Work Text:
Tsukasa dari sewaktu ia pertama kali bangkit dari pembatuan, ia memperhatikan dengan seksama laki-laki penggila sains tersebut, bagaimana wajahnya yang selalu kegirangan saat memikirkan tentang sebuah inovasi baru yang tak sabar ingin segera ia buat, bagaimana tubuh kurusnya yang selalu bergerak lincah dan aktif saat menuangkan serta mencampur zat-zat berbahan kimia, dan oh tuhan, Tsukasa baru tersadar bagaimana lekuk tubuhnya tersebut berteriak untuk meminta disentuh, terlebih lagi pada bagian pinggangnya yang memang cocok dibuat untuk ia rangkul.
Senku sangat tidak sadar bahwa apapun yang ia lakukan kini sungguh menggoda di mata Sang Primata, tubuh ringkih itu sangat menggemaskan, ingin rasanya Tsukasa memeluk tubuh kecil tersebut dengan erat sampai-sampai Senku berteriak untuk meminta dilepaskan. Membayangkannya saja membuat Tsukasa tersenyum diikuti dengan semburat merah yang muncul di kedua pipinya.
Tsukasa memerah memikirkan hal tak senonoh tentang orang yang ia berjanji untuk selalu bertarung bersamanya tersebut. Ia menepuk kedua pipinya sampai terdengar suara tamparan keras berasal dari dirinya sendiri.
Orang-orang di sekitarnya menatap aneh, namun beberapa detik kemudian kembali pada kesibukan mereka sebelumnya. Tsukasa pun tak peduli.
"Oi, Tsukasa, sedang apa kau berdiam diri disana? Cepat bantu sini." Oh, suara yang familiar ini.
Tsukasa segera menoleh dan menghampiri Senku yang tadi berteriak untuk membantunya.
Saat Tsukasa tiba di dekat Senku, ia menatap wajah Tsukasa lamat-lamat, ia berpikir bahwa Tsukasa, sang primata terkuat, terlihat sangat tampan dan indah. Senku menatapnya sangat lama hingga Tsukasa sadar lalu menoleh dan tersenyum tipis kearahnya, merasa senang karena diperhatikan oleh Senku.
Ia mencoba berjalan lebih dekat dengan Senku, menyisihkan sedikit ruang untuk dirinya dan Senku, yang tak sadar karena ia terlalu nyaman mengobservasi wajah Tsukasa, jujur Tsukasa tersanjung dan juga sedikit malu. Saat Tsukasa sudah berada di depannya, barulah ia tersadar dan kemudian tersenyum gugup, "oh? kenapa?" tanyanya menutupi rasa gugupnya.
Tsukasa yang mengetahui hal tersebut mendekatkan wajahnya ke samping wajah senku seraya berbisik, "suka dengan apa yang kau lihat, Senku?"
Disitulah wajah Senku berubah sangat merah hingga leher dan telinganya ikut memerah karena malu.
Tsukasa melirik Senku dari samping dan tersenyum begitu lebar, sungguh ilmuwan jenius ini sangat lucu, tidak tahu bahwa Senku dapat menunjukkan ekspresi selain kegilaannya terhadap sains dan sombongnya.
Saking lucunya, Tsukasa tidak dapat menahan dirinya untuk mendekatkan bibirnya menuju pipi gembil Senku dan
Cup
Sebuah ciuman mendarat, Senku terdiam, Chrome terdiam, Kaseki terdiam, seluruh desa terdiam, dengan mulut menganga.
Astaga, apa yang barusan Tsukasa LAKUKAN??
