Work Text:
Malam semakin larut dan sepi. Hanya terdengar suara deruan napas tenang—menandakan betapa lelapnya Phugun tertidur. Lampu kamar menyala redup, menciptakan bayangan lembut di wajah Phugun yang tenang dan damai.
Cirrus duduk termenung di samping kasur, matanya tak lepas dari wajah Phugun. Ia menyandarkan tubuhnya sedikit lebih dekat, mencoba meredakan gejolak dalam dirinya. Sesekali ia membelai pelan rambut Phugun yang sedikit berantakan, dan mengusap lembut kening yang terasa hangat.
Keinginan untuk terus berada di samping Phugun, menjadikan Phugun miliknya seutuhnya, semakin membesar seiring waktu. Tapi hati kecilnya terus mengingatkan: jangan terburu-buru. Ia terlalu takut, terlalu ragu. Ia tidak ingin membuat Phugun menjauh karena perasaannya sendiri.
Dalam dirinya berkecamuk—antara rasa cinta yang ingin diungkapkan dan ketakutan jika perasaannya tak berbalas. Ia membenarkan selimut yang terjatuh karena gerakan Phugun dalam tidur, lalu kembali duduk diam, mengagumi dalam diam.
Seketika, dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara detik jam dan napas Phugun, hatinya mulai berbicara,
"Tahukah kamu, ya cuma kamu pemilik hatiku? Tak ada yang lain. Sejak hari itu—saat kamu berbicara padaku lewat gelas benang itu—hatiku telah memilihmu.
Aku hanya bisa melihatmu dari jauh, mengagumi wajahmu saat tidur, meski kamu tak tahu apa-apa. Aku ingin terus berada di sampingmu, mengamatimu setiap detik—tidak hanya dari jauh maupun saat kamu terlelap. Tapi aku masih terlalu takut, terlalu pengecut untuk mengungkapkan semuanya padamu.
Suatu hari nanti, mungkin… kau akan tahu. Tentang bagaimana aku mencintaimu, bahkan di saat kamu hanya terdiam dalam tidurmu."
Cirrus menatap Phugun sekali lagi, senyuman kecil terukir di wajahnya. Ia tak berkata apa-apa, hanya membiarkan perasaannya menggantung di antara ruang hening yang menyelimuti mereka. Tak perlu balasan saat ini. Yang penting, Phugun ada di hadapannya.
Dan itu sudah cukup untuk malam ini.
