Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-04-25
Words:
788
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
6
Hits:
136

Nyala

Summary:

Jang Hyun waited for Gil Chae, but she's not coming.

Notes:

This fic is inspired by an Indonesian song "Nyala" by Sal Priadi. It portrays hurt, betrayal, and anger in a very Jang Hyun way. So, I suggest to play the song while reading this. Enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Mari kita rayakan cemburu

Yang sedang ganas-ganasnya menyerang

Tepat di ulu hatimu

 

Jang Hyun mengutuk langit yang cerah, seolah Dewa sengaja mengolok kesedihannya dengan menyediakan kanvas berupa langit sore yang terang dan membahagiakan. Jingga.

Jingga adalah kelir semburat matahari terakhir di langit sore itu, juga kelir jeogori yang ia kenakan, juga kelir api yang ada di hatinya. Ingin rasanya ia bawakan nyala api itu di tangannya, ia persembahkan ke depan perempuan itu supaya ia bisa melihat sepanas dan sebengis apa sukmanya sekarang ini. Raungan api yang seperti deru gunung berapi bersiap meletus itu pada akhirnya hanya keluar sebagai hela napas panjang dan berat. Jang Hyun membuka surat yang perempuan itu tuliskan – yang beberapa saat lalu ia titipkan lewat gadis pelayannya untuk Jang Hyun.

 

Tabik,

Memang benar hati saya sempat tergoyah, akan tetapi rupanya saya tidak cukup mencintai Tuan untuk rela meninggalkan segalanya dan kabur bersama Tuan. Apabila masih ada nama saya di dalam ingatan Tuan, tinggalkan.”

 

Jang Hyun tidak mengira sebelumnya, bahwa hati manusia bisa menahan keremukan seremuk ini. Pandangannya kabur karena air mata, ketika tangannya melepaskan kertas terkutuk itu ke air danau. Setidaknya permukaannya yang tenang akan menelan surat itu.

 

Beri juga, beri juga

Tepuk tangan yang riuh

Untuk dia, untuk dia

Yang memilih menjauh

Bergegas, berkemas, berlayar

Dari tangisanmu yang mulai membandang

 

Beberapa saat sebelumnya, Jang Hyun telah kokoh berdiri di dermaga, menunggu perempuan itu menyusulnya. Di kepalanya telah mewujud berbagai sumpah manis yang mereka jalin semalam – yang mereka bagi di sela mata yang lapar, tangan yang lapar, bibir yang lapar...

Mereka akan bergandengan tangan hingga tangan-tangan itu keriput. Mereka akan berbagi kisah hingga suara-suara parau. Mereka akan betah memandang wajah masing-masing di pagi ketika sisa-sisa mimpi masih terlihat, dan di malam ketika jejak-jejak keletihan mengambil alih. Jang Hyun akan memetik bunga, lalu membawanya pulang hanya untuk membandingkan betapa remehnya kecantikannya disandingkan dengan satu petak kulit perempuan itu. Pendar matanya. Penuh bibirnya. Merdu suaranya.

Pergilah dahulu Tuan ke dermaga, saya akan segera menyusul, pesannya. Bohong besar apabila Jang Hyun tidak melihat sekelebat ragu di mata perempuan itu. Tapi Jang Hyun tersenyum, tidak mungkin janji serupa madu itu kalah oleh keraguan. Maka ia menunggu. Jantungnya seakan ikut menunggu, berdetak setengah-setengah.

Cemasnya pecah ketika seorang gadis pelayan mendekatinya dengan lunglai, menyerahkan surat dengan tangan gemetar, yang diterima Jang Hyun dengan tangan yang lebih gemetar lagi. Puan menyuruh saya memberikan ini, ujarnya. Kiamat.

Jang Hyun membacanya di atas sampan kecil yang akan membawanya – sendirian, padahal harusnya tidak – menyeberang danau, menuju tanah sebelah yang membentang hingga tujuannya; negeri orang. Negeri orang yang asing, dingin, ketus, dan berdarah-darah. Negeri orang yang tidak mengandung nama perempuan itu.

Api di hatinya mewujud, awalnya setitik bara amarah yang ditiupi angin pengkhianatan sehingga jadi kobar patah hati. Nyalanya terang menyilaukan, membakar, menegangkan.

 

Aku ingin jadi jantungmu

Dan berhenti semauku

Agar kau tahu

Rasanya hampir mati ditikam patah hati

 

Bagaimana ia bisa setega itu? Bukankah baru semalam mereka berlari bergandengan tangan membebaskan segalanya dari lelaki berkumis tebal itu – tunangan yang satu purnama lagi akan perempuan itu nikahi. Bukankah baru semalam Jang Hyun mendeklarasikan penghambaannya – raga dan sukmanya milik perempuan itu seorang. Bukankah ia berkata akan menyusul, lalu bersama-sama menyeberangi danau dan hidup menjadi satu hingga akhir waktu.

Di tangannya ada sepasang sepatu dengan motif bunga, awalnya hadiah untuk perempuan itu. Kini, sepatu itu sepatutnya koreng di atas luka. Buruk, mengganjal, merepotkan. Sepatu bunga itu mengingatkannya atas banyak hal; rasa cintanya, tapi juga kecewanya. Maka ia biarkan air danau menelannya juga. Biarlah sepatu itu menjadi bukti bahwa cinta terkadang bajingan.

Dalam suratnya, perempuan itu menulis bagaimana hatinya remuk jadi seribu bagian, dan ia berharap Jang Hyun tidak merasakan itu. Kalimat itu harusnya jadi obat, tapi bagi Jang Hyun dan degup jantungnya membentuk nama perempuan itu, kalimat itu seolah minyak menyiram api. Jang Hyun mengepalkan tangannya. Aku bukan malaikat sepertimu.

Ia harap perempuan itu merasakan sakit yang ia rasakan. Jang Hyun ingin jadi jantungnya, supaya ia bisa berhenti sesuka hati. Jang Hyun ingin jadi dunianya, supaya ia bisa berputar berlawanan arah. Jang Hyun ingin jadi jiwanya, supaya ia bisa acak-acak kewarasannya. Supaya perempuan itu mengerti pedihnya patah hati. Betapa kewalahan dan kerepotan rasanya patah hati – Jang Hyun harus berkutat dengan kepingan hatinya sendiri bertahun-tahun. Berjingkat agar kakinya tidak tertusuk pecahan beling. Menempel bagian demi bagiannya lagi dengan perekat dan berpura-pura seolah retakannya tidak terasa janggal.

 

Dengarlah tidak kau suara itu

Itu suara retaknya nyawaku

 

Jang Hyun bersumpah ia bisa mendengar sesuatu di dalamnya berkeretak, seperti kaca dilempar ke jilatan lidah api. Ia tidak menoleh ke belakang sedikit pun. Untuk apa ia menengok ke arah angin yang terkutuk itu, tempat hatinya telah ia tenggelamkan dalam-dalam.

Andai ia tahu patah hati sepedih ini, tidak akan ia ukir nama perempuan itu di dasar relung hatinya.

Nyala api itu tidak kunjung padam.

 

 

 

Notes:

AAARGH writing in Bahasa Indonesia is so deliberating!!!