecek tasmu? Atau jadwalmu?"

"Jadwal?" Rengekannya terhenti seketika, digantikan dengan ekskresi bingung.

"Kurasa sepatumu tertinggal di rumah. Kau tahu kenapa ibumu tidak memasukkan sepatu latin ke tas latihanmu?"

Mata bocah itu melebar. "Hari ini tidak ada kelas latin!" Ia tersenyum lebar, lalu tergelak karena kecerobohannya sendiri dalam mengingat sesuatu.

Tanpa kau sadari, ujung bibirmu terangkat sedikit. Sialnya, bocah itu menyadari sosokmu yang sedang tersenyum, dan malah mendekatimu.

"Namamu siapa? Sudah punya leader? Aku jago sekali kalau soal lead, tapi tidak ada yang mau menjadi partnerku. Hey, mau lihat back corteku?"

Si 'Kou-chan' itu mulai melakukan gerakan yang tidak kau mengerti. Kedua tangannya terangkat seperti sedang berpegangan pada sesuatu, kaki kanannya maju, tubuhnya condong ke depan dan agak dirotasikan dengan cepat. 

"Kou-chan, itu back corte perempuan, loh."

Ibumu terkekeh. Karena merasa kau sudah agak nyaman, ia memutuskan untuk meninggalkanmu dan duduk di kursi panjang yang tadi kau duduki.

"Aku tahu! Makanya aku menunjukkannya agar dia mau berdansa denganku. Kalau dia sudah mempelajari itu, aku akan melakukan bagianku."

Bocah lelaki itu menarik tanganmu menuju barisan anak-anak yang lain. Instruktur dansa tadi menyambutmu dengan ramah, menyuruhmu memperkenalkan diri di depan anak-anak yang seumuran denganmu.

Anak-anak laki-laki dan perempuan kemudian dipisah. Kau menatap 'Kou-chan' yang sedang berbicara pada anak laki-laki lainnya. Sadar bahwa kau sedari tadi menaruh perhatian padanya, bocah itu nyengir, menampakkan gigi-giginya yang belum rata dan melambaikan tangannya. 

Kau menelan ludah karena tidak tahu harus membalas dengan apa. Untungnya ada anak laki-laki yang mencolek lenganmu untuk mengajak berkenalan. Baru kali ini kau bersyukur karena ada yang mengajak berbicara. Anak laki-laki tadi memperkenalkan dirinya sebagai Kuroo Tetsurou. Kau tidak tahu mengapa Kuroo dengan percaya dirinya ikut bergerombol bersama anak-anak perempuan, tapi kau segera mengangkat bahu pada diri sendiri. 

"Tadi Bokuto mengajakmu berbicara ya?"

Bokuto? Kau mengerjapkan mata heran. Kuroo menunjuk anak laki-laki yang tadi terang-terangan mengajakmu bergabung ke barisan.

"Tidak pernah ada yang mau berdansa dengan Bokuto. Bokuto selalu mengajak anak baru berdansa secara tiba-tiba-dengan cara yang berbeda-beda. Sepertinya banyak yang trauma."

"Dia anak yang jahat?"

Kuroo menggeleng. "Tidak. Tapi tidak ada yang bertahan lama dengannya, dan tidak ada yang tahu kenapa."

Kau tidak ambil pusing. Toh, kau juga tidak berpikir akan mendapatkan leader. Ah, tetapi biarkan dirimu menyangkal begitu film-film Disney kembali berkelana di kepalamu. Tiba-tiba, kau juga ingin mendapat leader dan berdansa seperti dalam film-film itu. 

"Kuroo-kun sendiri pernah berdansa dengannya?"

Kuroo tertawa lepas. Ia meminta maaf pada anak perempuan di dekatnya karena tidak sengaja menyenggolnya saat sedang tertawa. Mengatur napasnya, bocah berambut jabrik itu menggeleng.

"Tidak. Belum pernah. Bokuto pernah mengeluh pusing padaku setelah berdansa Viennese Waltz dengan salah satu anak perempuan, dan anak itu jadi merasa bersalah. Dia tidak mau berdansa dengan Bokuto lagi."

Kau mengerjapkan mata bingung pada kata Viennese Waltz. Tetapi karena tidak ingin memotong pembicaraan, kau membiarkan Kuroo bicara lagi. Kau bisa bertanya pada orangtuamu nanti soal itu.

"Maksudku, itu kelas Viennese Waltz pertama kita. Ada gerakan berputar-putar yang cepaaaat sekali sampai kau merasa pusing. Wajar saja kalau Bokuto mengeluh, kan?"

Bocah lelaki di depanmu itu membuat gerakan berputar, tidak memedulikan beberapa anak yang tertawa padanya. Ia terengah-engah begitu selesai. Matanya tertuju pada Bokuto dan anak-anak laki-laki lainnya, menandakan bahwa ia akan segera pergi dari kerumunan anak perempuan, dan kembali ke dekat temannya itu.

"Makanya, setiap latihan berpasangan, Bokuto selalu melakukan shadowing. Dia selalu berdansa sendiri."

Kuroo tersenyum, melambaikan tangannya padamu sebelum bergabung dengan anak laki-laki lainnya. 

Sosok Bokuto di kejauhan tidak sengaja bersitatap denganmu. Ia kembali tersenyum. Saat itu, entah kenapa rasanya- kau ingin mempelajari lebih banyak tentang Bokuto.

 

(.)

 

Notes:

Haiii allll

I wrote this back in 2020 and I was IN LOVEEE with ballroom dance 😞😞 I decided to publish this on ao3 BUT I already published this on wp too w a diff title, pls CMIIW tentang apapun di fic ini yang kerasa off, id love any saran dan kritik 🤗