Work Text:
Tawaran permen kehitaman dari anak laki-laki pirang di kompartemen membuat Albus lupa soal larangan sang ayah di peron soal jangan dekat-dekat Scorpius Malfoy. Si bocah diam, dengan tubuh sedikit bergoyang-goyang di mulut kompartemen seiring pergerakan kereta.
“Aku nggak suka licorice,” ujarnya, melirik keseluruhan kompartemen. Di depan Scorpius, ada anak perempuan dengan wajah penuh bintik dan berambut hitam pendek sebahu, masih dengan busana muggle khas musim gugur seperti mereka semua. “Boleh join?”
“Silakan! Ngga apa, aku bawa kudapan muggle lain dari ibu! Jadi jangan khawatir soal kehabisan makanan di perjalanan! Kalau kamu suka, ambil saja,” Dengan semangat, si pirang mengeluarkan berbungkus-bungkus makanan hingga bunyinya memenuhi kompartemen. Dia menepuk-nepuk permukaan kursi beludru tempatnya duduk, Albus ikut dan tentu saja, langsung ditawari sebungkus gula-gula berbentuk cacing dengan warna biru.
Sungguh beda dengan apa yang diwanti-wanti ayahnya tadi pagi—sampai Albus telanjur punya kesan kalau Scorpius ini mirip tokoh-tokoh perundung di film remaja muggle yang suka ditonton James diam-diam kalau orang tua mereka sibuk kerja.
Ternyata bertolak belakang.
“Bukannya ada nenek-nenek yang jualan di troli, ya?” Anak perempuan yang duduk di depan mereka bersuara. Dia mendongakkan dagu dari buku komik yang dibacanya.
“Rei,” Scorpius menggelengkan kepala, “cemilan muggle lebih banyak variasi. Yang dijual di kereta ini jadul!”
“James bilang sejak dia kelas satu, trolinya sudah jual makanan muggle,” Albus mengernyit, diiyakan oleh si anak perempuan.
“Oh, gitu,” Scorpius menggaruk pipi, menggulirkan pandangan ke luar jendela di mana peron sudah lama berganti dengan baris pepohonan yang tampak melesat cepat sehingga hanya warna hijau dan coklat yang dapat Albus lihat.
Dia lalu melihat Scorpius menepuk jidat. “Aku lupa kenalan!”
Albus menerima uluran tangan yang datang setelahnya, sambil menyandarkan kepala di bantalan kursi. “Albus Potter, kamu Scorpius Malfoy, ‘kan?”
Scorpius mengangguk dengan ekstra semangat, sementara Albus melirik si anak perempuan sambil mengulurkan tangan.
“Reia Miyamoto,” kata si anak bermata kelabu, mengulas senyum kecil dan kembali pada buku komik yang dibaca.
Sisa perjalanan mereka dihabiskan dengan sesi mengemil sembari diskusi soal empat asrama serta bertukar pengalaman di sekolah muggle (Albus dan Scorpius dirundung karena namanya, Reia karena ras meski dia separuh-Inggris), dan ketika warna keemasan sudah berubah ungu sampai kian menggelap, Reia menutup kisi-kisi jendela dan membiarkan lampu di dalam kompartemen jadi sumber cahaya. Sebelum itu, mereka juga bergantian keluar kompartemen untuk ganti baju menjadi seragam.
“Kamu tahu, ngga, Albus, ayahku dan ayahmu sering ketemuan belakangan ini,” Scorpius berujar, membuat Reia berhenti membaca sejenak. Ini buku komiknya yang entah keberapa dan entah ada berapa total eksemplar yang dia bawa, karena sudah menumpuk lima di samping tempat duduknya.
“Pasti bahas cerita jelek di mana kamu ditolak sepupuku lalu malah jadian denganku,” Albus mengembuskan napas, “ayahku dibikin jadi sosok pemarah!”
“Ibuku dibuat meninggal!” Scorpius bersedekap, merengut dan memandangi sebungkus maltesers yang setengah kosong.
“Eh, aku baru dengar,” Reia memasukkan semua buku komiknya ke dalam tas selempang yang dia gapai dari rak tempat penyimpanan bagasi.
“Jadi wartawan aneh yang pernah mewawancara ayahku membuat cerita yang cukup menggemparkan orang-orang dunia sihir. Aku dan Albus menjemput hasil hubungan gelap Bellatrix Lestrange dan Voldemort lewat time-turner, dan di akhir aku…” dia begidik memandang anak lelaki bermata hijau di sebelahnya, “sama dia.”
“Terdengar kayak fanfic rawan hujatan di Internet,” komentar Reia.
“Ih, memang!” Scorpius berseru setuju, menunjuk-nunjuk si anak perempuan bermata sipit. Sedang Albus bertanya-tanya sambil mengerutkan dahi. Fanfic apa, sih? Apa itu?
“Itu ketika kamu misal nonton kartun muggle, lalu kamu buat cerita sendiri dan dipos di Internet, namanya fanfic atau kependekan dari fanfiction.” Reia menatap Albus prihatin.
“Kamu masuk Raven saja, gimana?” Scorpius menyela, disambut gelengan dari Reia yang mau membuka mulut, namun tidak jadi, “tapi balik ke topik soal Cursed Child, ceritanya jelek banget, serius. Katanya ayah kita mau bawa itu ke Wizengamot!”
‘Harry Potter and The Cursed Child; Harry Potter dan Anak Terkutuk’ telah dipentaskan dua kali sejak awal libur musim panas tahun ini, dan Albus ingat ketika Paman Ron pulang ke The Burrow dengan wajah merah akibat amarah—beliau pergi nonton usai menenggak polijus dan demi melihat apa yang menjadi daya tarik karena pertunjukannya selalu ramai.
“Fiksi spekulatif apanya!” Albus ingat paman Ron hampir menggebrak meja. “Yah, meski beberapa detail nggak salah.”
Di cerita tersebut, Bibi Hermione adalah menteri sihir yang baru, dan memang beliau sudah dilantik sejak awal tahun lalu, dan kata James, sejak itu, banyak yang berubah, termasuk beberapa hal dari kebudayaan muggle yang ternyata bisa dilihat dan didengar di lingkungan Hogwarts. Salah satunya musik muggle di pertandingan quidditch dan pesta-pesta asrama yang dihadiri siswa tingkat atas. Internet sedang diusahakan masuk, kata James, tapi katanya untuk pelajaran Telaah Muggle.
Seperti cerita yang diutarakan abangnya, Albus naik perahu ke Hogwarts, mengarungi danau hitam dipandu seorang penjaga yang bukan sosok setengah-raksasa baik hati di tahun sang ayah sekolah. Penjaga itu lelaki bertubuh gempal tapi kekar di saat yang sama, memperkenalkan diri sebagai Gregory Goyle (“Gargoyle?” batin Albus).
Di perahunya, ada Scorpius dan Reia, tapi yang menjadi daya tariknya malam ini adalah seorang anak perempuan pirang yang berusaha menyalakan ponsel setelah melihat sesuatu di dasar danau, gelap dan besar, berenang-renang dan mengamati.
“Ih! Padahal seru kalau masuk story!” pekik si anak perempuan.
Albus cepat mengira anak itu kelahiran-muggle yang nggak paham soal sihir (meski Bibi Hermione sudah bilang mereka bakal diberi pengertian lebih ketika suratnya datang) atau kecanduan ponsel.
“Sudahlah, nanti kalau ponselmu matot karena kecemplung, mampus,” celetuk bocah lelaki berkulit hitam di sebelahnya, mengerutkan alis.
Ternyata tidak hanya ada satu anak yang demikian.
Ketika mereka berbaris di Aula Besar diterangi batang-batang lilin yang menggantung di antara gulungan awan yang membungkus langit-langit, Albus mendengar beberapa anak di depan dan belakangnya rewel. Entah karena ponsel yang tidak menyala sampai-sampai Albus bisa lihat betapa tidak tenang mereka—tangannya bergerak-gerak gelisah, dan mereka seakan mau menatap layar saja daripada semua hal luar biasa di sekitar, atau karena tidak ada WiFi dan lebih suka mengetik pesan daripada menulis di kertas untuk dikirim ke orang tua.
“Jadul banget, nggak praktis!”
Profesor McGonagall, yang berdiri menyambut di depan, mendelik sesaat dan mencari sumber celetukan itu.
“Kelahiran-muggle,” Albus bergumam, sehingga Scorpius di sebelahnya mengoreksi.
“Belum tentu, bisa jadi ada yang darah-campuran tapi sisi muggle keluarganya dominan sampai dia terbiasa main ponsel. Aku beruntung, meski ayah-ibuku darah-murni, ayah mau belajar teknologi muggle dan cepat tanggap, jadi ponsel dan tabletku di rumah diberi waktu pemakaian,” Scorpius Malfoy berkata sambil berjinjit untuk melihat topi tua di atas dudukan.
___
“Aku kira kamu Hufflepuff,” Albus menggaruk belakang kepala, berbisik pada Scorpius yang sama-sama berjalan mengekori prefek Slytherin.
“Aku kira kamu Gryffindor,” balas Scorpius dengan berbisik, “dan dia Ravenclaw,” dia menunjuk Reia yang berjalan mendahului mereka.
“Seenggaknya di Slytherin, belum ada kasus siswa mengamuk yang dimasukkan ke Sayap Rumah Sakit karena lepas dari ponselnya selama tiga hari seperti katamu!” lanjutnya terkekeh. Albus mengiyakan, mengingat ketika bapak walinya, Neville Longbottom, berkunjung ke kediaman Potter dan mengeluhkan hal tersebut.
Malam ini, akan menjadi awal dari petualangannya untuk tujuh tahun ke depan, meski tidak dibumbui dengan aksi seperti halnya sang ayah.
