Actions

Work Header

Kekhawatiran Berbalut Kerinduan

Summary:

Curiga atas hilangnya Ivan di depan mata menuntunnya ke kamar asrama milik siswa kesayangan guru itu.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Hari ini gelagat Ivan terlihat aneh―ralat, itu mungkin tidak tepat karena Ivan selalu aneh, bagi Till. Deskripsi aneh lebih tepat mengarah pada kebiasaan Ivan yang tidak pernah absen dari setiap kegiatan sekolah, baik dari pidato sebagai ketua dewan siswa (berurusan dengan para pemimpin sekolah) dan ketua tim sepak bola (tentang ini―ya, berurusan dengan para sesama pelajar). Singkatnya, tidak pernah diam di satu tempat hingga matahari terbenam. Namun, Till memang SERIUS, akui tidak pernah melihatnya akhir-akhir ini (bahkan, catatan paling spesial; ia adalah orang yang paling pertama tahu keganjilan itu daripada para penggemar dan teman Ivan).

 

Lalu, mengapa “hari ini gelagat Ivan terlihat aneh”, terlepas tanda keganjalan sudah terjadi sejak minggu lalu? Itu karena keganjalan telah terjawab dan makin terbukti ketika Ivan menunjukkan batang hidung pada pengumuman di gimnasium tadi pagi. Belum lagi buah bibir ke bibir tentang Ivan yang absen sepanjang waktu pelajaran demi pelajaran.

 

Betapa anehnya.

 

Memikirkan itu terus hampir menghabiskan jam istirahat, sedangkan badannya diam―tidak bergerak di depan salah satu pintu kamar asrama laki-laki. Siapa lagi yang ia kunjungi, selain Ivan. Siang hari adalah puncaknya sepi senyap di koridor asrama; inilah kesempatannya untuk mengunjungi tanpa sepengetahuan lainnya, terlebih orang kenalan Ivan yang mungkin saja menatapnya dengan intens. Lebih parahnya, tatapan rendah mereka yang tidak pernah ia lupakan hingga kini.

Kepalanya menggeleng cepat, bermaksud menepis ingatan itu di saat sekarang ia melupakan akan kenyataan itu. Hatinya yang tersinggung butuh waktu lama untuk kembali setiap itu kembali. Kebenciannya terhadap dirinya yang tidak berdaya―sisi sensitif yang menguasainya―tidak dapat dipungkiri. 

 

“Sial ...” Rendamkanlah, lalu ambil kunci kamar cadangan pemberian Ivan. 

 

Tangannya siap merogoh sakunya harus jeda sebab ada suara yang memeranjatkannya (kira-kira empunya datang tanpa ia sadari dan selagi sibuk oleh konflik batinnya). Oh, ternyata ...

 

“Lho? Till?” Panggilan yang tidak ubahnya dengan orang lain, tetapi, setidaknya, yang memanggil tidak memberikan tatapan mengucilkan. Siapa lagi orang yang selama ini dikhawatirkan; Ivan. Ia tampak khawatir, entah Till tidak menjawabnya atau mempertanyakan mengapa di depan kamarnya. Semua jadi satu, pastinya.

 

Spontan, Till salah tingkah; melangkah mundur dengan suara panik yang tidak mungkin bisa menjelaskan baik. “I-I-IVAN!?”

 

“Sedang apa di sini?” Tipikal Ivan menunjukkan senyum saat berbicara kepada siapa pun. Till justru menemukan raut wajah Ivan tersebut makin terpaksa ketimbang biasanya. Bahkan, tampak menahan kesakitan? Sejak kapan pula bulir keringat menetes tidak terbendung dari pelipis Ivan.

 

“Ivan, kau sakit?” Nah, satu-satunya dugaan yang Till bisa yakini sekarang akan wajah pucat itu. Giliran Ivan yang sedikit panik akibat ucapan Till tepat sasaran. Namun, Ivan seharusnya tahu bahwa ia tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Till.

 

Bodohnya, keras kepala Ivan mau menyaingi keras kepala yang sama saat Till bersikeras tetap berjaga hingga pagi buta demi musik. 

 

“Apa maksudmu, Till? Aku tidak apa-apa―” Dan, apa yang ditakutkan Till terjadi, yaitu Ivan tidak mampu lagi memaksakan dirinya. 

 

IVAN MAU JATUH! 

 

Till menjerit dalam hatinya, dan, badannya otomatis bergerak untuk menangkapnya. Dengan kata lain, ia menggunakan badan sendiri untuk dijadikan tumpuan sandaran lainnya. Namun, apa yang diharapkan tidak segampang itu; Till justru kerepotan menahan beban berat Ivan dan berupaya tidak jatuh bersama.

 

Dasar maniak olahraga! Badan Ivan bukan sembarang badan! 

 

Dengan keluhan yang makin menjadi-jadi sekaligus akhir pula, sebelum ia melepaskan semua usahanya. Raut wajahnya yang frustasi dan sempat memerah menahan berat tidak bisa seterusnya, kini malah tidak terkendalikan.

 

“Lepas, bodoh! Ngapain pegang bajuku!”

 

Ya, masalah lain lagi. Ivan malah berpegangan tangan pada ujung baju Till tatkala Till tidak mampu menjadi penyandar lebih lama. Kedua kaki Ivan pun sama tidak mampu dan dibiarkan lemas. Kekuatan terakhir pada kepalan tangan sirna perlahan setelah Till merasa kewalahan. Seiring badannya ikut tergelincir ke bawah, pegangan tangan―bukannya berhenti―berpindah ke celana Till. Yang malang bagi Till, menemukan celananya ikut tergelincir ke bawah. Mengeksposkan celana dalam Till yang sangat memalukan untuknya. 

 

PANIK BUKAN MAIN. Till mendorong Ivan segera, sekiranya jauh darinya dan memberikan ruang untuk memperbaiki celananya. Walaupun tidak ada saksi mata (untung saja tatapan Ivan tidak kemari; ada sisi baiknya ketika ia sedang lengah), tetap saja memberikannya perasaan malu luar biasa. Belum lagi dihampiri perasaan ingin menghilang sekarang. 

 

“Bisa-bisanya tugasmu ketinggalan. Gara-gara kau pinjam tadi malam, sih!”

 

“Aku antar kau ke asrama sekarang harusnya itu sudah impas. Tidak perlu ungkit-ungkit segala, hei!”

 

Kenapa pilihan waktu mereka datang harus sekarang―ketika Till tidak menginginkan lainnya tahu keberadaannya di sini; di depan kamar Ivan? Suara obrolan tersebut terdengar dari jauh, seiring derap kaki yang menegaskan bahwa orang itu tidak hanya sendiri.

 

Tarik dan tarik kedua kaki―atau menggeret Ivan (salahkan badan Ivan yang berat; bahkan terlampau mustahil membawa lewat cara biasa)―ke dalam kamar milik Ivan. Dilanda urgensi seperti ini, ia tidak mengkhawatirkan suara kunci dan pintu menjadi pertanyaan mereka. Yang penting ia dan Ivan sudah berada di dalam, bersembunyi. 

 

“Kau dengar sesuatu?”

 

“Tidak? Jangan menakutiku; mana ada orang di jam segini.”

 

Kemudian, derap mereka menjauh ke arah tangga. Kamar mereka bukan berada di sekitar sini membuatnya lega. Lengkap pula dengan embusan napas yang lumayan mengangkat beban barusan. Apa yang telah terjadi berhasil membuat raga serta jiwanya amat capek dari biasanya.

 

“Ivan, kau masih hidup?” Alih-alih pemilihan kalimat yang kasar dari seorang sepertinya, ada nada kekhawatiran terselip ketika Till membuka suara sekali lagi di sela merendahkan badannya; berjongkok. Tangannya mendekat ke Ivan. Ingin mengecek bagaimana suhu demam kini dengan membandingkan suhu badan miliknya. Namun, dihentikan lebih dulu oleh tangan Ivan yang menggenggam erat pada tangan Till. Kelewat tiba-tiba berhasil membuat Till wajar terperanjat.

 

“Till ... ” Bibirnya tidak bisa menahan deru napas panas akibat demam kian parah. Pertahanan topengnya pecah di depan Till. Pun, matanya sayu menatap Till begitu menengadah. “Aku tidak bisa hidup tanpamu ...” 

 

Till yang mendengarnya justru ikut memanas. Di dekatnya sudah panas, ia dibuat harus juga; gawat sekali. Jika Ivan tidak sedang sakit, Till mungkin akan terbata-bata pula dan perlu waktu untuk mengembalikan ketenangannya. Kini, ia memandang dengan kasihan bercampur terkesimanya yang selalu pada Ivan selaku seorang ketua dewan siswa sempurna hanyalah orang biasa seperti orang biasa, terlebih sudi menerimanya yang penuh kekurangan. Tiada niat untuk berulah pula.

 

“Aku tahu; kau sangat payah, sih. Makanya, aku datang sekarang ‘kan.” Suaranya hampir menjadi bisikan ketika wajahnya menenggelamkan pada batang leher Ivan, sementara kedua tangannya memeluk badan itu sangat erat. Beban badannya dibiarkan menimpa Ivan. Tidak mau jauh-jauh dari Ivan yang sedang tidak berdaya. Sayangnya, di saat ini, ia frustasi juga kepada dirinya yang tidak punya pergelangan tangan panjang dan besar untuk merangkul segenap badan Ivan, seperti Ivan lakukan kepada dirinya tanpa menyisakan ruang bebas. 

 

Biarlah di saat ini mereka tenggelam di dalam kebisuan sebelum pagi hari tiba yang akan dipenuhi pertanyaan darinya kepada Ivan.

Notes:

Dan Till jatuh sakit, ditemani Ivan yang sakit parah. Kocak. Dasar pasangan payah.

Terima kasih sudah membaca.