Actions

Work Header

Tulip & Anyelir

Summary:

"Tapi mereka gak tahu apa yang sebenarnya aku lihat, gak ada yang tahu kalau aku nunggunya kamu."

Notes:

Xixixi, ini dia kadoku untuk bokem rusuhku! Dalam rangka merayakan selesainya membantai UTBK, dalam rangka merayakan jadi lulusan terbaik, dalam rangka graduation, atau apalah itu namanya terserah. ~~
Enjoy the sweet and the sour of this fic! *mischievous smile*

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ibaratkan sepatu kanan dan kiri, mereka tak pernah melangkah terlalu jauh dari satu sama lain.

 

Semua murid di kelas tahu bahwa Aksa dan Harsa terlihat selalu bersama-sama— tak pernah terpisahkan. Dimana ada Aksa, disitu pasti ada Harsa. Begitu pula sebaliknya. 

 

Hari itu adalah pelajaran matematika yang membosankan. Semua anak sudah kehilangan minat, sebagian anak bahkan tertidur. Harsa merebahkan kepalanya pada pundak Aksa dengan santai tanpa mengatakan apa pun. 

 

"Nanti beli seblak, yuk?" Ucap Harsa tiba-tiba, memecahkan atensi Aksa yang masih berusaha mendengarkan penjelasan monoton dari guru matematika. "Boleh, tapi jangan pesan yang pedes."

 

Tiba-tiba, Harsa tersentak bangkit. Untuk sejenak, Aksa merasakan pundaknya kosong, kehilangan massa secara tiba-tiba. "Lho, kenapa?" Aksa menggulirkan matanya dengan malas, "Terakhir kali kamu diare."

 

"Tapi, kan, seblak gak enak kalau gak pedes!" Ujar Harsa dramatis, berusaha menarik simpati Aksa yang masih bertahan dengan wajah datarnya. "Pokoknya, sekali enggak tetep enggak."

 

"Tapi—"

"Ssttt, udah nurut aja."

 

"Sa, menurut kamu jawaban yang nomor dua itu— eh ..." Tangan Aksa, yang semula membekap mulut Harsa yang ingin mengatakan pembelaan lagi, terlepas begitu saja saat mereka berdua menoleh bersamaan ketika Dafi— teman mereka yang duduk di depan mereka, tidak sengaja memergoki ketika menoleh ke belakang. 

 

"Kalian ngapain?" Tara, anak laki-laki yang duduk di samping Dafi— yang juga merupakan teman mereka, ikut menengok. "Oh— enggak, gak ngapa-ngapain." Aksa berusaha untuk menepis pernyataan, Dafi dan Tara hanya melirik satu sama lain dengan canggung. 

 


 

Namun, semua murid di kelas juga tahu bahwa hati Aksa hanya tertuju pada satu orang.

 

Nadin, seorang perempuan yang juga mendiami kelas yang sama dengan mereka. 

 

Harsa, Dafi, dan Tara sudah begitu hafal akan sepasang matanya yang selalu berbinar manakala gadis itu menebar pesonanya ke seisi ruangan.

 

Seperti saat ini, tengah hari dimana mereka semua tengah berkutat dengan tugas Biologi yang diberikan oleh guru mereka sebagai pengganti jam kosong. Aksa dan Harsa mendengarkan sebuah lagu— satu earphone untuk berdua sembari mengerjakan tugas tersebut.

 

"Lumayan sih, iramanya merdu." Harsa melepas kepingan kecil elektronik itu dari telinganya, Aksa tersenyum riang dan berkata penuh semangat, "Iya, kan?! Selera musiknya Nadin bagus banget! Sebenarnya masih ada banyak lagi lagu-lagu yang dia rekomendasiin ke aku— dia bilang waktu kita chattingan, kamu harus denger juga!"

 

Melihat kilatan cinta yang meluap-luap dari netra Aksa, entah mengapa membuat hati Harsa tertegun sejenak. Ia tak pernah melihat Aksa seperti itu padanya. Tatkala lelaki itu kembali sibuk dengan alunan musiknya, Harsa tidak menjawab— ia memilih untuk memalingkan wajahnya, menatap jendela yang menunjukkan langit biru sementara pikirannya tanpa sadar mengulang-ulang lirik dari lagu yang mereka dengarkan. 

 

"Some people think I'm acting worse for wear"

"Suffice to say this is a quaint affair"

 


 

"Udah?"

"Udah. Yuk ke kantin."

 

Mereka berdua melanjutkan langkah mereka ke kantin setelah sempat berhenti di kelas sebelah terlebih dahulu. Harsa ada sedikit keperluan dengan teman satu ekskulnya yang berada di kelas itu, dan Aksa menemaninya. 

 

"Kayaknya kamu cukup deket sama Amelia, ya?" Ucap Aksa tiba-tiba, pandangannya terfokus pada sepasang sepatunya yang menjejakkan kaki di permukaan lapangan sekolah. "Gak juga. Cuma kalau ada urusan ekskul aja." Jawab Harsa santai, masih lanjut berjalan. "Tapi kamu sadar gak sih? Tatapan dia kalau sama kamu tuh kayak ... beda gitu?"

 

Langkah kaki Harsa terhenti di tengah perjalanan, "Maksudnya?" Ujarnya bingung. "Aish, serius kamu gak nyadar? Amel tuh kayaknya suka sama kamu, tau!" Aksa berucap menggebu-gebu, "Apa sih, Sa? Perasaan kamu aja kali. Udah yuk jalan."

 

"Tapi—"

"Kamu cemburu ya, Sa? Ciee, Aksa cemburu! ~"

 

Kini, Aksa dibuat mati kutu tatkala kalimat itu menyela perkataannya. "Eh— enggak, ya! Mana ada begitu!" Harsa terkikik, "Ih lucu banget Acha cemburu! Aku gak tau kalau kamu tuh bisa so sweet gini!" Tawanya semakin besar, menggoda sahabatnya dengan suara yang dibuat-buat geli. "Jadi, kita ini apa, Acha? Hihihi ~"

 

Aksa merasakan kedua pipinya memanas— mungkin saat ini sudah berwarna merah padam. "Ssttt! Udah, ah!" Dengan langkah yang dramatis menggebu-gebu menapak tanah, Aksa pergi meninggalkan Harsa yang masih tertawa terbahak-bahak. 

 

Namun, meskipun demikian, hati Harsa mulai bertanya-tanya. 

 


 

Di malam yang sunyi, Harsa kembali menayangkan ulang dinamika hubungannya dengan Aksa dalam kepalanya.

 

Mereka digabungkan dengan sengaja oleh guru mereka  pada saat masa pengenalan lingkungan sekolah, berbalut kecanggungan serta keheningan tanpa mengetahui bahwa dua dunia yang akhirnya bertabrakan tersebut adalah perubahan terbesar dalam takdir masing-masing.

 

Tentu mereka pernah bertengkar hebat— bahkan cukup sering, tetapi entah mengapa, mereka selalu menemukan jalan pulang kepada satu sama lain layaknya seluruh amarah dan argumen itu bukanlah sesuatu yang berarti. 

 

Semua afeksinya pada Aksa, seperti saat ia memutuskan untuk mengajaknya melihat dunia luar sepulang sekolah lewat motor tuanya, merangkulnya ketika lelaki tersebut kadang kali merasa tidak cukup, dan menyinari hari-harinya yang sepi layaknya rembulan pada sunyinya malam— dulu, ia tidak pernah memikirkan itu dalam-dalam. Tapi kini, ia mulai mencoba memaknainya.

 

Begitu pula dengan afeksi Aksa kepadanya— memberikannya perhatian berlebih ketika ia terlihat sudah tidak minat menjalani sisa hari, menasehatinya panjang lebar ketika ia berniat melakukan sesuatu yang bodoh, serta menjaganya saat ia sakit melebihi perhatian keluarganya sendiri.

 

Lalu, layaknya sebuah rol film, kenangan itu pun berputar.
Aksa yang memeluknya ketika ia mendapatkan patah hati pertamanya dari seorang perempuan di kelas sebelah.
Aksa yang menemani setiap tangisnya, yang berkata bahwa ia tidak mau lagi menyaksikannya hancur dan rapuh seperti itu.
Aksa yang pernah bercanda menyuapinya jajanan yang ia beli dari dagangan seorang guru dengan penuh kelembutan.

 

Aksa yang ini, Aksa yang itu, begini dan begitu ... 

 

" Apa artinya?"

 

Harsa membenamkan wajahnya pada bantal tidurnya. Semakin ia berusaha untuk memaknai, semakin ia bingung harus merasa apa.

 


 

"Kayaknya aku bakal jarang main lagi deh, Har."

"Aku udah harus fokus belajar UTBK."

 

Hari itu adalah hari Selasa yang damai ketika Harsa menerima pesan itu dari Aksa pada pagi-pagi buta. Awalnya, ia merasa tidak apa-apa dengan keputusan temannya itu, namun, saat kedua kaki jenjangnya baru saja melewati gerbang sekolah, ia melihatnya— Aksa dan Nadin, sedang mengobrol dengan penuh tawa di tangga yang mengarah ke kelas mereka di lantai dua. 

 

Hatinya seakan dihantam begitu keras tatkala melihat pemandangan tersebut, dan yang lebih buruknya lagi, ia bahkan tidak tahu mengapa ia merasa seperti ini. Jadi, tanpa berkata apa pun, ia berjalan melewati dua sejoli itu begitu saja dan tidak menoleh ke belakang. Aksa menatapnya berlalu dengan bingung. 

 

"Harsa."

 

Langkahnya terhenti di koridor kelas yang masih sepi pada pagi itu, sekujur tubuh Harsa membeku di tempatnya kala ia mendengar suara Aksa yang tegas tepat di belakangnya. "Kok kamu ngehindarin aku?" Ujarnya to the point, Harsa hanya membalikkan tubuhnya menghadap Aksa dengan wajah datar. 

 

"Katanya mau fokus UTBK ... Tapi malah main sama cewek." 

"Udah tau ditolak dari awal, masih aja dikejar ..."

 

Harsa awalnya tidak berniat menggumamkannya, tapi ketika ia melirik raut wajah Aksa yang seketika berubah, ia tidak menyesal berkata seperti itu. "Maksud kamu apa?" Kini Aksa mengambil langkah ke depan saat Harsa mulai beranjak menjauhinya. "Enggak, gak apa-apa. Lupain aja."

 

"Har, kamu kenapa sih?" Dengan satu gerakan yang lugas, Aksa meraih pergelangan tangan Harsa, mencegah lelaki itu pergi. "Kamu sakit? Muka kamu agak pucat—" Tepat saat punggung tangannya menyentuh lembut kening sang sahabat— bermaksud untuk memeriksa, Harsa langsung menepisnya keras. Kalimatnya terputus begitu saja.

 

"Jangan ... nanti kalau orang-orang lihat, mereka bakal mikir yang enggak-enggak."

 

Aksa tertegun melihat raut wajah itu— itu adalah sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya dari Harsa, sahabatnya selama tiga tahun penuh di SMA. Wajah dengan ekspresi yang bercampurkan kecewa dan ... terluka. Pada akhirnya, ia membiarkan lelaki itu beranjak meninggalkannya dengan keheningan yang begitu lekat, begitu menyesakkan di antara mereka berdua. 

 


 

Hari-hari berikutnya terasa seperti perang dingin yang dideklarasikan oleh ego masing-masing. Aksa dan Harsa tetap berbagi satu denah bangku yang sama, tetapi kini rasanya seolah ada sebuah tembok besar yang memisahkan dunia mereka. 

 

Dafi dan Tara yang menyadarinya pertama kali, ketika mereka tidak lagi mendengar canda tawa yang kerap kali datang dari dua orang di belakang mereka. Mereka mencoba mendekati Harsa untuk meminta penjelasan, namun lelaki tersebut seakan-akan sengaja menutup dirinya sendiri. Tidak banyak bicara, selalu memasang earphonenya di sepanjang kelas, serta tertidur di atas meja. 

 

Sementara Aksa, menyaksikan segalanya dengan raut wajah yang sama sekali tidak berminat— malah, terkesan marah dan acuh. Jadi, ketika jam istirahat tiba, mereka dengan cepat menghalangi Aksa yang berniat untuk pergi dari kelas tepat sebelum ia melewati pintu. "Sa, kamu sama Harsa lagi kenapa, sih?" Ucap Dafi tanpa basa-basi.

 

Aksa memalingkan matanya malas, "Kita gak kenapa-kenapa." Ia melangkah maju— mencoba melewati halangan di hadapannya, sampai akhirnya Tara benar-benar menghadangnya lebih serius, "Jawab yang benar." Balasnya tegas, langsung pada intinya. "Bukan sekali dua kali kalian berantem gini, dan tiap kali kalian berantem kalian seakan-akan jadi kayak anak kecil."

 

Helaan nafas yang kasar terdengar dari Aksa, "Dia salah ngomong di waktu yang salah juga, aku jelas tersinggung, lah?" Ekspresinya terlihat sangat terganggu, "Nanti aku bakal baikan sama dia, kapan-kapan, kalau dia udah sadar kalau dia salah." ia menembus pertahanan Dafi dan Tara begitu saja. "Aku mau nyamperin Nadin di kantin dulu."

 

Dafi dan Tara saling bertukar pandang tanpa berkata apa pun manakala Aksa pergi menjauh dari mereka berdua. Dafi menghembuskan nafasnya— tak habis pikir, ia memilih untuk kembali masuk ke dalam kelas dan beralih pada Harsa yang tertidur di atas meja dengan kedua tangan yang menyembunyikan wajahnya. 

 

"Harsa? Hey, kamu gak makan?" Dafi membangunkannya dengan penuh kehati-hatian, ia pun disambut oleh kelelahan yang tertera jelas dalam wajah sahabatnya itu. "Aku gak nafsu makan, Fi." Tara menoleh, "Kamu sakit? Kenapa gak izin aja?" Harsa hanya membalasnya dengan senyuman tipis, "Gak apa-apa. Aku masih kuat, cuma agak ngantuk aja." dan dengan begitu, ia kembali tertidur. Meninggalkan kedua sahabatnya yang bingung harus melakukan apa untuk menyudahi perseteruan ini. 

 


 

Siang itu, kantin sekolah ramai sekali. Namun, bukan Aksa namanya jika tidak bisa menemukan Nadin dengan cepat seakan-akan semua orang di sana hanyalah bagian dari latar yang membaur menjadi satu.

 

Perempuan tersebut duduk dengan senyuman manisnya yang menyambut kedatangan Aksa, jari jemarinya memainkan sedotan es teh manis yang belum tersentuh di atas meja. Aksa tersenyum malu-malu sembari meraih kursi untuk duduk, "Tumben kamu manggil aku buat nemenin, teman-teman kamu kemana?"

 

"Mereka lagi sibuk sama urusan masing-masing." Balas Nadin disertai kekehan kecil, "Aku pasti ngerepotin kamu, ya? Ganggu waktu kamu sama teman-teman kamu?" Kedua pundak Aksa terperanjat mendengar pertanyaan itu, "Eh— enggak! Enggak sama sekali, kok. Sejujurnya aku sama mereka lagi ... renggang dikit, sih, hehehe."

 

"Lho? Ada apa? Gak biasanya kalian ... begini."

 

Dahi Aksa mengernyit, "Emang biasanya kami gimana?" Nadin mengulas senyumannya sekali lagi, "Biasanya kalian tuh ... Bikin iri." Tukasnya, "Pertemanan kalian itu beda banget dari yang lain, apa lagi kamu sama Harsa. Aku gak pernah melihat pertemanan kayak kalian sebelumnya." Wajahnya berubah menjadi getir, "Kadang aku juga berharap bisa menemukan pertemanan seperti itu."

 

Nadin memandangnya lembut, "Apa pun hal yang sedang menguji kalian, tolong, jangan pernah sampai terpecah, ya."

 

Aksa terdiam. Ucapan dari perempuan yang dicintainya ini mulai berkeliaran dan menggema di dalam pikirannya. Di lubuk hatinya, akhirnya muncul sebuah pertanyaan yang meruntuhkan segala egonya.

 

"Apakah selama ini ... semuanya justru adalah salahku?"

 


 

Malam harinya, Aksa termenung dalam kamarnya yang gelap. Layar ponselnya menyala terang— menampilkan ruang obrolannya bersama Harsa berhenti waktunya sejak tiga hari yang lalu. Jari-jarinya mengetik di atas papan ketik, hanya untuk merasa ragu-ragu lalu menghapusnya lagi dan lagi. 

 

Setelah bermenit-menit yang terasa seperti berabad-abad, Aksa akhirnya memutuskan untuk menggugurkan dinding egonya. 

 

"Hey, apa kabar?"

"Kamu masih marah?"

"Har, aku minta maaf."

"Aku gak seharusnya tersulut emosi begitu."

"Aku kangen kita."

"Damai, yuk?"

 

Pesan-pesan itu tersampaikan, namun belum terbaca oleh si penerima. Aksa menutup ponselnya dan mengusap wajahnya dengan rasa frustrasi. Ia harap, saat pagi tiba dan dirinya terbangun dari tidurnya, sudah ada pesan balasan dari Harsa. 

 


 

"Sayang, minum obatnya sekali lagi, ya?"

"Mmh ... iya, Ma."

 

Jumat sore itu terasa kelabu untuk Harsa. Rasa sakit yang ia tahan berhari-hari akhirnya pecah ketika ia pulang dari sekolah. Kini, ia hanya bisa terbaring di tempat tidurnya. Ponselnya berbunyi dengan notifikasi pesan masuk sesekali, namun ia terlalu lemas untuk hanya sekadar mengangkat benda itu. 

 

Pikirannya yang diselimuti oleh panas demam, tiba-tiba menampilkan cuplikan canda tawanya bersama Aksa, kemudian berubah menjadi tatapan dingin yang tiga hari ini saling mereka lontarkan dalam diam setiap kali bertemu. Air matanya menetes tanpa aba-aba di tengah-tengah rasa sakit. 

 

"Apakah aku boleh merasa seperti ini?"

 


 

"Har, kamu marah banget ya?"

"Seenggaknya baca chatku, dong."

"Supaya aku tahu apakah aku masih layak untuk minta maaf kayak gini. "

 

Aksa awalnya tidak ingin seperti ini lagi. Tersulut emosi seperti saat mereka berargumen waktu itu. Tapi, lama kelamaan, kesabarannya habis. Ia bangun dengan harapan akan mendapatkan balasan— hanya untuk sirna dalam sekejap ketika yang ia dapati malah keheningan. Pesan itu terhenti pada dirinya tanpa tersentuh dari si penerima selama semalaman penuh. 

 

Tiba-tiba, layarnya menampilkan notifikasi pesan masuk— matanya berbinar sedikit, mengira bahwa Harsa akhirnya menjawab. Namun ternyata ... Itu adalah pesan dari Dafi. Kedua matanya seketika kembali tenggelam dalam kekosongan. 

 

"Udah baikan sama Harsa?"

"Belum."

"Aku sudah coba dari semalam, berbagai pesan, tapi tidak dibaca sampai sekarang."

"Aku nyerah. Pada titik ini, kalau dia masih mau damai sama aku ya syukur. Kalau enggak, ya udah."

"Mungkin kita emang selesai sampai di sini aja."

 

Aksa mematikan ponselnya sebelum Dafi sempat membalas, menjatuhkannya secara asal di atas permukaan ranjangnya. Ia mengacak-acak rambutnya. Semuanya berantakan, semuanya telah berakhir tanpa closure yang jelas. Harsanya, yang selalu menemani hari-harinya yang kelabu layaknya seorang mentari yang bersinar cerah, kini sudah tidak hadir lagi. 

 


 

Pukul dua dini hari pada hari minggu yang terlalu awal itu akhirnya merobohkan segalanya. 

 

Aksa terbangun dari tidurnya dengan cara yang tidak menyenangkan— sebab yang membangunkannya ialah ponselnya yang berdering keras di atas meja nakasnya. Dalam keadaan setengah sadar, ia meraih benda tersebut— sepasang netranya lantas melebar tatkala melihat nama yang tertera. Harsa.

 

"Halo ... Harsa?" Suaranya terdengar ragu-ragu setelah akhirnya memanggil nama itu tanpa melibatkan emosi atau amarah yang masih tersisa. Mereka seakan menguap pergi meninggalkan hatinya. Butuh waktu beberapa menit hingga seseorang di seberang sana menjawab— itu bukanlah suara Harsamelainkan suara adik perempuannya. 

 

"Kak Aksa ... Ini Aira, maaf menelpon malam-malam gini ..."

"Aku gak sengaja ngeliat ponsel Kak Harsa yang nerima banyak notifikasi dari Kakak, dan aku pikir Kak Aksa harus tau, kalau ..."

 

Ada jeda sedikit sebelum gadis kecil itu melanjutkan ucapannya. Nada suaranya sedikit terisak— seolah-olah ia mengatakannya sembari berderai air mata. 

 

"Udah beberapa hari ini Kak Harsa sakit, demam tinggi. Dan waktu Mama ngecek buat ingetin minum obat, Kak Harsa udah gak sadar ..." 

"Waktu ditangani di IGD tadi Kak Harsa sempat kritis ... tapi sekarang kondisinya udah stabil."

"Kak Aksa ... kalau bisa, pagi nanti Kakak kesini, ya?"

 

Detik itu juga, dunia seakan berhenti berputar. Suara dari sisi Aira masih terdengar menunggu jawaban dalam hening yang begitu lekat. Tapi, seolah terjerembab di antara denyut jantung yang tiba-tiba tak beraturan, hati Aksa merosot secepat jatuhnya sesuatu yang terlepas dari genggamannya. Dadanya terasa sesak, seperti dilubangi oleh rasa bersalah dan takut yang datang bersamaan. 

 

Seluruh sungut-sungut emosi dan amarah yang sempat ia lontarkan kemarin-kemarin terbang pergi begitu saja. Aksa berusaha menenangkan degup jantungnya yang berdebar kencang— meskipun tidak sepenuhnya bisa. Tangannya berusaha memegang erat ponselnya agar tetap berada di telinganya, walaupun gemetar mulai terasa.

 

"Di rumah sakit mana, Aira?"

"Aku kesana sekarang juga."

 

Dengan hati yang mantap dan suara yang tegas, akhirnya ia melangkah maju untuk menyudahi perang dingin yang bodoh dan sia-sia ini. Kiranya, Aksa tidak peduli dengan udara dini hari yang begitu dingin hingga menembus lapisan jaketnya— tindakan impulsifnya dilandaskan oleh rasa takut dan cinta yang membaur menjadi satu, bersemayam erat di pikirannya. 

 

Tiba-tiba, senyuman cerah Harsa yang penuh kehidupan melintas tanpa peringatan di benaknya. Menemani tiap-tiap tetes air matanya sementara langkahnya terus-menerus berusaha memangkas jarak di antara mereka. 

 

Rembulan malam itu pun menjadi saksi dirinya menyusuri jalanan yang sunyi, seraya merapalkan doa dan harapan agar semuanya baik-baik saja. Entah bagaimana, Aksa dapat merasakan sisa-sisa hangat dari malam-malamnya yang selalu ia habiskan bersama Harsa dahulu. 

 


 

"Aira!"

"Kak Aksa ..."

 

Aksa datang dengan tergesa-gesa, nafasnya tersengal setibanya ia di ruang tunggu IGD. "Gimana— gimana keadaannya?" Ucapnya memburu, panik kentara jelas. "Kak Harsa udah stabil setelah tadi sempat kritis, tapi ... dia masih belum sadar sekarang." Aira menundukkan kepalanya, "Mama sama Papa sekarang lagi ngurus administrasi."

 

Hening sejenak, hingga akhirnya Aksa berbicara dengan nada ragu-ragu, "Apa ... aku boleh lihat dia?" Aira menegakkan pandangannya dengan senyuman, gadis itu mengangguk sebagai jawaban. 

 

Aksa tidak ingat bagaimana ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan ini, ruangan yang dingin, steril dan penuh dengan suara alat-alat medis. Di hadapannya, berdiri sebuah tirai tipis yang memisahkan jaraknya dengan Harsa. Hanya satu langkah lagi, tetapi rasanya ... ia tak sanggup. Ia takut melihat kenyataan yang menghadap padanya saat ini. 

 

Akhirnya, dengan keberanian yang baru terkumpul setengah-setengah, Aksa menyingkap kain yang menghalanginya itu. Dan di sanalah, ia melihatnya. Harsanya, sahabatnya, orang yang selama ini ia sayangi tanpa sadar ... terbaring sakit dengan wajah yang pucat pasi dan tubuh yang kurus. Alat-alat medis mengelilinginya, memberi peringatan bahwa saat ini hidupnya tengah ditopang oleh mereka. 

 

Aksa bahkan tidak sadar bagaimana ia bisa duduk di kursi kecil di sebelah ranjang kendati pandangannya hanya terkunci pada seseorang yang sedang memejamkan matanya dari dunia pada ranjang itu. Tangannya yang nyaris gemetar meraih tangan milik Harsa dan menggenggamnya perlahan seolah-olah ia adalah kupu-kupu yang rapuh bila disentuh tanpa kehati-hatian. 

 

Air matanya mengalir, tangisan yang sempat ia tahan begitu sampai kini lolos lagi. Genggamannya mengerat, dengan lembut membawa tangan kokoh itu pada dahinya. "Maaf, Harsa ... maafin aku ..." Suaranya bergetar di antara isakan, "Aku brengsek, aku salah, aku nyakitin kamu, aku minta maaf ... tolong, maafin aku ..." Aksa semakin menangis tersedu-sedu. "Kamu boleh marahin aku, kamu boleh caci maki aku, kamu boleh tonjok aku setelah ini, tapi ..."

 

"Tapi janji ... harus bangun dulu, ya?"

 


 

Aksa tidak tahu bagaimana ia bisa tertidur di kursi itu dengan tangannya yang masih bertaut dengan milik Harsa. 

 

Mungkin itu adalah jam empat pagi, bagaimana matahari sedang bersiap-siap untuk merangkak naik saat suara lembut dari Ibu Harsa membangunkannya perlahan-lahan. 

 

"Aksa, bangun, nak."

"Hm? Tante?"

 

"Gak nyaman tidur begitu, lho." Wanita paruh baya tersebut mengulas senyumnya, membangunkan Aksa sepenuhnya dari sisa-sisa kantuk. "Pasti Aira yang telepon kamu kesini, ya? Padahal, itu jam dua dini hari. Normalnya orang-orang pasti menolak, tapi kamu datang, nak."

 

"Saya panik, Tante. Begitu mendengar kabarnya, saya langsung ke sini tanpa berpikir panjang." Aksa tersenyum getir di akhir katanya, Ibu Harsa pun menepuk-nepuk pundaknya, "Harsa mau pindah ke kamar rawatnya, makanya Tante bangunin kamu. Gimana kalau kamu pulang dulu, nak? Tidur kamu jadi berantakan, nanti kamu ikutan sakit. Tante antarkan, ya?"

 

Diliriknya sahabatnya yang tertidur, Aksa menggeleng. "Makasih banyak, Tante. Tapi saya mau di sini aja, saya mau ada di dekat dia terus." Ada jeda sedikit sebelum akhirnya Ibu Harsa menghela nafasnya sembari tersenyum penuh pengertian, "Baiklah, Tante mengerti."

 


 

Pagi itu, Aksa hampir tertidur tatkala ia merasakan gerakan kecil dari tangan Harsa yang masih setia berada di genggamannya. Ia menunggu, dan terus menunggu dengan sabar. Kedua matanya berbinar penuh harap. 

 

"Harsa?"

 

Panggilnya ketika tarikan nafas itu semakin mendalam, tetapi juga semakin kepayahan. Harsa menggenggam balik tangannya, erat, seperti sedang menahan rasa sakit. Nafasnya memburu tidak teratur. "Hey— hey, tenang, Harsa. Tarik nafas pelan-pelan, lalu hembuskan." Tangannya yang bebas menggerayang mencari nurse call button, "Dokter dan perawat sedang ke sini, tolong, tenanglah ..."

 

Ketika tenaga medis akhirnya tiba, Aksa terpaksa harus menepi sebagaimana mereka melakukan penanganan. Ia berusaha menetralkan degup jantungnya yang terasa ikut berdebar kencang. Penjelasan dari dokter tentang saturasi oksigen yang masih rendah terasa kabur di telinganya karena pikirannya hanya tertuju pada satu hal— Harsa akhirnya sudah sadar, dia akhirnya bangun

 

"Hey." Panggil Aksa dengan senyuman penuh kerinduan yang meluap-luap, "A— Aksa? ..." Harsa menjawabnya, lemah serta lirih. Ada sesuatu di kedua netranya yang menyiratkan bahwa ia tidak percaya jarak yang selama ini memisahkan mereka kini telah menghilang seutuhnya. Tanpa peringatan, Aksa menerjang tubuhnya, memeluknya erat-erat dan meninggalkan kecupan kecil di keningnya. Air matanya kembali mengalir membasahi pipinya. 

 

Saat hangat kecupan itu menyentuh keningnya, dekapan mereka terlerai sepihak tanpa sadar oleh Harsa. Wajahnya merekah, merah bersama gejolak yang tak tahu harus bagaimana dibahasakan begitu menatap ekspresi Aksa yang malah menyendu di hadapannya, "Kenapa, Har? Kamu masih marah sama aku, ya? ..."

 

Harsa kehilangan kata-katanya sejenak, lisannya kelu dibekap oleh gugup. Ia memaksakan tenggorokannya untuk bersuara— kalimat itu terbata dan tidak beraturan, nyaris patah oleh getar yang tak bisa disembunyikan. "Ah— eumm ... e- enggak! Aku cuma— err ... Itu, tadi ..." Aksa tidak menjawab, sebaliknya, ia kembali menarik Harsa dalam pelukannya. "Har, a- aku ..."

 

"Aku minta maaf ... tolong, maafin aku ..."

"Aku tahu aku memang brengsek, aku tahu aku udah nyakitin kamu, tapi ..."

"Jangan pernah balas dendam dengan cara seperti itu lagi ... a— aku takut, Harsa, pikiranku langsung jelek begitu dengar kamu sakit— aku takut ..."

 

Hening menyelimuti mereka, Aksa terus menangis pada pundaknya, tatapan Harsa yang semula melebar kala mendengar penuturan tersebut kini berubah melunak. Perlahan, ia menanggapi pelukan itu, mengusap-usap lembut punggung Aksa yang bergetar karena tangisnya. "Aku sudah maafin kamu bahkan sebelum kamu memintanya, Sa, dan aku juga gak bermaksud bikin kamu takut, aku gak pernah berpikiran untuk balas dendam yang jahat begini ke kamu."

 

Dengan gemulai ia meleraikan pelukannya, maniknya mengalirkan kelembutan serta ketulusan pada sesosok lelaki di hadapannya. Senyuman cerahnya terpatri, sebagaimana jari jemarinya menari tenang menghapus setiap jejak air mata dari wajahnya. "Udahan yuk nangisnya? Sekarang kita resmi damai lagi, gak ada yang perlu disesali dari yang sudah berlalu."

 

Aksa terkekeh kecil tanpa berkata apa pun, tubuhnya melesat penuh perasaan yang membuncah, menerjang Harsa sekali lagi hingga mereka berdua jatuh terbaring dalam ranjang rumah sakit yang sempit untuk dua orang. "Hey! Kantung infusku jadi terguncang!" Ujar Harsa terkejut karena aksi yang mendadak itu, Aksa tersenyum sambil membenamkan wajahnya pada tubuh lelaki tersebut. 

 

"Biarin. Karena sesungguhnya yang lebih terguncang itu hatiku, tahu."

 


 

Bayangan pepohonan tergeletak panjang di aspal, seolah ingin lari dari teriknya langit pada hari itu. Aksa memasuki kamar rawat dengan senyum yang cerah, seolah-olah matahari di siang ini merasukinya. Kedua tangannya menggenggam erat sebuket bunga tulip dan anyelir, yang langsung menuai tatapan bingung dari Harsa yang semulanya sedang membaca sebuah buku. 

 

"Kamu serius, pulang ke rumah cuma buat merapikan diri sebentar terus balik lagi ke sini— di siang bolong yang panas ini? Dan juga ... bunga?" 

"Emangnya kenapa kalau aku ke sini terus meskipun cuaca panas? Orang tua kamu harus kerja, Aira juga ada kegiatan, biar aku yang nemenin kamu."

 

Senyum Aksa semakin mengembang kala ia meletakkan seikat bunga tersebut ke dalam vas kosong di meja nakas. "Kamu inget gak, dulu waktu kita keliling gak jelas sehabis pulang sekolah, kita ngelewatin toko bunga di pinggir jalan? Nah, aku mampir ke sana dulu tadi." Ia menarik kursi dan duduk, tatapannya lekat pada seseorang di hadapannya.

 

"Waktu itu kamu nyeletuk kalau anyelir itu cantik, kan? Aku diam-diam mencatat itu di kepalaku. Terus aku juga suka tulip merah muda ini, jadi adil, bukan?" Tawa kecil lolos dari lisannya, membuat Harsa tersenyum malu dengan wajah yang memerah panas, ikut tertawa untuk mencairkan suasana, "Bisa aja kamu."

 

Keheningan menggantung di antara mereka setelah gelak tawa itu berakhir. Aksa berdeham, mengusir kesunyian tersebut, "Jadi ..." ia mengalihkan pandangannya pada Harsa lurus tanpa berkutik. "Kayaknya kita harus meluruskan beberapa hal." Lawan bicaranya hanya diam, seperti mengizinkannya untuk terus berbicara. 

 

"Belakangan ini aku banyak memikirkannya, aku rasa ... ucapan kamu waktu itu benar." Aksa tersenyum getir, "Udah jelas dari awal Nadin nolak aku, tapi aku masih aja ngejar-ngejar dia, ya?" Kedua netra Harsa melebar tatkala mendengarnya, ia ingin mengucapkan sesuatu— tetapi Aksa langsung menyelanya, "Ssttt, aku tau apa yang mau kamu bilang, jangan."

 

"Kamu gak perlu minta maaf atau bilang kalau kamu gak bermaksud ngomong begitu, sebab nyatanya kata-kata kamu itu fakta. Bahkan, aku sampai tertampar begitu keras hingga berujung kita perang dingin, haha." Aksa tertawa lepas, meskipun topik yang ia bicarakan seharusnya ... pahit. Senyum menghiasi wajahnya, "Mulai hari ini, kisahku sama Nadin selesai. Karena sekarang, aku akhirnya sadar siapa yang lebih penting."

 

"Orang-orang tahunya aku kecintaan banget sama dia ..."

"Tapi mereka gak tahu apa yang sebenarnya aku lihat, gak ada yang tahu kalau aku nunggunya kamu."

"Dan kamu, gak ada yang tahu aku lebih baik selain kamu."

 

Harsa termenung, ia berusaha mencari sedikit celah kebohongan pada sepasang mata yang menatapnya lembut itu, tetapi yang hanya bisa ia lihat adalah kejujuran yang murni. Tanpa sadar, ia meneteskan air matanya. "Lho— k- kok nangis?" Aksa tersentak kaget, tubuhnya bergerak untuk menghapus jejak lara tersebut. "Enggak, gak apa-apa ... a- aku cuma seneng akhirnya kita damai lagi, aku ... aku k- kangen banget sama kamu, s- sama kita ..."

 

Aksa menghela nafasnya, menarik Harsa dalam dekapan hangat dan menepuk-nepuk punggungnya— berusaha memberikan sedikit rasa tenang. "Sshhh, aku di sini sekarang. Menangislah sepuasmu, tapi jangan lupa berhenti, oke? Aku tungguin, aku di sini." Dekapan itu bertahan lama, setidaknya sampai matahari turun dari singgasana tertingginya menuju arah barat. Langit di luar sana mulai terlukis jingga. 

 

Beberapa menit berlalu, Harsa berangsur-angsur tenang, walau masih menyisakan sedikit isakan. "Aku malu banget udah nangis di hadapan kamu kayak tadi." Ujarnya sembari membuang muka, tak sanggup melihat Aksa yang justru tertawa. "Kenapa malu? Perasaanmu itu valid. Aku juga ... ngerasa begitu. Kamu gak inget, kemarin waktu kamu baru aja bangun, aku nangis-nangis kayak orang gila?"

 

Harsa terdiam sejenak, membiarkan sepi mengisi jarak mereka untuk beberapa menit. Ia melirik Aksa yang sedang memandang langit senja dari jendela kamar rawatnya dengan kekaguman. "Kalau kata-kataku soal Nadin sudah clear ..." Cicitnya pelan, membuat lelaki di depannya menoleh, "Lalu yang kata-kataku yang kedua waktu itu, bagaimana?" Aksa tersenyum miring, seperti sudah menantikan pertanyaan tersebut. "Soal UTBK, maksud kamu?"

 

Dengan gerakan semangat yang entah dari mana ia dapatkan, Aksa membongkar isi tas selempang yang ia bawa dari rumah. Harsa memperhatikannya dalam diam sampai kedua tangan itu mengeluarkan sebuah buku tebal dan memamerkannya dengan penuh kebanggaan. "Fakta juga, dong!" Senyumnya semakin melebar, Harsa menepuk dahinya, "Astaga ... yang bener aja kamu."

 

Aksa hanya cengegesan menanggapinya, perlahan-lahan ia pun membuka halaman paling awal dari buku belajarnya. "Pinjam tanganmu, dong, Har." Celetuknya santai— tapi berhasil membuat Harsa terkejut. "Hah ... b- buat apa?!" Aksa berdecak, tanpa basa-basi langsung menautkan tangan kiri mereka berdua dalam satu gandengan. "Buat support system, jangan dilepas sampai aku selesai belajarnya."

 

Demi Tuhan, Harsa dapat merasakan kedua pundaknya tersentak akibat salah tingkah, pipinya terasa panas dan ia bersumpah siapa pun yang melihatnya saat ini pasti juga dapat melihat rona merah pada wajahnya. Dan ekspresi serius Aksa yang tengah menelaah isi buku itu semakin membuat jantungnya berdebar lebih keras. Seluruh aliran darahnya terasa mengalir lebih deras.

 


 

Malam pada tanggal 11 April itu terasa syahdu. Angin berhembus lembut dan sejuk, langit terlihat cerah, sementara awan-awan menepi sejenak untuk menunjukkan bulan yang bersinar dengan gagah di atas sana. 

 

Aksa hadir di depan pintu rumah Harsa dengan buket bunga tulip bercampur bunga anyelir di tangan kanannya, sedangkan di tangan kirinya terdapat boks berisikan kue ulang tahun yang sengaja ia desain nyeleneh dengan menampilkan karakter kartun anak kecil untuk orang tersayangnya yang kini menginjak usia 18 tahun. 

 

"Kamu tahu, kan, kalau kamu gak perlu repot-repot begini?" Harsa menerimanya dengan senyuman tipis, Aksa masih berdiri di sana— berpura-pura memasang wajah cemberut, "Jadi, aku gak boleh merayakan ulang tahun kamu sekaligus keluarnya kamu dari rumah sakit, gitu?" Lelaki di hadapannya tertawa kecil, "Nggak gitu, aku cuma bercanda. Yuk, masuk."

 

Begitu mereka memasuki bangunan itu— setelah menit-menit panjang Aksa habiskan untuk menyapa dan berbasa-basi pada kedua orang tua Harsa, kini mereka akhirnya memiliki waktu untuk berduaan, duduk di hadapan jendela besar yang berada dalam kamar Harsa di lantai dua, dimana mereka bisa melihat Aira yang sedang bermain kembang api dengan gembira bersama teman-temannya di bawah sana. 

 

Tangan mereka bersentuhan, hampir saling bertaut. Aksa dan Harsa menikmati pemandangan serta atmosfer malam itu dalam keheningan, tanpa kalimat apa pun— seolah-olah suasana hati mereka masing-masing sudah cukup menjelaskan semuanya. Sunyi itu pecah dengan suara Aksa yang membuai lembut, "Menikmati hal-hal kayak gini tuh paling pasnya cuma sama kamu." Harsa tersenyum, menyandarkan kepalanya pada pundak kepunyaan Aksa. "Aku juga ngerasa begitu."

 

Jari jemari Aksa menari-nari di atas permukaan lantai, akhirnya menggenggam tangan Harsa seutuhnya. "Jadi— sekarang, kita ini apa?" Harsa mendongak untuk menyambut wajah lelaki di sampingnya, Aksa terkekeh kecil dibarengi oleh senyuman yang manis. "Kamu maunya apa?"

 

"Seblak date, yuk?"

"Boleh, tapi jangan pesan yang pedes, ya."

 

FIN

 


 

Notes:

SUMPAAHHH AKU MALU BANGETTT ANJRITTT AKU NULIS APASII AHH SEMOGA GAK CRINGE DEHHGGH YAAA 😔