Actions

Work Header

Study Time!

Summary:

Supra akan mengajar SoRi dan Gentar yang nilai akademiknya paling kurang di antara semua saudaranya. Bagaimana cara dia berperan menjadi guru untuk mereka?

BoBoiBoy Fusion Siblings AU!
Focus on Supra, SoRi, and Gentar dynamic.

Notes:

Yes, my personal opinion about their academic! Hope you like it!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Supra menatap tajam nilai adik-adiknya yang menurun. SoRi dan Gentar. Padahal dia yakin SoRi lumayan suka belajar, tetapi hasilnya kurang bagus. Sedangkan bocah yang sok menjadi hero itu, si Gentar, cuma asyik main saja. Lebih-lebih ujian kelulusan akan tiba dalam beberapa bulan lagi. Kacau balau.

Dia ingin mengabaikan ini, tetapi kata-kata seseorang terlintas di benaknya. Sang Ayah, Amato, beberapa tahun sebelumnya. "Kamu memang anak yang pintar, Supra. Ayah pikir, kamu akan semakin pintar saat kamu mau inisiatif membagikan ilmu pada orang lain!"

Selain itu, FrostFire, si sulung yang sering menerima jatah uang saku dari orang tua, mengatakan sesuatu yang cukup menggodanya, "Sepertinya jatah uang saku lebih ingin kuberikan ke seseorang yang mau membantu SoRi dan Gentar belajar. Aku saja, ya?"

"Biar aku ajarkan mereka, tapi aku nggak akan sekedar main-main." Sahut Supra, berinisiatif mengajarkan adik-adiknya. Seketika, SoRi dan Gentar tersentak syok melihat kakak mereka yang tegas sudah berniat mengajar. Terbayang horornya gaya mengajar Supra di pikiran mereka. Supra jadi guru? Pasti tipe guru killer!

SoRi langsung bergerak ke arah Glacier yang sedang tidur siang di sofa, berniat meminta tolong. Gentar sendiri juga sudah mendekati Sopan yang sedang membaca buku di kamarnya. Akan tetapi, usaha mereka percuma. Glacier tetap tidur pulas, sementara Sopan sudah mengusir Gentar dengan sekali tendangan sebab dia tidak suka diganggu saat membaca buku. Maka, keputusan Supra tidak bisa diubah lagi.

Jadwal belajar tambahan segera dibuat. Mengikuti jadwal ketiganya, hari Senin, Selasa, dan Kamis disibukkan sekolah. Maka, mereka bisa belajar pada hari Rabu, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Namun, SoRi dan Gentar merengek ingin libur di hari Minggu. Supra menyetujui mereka. Dia juga ingin fokus istirahat.

"Kalian nggak mencontoh Kak Frosty? Dia juga suka bersenang-senang, tapi dia bisa serius. Terutama masalah akademik ini." Gerutu Supra saat mereka bertiga memulai kelas belajar bersama di hari Jumat. Dia mulai membuka buku pelajaran dan buku soal ujian SMP.

Si anak keempat, SoRi, tampak cemberut dan meremas tangannya dengan gugup. "SoRi bukannya benci belajar, tapi materinya agak susah dipahami. Lagian SoRi suka pelajaran IPA!"

Sang guru dadakan itu kembali melirik daftar nilai SoRi. Memang, nilai SoRi tidak seburuk itu, terutama IPA. Dia akan mencatat hal ini di dalam hatinya. Kemudian Supra melirik daftar nilai milik Gentar. Seketika dia menatap tajam kertas itu cukup lama seolah-olah salah lihat. Tak bisa percaya. Nilai merah semua.

Anak yang sering sok jadi pahlawan itu bersiul-siul dan menghindar tatapan matanya. "Eh.... Aku akan berusaha. Hero ini sebenarnya punya bakat belajar juga, kok. Bagaimanapun aku ini hebat— HUWA, SETAN!"

Belum saja Supra memulai kelasnya, dia sudah bergemuruh oleh kabut hitam gelap penuh amarah. Dia sudah hendak menghajar adiknya, barangkali kalau kepalanya dipukul akan normal dan mendadak rajin belajar. Saat itulah, dua saudaranya yang lain muncul. FrostFire dan Glacier membawakan tiga gelas minuman es cokelat yang tampak segar. Mereka juga sudah menyemangatinya.

Emosinya seketika menguap. Dengan kepala lebih dingin, Supra memulai pelajarannya. SoRi dan Gentar juga sudah berfokus belajar, merasa takut dengan kakak mereka. Pada akhir pelajaran, Supra menanyakan pendapat mereka. Ingin tahu adik-adiknya paham atau tidak. Dia juga meminta mereka untuk berkata jujur.

"Aku masih bingung." Jawab Gentar dengan raut lesu, menatap soal-soal bahasa Inggris yang memusingkan kepalanya. Supra tertegun. Kali ini dia bukan marah, tetapi cemas. Bagaimana cara membuat adik-adiknya paham? Kalau dia mengajar tanpa membuat mereka pintar, maka nilai mereka tak akan membaik. Sia-sia saja usahanya.

SoRi menaruh kepalanya di atas meja. Mengeluhkan kepalanya yang pening dalam belajar matematika. Untuk sejenak, suasana hening akibat penatnya belajar bahkan menguras energi aktif SoRi dan Gentar. Supra sendiri juga memutar otak. Cara agar mereka berdua bisa paham materi pelajaran adalah...

"Gentar, what is a hero?" Supra tercetus sebuah ide. Dia sudah melontarkan pertanyaan kepada adiknya. Tentang minat sang adik yang menurutnya gila itu. Gentar tersentak kaget, sejenak berpikir untuk jawabannya. Kemudian ekspresinya sudah kembali cerah.

"Hero is a great person who is admired by others!" Jawab Gentar bersemangat, mengikuti pola kalimat yang diajarkan Supra dan mengambil sejumlah kosakata yang dimengertinya. Sang kakak tersenyum bangga, ikut senang melihatnya mulai mengikuti ajaran darinya. Sehingga adiknya jadi mulai berpositif melihat senyum kakak yang galak itu, menganggap dirinya bisa pintar belajar bahasa Inggris.

Giliran SoRi, adiknya yang cukup suka belajar. Adiknya itu seorang pecinta tumbuhan, terutama durian. Supra sudah menyuruh SoRi untuk menghitung angka-angka dari satu soal dengan menggunakan biji duriannya. Memang, adiknya belum sempat membuang sejumlah biji buah durian yang dimakannya kemarin dan tadi pagi. Dengan penuh positif, SoRi segera mempraktikkannya. Jawaban benar.

"Bagus..." Ucap Supra, tersenyum puas melihat hasilnya. Kedua adiknya kompak bersorak senang. Kali ini, Supra memilih membiarkan mereka sedikit berisik. Mungkin, seharusnya dia membuat kelas belajar yang tidak terlalu serius. Walau harus tetap ada waktu serius. "Sekarang, kalian fokus mengerjakan semua soal. Jangan berisik dan tenang!"

Sepertinya masih ada harapan untuk mengajar mereka. Tidak hanya adik-adiknya yang kini senang bisa paham, Supra juga ikut merasakannya. Meski tetap kebingungan, dia merasa bahwa dirinya mampu menjadi guru. Setidaknya sampai 'les tambahan' darinya selesai. Semakin lama, Supra sungguh-sungguh menganggap serius kegiatan mengajar ini. Dia bahkan membuat sejumlah latihan soal sambil mempertimbangkan kemampuan SoRi dan Gentar.

Bahkan, dia mencoba menggambar untuk kedua adiknya. Gambar seorang hero dan buah durian. Walau dia berujung merasa malu dan gambarnya ditertawakan oleh SoRi dan Gentar. Dengan kesal, Supra sudah memukul kedua adiknya. Lihat saja nanti. Sekarang, nilainya dalam pelajaran seni memang pas-pasan, tapi dia akan belajar lebih baik lagi, termasuk menggambar. Supra tidak mau dipandang bodoh.

Namun, Supra kembali ditampar oleh kenyataan beberapa hari kemudian. Bahwa menjadi guru tidaklah semudah itu. Bukan soal tentang mencerdaskan murid saja, tetapi ada hal-hal rumit yang dihadapinya. Sekalipun muridnya adalah adik-adiknya sendiri.

 

-0o0-

 

"Kakiku sakit. Aku nggak mau belajar hari ini."

Supra tercengang melihat Gentar yang pulang dari sekolah dalam keadaan kacau balau. Memang, kakinya tampak terluka. Bahkan ekspresinya muram sekali. Dia enggan menanyakan alasannya, jadi Supra memutuskan mengangguk kaku, membolehkan adiknya untuk tidak belajar dahulu.

Tak dipungkiri, Supra kepikiran tentang Gentar. Akan tetapi, dia tetap fokus mengajar SoRi. Syukurlah adik pertamanya itu sudah mulai bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Pada dasarnya SoRi memang suka belajar sejak kecil, terutama minat yang disukainya, jadi Supra tidak terlalu cemas. Masalahnya, adiknya yang satu lagi mencemaskannya. Dia lagi-lagi izin tidak mau ikut belajar pada esok hari. Dengan alasan badan sakit lagi.

Empat hari izin, Supra mulai pusing. Gentar mulai tidak pulang ke rumah pada waktu belajar. Seolah-olah dia memang berniat bolos begitu saja. Kedua kakaknya sudah menenangkannya. "Enggak apa-apa, Sup! Kamu santai saja mengajar mereka. Sesekali libur nggak masalah. Lagipula, ujiannya masih lumayan lama." Sahut FrostFire enteng.

Supra tetap tidak bisa tenang. Menurut pandangannya sebagai guru mereka, SoRi dan Gentar perlu belajar setiap hari, kecuali hari Sabtu dan Minggu. Benar, Supra mencoba tetap memberi keringanan libur. Sayangnya adiknya malah memilih tidak belajar. Padahal mereka terlalu bodoh menurut Supra. Toh, selain di sekolah, Supra juga belajar setiap hari. Berarti ini juga memang standar normal anak sekolah, bukan?

Akhirnya hari kelima tiba, yakni hari Jumat. Seusai salat Jumat, Supra sudah celingak-celinguk mencari Gentar di masjid. Untungnya dia ketemu adiknya. Dengan bingung akan tingkah kakaknya, SoRi bertanya soal jadwal belajar mereka. "Hari ini tetap belajar, Kak? Soalnya SoRi mau main sebentar sama teman, bakal agak telat pulang!"

Supra menganggukkan kepalanya. "Sepertinya aku juga agak telat, tapi hari ini nggak boleh bolos belajar." Jawabnya tegas. SoRi bersorak gembira dan mulai bergabung ke teman-temannya. Sementara sang kakak kembali ke misi selanjutnya. Menguntit adik yang satu lagi. Seharusnya tindakannya kali ini wajar, bukan? Semua gara-gara Gentar yang bolos belajar berhari-hari!

Terdengar suara orang yang sangat familier mendekati Gentar. Salah satu saudara kembarnya pula. "Kak Gen! Hamba mau pergi ke tempat biasanya. Kakak ikut lagi?"

Bukan main terkejutnya Supra melihat Sopan, sang adik paling terakhir. Jadi Gentar berkomplotan dengan adik bungsu mereka? Namun, mengapa bisa? Sopan adalah anak baik dan rajin belajar. Adiknya yang paling membanggakan. Masa dia yang mengajak Gentar untuk bolos belajar? Supra ingin mengomel, tapi dia segera ingat tujuan awalnya. Diam-diam mengikuti Gentar tanpa ketahuan.

Dia mengikuti kedua adiknya itu ke daerah tempat yang sepi. Otomatis, Supra jadi merasa tidak tenang. Mau kemana mereka berdua? Dia teringat Gentar yang sering pulang dalam keadaan tubuhnya yang terluka. Pikirannya mulai kusut tak karuan. Namun, dia tak punya waktu untuk berpikir. Tak berapa lama, mereka berdua berhenti. Berhadapan dengan beberapa anak seumuran mereka yang tampak berantakan dan lusuh.

Tanpa kata-kata. Baik kedua adiknya maupun para anak yang bergerombol itu saling meremas kepalan tangan masing-masing. Hanya satu jawaban yang tercetus di pikiran Supra. Mereka hendak bergelut. Dugaannya benar. Mereka mulai saling menyerang. Dua anak lawan lima anak. Supra yang merasa ini tidak adil, memutuskan untuk maju bersama adik-adiknya.

"K-kak Supra?!" Teriak Gentar, tampak kaget saat melihatnya maju. Sementara pihak lawan sudah mengusirnya, tidak mau berurusan dengan orang asing tambahan. Sopan juga sudah berusaha membujuknya untuk pulang saja. Mana bisa Supra membiarkan situasi ini!

"Jelaskan dulu situasinya! Gentar jadi bolos belajar empat hari denganku, ternyata dia malah terlibat hal ini!" Supra mencoba melepaskan diri dari Sopan. Dia terkejut karena tenaga adiknya yang baik hati itu ternyata kuat sekali. Pantas dia tampak percaya diri melawan banyak orang. "Gentar, aku nggak mau kamu berhenti belajar! HERO ITU SEHARUSNYA MAU MENJADI LEBIH PINTAR UNTUK ORANG-ORANG YANG MEMERCAYAINYA!"

Gentar tersentak mendengar kalimat terakhir dari Supra. Sebenarnya dia berniat kembali bolos belajar, tetapi sekarang dia sudah mengubah pemikirannya. "Biarkan Kak Supra ikut melawan dengan kita, Sopan! Kalau ada anggota tambahan, kita bakal selesaikan urusan ini dengan cepat, bukan?"

Si bungsu tampak ragu dan tak enak, memandang Supra. Sedangkan Supra bukan orang bodoh. Dia sudah menelepon bala bantuan. Hanya tinggal menunggu waktu. Sementara itu, dia tetap terus bicara, memancing agar siapapun menjelaskan situasi. Agar bisa didengar dari seberang telepon pula. Awalnya tak ada yang mau bicara. Akibat didorong Supra, salah orang musuh membuka suara. "Mereka mengusik urusan kami! Padahal mereka nggak usah ikut campur. Semua salah si anak yang berbaju biru dan kuning itu!"

Sopan terdengar tersinggung mendengar tuduhan itu. "Kalian yang membuat masalah dengan anak-anak jalanan! Mereka stres gara-gara uang mereka yang pas-pasan dicuri kalian. Mana mungkin hamba berdiam diri saja! Benar, kan, Kak Gen?! Kak Gen mau bantu hamba melawan anak-anak nakal yang menyebalkan itu!"

"Hahaha, hero ini bisa menjadi andalan untuk adiknya dalam setiap saat!" Balas Gentar penuh semangat, menangkis setiap serangan lawannya dengan palu besar andalannya. Supra mulai mengerti situasinya. Ternyata adik-adiknya hanya melawan ketidakadilan. Dia jadi merasa bangga. Senyumnya terukir sesaat sebelum dirinya dipukul kencang hingga terdorong jauh.

Saat itulah, ponselnya terlempar dari sakunya. Mendekat ke sang lawan. Supra meringis kesakitan dan berdoa di dalam hati supaya percakapan mereka sudah didengar jelas oleh pihak di seberang telepon. Sebab sang lawan terkejut melihatnya punya telepon yang sedang berlangsung. "Siapa yang kau telepon ini? Si maniak es krim tertua?"

"WIH, KAK FROSTY! Dia kakak yang paling kuat diantara kami! Rasakanlah, kalian akan dihajar olehnya!" Gentar malah semakin bersemangat melawan musuh karena mendengar Supra menelepon FrostFire. Sementara di pihak lawan, mereka mulai gelisah dan berbisik-bisik. Mendadak, mereka kabur secara kompak. Gentar tak sudi melihat lawannya kabur, sudah mengejarnya. "Mau kemana kalian?! Dasar pengecut!"

"Berhenti Gentar!" Supra sudah berusaha bangkit, membiarkan rasa mual akibat perutnya ditonjok keras. Supra sudah mengejarnya. Sementara Sopan ternganga kaget, memilih memungut ponsel Supra yang layarnya menjadi retak itu. Rupanya teleponnya masih berlangsung dan berfungsi. Dia segera membalas suara FrostFire yang memanggil adik-adiknya.

Dalam hati, Supra mengomeli muridnya satu itu. Sudah bodoh soal belajar, tukang bolos pelajaran pula. Bikin kesal saja. Akan tetapi, Supra mengapresiasi keberaniannya sebagai hero. Dia sudah mempercepat larinya dan berhasil menangkap kerah baju adiknya. Gentar hendak marah, tapi dia langsung ciut saat melihat wajah kakaknya yang lebih gelap darinya.

Kepalan tangan Supra memukul kepala sang adik. Pelan, tak terasa sakit. Gentar terkejut, lebih-lebih ketika kakaknya berbicara, "Jangan lupa belajar supaya kamu bisa jadi hero yang lebih hebat dari ini. Ngomong-ngomong, tolong ajari aku juga agar bisa menjadi sepertimu."

 

-0o0-

 

Minggu tenang berlalu setelah masalah Gentar berakhir. Para anak nakal tak berani lagi membuat masalah. Selain kapok menghadapi Gentar dan Sopan, mereka juga takut dengan FrostFire yang mengancam mereka. Maka, sesi belajar bersama antara Supra, SoRi dan Gentar kembali berlanjut. Kali ini sedikit berbeda karena Supra juga belajar dari muridnya.

Supra hanya berpikir bahwa dirinya juga masih perlu belajar. Setelah melihat Gentar sebagai hero di hari itu, dia menyadari bahwa ilmu itu luas sekali. Barangkali Supra masih terlalu sombong karena dia hanya berpikir adik-adiknya lebih rendah nilai pelajarannya darinya. Padahal mereka juga punya kelebihan yang tidak biasa.

"Gentar, seperti ini kepalan yang kuat, ya?" tanya Supra saat melatih kekuatan tangannya di halaman rumah. Gentar membantu mengarahkan tangannya. Dengan karate. Dia menatap serius sang adik yang mencontohkan gerakan dasar. "Oke, terima kasih. Nanti ajari aku juga soal praktik menari minggu ini, ya."

"Err... Sama-sama, Kak. Siap!" balas Gentar agak kikuk, masih merasa asing dengan perubahan sesi belajar ini. Namun, dia tidak masalah selama kakaknya tidak marah atas perbuataannya di hari sebelumnya. Dia mengira akan dihukum dengan tumpukan soal-soal atau jenis hukuman lainnya, tetapi Supra tak menyinggung hal itu selama mereka belajar lagi.

Seusai belajar dari Gentar, Supra menghampiri SoRi yang sedang mencatat sesuatu sambil mengamati tanamannya. Untuk beberapa menit, dia diam memerhatikan sang adik yang masih tampak fokus sekali. Dia baru menyadari bahwa SoRi yang suka bercanda itu bisa serius dengan hal yang diminatinya.

"Mencatat pertumbuhan tanaman?" tanya Supra setelah adiknya tampak telah menyelesaikan pekerjaannya. SoRi terperanjat kaget. Dia meringis dan menunjukkan hasil pengamatannya pada pertumbuhan tanaman. Menurut Supra, hasil observasinya menarik sekali. Rasanya seperti ada ilmu tambahan selain dari buku pelajaran.

"SoRi memang nggak mencatatnya dengan ilmiah seperti di buku pelajaran, tapi SoRi suka mengamatinya sebagai pengalaman belajar sendiri. Kak Supra mau ikutan? Hehehe bercanda!" SoRi iseng menawarkannya. Walau dia sendiri tidak berpikir kakaknya sungguh mau ikut melakukannya. Mana mungkin Supra mau repot-repot mengurus tanaman?

"Mau. Ajari aku." balas Supra, kali ini lebih membuat SoRi kaget sampai menjatuhkan buku catatannya. Dia pikir kakaknya bercanda, tapi Supra sudah memungut bukunya dan membaca dari halaman pertama. Mulai bertanya tentang salah satu pertumbuhan tanaman. Meski bingung, SoRi menjelaskan lebih lanjut sesuai pengamatannya. Kakaknya menyimak dengan sungguh-sungguh.

Selain itu, SoRi juga menjelaskan untuk berbaik hati ke target observasinya. Tak hanya tanaman, bahkan ketika SoRi mengamati hewan. Dia bisa sampai memberikan makanan ke mereka. Atau membuatkan rumah untuk para serangga. Supra mencatat bagaimana caranya belajar. Pantas saja SoRi lebih paham materi IPA.

"Lalu ada satu hal lagi. Istirahat, Kak Supra!" Seru SoRi padanya. Supra tertegun. Kata-kata itu menancap di hatinya. Istirahat. Adiknya tahu betul kalau Supra sering tak mau istirahat kalau pekerjaannya belum selesai, apalagi perkara belajar. Selama istirahat, SoRi menyanyi dengan memilih lagu yang tenang. Itu membuat Supra lebih mampu bersantai.

Pengalaman belajar secara fleksibel. Itu yang kurang bagi Supra. Dia sadari bahwa Gentar lebih berpengalaman dalam praktik fisik langsung dan SoRi berpengalaman dalam pengamatan untuk pembelajaran pribadi. Akhirnya, Supra mengakui bahwa murid-muridnya bisa hebat. Ini membuatnya lebih melembut pula dalam mengajar mereka. Tak terlalu menekan dengan soal-soal dalam jumlah banyak lagi.

Seiring berjalannya waktu, adik-adiknya mulai bisa fokus belajar. Hingga SoRi meminta sesuatu pada kakaknya sebagai pengajar. Jumlah soal yang lebih banyak. Supra tak keberatan karena dia memang sudah mampu menyiapkan banyak. Hanya saja, SoRi terlihat lebih stres dari biasanya. Sang kakak menganggap adiknya agak lelah memikirkan ujian.

Hingga SoRi malah mendadak mimisan saat belajar di kelas. Barulah Supra melihat adiknya terlalu memaksakkan diri. Dia bahkan sudah jarang terlihat main-main di tamannya. Saat jam istirahat, Supra mengunjungi SoRi di ruang UKS. Sambil menyerahkan mochi durian kesukaan sang adik.

"Kenapa kamu belajar terlalu keras?" tanya Supra tanpa berbasa-basi.

Wajah pucat SoRi bahkan tak berubah. Hanya diam dengan raut serius dan dingin. Ini membuat Supra sedikit merinding. "Kak Supra nggak perlu tahu. Lagian SoRi cuma belajar keras. Harusnya Kakak sebagai guru ikut senang dengan perubahan ini."

Memang, sejujurnya Supra senang di awal perubahannya. Dia jadi tak repot-repot menyuruh adiknya fokus belajar. Akan tetapi, semakin lama sikap adiknya terasa tidak benar. Supra menjelaskan bahwa menjaga kesehatan itu juga penting. Dia tak mau SoRi mengejar akademik dengan terlalu keras seperti dirinya di masa lalu. Padahal dia sudah merasa damai dengan gaya belajar adik-adiknya yang membuatnya lebih rileks.

Supra mengatakan bahwa dia akan berhenti memberikan soal-soal untuk SoRi agar adiknya tak terlalu stres. Barulah adiknya terkesiap di tempat. Dia merengut kesal. "SoRi juga bisa belajar sendiri tanpa Kak Supra!" bentaknya. Kemudian SoRi mendorong Supra, mengusir kakaknya untuk segera keluar. Saking kagetnya, Supra jadi tak sempat memprotes.

Untuk pertama kalinya, SoRi membolos dari pelajarannya. Supra tercengang saat melihat SoRi yang sungguh-sungguh tak mau belajar dengannya. Sementara Gentar yang mulai bisa fokus belajar, sudah mulai mengerjakan soal-soal dari Supra dengan riang. "Kak Sup, sepertinya nilai ujianku bakal membaik! Hero ini banyak belajar!"

Supra berdeham, memuji adiknya yang berjiwa hero itu sambil menepuk lembut kepalanya. Sayangnya, isi pikirannya ada pada SoRi. Adiknya itu bahkan tidak ada di rumah. Entah kemana dia. Rasanya seperti deja vu. Tentu SoRi tidak pulang dalam keadaan badan luka-luka seperti Gentar sebelumnya. Namun, adiknya sama tak hadirnya untuk belajar bersama.

"SoRi ke perpustakaan." balas adiknya dingin saat ditanyai Supra. "Kak Supra nggak perlu khawatir soal nilai ujian SoRi."

Padahal, Supra sedang tidak khawatir soal nilai ujiannya. Akhirnya, ujian mulai berlangsung dengan ketidakhadiran SoRi yang belajar bersamanya. Supra tak sempat mengikutinya diam-diam ke perpustakaan karena Gentar tampak pusing belajar dan butuh bimbingannya. Dia sendiri juga mencoba berfokus belajar. Meski dia lebih rileks soal akademik dibandingkan sebelumnya, dia tak membiarkan nilainya turun.

Sampai ujian sudah tiba di hari ketiga. Supra melihat SoRi yang menangis sepulang dari ujian. Tanpa kata, dia sudah menghampiri adiknya. Menemaninya pulang bersama. Tanpa diminta, adiknya mulai mengeluarkan unek-uneknya selama beberapa hari belakangan ini. Bahwa dia merasa rendah diri dengan nilainya. Bahwa dia kesal dengan dirinya yang tak terlalu hebat dalam akademik biarpun dirinya suka belajar. Dia jadi tertekan melihat teman-temannya yang kompak berniat masuk ke sekolah pilihan anak-anak pintar di jenjang selanjutnya. Peringkatnya yang menengah butuh sedikit naik untuk bisa masuk.

Supra terdiam. Akhirnya, dia mengeluarkan isi pikirannya pula. Dia harap, kali ini adiknya mau mendengarkannya. "Sebagai gurumu, aku kagum kepadamu. SoRi, kamu tetaplah orang paling pintar di mataku. Sungguh. Bagiku, caramu belajar itu hebat, lebih hebat dari anak-anak pintar."

 

-0o0-

 

Akhirnya ujian berlalu dengan lancar. SoRi yang sebelumnya sempat tertekan, mulai lega setelah dia menerima perkataan Supra dan belajar darinya. Bahkan Gentar juga tampak senang. Sementara saudara lainnya, cukup merasa damai pula. Glacier selalu tenang selama ujian, FrostFire yang agak pusing walau mampu melaluinya, dan Sopan yang sempat serius belajar sendirian akhirnya usahanya terbayarkan di akhir.

Hasil ujian cukup memuaskan. Bahkan peringkat mereka tidak mengkhawatirkan. Untuk pertama kalinya, peringkat Gentar naik ke lima puluh besar dalam angkatan mereka. Peringkat menengah. Dia bersorak girang. Membanggakan dirinya sebagai calon hero yang semakin cerdas ke murid lain yang berlalu lalang. Ketika Supra berdeham di hadapannya yang heboh, barulah Gentar tersadar akan peran gurunya.

"Kak Supra... Aku akan melakukannya sesuai pesan Kakak." Ujar Gentar dengan penuh tekad.

Supra menatapnya lekat. "Kau akan memilih jadi hero yang lebih berpengetahuan?"

Gentar tersenyum dan mengangguk. Sang kakak kini mulai tersenyum pula. Mengatakan bahwa pengalaman mengajar Gentar tidak akan dia lupakan. Dia mengulurkan tangan kanannya, mengajak bersalaman. Saat adiknya menerima uluran tangannya, Supra memberikan jabatan erat. Lalu tangannya yang lain mengeluarkan kartu ucapan dari saku baju. Gentar terkesima membacanya.

'Selamat telah lulus ujian, Gentar. Dari kakak sekaligus gurumu, Supra.'

Kartu ucapannya sederhana berwarna merah dan kuning dari kertas karton bekas ujian praktik seni. Ada gambar Gentar sebagai hero yang terlihat lebih bagus dibandingkan gambarnya dulu. Setelah memberikan kartu ucapan itu, Supra sudah melangkah pergi sambil melambaikan tangan, meninggalkan Gentar yang tercengang tak percaya melihat kartu ucapan dari kakak yang paling galak sedunia baginya.

Rasa senang SoRi dilampiaskan di taman sekolah. Dia sudah memanjat pohon dan sibuk berteriak bahwa dirinya masuk peringkat tiga puluh besar dalam angkatan. Sungguh, Supra merasa malu melihat tingkah konyol tersebut. Sama saja seperti Gentar. Akan tetapi, dia tetap menghampiri adiknya.

SoRi menatapnya dengan senyum lebar dan kembali berteriak ke murid asing yang melintas. Kali ini dia sambil menunjuk ke arah Supra. "LIHATLAH GURU SEKALIGUS KAKAKKU YANG MEMBUATKU PERINGKAT TIGA PULUH BESAR!"

Jengkel bercampur malu, Supra melempari sang adik dengan batu. "Berisik banget! Turun, enggak?! Jangan jadi murid yang memalukan!"

"Hehehe! Habisnya SoRi jadi bangga ke diri sendiri dan ingin membanggakan Kak Supra sebagai guru SoRi!" balas adiknya riang, turun sambil melompat dari pohon. Supra melotot akibat kaget, lebih-lebih ketika adiknya melompat ke arahnya. Memeluknya erat. Berulang kali mengucapkan terima kasih kepadanya.

Supra mulai tersenyum dan kembali mengeluarkan kartu ucapan selamat atas lulus ujian. Warna kuning dan hijau dengan gambar tanaman-tanaman SoRi, termasuk durian. Kemudian dia melangkah pergi meninggalkan adiknya yang berbinar-binar cerah. Supra tersenyum puas menatap mading yang menempelkan peringkat hasil ujian.

Dari sana, peringkat saudara-saudara yang lain juga memuaskan. FrostFire masuk peringkat dua puluh satu, Glacier peringkat lima belas, sedangkan Sopan peringkat sembilan. Supra? Berkat mengajar, dia jadi semakin lancar mengingat materi pelajaran. Dia menduduki peringkat satu se-angkatan. Rekor pertama Supra setelah selama ini hanya masuk peringkat lima besar. Pasti setelah ini orang tua mereka akan segera pulang karena terkejut dengan nilai akademik mereka.

Ketika Amato datang seraya memberi banyak uang kepada Supra yang berhasil mengajar SoRi dan Gentar, tiba-tiba perasaan Supra campur aduk saat menerima uangnya. Dia merasa tidak terlalu maksimal mengajar. Justru kedua adiknya juga mengajarkannya tentang banyak hal. Akhirnya, dia membagi uangnya sama rata untuk mereka bertiga.

"Untuk kami juga? Tapi Kak Supra sudah susah payah mengajar!" seru SoRi kaget. Gentar mengangguk setuju, menatapnya heran. Untuk apa dapat uang dalam mengajar, tetapi malah dibagi ke murid-muridnya?

"Aku memang mengajar kalian sebagai guru, tapi..." balas Supra. Menghentikan kalimatnya sejenak sebab saudara-saudaranya yang lain juga menoleh ke arahnya dengan penasaran. "...kalian juga mengajarku. Kalian mengajariku soal pengalaman belajar. Berkat itu semua, nilaiku juga bisa berkembang lebih tinggi."

Walau Supra tahu, ini bukan hanya soal nilai akademik, tapi juga nilai-nilai lainnya. Tentang Gentar sebagai sosok hero yang pantang menyerah dan tentang SoRi yang punya cinta terhadap belajar alam. Tentang tekad kuat maju dengan kekuatan sendiri. Tentang memilih istirahat dalam meraih hal berat. Tentang belajar yang rupanya tak hanya sekedar dari guru, tapi juga dari murid-muridnya.

Ketika SoRi dan Gentar menerima uangnya, Supra terpikir untuk mengeluarkan kata-kata permintaannya pula. Dia sedikit malu, tetapi dia yakin kalau saudara-saudaranya mau menerima permintaannya. Sebagaimana Supra memandang mereka punya potensi dalam belajar di masa depan. SoRi pasti akan masuk peringkat sepuluh besar di angkatan saat SMA, sedangkan Gentar akan menjadi hero yang dipandang guru maupun murid berkat kepintarannya.

"Tolong tetap ajari aku belajar ke depannya, ya?"

 

-0o0-

(End)

Notes:

Tulisan ini dibuat dalam rangka buat penyemangat diri sendiri (hehe). Terakhir, semangat dan sukses buat semua guru di dunia ini!!