Work Text:
Langit mulai menggelap, seorang lelaki dengan perawakan kurus tinggi berjalan santai menyusuri sungai kecil sepanjang jalan setapak menuju rumahnya. Rumah sederhana dengan pagar kayu sebatas pinggang orang dewasa itu mulai terlihat keberadaannya, Dean tersenyum, ada lelaki manis berambut sebahu menyambutnya di teras.
Sejak pukul delapan belas lewat delapan menit, Hana duduk bersantai di teras rumahnya sembari menunggu kedatangan sang suami. Rambut panjang tergerai dengan kacamata bertengger manis di hidung mancung, Hana menundukkan kepalanya membaca setiap kata yang tersusun di novel yang baru-baru ini ia beli. Novel yang sudah lama menjadi wish list-nya itu akhirnya berhasil ia genggam setelah Dean—suaminya membelikan sebagai salah satu hadiah Anniversary yang pertama.
"Hana!"
Senyum manis terukir ketika suara yang ia rindukan seharian ini memasuki gendang telinga, netra membulat pancarkan kebahagiaan serta bibir yang terbuka membentuk kurva manis; tampilkan deretan gigi rapi Hana yang terawat.
Perlahan Dean memasuki pekarangan rumah setelah mengunci kembali pagar kayu yang telah dilewati. Ia rentangkan kedua tangan, memberi gesture untuk Hana masuk ke pelukan. Hana bangkit dari duduknya dan berlari kecil ke arah Dean, meninggalkan novel tergeletak bersama teh melati di meja kayu kecil khas zaman dulu.
Rumah sederhana dengan konsep minimalis yang mereka tempati ini sudah dimiliki Dean bahkan sebelum menikahi Hana. Dean memiliki prinsip, bahwa ia harus bisa memenuhi segala kebutuhan pasangannya. Hana senang kesederhanaan, sebab, hidup bergelimang harta pun tidak menjamin kebahagiaan. Hidup apa adanya bersama Dean adalah kebahagiaan paling sempurna bagi Hana, begitupun Dean, memiliki lelak secantik Hana untuk menemani hari-harinya adalah anugerah Tuhan yang paling ia syukuri.
"Mau makan apa malam ini?" Hana berjalan menuju kulkas di sudut ruangan, ia buka dan melihat-lihat isinya, "kita punya ayam potong, tempe, tahu, telur juga ada. Hmm.. atau mau nuget ayam? Pagi tadi kamu bilang pengen nuget kan?"
Dean yang baru keluar kamar mandi menghampiri Hana yang masih berdiri di depan kulkas, "iya, nuget ayam aja. Tapi pingin ayam goreng juga, sekalian bikin ayam goreng tepung, ya, hehe."
Hana mendengus kecil, merasa lucu dengan suaminya yang malah memeluknya setelah mengucapkan permintaan untuk makan malam. Dengan rambut yang masih meneteskan air, Dean eratkan genggamannya pada pinggang ramping Hana, "lepas dulu, Deaaan, dingin kalo berdiri depan kulkas begini," Hana mendorong kecil badan besar Dean hingga pelukan itu terlepas, menyisakan kekehan kecil Dean dan dengusan sebal Hana.
"Oke! Kalo begitu kamu goreng nugetnya, terus aku motongin ayam kecil-kecil dulu, biar gampang dimakan nanti. Okaay?" Hana memberi gesture jempol ke arah Dean yang baru mengeluarkan bungkusan nuget dari lemari pendingin.
"Okay, siap, bos!" Dean balas dengan gesture siap layaknya prajurit mematuhi perintah komandannya. Hana lepaskan tawa sedikit nyaring, "kakak gak pernah berubah, ya, selalu lucu."
Dean tatap lembut wajah Hana, "udah lama loh kamu engga manggil aku pake sebutan "kakak" lagi, aku jadi keinget pas pacaran dulu."
Dean ingat segala hal yang terjadi bersama Hana, entah itu hal menyenangkan maupun sebaliknya. Hana berikan banyak warna dalam hidup Dean, sebab Hana selalu punya cara untuk letakkan kisah baru di antara mereka. Mengukir kenangan bersama sedari pertemuan yang tidak disengaja, dan semoga kenangan ini terus terukir bahkan hingga mereka mulai melupakan masa muda.
Lama Dean larut dalam pikirannya sendiri, sampai Hana goyangkan lengannya barulah Dean kembali ke dunia nyata. “Dean? Halo? Kamu ngelamunin apa, hei, kok diem?” Hana bingung, tiba-tiba saja Dean melamun di tengah obrolan mereka.
“Eh, gapapa, hehe. Keinget dulu kamu nangis engga aku beliin es krim. Lucu deh, Han.”
“Ih, engga, ya! Itu aku kelilipan aja! Lagian kamu juga lagi pilek waktu itu, kalo aku makan es krim pasti kamu ikut juga,” Hana membela diri, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa Hana sedikit sedih karena tidak bisa menikmati es krim kesukaannya.
“Ah, masa iyaa?”
“Iya! Bener kok begitu.”
“Ahaha, iyaa deh iyaa. Anggep aja begitu, ya.”
“Ish, kamu mah.”
Dapur itu diisi gelak tawa Dean serta cebikan sebal dari Hana. Dean peluk perut Hana dari belakang, sedangkan empunya hanya fokus memotong daging ayam, berusaha hilangkan eksistensi suami menyebalkannya itu.
Merasa beban di bahunya semakin berat, Hana tolehkan kepalanya dan mendapati Dean yang istirahatkan dagu di bahu Hana. Hana memoles senyum, lalu curi beberapa kecupan di pipi tirus Dean.
*cup*
“Kamu gemes banget…”
*cup*
“...kayak anak anjing umur 2 bulan.”
*cup*
“Please, begini terus.”
*cup*
“Aku sayang kamu, kak Dean.”
Dengan mata terpejam, Dean sunggingkan senyum lebar tanda puas. Lalu ia buka matanya sembari melepas pelukan dan memutar badan Hana ke arahnya, ia pandangi lekat-lekat netra kelam di balik kacamata tebal itu. Mata itu seperti memuat seluruh alam semesta di dalamnya, dan Dean akan selalu tenggelam seperti ada gravitasi yang menariknya hingga palung terdalam.
Hana mundurkan badannya seiring Dean bergerak mendekat, seperti sengaja menempelkan badan keduanya hingga tak ada jarak. Tangan kiri Dean memegangi pinggang pinggang ramping Hana, sementara tangan kanannya meraih tengkuk Hana. Perlahan Hana terbuai akan sentuhan Dean, sampai ia mengernyit sebab aroma tidak sedap memasuki indra penciumannya, memecah fokus dan suasana yang tercipta.
“KAK, NUGETNYA GOSONG.”
Pekikan Hana tentu mengejutkan Dean, bergegas ia matikan kompor dan meniriskan semua nuget yang berada di wajan. Perlahan ia balikkan badan ke arah Hana dan tertawa, “yah, gosong nih, Han. Saking fokusnya ke kamu, aku jadi lupa kalo lagi goreng nuget tadi.”
“Kamu sih, lagian ngapain peluk-peluk aku gitu, lagi masak juga. Kan sayang kalo kebuang. Yaudah sekarang fokus masak dulu, kamu jangan deket-deket aku, ya!” omel Hana yang ditanggapi dengan kekecewaan oleh Dean.
“Masa harus jaga jarak sih, Han, kan aku ga bisa jauh dari kamu.”
Hana memutar bola matanya, “Dean lebay.”
“Nah, sudah selesai!” Ucap Hana ketika meletakkan piring sajian terakhir di meja ruang tengah. Mereka berencana untuk makan sambil menonton film di televisi namun, baik Hana ataupun Dean masih belum menentukan film apa yang ingin mereka tonton. Nyatanya, mereka hanya ingin menikmati waktu bersama.
Dean menepuk ruang kosong di sampingnya, memberi isyarat agar Hana duduk di tempat itu, “mau nonton apa?” Hana bertanya, yang langsung diberi gelengan oleh Dean.
“Frozen mau? Eh engga deh, nanti suamiku yang cengeng ini nangis liat Anna membeku,” canda Dean yang langsung dihadiahi tepukan keras di dada oleh Hana. Dean hanya menanggapi hal itu dengan tawa, karena di matanya, Hana selalu lucu.
“Apa sih kamu?! Nyebelin banget deh. Aku ga secengeng itu, ya!” Alis tebal itu menukik, menandakan empunya kelewat sebal dengan perkataan lawan bicaranya.
“Ahaha, iyaa sayang iyaa, cantikku ga secengeng itu. Cengengnya dikit aja, ya,” tangan kirinya ia bawa untuk mencubit pipi tembam Hana.
Pipi yang dulunya cukup kurus itu sekarang sudah mulai memperlihatkan eksistensinya. Berat badan sedikit bertambah setelah menikah. Orang-orang bilang itu menandakan sebuah pernikahan yang bahagia, namun bagi Hana, hal itu bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Ia menjadi sedikit tidak percaya diri ketika mematut diri di depan cermin.
Tapi, Dean akan selalu ada di sampingnya untuk mengatakan bahwa Hana itu sempurna. Semua dalam diri Hana adalah kesempurnaan, bukti dari kesederhanaan.
Kembali pada keadaan dua insan yang semakin terhapus jaraknya, Dean terlihat seperti berusaha menindih Hana. Hana yang badannya sudah setengah telentang pada sofa dengan kaki yang masih menjuntai, menciptakan pose tidak nyaman yang mungkin sebentar lagi akan terasa sakit, dan Dean yang semakin merapatkan diri pada Hana.
“Hana, aku udah nahan diri dari tadi. Sekarang, boleh ga aku cium kamu?” tatapan mata Dean terasa tajam, ada banyak napsu bergumul di dalamnya. Hana paham, pun ia tidak menolak Dean untuk melakukan apapun yang lelaki itu mau.
“Do it as you want, I’m yours tonight.”
