Work Text:
Hari itu tenang.
Terlalu tenang, bahkan, untuk seorang Kwon Taekjoo yang mulai merasa perutnya protes sejak setengah jam lalu.
Rumah sederhana itu sunyi. Zhenya entah ke mana sejak pagi—katanya hanya keluar sebentar. Tapi 'sebentar' versi pria Rusia itu kadang bisa berarti tiga jam, entah apa yang dilakukannya di luar sana. Entah bertemu siapa, atau entah habis membunuh siapa, Taekjoo sama sekali tidak tahu jalan pikiran pria itu.
Pria berdarah Korea itu membuka lemari dapur. Kosong.
Kulkas. Juga kosong. Kecuali satu saus tomat yang sudah kadaluarsa tiga hari lalu dan sepotong lemon kering yang tampaknya sudah tidak memiliki tujuan hidup.
"Ini penghinaan," gumamnya, sambil mengambil ponsel yang ada di meja di dekatnya, dan ia menekan nomor Zhenya tanpa ragu.
Begitu panggilan tersambung, suaranya yang keluar agak datar, tapi sepertinya dia berusaha untuk terdengar sangat biasa.
"Belikan aku ramen. Yang pedas."
Zhenya tidak menjawab 'iya', tidak pula bertanya merek. Hanya tawa kecil dan suara, "Aku tahu. Tunggu aku.", sebelum panggilan diputus oleh orang seberang. Taekjoo memandang layar ponselnya sebentar, sebelum pergi mengambil air dan memutuskan untuk menunggu di ruang tamu.
Tak sampai setengah jam kemudian, pintu terbuka. Zhenya masuk dengan langkah besar dan kantong plastik putih di tangannya.
"Aku datang menyelamatkanmu dari kelaparan tragis, sweetheart," nada suaranya manja dan dibalut aksen Rusia.
Taekjoo langsung berdiri dari sofa, menuju Zhenya, siap merebut kantong berisi mi itu—tapi si pirang lebih gesit. Dia berputar ke dapur, kantong masih di tangannya.
"Duduk. Aku yang masak," katanya, bahkan tanpa menoleh, seolah dia chef profesional di dapur satu kompor itu.
Meskipun benar adanya.
Taekjoo mendesah pelan, tapi tetap menurut. Duduk di meja makan, memperhatikan Zhenya yang membuka bungkus, merebus air, dan menuang bumbu dengan tingkat kepercayaan diri seorang koki profesional—padahal jelas-jelas itu hanya sebuah ramen instan. Taekjoo mendengus melihat semua itu, dengan tatapan campuran bingung, geli, dan mungkin... sedikit sayang.
Beberapa menit kemudian, semangkuk ramen pedas beruap diletakkan di depan Taekjoo. Pria Korea itu menatapnya sebentar, lalu menyerang habis-habisan seperti orang yang memang sudah tidak makan sejak pagi.
Hening. Kecuali suara sendok, sumpit, dan isapan panjang dari mi yang hilang satu per satu.
Zhenya duduk di depannya, tangan di dagu, menatap Taekjoo dengan senyum puas seperti seorang pahlawan.
Begitu suapan terakhir habis dan mangkuk diletakkan kembali ke meja, Taekjoo mendesah dengan mata terpejam sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Dan Zhenya langsung bicara.
"Sekarang, giliranku minta makan."
Mata Taekjoo terbuka dan mengangkat alisnya, napasnya masih terengah sedikit.
"Ramennya habis. Di rumah juga tidak ada makanan lain."
Zhenya masih tersenyum. Kali ini lebih miring. Lebih... berbahaya.
Dan seketika, Taekjoo menyesal sudah mengizinkan dia masuk ke dapur itu, atau mengizinkan dia melakukan sesuatu untuknya.
"Tak masalah. Aku sudah menemukan makananku sedari tadi."
Taekjoo terdiam. Bibirnya yang gelap masih merah sedikit karena kuah pedas, dan dia menatap Zhenya dengan ekspresi datar yang berusaha keras untuk tidak terlihat malu.
"Zhenya."
"Hm?"
"Jangan jadi menjijikkan."
Zhenya tertawa pelan. "Bukan menjijikkan. Aku romantis."
"Romantis kepalamu."
Pria Rusia itu tak ambil pusing dengan nada bicara Taekjoo, bahkan dia tersenyum dan bangkit dari kursinya. "Seharusnya, aku menanyakan ini sejak awal."
Atmosfer tiba-tiba menjadi hangat, namun meski begitu, Taekjoo tidak berpindah dari tempat duduknya. Tidak membuang muka. Bahkan tidak benar-benar menolak saat Zhenya mulai mendekat ke sebelahnya dan merendahkan wajah ke telinganya, lalu berbisik dengan nada rendah disana.
"Ingin makan ramen denganku?"
Lampu gantung di atas mereka bergoyang pelan saat angin masuk dari jendela, dan hal lain yang bergerak adalah ekor mulut Taekjoo yang... mungkin saja sedang berusaha menyembunyikan senyum.
Lalu setelahnya, hanya ada Zhenya yang memakan makanannya dengan sukacita, kegiatan yang tak boleh dikonsumsi khalayak ramai.
