Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-04-21
Words:
1,099
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
18
Hits:
163

So Highschool

Summary:

Arthur mendengus, tetapi akhirnya dia melakukan yang Rinz suruh. Mengipasi dirinya menggunakan case handphone Rinz yang ternyata cukup membantu hingga membuat Arthur tersenyum kecil.

"Makasih, Rinz."

"Sama-sama, Thur." Rinz menggeser tubuhnya agar bayangannya dapat menutupi Arthur.

Work Text:

Arthur berlari tergesa-gesa menuju gerbang sekolahnya yang berjarak cukup jauh dari tempat ia di turunkan oleh ayahnya—karena mobil tidak bisa masuk ke dalam gang menuju sekolah Arthur— membuat ia mulai menyesali pilihannya bersekolah disana.

Keringat dingin di punggung Arthur menetes saat ia melihat jam di ponselnya telah menunjukkan pukul 6.28, dua menit sebelum bel sekolah berdering, sedangkan gerbang sekolah nampaknya masih sangat jauh.

Arthur akhirnya pasrah dan ia mulai mengehentikan larinya dan memilih berjalan biasa, keterlambatan serta rasa lemas untuk berlari sebenarnya disebabkan oleh kegiatannya begadang semalaman karena pushrank yang akhirnya Arthur sesali.

Dengan langkah goyah, Arthur menggenggam tas ranselnya erat-erat sambil memanyunkan bibirnya. Dia pasti akan terkena hukuman oleh Pak Alfi.

Tetapi tiba-tiba dari belakangnya terdengar suara klakson yang membuat Arthur menolehkan kepalanya. Itu Rinz, yang terlihat sama kantuknya dengan Arthur. Kantung matanya terlihat sangat buruk, meskipun wajahnya terlihat berseri-seri.

'Pasti dia telat juga karna semalem begadang.' Ucap Arthur dalam hati.

"Sini naik Thur!" Rinz menarik tangan Arthur, membuat si empunya tidak sempat merespon.

Arthur hanya melongo ketika secara ajaib ia telah berada di jok motor Rinz. Ketika Rinz memacu kendaraannya, Arthur harus menahan diri agar tidak berteriak, sebaliknya ia hanya meremas seragam Rinz yang nampaknya tidak sempat di setrika.

6.30, Arthur dan Rinz terengah-engah saat gerbang di belakang mereka akhirnya tertutup. Terlambat satu detik, dan mereka akan tamat oleh Pak Alfi.

Keduanya saling memandang, menatap wajah masing-masing sebelum tertawa.

"Untung masih sempet!" Rinz menyeka keringat di dahinya, tersenyum kearah Arthur yang mengangguk sambil tersenyum balik kearahnya.

"Iya, panik dikit gua. Makasih ya, Rinz."

Mereka memandang satu sama lain, tidak berniat melepaskan pandangan, seolah-olah jika salah satu dari mereka melepaskan pandangan, yang satunya akan hilang.

"Hei! Hei! Ayo cepet kelapangan ngapain diem disitu, taro aja tasnya di depan masjid." Suara Pak Rasyid membuat keduanya mengalihkan pandangan.

Rinz dan Arthur akhirnya bergerak, senyum masih tak lepas dari bibir mereka.

Setelah menaruh tas, keduanya berjalan menuju lapangan dimana seluruh siswa telah berkumpul membentuk barisan untuk tiap-tiap kelas.

"Oi! yang telat depan!" Suara Rendy yang berisiknya hampir mengalahkan speaker sekolah membuat Rinz mendengus. Dia melirik kearah Arthur yang hanya menganggukkan kepalanya membuat Rinz ikut mengangguk.

Rinz membiarkan Arthur berjalan duluan, mengawasi dan menjaga Arthur takut-takut tubuh kecil itu terhempas oleh keramaian sekitar— meski pada dasarnya, Arthur tidak sekecil itu.

Saat sudah berada di depan, Rinz berhenti tepat di belakang Arthur, mereka berbaris di urutan pertama dan kedua barisan kelas mereka.

Rinz menatap kearah matahari yang mulai terasa menyilaukan, membuatnya harus menyipitkan matanya. Dia kemudian menunduk untuk melihat kearah kepala Arthur yang tertutup topi, merasakan bahwa pemuda yang lebih muda beberapa bulan darinya itu bergerak dengan tidak nyaman.

Rinz menundukkan kepalanya untuk berbisik ke telinga Arthur, "Gua aja yang depan, Thur."

Arthur tampak kaget, memegang lehernya sendiri dan mengusapnya pelan. "Oke," ucapnya sebelum bertukar posisi di belakang Rinz. Rinz melirik ke belakang untuk melihat Arthur tetapi pemuda itu hanya menundukkan kepalanya sehingga Rinz tidak dapat melihat wajahnya.

'Siap Grak!'

Mendengar aba-aba, Rinz menolehkan kepalanya ke depan, menegakkan tubuhnya.

 


 

'Upacara Selesai. Pengumuman, pengumuman.'

 

Arthur menghela napas mendengar suara pemberitahuan itu, mengetahui bahwa ia masih harus berada di lapangan selama beberapa menit.

Panas matahari semakin terasa menyengat di kulitnya, keringat mulai membasahi dahinya yang mulus seolah-olah kelenjar keringatnya adalah sebuah air terjun kecil yang berada di tubuhnya.

Arthur mulai menyeka keringat di dahinya, mengipasi wajahnya dengan dasi meskipun terasa sia-sia. Suara Kepala Sekolahnya, Pak Andrian, yang menjelaskan di depan sana terasa mengecil karena panas mengalihkan perhatiannya.

Secara tiba-tiba Rinz yang berdiri didepannya menyodorkan sesuatu ke tangannya.

Arthur menatap benda di tangannya dengan bingung, sebuah case handphone berwarna hitam yang jelas-jelas milik Rinz. Ia menepuk pundak yang lebih tinggi itu untuk meminta penjelasan.

"Pake itu Thur," Rinz mengisyaratkan dengan tangannya— mengipasi wajahnya sendiri, kemudian menunjuk kearah benda di tangan Arthur, "buat kipas-kipas."

"Bisa pake topi kok, Rin." 

Rinz melirik kearah Arthur, tampak berpikir sejenak. "Nanti panas, ga ada yang ngelindungin kepala lu soalnya."

Arthur mendengus, tetapi akhirnya dia melakukan yang Rinz suruh. Mengipasi dirinya menggunakan case handphone Rinz yang ternyata cukup membantu hingga membuat Arthur tersenyum kecil.

"Makasih, Rinz."

"Sama-sama, Thur." Rinz menggeser tubuhnya agar bayangannya dapat menutupi Arthur.

 


 

Arthur menghela napas frustasi, ia berjongkok di samping gerbang yang mulai sepi, tepat di sebelah seorang satpam yang berjaga.

Dia mengetuk-ngetuk layar ponselnya dengan kesal setelah mengetahui bahwa ayahnya tidak dapat menjemputnya dan menyuruhnya memesan ojek online.

Saat hendak memesan ojek, seseorang yang memanggil namanya membuat Arthur mendongakkan kepalanya kearah sumber suara yang ternyata adalah Rinz.

"Oi," Sahut Arthur sambil menunjuk Rinz dengan dagunya sementara matanya kembali fokus pada ponselnya untuk memasukkan alamat.

"Kenapa gak balik, Thur?" Rinz mematikan mesin motornya.

"Ayah ga bisa jemput." Ucapnya sambil mendengus.

"Loh, terus balik sama siapa?"

"Ojek." Arthur mengangkat layar ponselnya untuk menunjukkannya kearah Rinz.

"Balik sama gua aja, yuk. Belum di pesen, kan?"

Arthur mendongakkan kepalanya mendengar itu, menatap Rinz yang sekarang mengangguk-anggukkan kepalanya mencoba meyakinkannya. Arthur melirik kearah ojeknya yang baru saja akan ia cari, tetapi akhirnya ia berdiri, berjalan menghampiri Rinz yang sekarang tersenyum lebar.

Arthur berdiri di samping motor Rinz sementara Rinz menurunkan step motornya. Arthur tersenyum kecil dengan perhatian itu.

Setelah Arthur naik dan memastikan bahwa Arthur duduk dengan nyaman, Rinz mulai melajukan motornya.

"Sorry ngerepotin lu, Rinz." Ucap Arthur, merasa tidak enak. Karena meskipun rumah mereka searah, rumah Arthur lebih jauh dari sekolah, sehingga nanti Rinz harus memutar balik setelah mengantar Arthur.

"Mana ada ngerepotin, Thur." Rinz berkata sambil terkekeh.

"Lu jadi harus muter balik nanti."

"Aman aja, sekalian nyari angin."

Arthur mendengus, "yaudah kalo lu ga masalah."

Sepanjang perjalanan kerumah Arthur, mereka membicarakan beberapa hal seputar sekolah—seperti tugas dan beberapa tingkah konyol teman mereka. Pembahasan soal game yang mereka mainkan juga cukup mendominasi percakapan di tengah-tengah kepadatan jalan raya hari itu.

Hingga tak terasa mereka telah sampai di depan rumah Arthur. Tampaknya Ayah Arthur benar-benar memiliki urusan penting karena absennya mobil di garasi rumah Arthur.

Rinz memberhentikan motornya, mematikan mesin, kemudian menggenggam tangan Arthur untuk membantunya turun.

"Gamau masuk dulu, Rinz?" Tawar Arthur sambil membuka pagar rumahnya.

Rinz menggelengkan kepalanya, menatap kearah langit yang mulai menggelap. "Gak lah, Thur. Dah gelap, gua juga ga bawa apa-apa."

"Hah, bawa apaan emang harusnya?" Kedua tangan Arthur bersandar di pagar sementara wajahnya menampakkan raut kebingungan.

"Buah tangan, buat calon mertua." Ucap Rinz sambil tersenyum dengan gigi-giginya.

"Ha- hah, maksudnya?" Arthur tergagap, berusaha memproses ucapan Rinz sementara Rinz menyalakan motornya, tidak berniat menjawab pertanyaan Arthur.

"Dah Thur, masuk. Sampe ketemu lagi di sekolah, jangan telat lagi." Setelah mengucapkan itu, Rinz segera melajukan motornya tanpa menoleh kearah Arthur lagi.

"Rinz!!!"

Rinz sialan. Arthur terlambat lagi keesokan harinya karena kepikiran oleh ucapan Rinz semalaman.