Work Text:
Pukul 07.30 pagi.
Zayne mematikan alarm ponselnya dengan gerakan pelan. Tubuhnya masih setengah terbenam dalam selimut hangat, tapi ia tahu ia harus bangun. Sedikit sulit bergerak, karena lengan kekar milik Sylus masih melingkar erat di pinggangnya—seolah menahannya agar tetap di tempat.
Hari ini, 18 April. Tanggal yang penting. Hari besar untuk pria yang kini tertidur lelap di sampingnya.
Zayne menarik napas perlahan, kemudian menggerakkan tubuhnya hati-hati, berusaha melepaskan diri dari pelukan Sylus. Sayangnya, pergerakannya membuat Sylus mengerang pelan, hampir terbangun.
Sejak kehadiran Eloise, putri kecil mereka, Sylus jadi... sensitif. Setiap kali Zayne meninggalkan ranjang terlalu pagi, suaminya itu akan merengek seperti anak kecil. Entah kenapa, tempat tidur yang kosong di sebelahnya seolah jadi alarm pribadi bagi Sylus.
Zayne terkekeh dalam hati. Sekarang rasanya ia mengurus tiga anak: satu Eloise, satu Xavier, dan satu lagi... suaminya sendiri.
Dengan kaki telanjang, Zayne menyentuh dinginnya lantai marmer. Baru beberapa detik menapak, suara erangan pelan terdengar. Sylus membuka mata—sepasang merah menyala yang sayu karena kantuk—lalu berkedip melihat Zayne yang kini sudah berdiri.
Pemimpin Onychinus yang terkenal dingin dan berbahaya itu... sekarang merengek karena ditinggal di tempat tidur.
“Sayang...” gumam Sylus dengan suara serak pagi hari. “Sini. Kenapa sudah bangun?”
Zayne meringis, lalu membungkuk sedikit dan mengecup pipi suaminya. “Eloise bangun.”
Bohong, tentu saja. Tapi kalau tidak begitu, Sylus tidak akan membiarkannya lepas begitu saja dari pelukan.
Sylus menghela napas panjang, lalu bergumam, “Suruh Xavier aja yang urus.”
Zayne tersenyum kecil. “Nggak bisa. Eloise nanti malah nyusahin Xavi. Kasihan dia, semalam begadang nyusun skripsi.”
Mata merah Sylus terbuka lebih lebar, lalu menatap lurus ke mata hijau kemiri milik Zayne—mata yang sudah jadi rumahnya sejak dulu.
“Kalau gitu... mas aja yang urus adek,” ucapnya, tulus tapi mengandung jebakan batman.
Zayne nyaris tertangkap basah. Ia tahu betul—anak mereka masih terlelap di kamarnya. Jadi, dengan sigap dan cerdik, Zayne menepuk-nepuk perut berotot suaminya dengan santai.
“Enggak bisa. Hari ini gantian, mas yang dimanjain.”
Alis perak Sylus langsung naik, seperti baru mendengar sesuatu yang sangat menarik. “Oh?”
“Yup,” jawab Zayne sambil tersenyum manis. “Apa mas lupa ini hari apa?”
Sylus mengerutkan kening. Otaknya langsung bekerja cepat, memindai berbagai tanggal penting. Hari ini... apakah hari saat mereka pertama kali foto berdua? Pertama kali ciuman? Hari jadian? Atau hari pertama mereka...
“Ini hari ulang tahun kamu,” potong Zayne, sedikit jengah dengan ekspresi Sylus yang tampak berpikir terlalu jauh.
Ia mengembuskan napas dan menyandarkan dagunya ke bantal, menahan senyum geli yang menggelitik dadanya.
“ Happy birthday, Husband .”
Oh
Sylus terpaku.
Menatap wajah itu—wajah yang hanya berjarak beberapa inci dari dirinya. Wajah yang setiap paginya ingin ia lihat pertama kali saat membuka mata, dan terakhir sebelum menutupnya di malam hari.
Senyum perlahan terbit di bibirnya. Perasaan hangat menyebar dari dada hingga ujung jemari. Tangannya terangkat, menangkup wajah lembut yang selama ini selalu ada di sisinya.
Empat tahun.
Sudah empat tahun ia bersama Zayne—dari masa-masa jatuh cinta yang kikuk, pernikahan penuh haru, hingga akhirnya dikaruniai seorang anak. Semua itu terasa seperti mimpi yang indah dan nyata.
“Terima kasih, sayangnya Mas,” bisiknya tulus.
Ia mengecup bibir manis yang kini tak pernah gagal membuatnya ketagihan. Candu paling berbahaya dalam hidupnya.
Kadang, Sylus masih tak percaya ia bisa memiliki semua ini. Cinta. Rumah. Keluarga. Dulu ia mengira, semua itu hanya milik orang-orang beruntung. Bukan dirinya.
Kenangan menyelinap masuk—kenangan dari masa lalu yang tak pernah benar-benar hilang.
Usianya tujuh belas tahun ketika dunia merenggut orang tuanya. Hanya tersisa dirinya dan Xavier—adik kecilnya yang saat itu baru berumur sembilan tahun.
Sejak saat itu, Sylus belajar hidup dari nol. Ia jatuh, terluka, bangkit lagi, lalu jatuh lebih dalam. Tapi ia tak pernah benar-benar menyerah. Ia bekerja siang dan malam, melakukan pekerjaan apapun yang bisa menghasilkan uang, hanya demi satu hal: memastikan Xavier bisa makan, bisa sekolah, dan bisa tetap tersenyum.
Keluarga mereka dulu hidup berkecukupan. Tapi baginya, harta warisan bukan jawaban. Sylus tahu, jika hanya bergantung pada uang yang tak seberapa, mereka tidak akan bisa bertahan lama.
Tahun-tahun berlalu dalam perjuangan yang panjang dan melelahkan. Tapi akhirnya, kerja kerasnya terbayar. Ia berdiri di atas kakinya sendiri, kuat, berpengaruh, tak tergoyahkan.
Lalu—di tengah dunia yang dingin dan serba hitam-putih itu, Zayne datang.
Dan sejak hari itu, warna-warna perlahan memenuhi hidupnya. Biru tenang, hijau hangat, jingga lembut—semua menyatu dan menciptakan rumah dalam dirinya.
Sylus, yang dulu hanya hidup demi stabilitas keuangan dan ketercukupan, pernah melupakan banyak hal—termasuk adiknya sendiri dalam beberapa momen sulit. Dalam kejaran waktu dan tuntutan hidup, ia lupa bahwa rumah bukan hanya tentang atap dan makan cukup, tapi tentang orang-orang yang mencintai dan menunggunya pulang.
Kini, ia menemukan rumah itu.
Ada Zayne. Ada Xavier. Dan ada Eloise—putri kecil mereka yang baru berusia satu tahun.
Sylus bukan orang yang percaya pada Tuhan. Ia tak punya agama, tak punya langit tempat bersandar. Tapi pagi ini, dalam diam, ia ingin berterima kasih. Kepada siapapun—Tuhan manapun yang mungkin ada—karena telah memberinya hadiah paling berharga: keluarga kecil yang tak pernah ia bayangkan bisa ia miliki.
Ia mengecup wajah Zayne, berkali-kali, seakan ingin memastikan sosok ini nyata. Dahi, pipi, ujung hidung, rahang, dan bibirnya lagi. Malaikat hidupnya. Rumahnya.
Zayne tertawa pelan, lalu menempelkan telapak tangan ke dada suaminya dan mendorongnya sedikit menjauh. “Udah, ah. Mending kamu siap-siap.”
Sylus mengerjap, masih mabuk kebahagiaan. “Kita mau ke mana, sayang?”
Zayne, yang sudah melangkah melewati ambang pintu, menoleh sebentar. Senyumnya menggoda. “Aku udah siapin kejutan. Kita rayain ulang tahunmu... di taman belakang.”
Lalu ia pergi. Mungkin menuju kamar bayi, tempat Eloise tidur. Tapi langkahnya belum jauh, ketika kepalanya kembali melongok dari balik pintu.
“Oh iya. Pakai kemeja yang aku siapin ya, ada di gantungan.”
Sylus hanya bisa mengedip, tertegun. Ia benar-benar tak tahu kapan Zayne menyiapkan semua ini. Tapi ia tahu satu hal: apapun yang istrinya siapkan, pasti istimewa. Senyum perlahan merekah di wajah tampannya.
Di sisi lain, Zayne sedang berjalan menuju kamar Eloise. Namun langkahnya terhenti di tengah jalan, ketika melihat Xavier sudah berdiri di lorong—menggendong Eloise yang masih setengah mengantuk, menyandarkan kepala mungilnya di bahu sang paman.
Ia tidak menyangka Eloise telah terbangun.
Putrinya terlihat tenang, nyaman, dan damai.
Zayne tersenyum kecil. Hatinya penuh.
Pagi ini, hidup terasa sangat cukup.
“Ewi sama Kak Xavi, ya?”
Zayne bertanya sambil tersenyum, matanya kemudian menatap adik iparnya yang masih setengah mengantuk.
Namun sebelum Xavier sempat menjawab, Eloise sudah lebih dulu melihat mamanya. Mata bulatnya langsung berbinar, dan tangan mungilnya terulur, minta digendong.
Zayne segera meraih putrinya. Ia mengangkat Eloise dengan penuh kasih, lalu mencium pipi chubby gadis kecil itu, yang kini memeluk lehernya erat-erat.
“Makasih ya, sudah bawa Ewi sebelum dia nangis,” ujar Zayne, sambil menepuk pelan pundak Xavier. “Kakak tadi bangunin abangmu soalnya.”
Xavier hanya mengedip pelan. Wajahnya datar, tapi dalam hati ia mendesah panjang. Abangnya tuh... udah punya istri, udah punya anak, bukannya makin dewasa—eh, malah makin manja.
Cih.
Kalau Xavier punya pasangan nanti, dia janji, dia nggak bakal nempel kayak perangko gitu!
Mata biru Xavier melirik ke arah kakak iparnya, yang kini sedang membelai lembut kepala Eloise. Bayi itu mulai berceloteh tak jelas sambil mencengkeram erat kaos yang dipakai mamanya, seolah takut lepas.
Xavier terdiam sejenak. Ingatannya terlempar ke pesan dari Kieran—anak buah Sylus sekaligus rekan main Xavier di beberapa permainan ponsel. Kata Kieran, area taman belakang sudah disiapkan. Semua sesuai arahan Zayne. Tertata rapi dan tinggal digunakan. Jadi, tugas Xavier sekarang tinggal menyampaikan kabar ke pihak tertinggi rumah ini: sang kakak ipar.
“Kak,” ujarnya akhirnya. “Kata Kieran, tempatnya udah siap.”
Zayne mengangguk, senyum hangat menghiasi wajahnya. “Iya, makasih ya Kakak udah dikasih tahu.”
Tapi sebelum Xavier berbalik, Zayne menatapnya sejenak dan berkata, “Oh, iya. Kakak belikan kamu baju. Udah disiapin. Nanti pakai itu ya.”
Xavier hanya mengangguk patuh. Ia bukan tipe yang banyak protes kalau Zayne sudah bicara dengan suara selembut itu. “Oke. Aku mau siap-siap dulu. Kalau nanti butuh bantuan jagain Ewi, panggil aku aja.”
Dengan itu, mereka pun mulai bersiap.
Zayne sudah merencanakan ini sejak lama. Jauh sebelum hari ulang tahun Sylus tiba, ia telah memilihkan pakaian untuk mereka sekeluarga—senada tapi tidak berlebihan.
Untuk Sylus, ia memilih kemeja putih elegan, dengan aksen rantai halus di bagian depan yang jatuh manis hingga ke dada. Ada tambahan detail di bahu kiri, memberi sentuhan tegas namun tetap berkelas.
Untuk Xavier, ia memilihkan hoodie simpel dengan knitwear lembut di bagian luarnya. Sesuatu yang nyaman tapi tetap layak untuk perayaan.
Sementara untuk dirinya sendiri, Zayne memilih pakaian dengan corak burung walet di sekitar kerah. Tidak mencolok, namun punya makna.
Dan untuk Eloise...
Putri kecil mereka akan memakai dress berwarna cream dengan detail renda halus di ujung lengan. Lucu, manis, dan cocok untuk gadis kecil yang menjadi pusat dunia mereka.
Semua sudah disiapkan.
Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk merayakan sesuatu yang sederhana tapi berarti: sebuah kebersamaan.
Persiapan mereka pagi itu tidak muluk-muluk. Semua berjalan alami.
Zayne memandikan Eloise lebih dulu. Si kecil itu berceloteh riang, menepuk-nepuk permukaan air sabun yang berbuih dengan tangan mungilnya. Sebuah bebek kuning mengapung di sampingnya, ikut “berenang” dalam bak mandi kecil yang wangi.
Zayne tersenyum lebar. Putrinya itu, secara fisik, nyaris seperti salinannya. Namun fitur-fitur tertentu—seperti bentuk wajah dan hidung—jelas menurun dari Sylus. Perpaduan sempurna, pikir Zayne setiap kali menatap wajah anak mereka.
Setelah Eloise selesai dimandikan dan dibalut handuk lembut, Zayne menyerahkannya pada Sylus untuk diberi pakaian dan dibereskan.
Putri kecil mereka tampak senang sekali di pangkuan ayahnya. Tangannya yang kecil menepuk-nepuk wajah Sylus sembari tertawa geli, membuat sang ayah terkekeh pelan.
Sementara itu, Zayne bergegas mandi. Air hangat mengalir melewati tubuhnya, membasahi rambut dan menyusup di sela-sela jarinya. Ia menarik napas panjang, menikmati momen singkat di mana ia bisa merasa tenang. Tidak lama—karena waktu sudah mepet dan Eloise bisa saja mendadak rewel.
Ia tak butuh waktu lama untuk bersiap. Setelah menjadi orang tua, Zayne seperti memperoleh skill ajaib untuk menyelesaikan segalanya dengan kecepatan kilat. Dalam waktu singkat, ia sudah berpakaian lengkap, rambutnya rapi, dan wajahnya segar.
Begitu keluar dari kamar mandi, ia mendapati pemandangan hangat di kamar: Xavier sudah berbaring santai di atas ranjang, sementara Eloise kini berada di pangkuan Sylus. Si kecil memegang mainan dinosaurus—hadiah kecil dari pamannya.
“Oh? Sayang udah selesai?” Sylus menoleh padanya. Senyum kecil terselip di wajahnya yang bersih. “Kita ke taman belakang sekarang?”
Xavier langsung duduk tegak, lalu mencuri Eloise dari pangkuan abangnya. Ia mencium lembut pucuk kepala keponakannya, merasa lembut dan hangat. Gadis kecil ini datang ke dunia mereka baru setahun lalu, dan ini adalah ulang tahun pertama Sylus sebagai seorang ayah.
Zayne berjalan menuju tas perlengkapan bayi yang tergeletak di sudut ruangan. Ia mengobrak-abrik isi tas, memastikan semua kebutuhan penting sudah terbawa—popok, tisu basah, botol susu, ganti baju kecil.
Memang mereka hanya ke taman belakang, tapi jadi orang tua artinya tetap harus siap dengan segala kemungkinan. Dan Zayne ogah harus bolak-balik cuma karena ada yang tertinggal.
Sambil merapikan botol susu ke dalam tas, ia menjawab santai, “Iya, kita sekarang aja. Keburu panasnya nyengat.”
Sylus dan Xavier mengangguk bersamaan, lalu segera mengikuti langkah Zayne yang sudah lebih dulu berjalan ke arah taman belakang.
Taman itu adalah permintaan pribadi Sylus—sebuah tempat tenang, penuh pepohonan tinggi, yang dibangun sebagai pelarian dari hiruk pikuk hidup dan pekerjaan yang menyita hampir seluruh waktunya.
Di bawah naungan pohon-pohon rindang yang membiarkan sinar matahari menari di antara celah dedaunan, berdirilah sebuah meja bundar dari kayu tua. Meja itu tampak kokoh di tengah rerumputan hijau, dihiasi taplak bermotif bunga lembut yang menjuntai hingga menyentuh tanah.
Di atasnya, terhidang potongan kue merah yang menggoda, semangkuk buah delima dan anggur segar, serta secangkir teh hangat yang masih mengepul pelan—aromanya manis, menyatu sempurna dengan wangi bunga-bunga di sekeliling taman.
Bunga dahlia merah dan putih tumbuh liar namun anggun, mengelilingi meja seperti penjaga setia. Di samping meja, berdiri sebuah gramofon antik di atas dudukannya, tampak siap memutar lagu-lagu klasik yang akan mengisi pagi itu dengan nostalgia lembut.
Tiga kursi kayu sederhana mengapit meja, salah satunya dihiasi boneka kecil berbentuk gagak dengan bunga mungil yang terselip manis di sandarannya.
Mata Sylus berkedip pelan. Ia terpaku. Menatap tempat yang telah dipersiapkan dengan begitu penuh cinta—semua sesuai dengan yang ia suka, semua sesuai dengan sentuhan tangan istrinya.
Bibirnya menipis, dan ia menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah Xavier yang dengan cekatan menyerahkan Eloise pada Zayne, lalu berjalan ke arah gramofon dan mulai memutar lagu.
Melodi klasik perlahan mengalun di udara. Suara lembut piano mengisi sela-sela angin yang berembus pelan.
Sylus mematung sejenak, membiarkan pemandangan di hadapannya meresap dalam diam. Ia merekam semuanya dalam benaknya—setiap senyum, tawa kecil putrinya, langkah pelan istrinya, bahkan suara kicau burung dari kejauhan.
Semua ia ukir dalam ingatan. Untuk dikenang. Untuk disimpan sampai waktu menua dan tubuhnya tak lagi kuat berdiri.
Karena hari ini… adalah miliknya. Hari ulang tahunnya. Tapi lebih dari itu, ini adalah pengingat—bahwa setelah semua luka, semua kehilangan, ia akhirnya memiliki sesuatu yang layak disebut rumah.
Zayne menoleh pelan, membuat Eloise yang digendongnya ikut berputar ke arah Sylus. Mata bening putri kecil mereka berbinar, menyuarakan celotehan khas bayi yang nyaring, “Papa!,” seolah memanggilnya untuk segera bergabung bersama mereka.
Xavier ikut menoleh, alisnya terangkat tinggi saat melihat Sylus yang masih berdiri mematung di tengah taman, seperti tersihir oleh suasana.
Sylus tersenyum tipis. Lalu melangkah pelan ke arah keluarganya—keluarga kecil yang telah ia bangun dengan penuh perjuangan dan cinta. Ia mencondongkan tubuh, mengecup pelipis Zayne dengan penuh kasih.
“ Thanks, love ,” ucapnya lirih.
Zayne hanya tersenyum dan menepuk pelan dada suaminya, mendorongnya ringan agar duduk di salah satu kursi kayu yang telah disiapkan. Eloise menggeliat dalam gendongan Zayne, tangan mungilnya meraih ke arah Xavier yang tengah menyisihkan boneka gagak kecil dari kursinya.
Helaan napas sontak keluar dari mulut Xavier, ia mencibir pelan dengan ekspresi pura-pura sebal. Tapi tetap menerima sang ponakan ke dalam pelukannya. Ia mengangkat Eloise ke pangkuannya sambil bergumam ke telinga bayi itu, “Ewi manja… Ewi gendut, mana kamu berat...”
Tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.
Ketiganya kini duduk bersama di sekitar meja kayu—Zayne dan Sylus berdampingan, dan Xavier dengan Eloise di pangkuannya. Sinar matahari menembus celah-celah daun, menari pelan di atas rambut mereka.
Pandangan Sylus terhenti pada wajah istrinya. Ia menatap Zayne dalam diam. Terpaku. Mengingat dengan jelas tahun-tahun penuh luka, perjuangan yang menyiksa, dan hari-hari panjang saat Zayne harus berjuang selama masa kehamilan.
Zayne telah mengorbankan begitu banyak. Untuk Eloise. Untuk dirinya. Untuk mereka. Untuk rumah tangga ini.
Dan sekarang, di tengah kebahagiaan sederhana ini, Sylus berjanji dalam hati—bahwa ia akan mencintai Zayne seumur hidupnya. Tanpa syarat. Tanpa jeda.
Mata merah Sylus kemudian menatap ke arah adiknya yang tengah memangku Eloise dengan tenang. Hatinya terenyuh. Ia teringat saat Xavier berulang kali memberi kode—halus, tapi tetap nyata—bahwa ia kesepian. Namun dulu, Sylus tak pernah benar-benar menangkap maksudnya. Ia terlalu sibuk dengan hidup, terlalu fokus pada "ketercukupan", hingga lupa melihat ke sekeliling.
Barulah setelah Zayne datang, dengan kelembutan suaranya, dengan kesabaran yang nyaris tak masuk akal… Sylus sadar. Tentang banyak hal.
Senyumnya pun muncul. Lembut, penuh syukur.
Sementara itu, Zayne tampak tenang menuangkan teh hangat ke dalam cangkir mereka bertiga. Setelah itu, ia mengambil pisau kue dan mulai memotong kue merah di tengah meja, tangan dan gerakannya lincah. Sylus mengerutkan kening melihatnya.
“Sayang… kamu langsung makan kuenya?” tanyanya hati-hati.
Zayne melirik tajam, ekspresi tak senangnya jelas terpampang. “Terus kenapa?”
Sylus langsung menggeleng pelan. Ia sudah sangat tahu—istrinya itu punya kegemaran pada makanan manis yang… yah, bisa dibilang cukup ekstrim. Di antara mereka bertiga, hanya Zayne yang selalu bersemangat tiap ada kue. Xavier bahkan tidak pernah menyentuhnya. Begitu pula dirinya.
“Kalau gitu, mas diem aja,” potong Zayne santai, tanpa menoleh, tetap sibuk membagi potongan kue.
Sylus mengangguk patuh, segera menyesap tehnya dengan tenang, menahan senyum geli yang nyaris tumpah. Xavier, di seberangnya, menghela napas panjang sambil memutar mata—kebiasaannya tiap kali melihat interaksi aneh tapi manis antara abang dan kakak iparnya itu.
Sementara di pangkuannya, Eloise memeluk boneka gagak erat-erat, seolah ikut menikmati pagi yang damai.
Potongan kue tetap Zayne bagikan ke Sylus dan Xavier. Ia menatap adik iparnya yang sedang asyik bermain-main dengan jemari Eloise di atas meja. Gadis kecil itu menggeliat pelan, tubuhnya penuh semangat dan rasa ingin tahu, matanya berkeliling melihat bunga, cahaya matahari, dan burung kecil yang terbang melintas.
Zayne menghela napas pelan sambil meringis. “Xavi, kalau kamu capek, sini Ewi sama kakak aja,” tawarnya lembut.
Namun Xavier hanya menggeleng pelan, kemudian berdiri dengan gerakan hati-hati, mendekap Eloise erat-erat dalam pelukannya. “Nggak papa, Kak. Aku ajak Ewi jalan-jalan di sekitar sini aja, ya.”
Zayne masih tampak sedikit ragu, tapi akhirnya mengangguk. Sebelum benar-benar pergi, Xavier menoleh ke arah abangnya. Sylus yang dari tadi hanya memperhatikan dengan mata tenang, kini menatap adiknya.
Xavier menarik napas dalam, dan dengan suara pelan, ia berkata,
“ Wishing you all the happiness today and always. Happy birthday , Abang.”
Sylus terdiam. Matanya melembut. Untuk sesaat, waktu terasa berhenti.
Lalu ia tersenyum. Hangat, seperti pagi yang memeluk. “ Thanks, lil one .”
Dengan itu, Xavier melangkah menjauh bersama Eloise yang masih berceloteh riang. Suara bayi itu melengkung di udara, mengisi taman yang damai. Sylus dan Zayne tidak melihat bagaimana senyum di wajah Xavier melebar, sederhana dan tulus. Seolah dalam pelukan mungil itu, ia juga menemukan ketenangan.
Xavier tidak tahu bahwa punggungnya—yang kini menggendong Eloise sambil berjalan pelan—sedang diam-diam ditatap. Mata merah Sylus mengikuti langkah adiknya, penuh diam dan penyesalan.
Tatapannya baru terpecah ketika suara lembut sang istri membuyarkan lamunannya.
Zayne berdiri dari kursinya, mendekat. Langkahnya ringan, penuh kehangatan. Ia berdiri di depan Sylus yang masih terpaku, hingga pria itu menoleh dan mendongak, menatap wajah yang begitu ia cintai.
“Mas,” ucap Zayne, suaranya lembut seperti angin musim semi.
Sylus berkedip, lalu menjawab pelan, “Iya, sayang?”
Zayne memandangnya. Pandangan yang membuat Sylus merasa ia mampu membakar dunia hanya demi melihat senyum dan tatapan Zayne tetap ada.
Napas Zayne meluruh sebelum ia berbicara, “Mas harus belajar ungkapin rasa sayang mas ke Xavi, tahu.”
Mendengar itu, Sylus jadi mengerang pelan. Ia lalu menarik Zayne ke dalam pelukannya. Wajahnya tenggelam dalam perut, menyandarkan segala lelah dan rasa bersalah yang selama ini ia simpan sendiri. Lengan kekarnya memeluk pinggang ramping itu erat-erat, seolah takut Zayne hilang bila ia kendurkan sedikit saja genggamannya.
“ It’s not that easy, love ,” bisiknya lirih. “Mas ngerasa bersalah sama Xavier…”
Zayne tak berkata apa-apa untuk sesaat. Hanya tangannya yang terulur, membelai rambut keperakan suaminya dengan pelan.
“ It’s not that difficult either ,” katanya akhirnya. “ After all, you’ve been able to show me how much you care. So maybe… you can try doing the same for your brother .”
Ia berhenti sebentar, kemudian tersenyum tipis. “Tapi aku bangga sama Mas juga. Sejak kita ke Jepang tahun lalu, Mas jadi lebih terbuka ke Xavi. Aku seneng.”
Sylus diam. Masih tenggelam dalam pelukan itu. Tapi pelukannya mengendur sedikit, cukup untuk membiarkan dirinya mendongak dan menatap istrinya lagi.
“ Thank you for reminding me of what my heart should never forget ."
Zayne tersenyum. Senyum indah yang selalu menjadi rumah bagi Sylus. Ia membungkuk perlahan, mencium kening suaminya yang masih bergelayut di pinggang dan perutnya.
“Happy birthday, my dear husband. May your days be filled with joy, your heart with peace, and your path with blessings. I’ll be by your side through it all.”
Sylus memejamkan mata sejenak, membiarkan semua ini meresap dalam batinnya—senyum itu, ucapan itu, nada suara lembut yang selalu berhasil menenangkan badai dalam dirinya. Ia menyimpannya, mengukirnya dalam hati.
Kepada Zayne, pemilik hidup dan hatinya. Pemilik kunci rumahnya. Karena Sylus bukanlah apa-apa tanpa Zayne.
Dan tanpa Xavier, sang adik yang pernah ia abaikan, tapi selalu mencintainya dalam diam.
Dan tanpa Eloise, putri kecil mereka yang hadir membawa warna, cahaya, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Ini adalah hidupnya. Inilah keluarganya. Dan di hari ulang tahunnya, Sylus akhirnya tahu...
...bahwa ia telah sampai di rumah.
