Chapter Text
Berikut Bab 1 dari AU “Find Me in Your Sleep”, melanjutkan dari flashback masa lalu. Scarlett terbangun dengan rasa sakit yang membekas dari mimpi yang tidak sepenuhnya ia mengerti—namun terasa terlalu nyata.
---
Bab 1 — Terbangun dari Rasa Sakit
Scarlett terbangun dengan napas memburu.
Sinar matahari belum benar-benar menyentuh tirai kamarnya, tapi tubuhnya sudah basah oleh keringat, seakan ia baru saja berlari menembus badai. Jantungnya berdetak terlalu kencang, dan dada kirinya terasa… kosong. Nyeri.
Seolah sesuatu—seseorang—telah dicabut darinya secara paksa.
Ia memejamkan mata lagi, berharap bisa menarik kembali potongan mimpi yang sudah terburai. Tapi seperti biasa, hanya sisa-sisa samar yang menempel.
Sepasang mata.
Langkah kaki di lorong yang basah.
Dan kalimat terakhir yang terdengar seperti bisikan dalam angin—
“Aku akan memanggilmu dengan namamu.”
Ia menggigit bibir, tenggorokannya tercekat tanpa alasan. Rasa sakit itu tidak datang dari tubuh, bukan juga dari pikiran. Ia datang dari tempat lain. Dari ruang di antara dunia yang tak bisa dijelaskan oleh logika.
Scarlett telah hidup cukup lama dalam sunyi untuk mengenal rasa kehilangan. Tapi tidak seperti ini. Ini lebih dalam. Lebih kuno. Lebih menyakitkan.
Dia menatap bayangannya sendiri di kaca kamar.
Perempuan bertubuh penuh dengan mata lelah dan rambut acak. Wajah yang terlalu sering disembunyikan di balik hoodie atau scarf. Bahu yang selalu sedikit membungkuk meski tak membawa beban apapun.
Perempuan yang seharusnya baik-baik saja. Tapi tak pernah benar-benar merasa utuh.
Dan di balik refleksi itu—ia melihatnya. Untuk sepersekian detik. Sosok pria dalam jas panjang, berdiri di belakangnya, menatap dengan mata yang menyimpan ratusan kalimat yang tak pernah diucapkan.
Scarlett menoleh.
Tak ada siapa-siapa.
Tapi dadanya kembali sesak.
Dan entah mengapa, air matanya jatuh tanpa suara.
“Siapa kamu?” bisiknya ke dirinya sendiri, sambil menyentuh dadanya.
“Kenapa aku merasa pernah kehilanganmu?”
---
Di sisi lain dunia, pada pagi yang sama, Nanami Kento berdiri di depan cermin di kamar mandi apartemennya. Dingin. Rapi. Tak bercela.
Namun di bawah jas mahalnya, ada lingkar hitam di matanya.
Dan di tangannya—sebuah sketsa kecil di kertas memo. Wajah seorang perempuan asing, belum selesai tergambar, tapi penuh kehangatan.
Dan rasa sedih.
Ia merobeknya. Tapi tidak melempar.
Disimpan.
Seperti sesuatu yang berharga, padahal ia sendiri belum tahu mengapa.
“Scarlett…” bisiknya perlahan, tanpa sadar.
Lalu terdiam.
Nama itu tidak pernah ia ucapkan sebelumnya.
Tapi terdengar… seperti doa.
---
---
Kota kecil tempat Scarlett tinggal tidak pernah benar-benar ramai.
Pohon-pohon pinus berjajar rapi di sepanjang jalan, bangunan-bangunan tua berdinding bata merah berdiri seperti saksi bisu atas waktu yang lambat berlalu. Di musim semi, wangi tanah basah dan bunga liar sering kali menyusup masuk lewat jendela yang lupa ditutup rapat.
Tapi pagi ini terasa berbeda.
Scarlett mengenakan mantel biru tuanya dan syal abu-abu yang mulai berbulu. Ia berjalan menyusuri trotoar menuju halte bus, seperti biasa. Tapi langkahnya terasa lebih berat. Udara yang biasanya menyegarkan pagi ini malah menusuk. Bukan karena suhu.
Tapi karena sesuatu di dalam dirinya terasa… longgar.
Seperti pintu yang terbuka sedikit, tapi belum berani disentuh.
Di dalam bus, Scarlett duduk di kursi dekat jendela. Ia menatap bayangannya di kaca—dan tiba-tiba, jantungnya mencelos.
Wajah pria itu.
Sekilas. Di bayangan jendela. Berdiri di luar, menatap ke arahnya. Sama seperti tadi pagi. Mata yang sama. Tatapan yang sama.
Ia menoleh cepat—kosong.
Hanya seorang ibu tua dan anjing kecilnya di luar.
Scarlett menghembuskan napas perlahan. Ini bukan pertama kalinya ia merasa dilihat. Tapi juga bukan pertama kalinya ia merasa aneh karena tidak takut.
Justru sebaliknya.
Sejak mimpi-mimpi itu datang, rasa takut yang biasa menempel seperti kulit mulai digantikan oleh sesuatu yang lebih asing.
Kerinduan.
Yang menyakitkan.
---
Tempat kerjanya adalah perpustakaan kecil yang sepi, di sudut kota. Dia tidak banyak berbicara, hanya menyortir buku, memperbaiki katalog, dan kadang membacakan cerita untuk anak-anak setiap Sabtu pagi.
Pekerjaan yang sunyi. Aman.
Dan sempurna untuk seseorang yang merasa tidak pernah cukup untuk dunia luar.
Hari ini, saat membuka salah satu buku yang baru dikembalikan—Scarlett membeku.
Sebuah memo kecil tergelincir dari halaman tengah.
Tertulis dengan tulisan tangan rapi:
> “I dream of autumn, and of someone who never turned back.”
Tangannya bergetar saat menyentuh kertas itu.
Bukan puisi. Bukan catatan acak. Tapi seperti… seseorang sedang mencoba bicara padanya dari tempat yang sangat jauh.
Atau sangat dekat.
Ia menatap keluar jendela perpustakaan.
Dan untuk sepersekian detik, ia bersumpah melihat jas panjang abu-abu melintas di trotoar seberang jalan.
---
Langit sore tampak seperti lukisan air yang luntur. Kelabu, basah, tapi cantik dengan cara yang muram.
Scarlett menyelipkan kunci ke pintu apartemennya dengan gerakan pelan. Tubuhnya lelah, seperti biasa. Kepalanya berdenyut ringan karena terlalu lama menatap layar komputer. Bahunya pegal karena membawa tas kerja yang kebesaran.
Begitu pintu tertutup, dunia luar menghilang.
Tinggal suara detik jam, dengung kulkas, dan lantai kayu yang berderak saat ia berjalan ke dapur.
Ia mengganti bajunya dengan hoodie kebesaran, mengikat rambut ke atas tanpa cermin, lalu menyalakan teko air.
Hari biasa. Sangat biasa. Tapi hatinya tidak.
Sudah tiga malam berturut-turut ia bermimpi. Mimpi aneh—tentang ruangan tua, hujan di luar jendela, suara mesin tik, dan laki-laki dengan mata yang dingin tapi lembut. Ia tidak tahu siapa pria itu. Tapi di dalam mimpi itu… hatinya seperti mengenalnya.
“Kau lagi…” gumamnya pada bayangan yang tidak pernah bicara dalam mimpinya, hanya menatap dari seberang meja.
Scarlett duduk di sofa dengan secangkir teh, mencoba membaca, tapi fokusnya berhamburan. Kepalanya dipenuhi potongan-potongan: bunga kering, syal setengah jadi, suara puisi yang seolah ia dengar dari masa lalu.
Ia menatap tangannya.
Hanya tangan biasa. Tapi sesekali terasa nyeri. Bukan karena luka—karena ingatan.
“Kenapa aku merasa seperti aku kehilangan sesuatu yang belum pernah kumiliki?”
Pertanyaan itu tidak punya jawaban.
Belum.
Di luar, hujan mulai turun.
Dan di suatu tempat jauh, di negara yang berbeda, seorang pria dengan jas kerja dan tangan dingin juga sedang menatap jendela.
Wajahnya tak berubah. Tapi matanya kosong.
Seolah menunggu sesuatu.
Seseorang.
---
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Scarlett masih di sofa, bukunya terbuka tapi tak terbaca. Teh-nya sudah dingin. Dan kamar apartemennya yang kecil terasa semakin menyempit, seolah semua dinding ingin menanyakan hal yang sama: kenapa hatimu terasa berat, padahal tidak ada apa-apa hari ini?
Ia mengusap pelipisnya. Lelah. Tapi bukan karena kerja.
Ini seperti… rindu. Tapi pada siapa?
Ia berdiri, berjalan menuju meja kecil tempat ia menulis jurnal—sesuatu yang ia lakukan sesekali saat pikirannya terlalu penuh. Ia duduk. Menatap halaman kosong.
Lalu menulis:
> “Aku bermimpi lagi. Tentang dia.
Aku tak tahu siapa dia. Tapi aku merasa mengenalnya seperti aku mengenal diriku sendiri.
Aku bahkan tak ingat suaranya. Tapi matanya… matanya membuat dadaku sakit.”
Tangan Scarlett berhenti sejenak. Ia menelan ludah, lalu menulis lagi:
> “Setiap kali aku terbangun dari mimpi itu, aku merasa kehilangan.
Seolah aku pernah bahagia. Seolah aku pernah dicintai—dan kemudian ditinggalkan.
Tapi itu mustahil, kan? Itu cuma mimpi.”
Ia menarik napas panjang, menutup buku itu dengan gerakan pelan. Lalu berdiri dan berjalan ke jendela.
Hujan masih turun. Cahaya lampu kota berpendar di permukaan kaca, menciptakan bayangan samar dirinya sendiri.
Dan untuk sesaat… ia merasa ada seseorang di balik pantulan itu.
Seseorang yang pernah menatapnya dengan rasa yang dalam.
Seseorang yang pernah memanggil namanya dengan suara parau dan lembut.
Scarlett…
Dadanya bergetar. Tangannya refleks meraih syal tua yang tergantung di kursi.
Ia bahkan tak ingat dari mana syal itu berasal. Tapi ia tak pernah membuangnya.
Benang-benangnya kusut, warnanya memudar. Tapi… ada rasa hangat yang tinggal.
Ia memeluk syal itu erat-erat dan berbisik nyaris tanpa suara:
"Kalau kau ada di suatu tempat… temukan aku lagi."
---
