Chapter Text
Setelah bertemu dengan direktur perusahaan agensi serta tim utama dari sang aktor, Yang Jaewon diarahkan oleh salah satu staf menuju ke ruang make up. Nanti disana ia akan diberikan arahan lanjutan oleh Jangmi, MUA pribadi dari sang aktor—calon bosnya sebelum sang aktor datang.
“Oke kau sudah dengar kan? Sebagai personal assistant nya nanti kau standby di jam 5 pagi sampai paling malam jam 7. Selebihnya kau baca-baca lagi isi email.”
“Baik, terima kasih Jangmi-ssi.”
Jangmi tersenyum kemudian menganggukan kepalanya, “Noona would be fine, Jaewon. Satu lagi, good luck!” Ucapnya sambil mengangkat kedua kepalan tangannya memberikan semangat.
Jaewon ikut mengangkat kedua kepalan tangannya agar menunjukkan bahwa ia ikut antusias di hari pertama bekerja.
Jangmi kemudian berbalik badan untuk membuka tas make up nya, menyiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk merias sang aktor.
Jaewon yang melihat Jangmi mempunyai kesibukan sendiri pun langsung mencari tempat duduk di ruangan yang tidak begitu kecil tersebut. Ia membuka email yang baru dikirimkan oleh salah satu staf lain sang aktor yang berisikan hal-hal serta informasi pentiyng yang harus ia ingat-ingat dengan baik agar pekerjaannya berjalan dengan lancar.
Email dengan subject ‘BAEK KANGHYUK’ dibuka oleh Jaewon dan dibaca olehnya secara perlahan.
-
Minggu pertama Jaewon bisa dibilang gagal total. Itu penilaian dari Jaewon sendiri untuk pekerjaannya di-satu minggu ini.
Di penghujung hari kerja, Jaewon dengan Jangmi, dan tentunya dengan staf-staf lain bernama Gyeongwon—manajer utama, Dongju—asisten dari Gyeongwon, dan Agnes—asisten Jangmi kini berkumpul untuk evaluasi mingguan di sebuah kedai makan dekat dengan penthouse milik Kanghyuk.
Gyeongwon menuangkan botol soju ke gelas kecil di hadapan Jaewon sembari berucap, “Aku rasa minggu pertama ini lumayan lancar ya?” Diikuti dengan tanda tanya yang Jaewon rasa lebih seperti tanda keraguan untuk membuka pembicaraan pertemuan pertama Jaewon dengan staf Kanghyuk.
Belum sempat Jaewon membuka mulut, Jangmi yang menjawabnya, “Jaewon menangani Kanghyuk yang sedang badmood dengan baik teman-teman. Dia jauh lebih baik daripada Yuna.”
Setelah gelas soju itu penuh, Jaewon tanpa berbasa basi langsung meminum nya dalam sekali teguk. Membuat keempat pasang mata yang sedang menaruh pandangan kepadanya itu tak berkedip.
“Apakah Baek Kanghyuk memang benar-benar semenyebalkan itu?” Tanya Jaewon setelah selesai meneguk.
Agnes, wanita yang duduk di sampingnya itu menganggukan kepalanya.
“Jaewon-ssi, Baek Kanghyuk minggu ini itu tidak ada apa-apanya dengan Baek Kanghyuk yang baru bertemu dengan Board of Directors. Ini masih di level 3 dan level tersebut masih kami kategorikan dengan level aman,” ucap Dongju sambil memakan kentang goreng yang ia pesan.
Menjadi seorang personal assistant memang bukanlah pekerjaan yang cukup umum mengingat seharusnya urusan pekerjaan dan pribadi ini sudah dikerjakan oleh manajer. Tetapi di agensi tempat Jaewon bekerja, beberapa aktor senior yang memang sudah memiliki jam kerja tinggi, akan diberikan personal assistant untuk urusan pribadi sedikit menyerempet ke urusan pekerjaan agar beban dari sang manajer bisa sedikit terbantu oleh hadirnya personal assistant.
Dua minggu lalu, setelah Yurim mengumumkan bahwa ia akan mulai mengurangi pekerjaannya untuk fokus dengan keluarganya, Jaewon dipanggil oleh BOD. Ia diifonkan untuk pindah menjadi PA dari Aktor Baek Kanghyuk jika ingin melanjutkan pekerjaan. Bahkan saat ia di ruangan mendengar ide tersebut, sudah ada Yurim yang tampak sangat bersemangat untuk menyuruhnya bekerja dengan Baek Kanghyuk.
Tawaran pekerjaan dengan gaji yang cukup menggiurkan membuat Jaewon menjadi tertarik. Ia juga berpikir, Kanghyuk yang digemari oleh wanita serta pria di seluruh penjuru Korea serta di seluruh dunia, pasti tidak akan menyebalkan mengingat pria ini pria dewasa. Bukan seperti anggota boygroup yang baru debut dan mungkin akan banyak meminta pertolongan karena mereka baru masuk di dunia entertainment.
Ternyata Jaewon salah besar. Ia awalnya berpikir bahwa bekerja sebagai personal assistant dari Han Yurim, aktor senior yang ia ingat hanya berbeda 2 tahun dari Kanghyuk, akan menjadi pekerjaan yang cukup melelahkan. Seharusnya jika ia sudah lolos melewati Yurim nantinya ia bisa lolos menjadi personal assistant siapapun. Tapi ternyata kualifikasi bisa bertahan dengan Yurim berbeda dengan kualifikasi bisa bertahan dengan Kanghyuk.
Kanghyuk bahkan lebih parah dari anak sekolah dasar yang lupa akan tugasnya dan baru akan mengerjakannya 3 jam sebelum sekolah.
Jaewon yang sedang mengunyah kentang goreng tiba-tiba mengingat satu nama yang disebut oleh Jangmi tadi.
“Yuna.. Yuna itu siapa?” Tanya Jaewon kepada Jangmi yang duduk di seberangnya.
Jangmi yang sedang menuangkan saus ke sup nya itu menjawab, “PA minggu lalu. Dia hanya bertahan 3 hari setelah Kanghyuk menyuruhnya untuk mencatat semua pakaian miliknya.”
“Apa?” Jaewon mencoba memahami kalimat yang Jangmi maksud.
“Mencatat pakaian Kanghyuk. Tuan besar Baek menyuruh Yuna untuk datang ke penthouse nya kemudian ia menyuruh Yuna untuk menuliskan semua pakaian Kanghyuk dalam waktu 2 hari. Semua catatan itu harus lengkap dengan gambar. Katanya ia terinspirasi dari sebuah film.”
Penjelasan Gyeongwon membuat Jaewon melebarkan mulutnya.
“Itu bukan pekerjaan Yuna dan kalaupun memang dia ingin Yuna yang mengerjakan, 2 hari bukanlah waktu yang lama untuk bisa mencatat pakaiannya yang ada di lemari sepanjang 10 meter itu,” Jaewon memukul pelan meja untuk mengeluarkan pendapatnya.
Agnes mengangkat bahunya. Ia kemudian berucap, “Sebagai informasi, kami selalu bercanda bahwa memang tuan Baek itu sepertinya sengaja memecat Yuna tapi mungkin ia tidak bisa memberikan alasan pasti sehingga ia menyuruh Yuna melakukan hal aneh dan yang membuatnya ingin keluar. Itu juga yang terjadi pada Songhee serta Inna.”
Jaewon bisa melihat tiga kepala lainnya menganggukan kepala bersamaan dan hal tersebut membuatnya semakin kesal. Bisa saja ia menjadi korban selanjutnya bukan? Tinggal menunggu hal konyol apa yang akan Kanghyuk suruh kepada Jaewon kalau begini ceritanya.
“Menurutku jalani saja dulu minggumu ya Jaewon? Selagi kau bisa, mungkin bisa iya kan dulu semua permintaan lucu dari Kanghyuk?” Permintaan Jangmi adalah satu-satunya hal yang terakhir ia dengar sebelum ia memutuskan untuk meneguk soju lagi. Kali ini ia berhasil mengambil dari gelas milik Dongju. Sepertinya memutuskan untuk minum-minum sebelum hari sabtu, bisa membuatnya menjadi orang waras lagi sebelum ia bertemu dengan Kanghyuk nanti di hari senin.
-
Pada email ‘BAEK KANGHYUK’ tertulis, jika ada jadwal resmi di hari sabtu dan minggu, maka Jaewon akan mendapatkan gaji yang dihitung perjamnya. Namun jika memang jadwal tersebut bukan jadwal resmi, maka gaji yang ia terima hanyalah gaji lembur serta tambahan uang untuk makan siang serta transportasi jika diperlukan.
Pada pukul 10 pagi, Jaewon yang baru sadar dan bangun dari tidurnya karena lelah setelah sedikit berpesta dengan yang lainnya menerima telepon. Lebih tepatnya panggilan ke-10 karena panggilan sebelummnya tidak terjawab. Tentu yang menelponnya sepagi ini dan di hari libur adalah ‘KANGHYUK’.
Jaewon langsung menerima telepon yang masih berdering. Saat telepon masuk, ia mendengar deheman dari sang aktor.
“Maaf Kanghyuk-ssi, aku baru bangun. Ada yang bisa kubantu?” Ucapnya dengan nada baru bangun tidur.
Tidak ada suara apapun sampai 10 detik ke depan yang membuat Jaewon menurunkan handphone nya untuk melihat apakah panggilan telepon ini tersambung atau tidak.
“Datanglah ke tempatku.”
Dan bip. Telepon mati.
Jaewon melihat jam di layar handphone nya, 10 pagi? Jam 10 di hari sabtu kalau ia boleh tebalkan. Untuk apa juga Kanghyuk menyuruhnya untuk datang kesana? Dan ini sabtu juga! Lihatkan ia sampai mengulang kata yang sama saking ia tidak percayanya.
Jaewon mencoba untuk menutup mata dan kemudian ia menendang selimutnya. Ia tidak bisa seperti ini dan ia tidak bisa mengecewakan Kanghyuk. Ia segera bangun dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap.
Tidak perlu menunggu waktu lama, Jaewon sudah selesai berpakaian dan memanggil taksi dari handphone nya agar bisa dengan cepat mengantarnya ke penthouse milik Kanghyuk yang berjalan 20 menit dengan kendaraan bermotor.
Kaki panjangnya itu berlari dari lantai 2 rumah milik orangtua Jaewon, tempatnya saat ini tinggal dan tempat untuknya beristirahat sejenak dari pekerjaan. Ia berjalan menuju lantai 1 dengan tangga memutar. Taksi yang ia panggil sudah datang di depan rumah dan dengan cepat ia masuk dan menyebutkan alamat kediaman Kanghyuk.
Selama perjalanan, untung saja Jaewon tidak ditelpon atau dikirimkan pesan oleh Kanghyuk yang menanyakan keberadaannya. Maklum, kalau melihat jam maka ini sudah 35 menit dari telepon terakhirnya dengan Kanghyuk. Sekarang ia lebih memilih untuk menyibukkan dirinya dengan hal lain seperti menatap beberapa restoran fastfood yang sudah buka dan melayani orang-orang. Perutnya sedikit keroncongan. Ia harap ia bisa mencuri 1 roti yang sudah ia siapkan untuk Kanghyuk kemarin karena ia kelaparan sekarang. Kanghyuk tidak akan sadar bukan jika 1 rotinya nanti diambil? Oh, ia jadi tidak sabar untuk bisa segera datang kesana.
Tepat di pukul 10.45, taksi menurunkan Jaewon di lobi gedung penthouse. Ia membayarnya dengan tunai dan dengan segera berlari menuju lift, melewati satpam yang baru ia ajak kenalan kemarin.
Jaewon menempelkan kartu akses di dekat pintu masuk dan setelah lampu hijau menyala, ia dorong pintu kaca besar tersebut dan berlari kecil menuju lift yang kembali membutuhkan kartu akses agar bisa terbuka dan membawanya ke atas. Kartu ajaib yang sudah ditempeli stiker nama dan gambar kelinci olehnya itu ia pegang baik-baik setelah layar kecil di dalam lift menunjukkan nomor lantai penthouse milik Kanghyuk. Dan tidak perlu menunggu lama, pintu lift terbuka dan sampailah ia di depan pintu masuk. Kartu akses ia kembali tempel di gagang pintu dan suara kunci terbuka terdengar di telinganya.
Jaewon mendorong pintu. Ia sedikit berteriak untuk memanggil nama Kanghyuk.
“Kanghyuk-ssi?”
“Meja makan!”
Jaewon menaruh tas nya di gantungan yang disediakan di dekat pintu masuk lalu melepaskan sepatunya. Ia gunakan sandal rumahan yang disediakan oleh sang tuan rumah (yang sebetulnya disiapkan oleh dirinya sendiri kemarin) dan dengan cepat berjalan menuju ruang makan yang berada di bagian belakang.
Sesampainya di ruang makan, Jaewon melihat Kanghyuk dengan makanan yang cukup memenuhi meja makan. Ia juga melihat ada piring kosong disana. Tanda bahwa Kanghyuk akan mengundang orang lain. Makanan yang asapnya masih keluar serta pilihan banyak lauk semakin membuatnya lemas. Ia ingin sekali makan tetapi sepertinya tidak bisa karena Kanghyuk sepertinya akan menyuruhnya untuk standby karena kekasihnya akan datang.
“Duduk dan makan, aku sudah mempersiapkan ini semua untuk kau.”
Jaewon kali ini salah. Piring kosong tersebut disediakan oleh Kanghyuk untuknya. Apakah ia akan dipecat?
Jaewon tidak mau berpikir terlalu berat. Tanpa memberikan jawaban apapun, ia berjalan pelan menuju sisi kosong dimana tempat piring yang masih bersih itu berada. Saat ini biarkan ia menikmati santapan pagi menuju siangnya sebelum ia mendengar kata-kata pecat dari mulut sang aktor.
