Actions

Work Header

Choose (yumefic)

Summary:

"Siapa yang akan kalian jadikan prioritas, ZOOL atau pasangan?"

Satu pertanyaan dari Isumi Haruka membuat ribut satu member ZOOL.

Work Text:

IDOLiSH7 by Bandai Namco, Troyca, Arina Tanemura

Choose by bellasteils

Warnings: yumeship, yume-BL, kinda ooc

Selamat membaca.


Haruka menggerutu pada layar ponsel. Torao di sebelah masih sibuk menata rambut sambil menatap cermin yang tidak terlihat beda dari sebelumnya, merasa sedikit terganggu.

"Kau kenapa Haru?"

"Itu si Minami!"

"Ada apa dengan Mina?" Touma, yang sedang asyik scroll rabbitter ikut menanggapi.

"Selamat pagi!" Pintu ruang tunggu terbuka. Utsugi Shiro sedikit menginterupsi pembicaraan di dalam. "Lho, kurang Minami?" tanya si manajer usai menghitung jumlah anggota ZOOL.

Jawaban, "Selamat pagi." bersahutan satu sama lain.

"Padahal Minami paling tepat waktu." Utsugi bergumam, kemudian pertanyaannya sedikit terjawab oleh ucapan Haru.

Helaan napas terdengar, "akhir-akhir ini dia lebih sering pacaran daripada bersama kita."

"Ada apa?" pria rambut putih itu menghampiri Touma, yang akhirnya manggut-manggut paham setelah mendengar penjelasan dari si leader.

'Oh karena itu.' Utsugi memilih duduk di pojokan, membuka ipad untuk menyicil pekerjaan. Lagipula masih ada sedikit waktu hingga jam janjian dengan produser acara TV ZOOLogist.

Bukan tidak peduli, tapi pria itu merasa permasalahan ini tidak akan melebar luas.

Haru segera menambahkan, "lihat nih rabbichat-nya bilang telat bentar karena nungguin si Noah."

"Oh." jawaban Torao tidak membuat Haruka puas.

"Oh doang?!" Haruka menaikkan nada bicara.

"Mau gimana lagi?" Touma kembali membuka rabbitter, menganggap permasalahan Haru bukan sesuatu yang akan dibahas lebih lanjut. "Minami bebas untuk pacaran dengan siapa saja."

"Cinta itu..." suara Torao sedikit dibuat-buat yang dipaksakan, terasa lebih berat seperti seorang gentleman. "Entah dengan wanita atau pria, semua itu adalah anugrah."

Haruka melirik tajam dengan alis berkerut kepada si pujangga, kemudian bergumam, "gak jelas."

"Haru juga kalau sudah punya pasangan, mungkin juga ada masanya jadi bucin." Touma menimpali. Mencoba mengabaikan Torao yang bak Romeo merayu Juliet dari bawah balkon.

Center idol ZOOL, langsung merona dan menjadi salah tingkah secara brutal, "Apaan sih, engga lah."

"Kalian sendiri!" Haru menunjuk Torao dan Touma.

"Kami?"

"Siapa yang akan kalian jadikan prioritas, ZOOL atau pasangan?"

Torao dan Touma saling berpandangan seolah saling mengirim telepati. Touma merasa telepati mereka menandakan satu visi dan misiー

"Kalau aku sih tentu milih pasangan."

Touma langsung menyanggah, "Oi Tora!"ーmerasa dikhianati.

Haru pun membelalakkan mata tidak percaya. Hubungan antar anggota ZOOL yang sudah dibangun sedemikian rupa, kalah dengan orang baru yang tiba-tiba masuk seolah si paling mengenal Torao.

"Kenapa?" tanya Haru.

"Karena wanita itu adalah keindahan."

Touma memberikan opini setelah memandang permasalahan dengan kepala dingin, "yah setiap orang punya pandangan mereka sendiri."

"Kalau begitu, kau sendiri bagaimana?" Tora beralih pada Touma. Haruka, meski belum puas dengan jawaban Tora, juga penasaran dengan jawaban Touma.

Touma diam sebentar, "kalau aku sih... um..."

"Tuh kan tidak bisa menjawab!" Haru mencecar.

"Aku tentu memilih ZOOL!" jawab Touma tegas. Tidak ingin tatapan mengintimidasi itu semakin berat diberikan kepadanya.

"Kau puas, Haru?"

"Tidak begitu.” gumam Haru, dan melanjutkan. “Aku hanya tidak suka jika ada yang lebih mementingkan hal lain daripada ZOOL. Itu saja."

Terkadang Haru ini bisa sangat blak-blakan tapi juga cukup tsundere jika menyangkut perasaan sendiri.

"..."

"..."

Touma merasa dejavu.

Utsugi terkekeh seolah berkata, "sudah kuduga."

"Kalian ini menggemaskan sekali." hanya itu yang menjadi komentar manager.

"Utsugi-san!"

"Kau ingin mencoba memastikan kepada Minami?" tanya Utsugi. Akhirnya menutup ipad untuk lebih dulu menjadi penengah hubungan antar anggota idol kesayangannya.

"Kupikir Minami yang lebih paham dari kalian," Utsugi menekankan pada lebih paham, karena menurutnya, anak-anak ZOOL masih polos dalam urusan cinta. Meski Torao dibilang si dokter cinta, "lebih baik tanyakan langsung saja."

"..." Ketiganya terdiam.

Tidak baik berdiam diri dan hanya berasumsi. Lebih baik duduk empat mata dan bicarakan dengan baik.

"Baik."

"Selamat pagi. Maaf menunggu lama."

Natsume Minami, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya menampakkan diri. Terlihat napasnya sedikit terengah, sepertinya sedikit berlari untuk tidak membuat rekannya terlalu lama menunggu.

"Selamat pagi."

Empat orang dalam ruangan menjawab, dengan berbagai nada. Touma mencoba dengan semangat yang dipaksakan untuk mencairkan suasana tegang.

Minami dengan intuisi tinggi menyadari ada kejanggalan di antara mereka.

"Ada apa ini?" tanya si musisi sambil memandang satu per satu penghuni ruangan, termasuk Utsugi Shiro.

Tidak ada yang menjawab, tapi Haru yang selalu blak-blakan langsung berdiri karena tidak tahan dengan orang dewasa yang terlalu bersembunyi dalam bayang ketakutan.

"Minami!” panggil Haru, “Kau lebih memilih ZOOL atau pacarmu."

"Kenapa tiba-tiba?" tanya Minami nampaknya merasa terusik.

"Sudahlah jawab saja Mina." Tora mengompori seperti memburu jawaban kepada Minami.

Namun timing tidak berpihak pada mereka karena seorang staf keburu masuk ke dalam ruangan, “ZOOL-san, selamat pagi! Kita akan segera mulai rapatnya.”

Terpaksa jawaban Minami ditunda.

Rapat berjalan tanpa hambatan. Setidaknya sampai produser menghampiri Utsugi dan berbisik untuk menanyakan, “ZOOL sepertinya sedang ada masalah?”

Utsugi tertawa renyah sebagai respon, memperhatikan keempat anggotanya yang diam dalam kecanggungan. “Mereka semakin hari semakin dekat.”

“Begitukah?” gumam sang produser sambil memperhatikan punggung keempat anggota ZOOL.

“Jadi… apa jawabanmu?” Haruka langsung mencecar sesampainya di ruang ganti.

“Haruskah di sini?” tanya Minami. Paling tidak beri waktu untuk istirahat sebentar.

Mereka; Haru, Touma dan Torao mengangguk.

Minami menghela napas, “baiklah, aku akan menjawab dengan jujur dan kuharap kalian tidak kecewa dengan jawaban yang aku berikan.”

Ketiganya meneguk ludah. Sudah kepalang penasaran dengan jawaban Minami atas pertanyaan, siapa yang menjadi prioritas apakah ZOOL atau Noah.

“Sejujurnya, aku tidak bisa memilih.”

Tentu saja jawaban tersebut mendapat respon serentak berupa kerutan di dahi. “Ha? Apa maksudnya?” tanya Touma.

“Karena…” Minami memberi jeda, “baik ZOOL ataupun Noah-san adalah prioritasku.”

Ketiganya terdiam.

“Aku tahu kalian akan kecewa dengan jawabanku karena tidak memilih ZOOL sebagai prioritas, tapi aku memberikan seratus persen cinta yang sama kepada kalian.”

“ZOOL adalah rumahku, tempatku memperjuangkan mimpi. ZOOL adalah musikku, tempat aku menoreh empat warna dalam satu melodi.”

“Tapi bersama Noah-san…” Minami mengambil jeda. Tiga orang dalam ruangan tidak berani menyela.

“Aku bisa menjadi diriku yang lain. Bukan Natsume Minami dari ZOOL, atau Natsume Minami sebagai musisi, hanya seorang Natsume Minami.”

“Aku tidak begitu mengerti.” Touma menimpali pertama kali atas keheningan sesaat. Entah Haru paham atau tidak, tapi untuk Torao yang punya predikat ‘Pria yang ingin Dipeluk Sejagad’ seharusnya tidak mengkhianati julukannya, alias seharusnya dia paham.

“Mungkin kalian akan paham jika sudah memiliki pasangan.” Minami mengakhiri dengan senyuman. Bertepatan dengan pintu diketuk dan suara Utsugi menyusul.

Otsukaresama.” sapanya dengan menawan meski dihantam pekerjaan. Diskusi dengan beberapa produser, mengatur jadwal kerja masing-masing anggota, sampai menjadi tempat curhat berbagai keluh kesah anggotanya. Hal itu seperti tiada habis.

Keempat orang di dalam ruangan menoleh.

Otsukaresama.”

Otsukare.

Otsukaresama desu.”

“Sepertinya masalah sudah terselesaikan.” gumam Utsugi setelah merasakan kecanggungan sudah mencair.

Namun, tampaknya masih belum ada rasa puas di wajah Touma atau Torao, apalagi Haru.

“Aku membawa seseorang.”

“Yaho!”

Seorang pria dengan rambut merah dan mata biru melongok ke dalam.

“Noah-san?” Ada nuansa terkejut dan senang dalam nada bicara Minami. “Sedang apa kau di sini?”

Walau antara Noah dan anggota ZOOL tak terkecuali Utsugi telah mengenal pria Northmeir itu, tetap tersisa rasa sungkan di antara mereka. Dibanding sungkan tatapan mereka seolah masih belum rela membagi komposer ZOOL itu dengan yang lain. Terlihat jelas perbedaan sebelum dan sesudah kehadiran Noah Bondevik dalam ruangan.

Meski begitu mereka tetap tidak bisa membenci Noah, bukan hanya dia pacar Minami tapi dalam hal bisnis Noah juga merupakan orang penting dalam kelancaran promosi ZOOL, terutama di kalangan luar negeri.

Utsugi menjadi pengecualian, karena berada di pihak netral. Malah merasa berterima kasih karena Noah telah membantu di pihak ZOOL sendiri.

Walau pada akhirnya Noah melakukan ini hanya untuk Minami.

“Mumpung aku ada kerjaan dekat sini, jadi aku mampir sekalian membawa oleh-oleh dari Northmeir saat aku pulang kemarin.” Noah memperlihatkan bingkisan besar di tangan. “Oh, Haru ada cemilan kesukaanmu.”

Mendengar kata cemilan kesukaan, mata Haru melirik, meski dengan nada kesal dia tetap mengucapkan terima kasih sambil menerima sekotak krumkake, kue wafer kering khas Northmeir.

Kvikk Lunsj, yang katanya disebut Kit-kat-nya Northmeir; juga cokelat bar yang paling terkenal Freia Melkesjokolade dengan tagline Sekeping Northmeir.

Seperti halnya corporate dinner, makanan menjadi salah satu hal penyatu dalam bisnis, hubungan antar manusia sampai melahirkan ide baru dalam peradaban. Bagi Noah, oleh-oleh ini juga menjadi penghubung hubungannya dengan rekan kerja Minami.

“Wah kelihatannya enak!” Touma berseru. Siapa yang tak gembira menerima oleh-oleh khas negara tertentu?

“Yah, cemilan sehari-hariku ini.”

Tak usah heran dengan komentar anak sultan satu ini.

“Ya sudah buatku saja!” Haru langsung merebut bagian Torao.

“Aku juga.” Touma tak mau kalah.

“Dasar kalian!”

“Bondevik-san, terima kasih atas bantuanmu selama ini. Kami menantikan kerja sama berikutnya.” Utsugi berbicara dengan formal. Nampak sedang membicarakan bisnis.

Keduanya berjabat tangan sebagai tanda persetujuan.

“Pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Minami.

Noah mengangguk, “Sudah. Aku kesini mau menjemput permataku.” Noah meraih lengan Minami dan mencium punggung tangannya.

Tiga orang di ruangan langsung menatap dengan ekspresi yang sama; ingin muntah.

Hanya Utsugi yang tertawa karir.

“Noah-san…”

Semburat merah manis merona di pipi Minami membuat ketiga orang yang tadinya mau muntah menjadi membelalakkan mata.

“Maaf semuanya, aku duluan. Otsukaresama deshita.”

Pintu ruang ganti pun ditutup setelah Noah juga berpamitan secara non-formal kepada anggota ZOOL dan formal kepada Utsugi.

“Minami…”

“Minami merona…”

“Manis banget.”

Ketiganya pun saling bertatapan dan merenung.

Itu bukan merona seperti saat Minami menyantap semangkuk besar ramen lezat atau perasaan puas setelah penampilan spektakuler ZOOL ketika Black or White.

Itu adalah tatapan cinta. Seseorang yang memberikan hidup dan mati kepada orang lain.

“Memang hanya Noah yang bisa membuat Minami seperti itu.” ucapan Touma mendapat anggukan dari Torao dan Haru, yang tadinya paling menentang kini melihat sendiri efeknya.

Utsugi pun tersenyum seperti yang dia duga, “Tuh kan, bukan suatu masalah besar.”


Selesai.