Work Text:
Ketika brokoli kepentok cinta
Banyak yang bilang, dunia kuliah adalah ajang mencari belahan jiwa. Bagi Midoriya, hal itu tidak berlaku untuknya. Dia sadar diri mukanya biasa-biasa saja. Penampilannya biasa-biasa saja. Satu-satunya kelebihan yang diakui dan sering membuat iri seluruh penghuni Prodi Kriminologi hanyalah analisis tajam otaknya. Itu pun tidak bisa dijadikan modal untuk membobol hati anak manusia. Membobol bank sih lain ceritanya.
Midoriya pasrah. Jangankan belahan jiwa, jadi teman biasa saja susah. Pamornya di kampus juga tak membantu sama sekali. Satu tapak kaki, namanya dibisikkan ngeri dari ujung koridor. Hanya karena otaknya ini mampu memecahkan kasus beku yang penyelidikannya sudah ditutup selama beberapa tahun silam. Seolah dari fakta itu terbentuk kesepakatan bersama, tak boleh mengusik Midoriya kalau kau masih sayang nyawa.
Padahal, membunuh nyamuk saja Midoriya masih sering bercucuran air mata.
Tak ada kesempatan mampirnya bunga-bunga bermekaran, Midoriya optimis dia akan jadi perjaka tua.
Jadi, jangan salahkan Midoriya kalau otaknya mendadak konslet. Dia sedang menelusuri koleksi ensiklopedia yang tersedia di perpustakaan pusat milik universitas saat seseorang menghampirinya dengan senyum tipis menggetarkan jiwa.
Aih, ganteng, Kesan pertamanya.
Sebelum kepala Midoriya memikirkan hal yang lebih nista, bibir seksi sosok itu terbuka. "Kau mau menikah denganku tidak?" tanyanya kalem.
Ensiklopedia tebal yang baru Midoriya tarik dari rak di atas kepala terlepas, sukses menimpuk kepalanya.
Setelah konslet otaknya selesai, Midoriya tersenyum sopan. Ia memungut buku ensiklopedia yang jatuh, lalu segera hengkang dari sana.
Instingnya mengatakan, keperjakaannya dalam bahaya.
.
.
.
Curhat
"Kenapa tidak diterima saja?"
Midoriya menganga. Dia tahu mengharapkan Bakugou menjadi sahabat normal itu merupakan suatu kesalahan. Tetapi, haruskah dia menanggapi curhatan Midoriya seperti ini? Pengkhianat!
"Kacchan! Kau menyuruhku menerima lamaran orang yang bahkan tak kukenal? Kau sudah gila!"
"Yah, daripada jadi perjaka tua? Memang ada lagi yang mau denganmu?"
Nyut. Tepat menusuk kokoro, yang satu itu.
Midoriya menggeram rendah. Dia meraih gulingnya untuk digunakan sebagai senjata menabok muka ngeselin teman satu kamar asrama sekaligus sahabatnya dari kecil. Protesan Bakugou atas KDRT, alias Kekerasan Dalam Ruang Tidur, Midoriya tanggapi dengan tabokan nomor dua.
"BANGSAT! KAU MAU BERKELAHI HAH?"
Dalam waktu singkat, keduanya bergulat di lantai asrama.
"Sudah untung kutanggapi curhatanmu, Bedebah!"
"Gak gitu juga dong! Kau tidak berpikir? Bagaimana kalau orang itu penjahat kelamin! Atau lebih parah bandar penjual manusia! Kemungkinan yang paling tidak buruk … aku cuma kepikiran orang itu cari tumbal agar bisa terlepas dari perjodohan! Aku tidak mau terikat kawin kontrak meski diberi sepuluh lamborghini sekalipun!"
Bakugou terdiam. Ekspresi wajahnya datar, tapi tatapan matanya cukup membuat Midoriya merasa tersinggung lahir batin.
"Apa?" sungut Midoriya.
Bakugou mengusap wajahnya.
"Kau kebanyakan nonton drama, Bego."
Midoriya merasakan wajahnya memanas. Dia menggerutu, "Said orang yang biasa menanyakan rekomendasi drama terbaru."
Bakugou menjitak kepala Midoriya, wajahnya juga memerah. "Shut up!"
Keduanya terdiam sejenak, saling memunggungi.
"Kau sudah lapor Bibi Inko?" Bakugou memulai lagi.
"Kau gila? Ibuku bisa jantungan kalau tahu anaknya dilamar orang asing! Dia bisa panik tidak jelas dan berusaha mencari cara agar bisa menghubungi Badan Intelejen Negara! Tentu saja tidak kuberi tahu!"
Bakugou manggut. "Baguslah. Kalau begitu biar aku saja yang memberitahunya."
"KACCHAN! GELUD LAGI AYOK!"
.
.
.
Poster
"Ini orang yang melamarmu tempo hari, Deku?"
Midoriya menganga melihat layar ponsel Bakugou. Ya, tidak salah lagi! Midoriya tidak mungkin salah mengenali sosok gan—ahem—lancang yang tidak ada hujan tidak ada gunung meletus tiba-tiba melamarnya di perpustakaan itu.
"Dari mana kau dapat fotonya, Kacchan?"
"Aku kenal si Bedebah ini. Namanya Todoroki Shouto, Wakil Ketua BEM Fakultas Teknik. Anak Teknik Lingkungan." Bakugou cengengesan, seolah sedang menikmati lelucon tersembunyi yang Midoriya tidak ketahui. "Kau tak perlu khawatir, dia bukan penjahat kelamin."
Midoriya mengernyit. Bakugou baru saja memberikan selembar kertas—poster?—padanya.
Wajah Midoriya terbakar saat selesai membaca isinya.
DICARI UNTUK DINIKAHI!
Bruh. Nani sore?!
"Sekali lagi, dia bukan penjahat kelamin." Bakugou bersiul. "Dia cuma bucin."
Midoriya meremas-remas poster itu menjadi bola kertas, lalu melemparnya ke kepala Bakugou.
"Bucin macam apa itu! Dia tahu namaku saja tidak!"
"Bucin Plus Ultra."
"Jangan menggunakan slogan kampus sembarangan!"
"Ada nomornya tuh. Tak akan kau simpan?"
"Gak butuh!"
"Selamat ya, akhirnya ada manusia yang cukup goblok untuk naksir padamu."
Jari tengah unjuk diri mewakili kekesalan hati. Bakugou membalasnya dua kali lipat, walau wajahnya sama sekali tidak menunjukkan sedikit pun kekesalan.
Malah sebaliknya.
Bakugou menjentikkan jari, seolah teringat sesuatu. "Btw, dia sebar itu di Taman Musik."
Midoriya menangis dalam hati. Jirou pasti akan menggodanya habis-habisan.
.
.
.
Lamaran bagian 2
Midoriya memeluk boneka kelinci miliknya, menjadikan benda lembut itu sebagai tumpuan dagu. Matanya tertuju pada layar laptop, tepatnya lembar presentasi kelas terakhir. Penjelasan tentang suatu kasus pembunuhan massal menggunakan racun yang pernah terjadi di negara X.
Ia mengernyit. Ada yang ganjal di sini. Seharusnya-
"Oi, Deku!"
Midoriya tersentak. Sampai mana dia tadi?
Argh! Sudah berapa kali Midoriya ingatkan agar Bakugou tidak mengagetkannya kalau sedang belajar?
Midoriya melempar pelototan tajam. Hanya bertahan sejenak, digantikan kebingungan saat sadar ada sosok lain yang mengekori si pirang.
Oh, sial. Itu Todoroki Shouto.
Todoroki Shouto, pria yang saking lugunya sampai tidak punya rasa malu dan mengajukan lamaran ketika mereka bertemu.
Todoroki Shouto, yang mengiranya pembunuh gara-gara mendengarnya menganalisa teknik pembunuhan suatu kasus. Teknik yang refleks ia bongkar dan ia bangun lagi dengan versi lebih sempurna. Hal yang biasa ia lakukan untuk menghabiskan waktu jeda antarkelas yang agak panjang. Penyebab pasti kenapa ia ditakuti oleh anak-anak Prodi Kriminologi.
"Jadi, kau bukan pembunuh?" Todoroki bertanya.
Dia sedikit bimbang. Ingin rasanya membiarkan Todoroki tetap menganggapnya pembunuh agar dia tetap menjauh. Tetapi ekspresinya saat ini seperti anak anjing yang dibuang. Midoriya jadi kasihan.
"Uh. Hai. Aku Midoriya Izuku, teman Bakugou. Kita satu tingkat. Aku ambil Prodi Kriminologi, terakhir kali cek belum pernah membunuh orang."
"Oh." Midoriya bisa melihat pengertian tercermin di mata Todoroki. Perlahan, ekspresinya berubah. Minor, tapi cukup jelas di mata seseorang yang tajam pengamatan seperti Midoriya.
Di mana Midoriya menyimpan kacamata hitamnya? Saat ini Todoroki terlalu menyilaukan.
"Menikahlah denganku."
Midoriya menganga. Really, Todoroki?
Headshot dilakukan pakai bantal. Midoriya gelagapan, "K-kau tidak bisa seenaknya melamar orang yang bahkan belum kau kenal!"
Todoroki memiringkan kepalanya. "Jadi kalau sudah kenal, kau mau menikah denganku?"
Kokoro Midoriya jumpalitan. Lawan bicaranya jadi terlihat imut. Ini tidak adil! Ini ilegal! Seharusnya ganteng dan lucu tidak bisa disandingkan secara bersamaan!
Dan lagi, hey! Ada apa dengan isi kepala anak ini? Siapa yang mengajarinya PDKT seperti ini? Aku mau minta pertanggungjawaban!
"Dah, terima aja sana! Tipemu, 'kan? Tampang oke, kalem, pintar." Bakugou tertawa.
Midoriya tersenyum puas saat sang pengkhianat merintih di lantai setelah ia tabok pakai guling. Makan itu! Siapa suruh jadi pengkhianat! Ha!
Kembali lagi pada musibah berwujud ganteng yang mengganggu waktu belajarnya.
"Pernikahan itu hal yang sakral, Todoroki. Kau tidak boleh gegabah! Tidak sesederhana itu!"
Kokoro Midoriya jumpalitan ronde kedua. Wajah Todoroki saat ini terlihat kebingungan. Bagaimana dia bisa membuat tampangnya lucu sekaligus tabok-able, Midoriya tidak mengerti.
Mungkin ini Midoriya saja yang terlalu lama tinggal satu atap bersama Bakugou sampai-sampai tertular sisi senggol-bacok yang bersangkutan.
"Tapi aku sudah memikirkannya. Aku serius ingin menikah denganmu. Kalau kau belum siap, pacaran dulu saja tidak apa-apa kok."
Midoriya mangap.
Kamera ada di sebelah mana, ya?
.
.
.
Pacar sinting
Midoriya berubah jadi Izuku. Todoroki berubah jadi Shouto.
Penghuni Prodi Kriminologi geger. Ada manusia yang cukup nekat duduk bersama "Midoriya" yang itu setiap jadwal makan siang. Awalnya mereka mengkhawatirkan nasib sang calon wakil ketua BEM Universitas. Banyak yang mencoba memperingati Shouto agar berhati-hati dan selalu memerhatikan lingkungan sekitar, siapa tahu ada keganjilan.
Setelah menguping obrolan kreatif nan inovatif keduanya, semua mundur teratur. Persetan soal nyawa Todoroki Shouto!
"Kalau jepit jemuran? Menurutmu bisa dipakai untuk senjata membunuh?"
"Tentu saja, Shouto! Contohnya, dengan jepit jemuran, kau bisa-"
Butuh waktu dua bulan repetisi topik yang serupa sampai Izuku sadar kalau Shouto sengaja memperparah pamornya di mata anak-anak Kriminologi.
Jujur saja, Izuku tidak tahu harus menanggapi apa atas keposesifan tersembunyi dari kekasihnya yang terkenal lugu itu.
Penghuni Fakultas Teknik sebagai saksi sekaligus paparazi perkembangan hubungan keduanya, hanya bisa menelan rasa malu melihat kelakuan maskot fakultas mereka.
Bucinnya, Raden Mas Shouto, tolong dikondisikan.
.
.
.
Pacar sinting (2)
"Shouto—" Izuku menghela napas, mengurut pelipisnya. Ia menuding Shouto dengan tatapan menghakimi. "—apa yang kau lakukan?"
"Err ... " Shouto menggaruk pipi. Izuku menolak luluh atas gerak-geriknya yang lugu.
"Shouto."
"Aku membelikanmu hadiah?" Shouto cengengesan tanpa dosa.
Izuku tak gentar. Ia terus mendesak, "Brokoli?"
Shouto mengangkat bahu. "Kaminari bilang, hadiah yang paling spesial itu yang membuatmu mengingat pasangan saat melihatnya. Aku teringat kau saat melihat brokoli. Jadinya kubeli."
Izuku memicingkan mata. "Harus sekarung besar?"
"Ah, ya, itu," Shouto meringis. "Harganya murah sekali? Tanggung, jadinya kubeli sekarung?"
Susah emang ngomong sama anak sultan, Izuku membatin lelah.
Kapan tuh Izuku minta tolong belikan kertas folio untuk tugas. Butuhnya lima lembar, yang dibawakan lima rim.
"Sudah berapa kali kubilang kalau beli sesuatu secukupnya saja? Sekarang kau ikut aku bagikan ini ke warga yang membutuhkan!"
Izuku menggelengkan kepalanya heran. Siapa coba yang merayakan anniversary dengan cara membagikan brokoli ke warga sekitar kampus?
.
.
.
Sidak
Pertama kali bertemu secara langsung, Mama Inko tak basa-basi langsung bertanya, "Kenapa Nak Shouto mau sama Izuku?"
Shouto menatap Izuku, ekspresi wajahnya melembut. Lima menit yang terasa seperti lima abad dilalui Izuku sambil menahan salting dan rasa malu. Shouto sama sekali tak mengalihkan pandangan darinya selama kurun waktu yang disebutkan.
Tiba-tiba, Mama Inko terisak memeluk Shouto.
"Iya, Shouto. Mama restui. Kau boleh memelihara Izuku."
Izuku menganga. Mereka ini habis telepati atau apa? Shouto tidak mengatakan apa-apa! Dan lagi-
"Ma! Izuku bukan binatang peliharaan!"
.
Lain lagi dengan Papa Enji. Awalnya Izuku gugup melihat tampang sangar mantan perwira pangkat tinggi itu. Bekas luka horizontal di mata kirinya menambah kesan seram yang bersangkutan. Tetapi, begitu Papa Enji menanyakan soal kuliah Izuku, entah bagaimana mereka terjun begitu saja ke dalam diskusi seru soal berbagai macam kasus dan hukum-hukum yang mengikatnya.
Bunda Rei datang menyusul bersama cemilan yang masih hangat. Habis pulang arisan dari tetangga sebelah, katanya. Olehnya, Izuku ditarik ke dalam diskusi soal drama terbaru.
Saat Izuku iseng bertanya bagaimana Shouto pertama kali bercerita tentangnya, Bunda Rei cekikikan seperti orang kerasukan.
"Shouto langsung cerita selepas pertemuan kalian di perpustakaan itulho. Dia langsung melamarmu meski belum tahu nama. Anak Bunda romantis sekali, 'kan?"
"Anak siapa dulu dong," sombong Papa Enji.
Izuku gagal paham romantisnya dari segi apa.
Setidaknya ia tahu dari mana asalnya ajaran PDKT spektakuler yang Shouto dapatkan.
.
.
.
Kalau kalian tanya apa Izuku menyesal karena telah luluh pada pesona seorang Todoroki Shouto dengan segala … kesintingan yang menyertainya, Izuku tidak akan menjawab.
Menyesal pun percuma. Sudah kepalang ikutan bucin.
