Work Text:
Sejak kecil, Woonhak selalu punya ide-ide yang—dalam kepalanya—terdengar jenius tapi kalau diucapkan keras-keras, lebih sering buat orang dewasa geleng-geleng kepala.
Mama dan Ayahnya sudah terlalu terbiasa tepuk jidat tiap anak sulung mereka itu melakukan hal ‘ajaib’ yang tidak masuk logika. Dan kali ini? Woonhak mendadak mendaftarkan diri ke gym, demi menarik perhatian tetangganya yang ia taksir diam-diam.
Ceritanya bermula dari sore yang tampaknya biasa saja. Ia mampir ke rumah sebelah untuk nonton film bersama Myung Jaehyun—teman sekaligus tetangga, sekaligus crush-nya sejak lama. Tapi tentu, Woonhak terlalu gengsi untuk mengaku.
Jaehyun lebih tua tiga tahun, tapi mereka malah terlihat seperti sebaya. Entah karena Jaehyun punya aura anak kecil yang susah dewasa, atau justru karena Woonhak terlalu keras berusaha tampak dewasa sejak remaja.
Sore itu, mereka iseng menyalakan film acak.
Lalu bosan.
Mengganti film.
Lalu bosan lagi.
Sampai akhirnya, entah bagaimana, mereka justru berakhir menonton acara kencan buta di mana sekumpulan orang saling menggoda di depan kamera dengan cara yang—menurut Woonhak—terlalu dramatis dan scripted.
“Ini fake banget,” gerutunya sambil mengunyah keripik.
Namun Jaehyun malah tertawa dan berkata santai, “Tapi lucu, kan? Siapa tahu bisa belajar dari sini biar dapat pacar beneran.”
Woonhak diam.
Matanya melirik Jaehyun yang masih tertawa pelan.
Lalu kepalanya mulai sibuk mencerna, belajar biar dapat pacar… berarti… cari tahu tipe Kak Jaehyun?
Secara halus, ia mulai bertanya ini-itu sambil pura-pura fokus nonton.
Dan saat Jaehyun akhirnya menjawab, “Tipeku cowok yang suka olahraga, sih. Yang bugar gitu,”
itulah momen otak Woonhak meledak pelan-pelan seperti mesin pencari tua yang kebanyakan tab terbuka.
Step 1: daftar gym.
Step 2: jadi cowok bugar.
Step 3: buat Kak Jaehyun jatuh cinta.
Step 4: happily ever after.
Mudah.
Seharusnya.
⋆
Hari pertama gym, dan Woonhak sudah merasa seperti protagonis drama romantis.
Kaus baru—dipilih khusus karena katanya bahan yang cepat menyerap keringat, celana training hitam, dan sebotol air mineral yang ia isi sendiri dari rumah demi hemat budget (karena hanya daftar gym saja sudah mengurangi jatah jajan).
Woonhak berdiri di depan papan petunjuk gedung, menatap tulisan yang banyaknya seperti soal ujian.
Studio O - HIIT Training
Studio P - Zumba
Studio Q - Yoga Flow
Studio R - Pilates
Woonhak lanjut berjalan menuju petunjuk arah ke ruangan tujuannya. Studio O, oke. Katanya dalam hati. Tanpa curiga, Woonhak dorong pintu kaca besar bertuliskan Studio O.
Begitu pintu terbuka, aroma lavender dan angin dari diffuser langsung menyambutnya. Ruangan itu terang tapi tenang, dilapisi karpet yoga berwarna hitam seragam. Ada sekitar delapan ibu-ibu duduk bersila, semuanya berpakaian seperti habis pulang dari retreat spiritual.
Di tengah, seorang wanita berkuncir cepol menoleh dan tersenyum.
“Selamat datang, sayang. Baru pertama kali, ya?” Suara lembut itu seperti kasur empuk yang bisa bicara.
Woonhak sontak terdiam. Ini bukan HIIT, ini bukan tempat orang lompat-lompat dan angkat beban.
Ini… kelas yoga.
Dan dia… satu-satunya laki-laki di bawah usia 35 tahun di ruangan itu.
Dan dia ingin kabur.
Namun sebelum bisa putar badan, Bu Rina—si instruktur—sudah mendekat sambil menepuk bahunya, “Semangat ya, Nak,” katanya dengan senyum—yang anehnya—terlihat mirip dengan Mamanya Jaehyun. “Napas itu kunci kehidupan. Yuk, duduk. Taruh HP-mu, dan lepaskan beban dunia.”
Woonhak, dalam keadaan setengah sadar, akhirnya duduk di atas karpet hitam dengan posisi bersila.
Di sekelilingnya, para ibu mulai mengatur napas dalam irama. “Napasmu terasa sempit, Nak?” bisik salah satu ibu, penuh simpati. “Aku juga dulu gitu, waktu suami nikah lagi.”
Woonhak tersenyum kaku. Lalu lagu lo-fi meditasi tiba-tiba mengalun. Bu Rina sudah mulai menyebut nama-nama pose yang terdengar seperti nama-nama karakter RPG.
“Kita mulai dengan Utkatasana… lalu lanjut ke Bhujangasana… dan jangan lupa tersenyum.”
Woonhak mengikuti dengan pelan, sambil dalam hati menangis. Ini bukan HIIT. Ini HIID (Help, I think I'm Doomed).
Dan dari situlah semuanya dimulai. Dari niat jadi cowok bugar yang memikat, dia justru jadi anggota tetap kelas yoga ibu-ibu.
⋆
Sejak Woonhak rutin datang ke kelas yoga tiap akhir minggu, Jaehyun mulai susah mengajaknya bermain. Biasanya, Woonhak langsung muncul di depan rumah Jaehyun sambil membawa cemilan atau film aneh. Sekarang? Minggu sore-nya selalu padat jadwal, dengan Bu Rina dan delapan ibu-ibu yang lebih fleksibel dari hidupnya sendiri.
Sebenarnya, Woonhak bisa saja batalkan kelasnya. Tapi masalahnya:
1. Tidak ada refund.
2. Dia hanya mahasiswa biasa.
3. Harga kelas yoga itu setara tiga kali makan kenyang di kantin kampus.
4. Tiga minggu absen = tiga minggu makan mie instan tanpa telur.
Jadi, di sinilah dia sekarang. Minggu ketiga bersama Bu Rina dan tujuh ibu-ibu (minus satu hari ini—Bu Nina absen karena suaminya yang berdinas pulang mendadak dan "butuh perhatian khusus", katanya).
Dan Woonhak? Dia sudah bukan peserta baru lagi.
Matrasnya punya label namanya. Infused water-nya selalu ada ekstra lemon. Dan dia bahkan punya julukan, “Mas Lentur”.
Selama tiga minggu ikut kelas ini, Woonhak tidak hanya belajar teknik pernapasan dan cara melipat tubuhnya seperti origami. Dia juga—secara tidak langsung—belajar soal kehidupan. Karena ibu-ibu ini bukan hanya ahli downward dog, tapi juga ahli hubungan rumah tangga.
Jadi Woonhak, yang memang anaknya gampang akrab, mulai bertanya-tanya. “Bu… dulu gimana caranya bisa dapetin Pak Suami?” Dan begitulah, petuah-petuah sakti pun berdatangan.
“Nak, inget ya. Lelaki itu paling nggak tahan sama yang bisa bikin dia ketawa. Makanya Ibu stand-up-in dia tiap malam.” Kata Bu Santi, yang terkenal paling suka melawak.
“Kalau aku sih, masakin dia tiap hari. Tapi sengaja salahin garam biar dia mikir ‘kasihan juga ya dia udah usaha.’ Lama-lama luluh, Nak.” Itu Bu Linda, anaknya sudah tiga.
Bu Yuyun datang menimpali, “Trik Ibu simpel, tiap kali dia bete, Ibu pura-pura lupa nama mantan dia. Makin gondok, makin cinta.”
Woonhak mencatat semuanya di Notes HP-nya, diberi judul, “Strategi Mendekati Kak Jaehyun (versi emak-emak).” Walau beberapa tips buat dia bingung, seperti “Paksa dia ikut arisan, terus kasih dia hadiah rice cooker.” atau “Kalau dia sakit, datangi pakai jas hujan biar dramatis.”
...tapi Woonhak tetap tulis. Siapa tahu berguna.
Dan di tengah semua keanehan itu, dia mulai sadar. Walaupun niat awalnya salah masuk kelas, tapi sekarang—mungkin—dia tidak bisa lepas dari kelas yoga ini. Bukan karena uangnya sudah terlanjur keluar, tapi karena dia nyaman.
Dengan ibu-ibu. Dengan Bu Rina. Dengan semua tawa dan mantra-mantra absurd yang entah kenapa buat dia lebih tenang.
Dan mungkin, suatu saat, dia akan ajak Jaehyun untuk ikut. Agar Jaehyun bisa lihat sendiri kenapa Woonhak susah untuk menolak yoga setiap minggu.
⋆
Saat itu hari Sabtu sore, dan seperti biasa, Woonhak sedang bersiap-siap untuk pergi yoga. Ia sedang membungkuk mengikat tali sepatunya yang terlepas saat tiba-tiba ponselnya berdering, menampilkan nama “Kak Jaehyun” di layar.
Panik. Tapi tetap dia angkat.
“Halo?”
“Woonhak, aku ke rumah, ya?”
Hah?! Woonhak langsung kelimpungan. Gawat. Kak Jaehyun mau main ke rumah, padahal hari ini Bu Yuyun sudah berjanji akan membagikan “tips jitu menyatakan cinta tanpa ditolak” dalam sesi yoga mingguan.
“K-Kak, maaf. Aku... aku ada janji,” katanya gugup. Jaehyun terdiam sebentar. “Janji… apa?”
“Anu... itu. Aku ada sesi gym hari ini,” jawab Woonhak asal. “Gym?” tanya Jaehyun, terdengar setengah bingung, setengah kaget. “Sejak kapan kamu mulai gym?”
Sejak tiga minggu lalu, tapi salah masuk ruangan, batin Woonhak pasrah.
“Baru mulai, sih… Itu pun di gym deket kampus. Aku memang lagi coba rajin olahraga. Jadi akhir-akhir ini Sabtu dan Minggu agak sibuk.”
Ucapannya terdengar mantap dan percaya diri.
Secara teknis benar. Hanya beda ruangan saja. Yoga, bukan HIIT. Tapi, kan, masih di gym.
“Oh, begitu…” Jaehyun terdengar mengangguk di seberang. “Oke deh, kabari aku kalau kamu senggang, ya. Tapi... kamu memang nggak kangen aku?”
Serangan mendadak.
Woonhak nyaris copot sepatunya.
Rasanya ingin langsung lari, buka pintu, dan peluk Jaehyun detik itu juga. Tapi... janji tetaplah janji.
Ia tidak mungkin mengecewakan Bu Yuyun dan ilmu cinta pamungkasnya.
“Tentu saja aku kangen!” jawab Woonhak cepat. “Nanti aku kabari Kak Jaehyun kalau aku ada waktu, ya.”
Dan sebelum hatinya sempat meleleh lebih jauh, Jaehyun menutup telepon.
Dan besoknya, Woonhak sudah memantapkan hatinya, ia akan menyatakan cinta pada Jaehyun.
Selama hampir sebulan terakhir, ia merasa bekalnya sudah cukup lengkap.
Ia bisa split. Ia tahu cara memijat titik akupresur untuk insomnia. Ia hafal tujuh jenis teh herbal. Dan yang paling penting—ia kini tergabung dalam lima grup WhatsApp ibu-ibu komplek.
Namun setelah mendengar tips jitu menembak kekasih dari Bu Yuyun kemarin, Woonhak sadar, ternyata aku belum tahu apa-apa.
Woonhak melangkah ke apartemen Jaehyun—dengan niat besar dan perlengkapan tempur; pakaian yoga lengkap, termos teh jahe, dan tekad membara untuk show off.
Begitu pintu dibuka, ia langsung berseru, “Kak!”
Jaehyun, yang masih setengah ngantuk dengan piyama Pochacco dan rambut berantakan, menyipitkan mata. “Kamu kenapa... kayak mau meditasi sambil perang?”
Tanpa menjawab, Woonhak langsung mengambil posisi split dramatis di ruang tamu.
“Aku… bisa split sekarang.”
Jaehyun melongo.
“Dan ini teh jahe,” ucap Woonhak sambil menyerahkan termos. “Bagus buat sirkulasi darah. Juga… aku bisa napas lewat satu lubang hidung. Mau lihat?”
Jaehyun tak menjawab. Ia hanya duduk, menatap Woonhak yang masih dalam posisi split (yang perlahan mulai buat betisnya tremor), lalu tertawa—keras.
“Woonhak… kamu salah masuk kelas gym, ya?”
“...Iya.”
“Terus kamu… bertahan karena malu buat keluar?”
“...Iya.”
Jaehyun tertawa lagi, kali ini lebih lembut. Ia merangkak duduk di sebelah Woonhak—yang mulai kram tapi terlalu gengsi untuk mengaku.
“Kenapa kamu mulai nge-gym?” tanyanya, masih dengan sisa tawa di napasnya.
Woonhak menunduk sebentar. Lalu dengan suara pelan, ia menjawab, “Pas kita nonton film waktu itu, Kakak bilang suka cowok yang bugar dan suka olahraga. Jadi… aku coba gym biar Kakak suka aku. Aku tahu aku belum berotot, belum kayak cowok-cowok HIIT Training itu... tapi aku bisa jagain Kakak. Dengan badanku yang lentur ini.”
Ia menghela napas.
“Aku suka Kakak dari dulu. Aku nggak mau terus jadi tetangga atau adik kecil di sebelah rumah. Aku pengen pacaran sama Kakak.”
Jaehyun terdiam sejenak. Lalu tersenyum.
“Woonhak, aku nggak butuh kamu jadi cowok gym.”
“Terus?”
“Aku cuma butuh kamu… jadi kamu. Lucu. Absurd. Konyol. Tapi bikin hariku nggak pernah sepi.”
Woonhak membeku. Kemudian perlahan, senyum kecil muncul di ujung bibirnya.
“Jadi… aku berhasil bikin Kakak jatuh cinta?”
Jaehyun mengangguk sambil terkekeh.
“Kamu udah berhasil… sejak kamu ngirimin aku stiker ‘good morning dari manusia salju’ tiap jam 6 pagi.”
Mendengar itu, Woonhak langsung berdiri—masih dengan gaya dramatis—dan berteriak,
“BU RINA! AKU SUDAH DAPAT PACAR!”
Suara dari grup WhatsApp yoga langsung terdengar dari HP-nya yang menyala, “Alhamdulillah ya, Nak! Jangan lupa stretching-nya tetap dijaga!”
⋆
Seminggu setelah Woonhak sukses menyatakan cinta (dan membuat seisi grup WhatsApp Bu Rina heboh dengan spam stiker mawar), Bu Rina mengundang mereka untuk ikut kelas couple yoga hari Minggu pagi.
“Ini spesial untuk pasangan muda yang saling mencintai dan ingin membangun koneksi lebih dalam lewat gerakan tubuh dan napas,” begitu katanya.
Woonhak mengangguk semangat. Jaehyun—setengah terjebak, setengah penasaran—ikut mengiyakan.
Jaehyun datang dengan hoodie kebesaran dan tatapan curiga ke segala arah. Woonhak? Bawa dua termos teh jahe dan satu kotak mochi isi kacang hijau, "buat bonding habis yoga," katanya.
Begitu mereka masuk ke ruang yoga, para ibu langsung berseru,
“Ih ini dia pacar baru Woonhak!”
“Lucu banget sih yang satu ini, kayak Puppy beneran!”
Jaehyun nyaris kabur. Tapi tangan Woonhak sudah erat menggenggamnya, seperti bilang, kalau kamu lari, aku split di depan pintu.
Sesi sudah dimulai, Woonhak dan Jaehyun duduk memperhatikan Bu Rina di depan.
Gerakan pertama: “Paschimottanasana berdua.”
Alias, duduk berhadapan, pegangan tangan, dan saling tarik.
“Tarik perlahan... rasakan cinta lewat punggung pasangan...” ucap Bu Rina lembut.
Woonhak langsung nyengir, “Rasakan cinta aku, Kak!”
Jaehyun narik terlalu semangat—dan hampir bikin Woonhak nyusruk ke depan.
Gerakan kedua: “Flying partner pose.”
Alias, satu orang jadi dasar, satu orang terbang di atas kakinya.
“Kita nggak bakal jatuh, kan?” tanya Jaehyun, pasrah telentang. “Cinta sejati tidak jatuh. Ia mengudara,” jawab Woonhak puitis—sebelum hampir bikin Jaehyun benar-benar mengudara ke tumpukan matras sebelah.
Sesi ditutup dengan pose relaksasi: berbaring berdampingan, sambil pegang tangan.
Bu Rina mematikan lampu. Musik instrumental mengalun. Lalu suara lembutnya berkata, “Ingat... dalam cinta, bukan tentang siapa yang paling kuat. Tapi siapa yang paling lentur dalam memahami satu sama lain.”
Jaehyun melirik ke samping.
Woonhak sudah tertidur. Masih senyum. Masih memegang tangannya erat.
Dan untuk pertama kalinya, Jaehyun merasa, mungkin salah masuk kelas gym bukan kesalahan. Tapi tanda takdir.
