Work Text:
Sorak sorai penonton bergema seperti laut yang bernyanyi di malam hari.
Aku berdiri di belakang barikade, sedikit lebih dekat dari kerumunan, tetapi tetap jauh dari panggung tempat ia berdiri. Lampu sorot menari di sekelilingnya, menyembunyikan separuh wajahnya—seperti biasa. Semi Eita memang tak pernah suka memperlihatkan semuanya. Bahkan dulu, saat aku pikir aku mengenalnya sepenuhnya, aku salah.
Ia menyentuh mikrofon. Jemarinya masih sama—panjang, kokoh, dan tanpa ragu saat menggenggam sesuatu yang penting.
Seperti saat ia menggenggam tanganku dulu.
“Lagu ini untuk seseorang yang pernah bilang gue bukan bintang,” katanya. Suaranya dalam, datar, tetapi menyisakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. “Katanya gue terlalu keras untuk jadi cahaya, dan terlalu sunyi untuk jadi langit.”
Dan tetap saja, aku menatapmu malam ini seperti bintang.
Meski tahu, aku sudah bukan langitmu.
---
Aku ingat hari pertama aku mendengar namanya.
“Eh, lo tahu Eita Semi, nggak? Anak voli, kelas 2. Ganteng, diem, tapi galak banget sama setter baru.”
Aku cuma menggeleng waktu itu. Belum tahu seperti apa orangnya, belum bisa membayangkan wajahnya. Tetapi seperti kalimat pembuka dari lagu yang akan terus terputar dalam hidupku, nama itu… menetap.
“Gue kenal dia, lo mau gue kenalin?”
Aku pura-pura menolak. Tetapi hatiku—bodohnya—sudah mengangguk duluan.
Hari kami bertemu pertama kali, lapangan voli bau keringat dan semangat para lelaki. Semi sedang latihan servis dengan temannya, rambutnya agak basah, wajahnya serius. Fokus. Temanku melambai, lalu memanggilnya.
“Semi! Ini temen gue, dia suka musik dan jomblo juga.”
Ia hanya menoleh. Matanya menatap sebentar, cukup untuk membuat nafasku berantakan. Lalu ia mengangguk pelan.
“Hai.”
Itu saja.
Tetapi entah kenapa, suaranya terdengar seperti nada rendah dalam lagu yang paling kusukai. Tenang, sedikit berat, tetapi hangat kalau didengar pelan-pelan.
Beberapa minggu kemudian, kami mulai mengobrol. Lewat LINE—yang dibagikan secara paksa oleh temanku. Mulai dari obrolan soal band favorit, sampai hal-hal kecil seperti: “Lo lebih suka hujan atau terang?”
Aku jawab, “Hujan. Tapi cuma kalau nggak sendirian.”
Semi membalas, “Sama. Tapi gue lebih suka hujan karena nggak kelihatan kalau lagi sedih.”
Dan sejak itu, aku tahu: ia bukan cowok yang mudah. Tapi aku juga tahu, aku sudah jatuh. Tanpa aba-aba. Tanpa payung.
---
Suatu hari, saat berpapasan di kantin dan memutuskan untuk makan bersama, ia bilang:
“Kalau gue bukan pemain voli… mungkin gue bakal jadi musisi.”
“Kalau gue nggak gila belajar… gue bakal jadi penggemar lo di bangku paling depan,” jawabku bercanda.
Semi tertawa, untuk pertama kalinya di depanku. Aku pikir, itu bunyi paling indah yang pernah kudengar.
Dan momen yang paling kuingat adalah saat ia berlagak sok tahu setelah melihat catatan astronomiku.
“Kalau gue bintang, gue bukan yang jauh di atas. Gue bintang jatuh—hanya bisa dilihat saat terlambat.”
Aku menggeleng, ”Nggak, nggak, bukan. Lo Semi.”
Lalu kami tertawa.
---
” If I get you, I'm slowly breakin' down…
And, oh, it's hard to see you, but I wish you were right here
Oh, it's hard to leave you when I get you everywhere
All this time I'm thinkin' we could never be a pair
Oh, no, I don't need you, but I miss you, come here”
---
Cinta kami bukan petir yang datang tiba-tiba.
Diawali dari pesan-pesan kecil, obrolan ringan tentang musik dan hidup. Sekarang aku paham kenapa temanku memaksakan kami untuk saling kenal. Mungkin ia melihat sesuatu yang tak kami sadari—dua jiwa yang lelah, tetapi diam-diam saling membutuhkan.
Aku dan Semi tak pernah benar-benar merencanakan apapun terkait kehidupan romansa, tetapi setiap percakapan tumbuh menjadi ruang aman yang tak pernah kami pinta, namun sangat kunantikan.
Lucu, ya. Betapa hangat bisa muncul dari hal-hal kecil yang terlihat sepele.
Lalu, hari-hari tanpa kabar mulai terasa aneh. Sampai pada hari ketika tim voli pulang membawa tropi ke sekolah, aku memberanikan diri berkata:
“Kamu sadar nggak, aku selalu nunggu kamu?”
“Aku juga,” katanya, final.
Kami tak pernah benar-benar menyatakan "jadian." Tetapi sejak hari itu, sebutan "aku-kamu" dan genggaman tangan saat pulang sekolah seperti sebuah kesepakatn dan komitmen.
Saat Semi telat karena latihan intensnya, atau saat aku ada konsultasi akademik, salah satu dari kami akan menunggu. Kemudian Semi memberiku earphone-nya saat kami duduk di bangku taman yang gelap, mendengarkan lagu yang sama dari satu ponsel sebelum berpisah ke rumah masing-masing. Ia bilang, “kalau aku bisa milih nada buat menggambarkan kamu, mungkin kamu itu chorus. Bagian yang selalu aku tunggu-tunggu.”
Namun hidup bukan hanya chorus. Ada verse yang membosankan, bridge yang penuh ketegangan, dan kadang… akhir lagu yang terlalu cepat.
---
”But he love me not, he loves me
He holds me tight, then lets me go”
---
Setelah Semi cedera pergelangan tangan dan keluar dari tim voli, ia mulai menjauh. Ia jarang membalas chat, sering menolak bertemu.
“Gu lagi fokus belajar,” katanya. Gue.
Padahal aku tahu, ia sedang jatuh. Dan seperti biasa, ia terlalu bangga untuk minta ditangkap.
Hari kami putus pun tidak dramatis.
Hanya percakapan datar di lorong sekolah, saat semua anak sudah pulang.
“Kita... kayaknya udah beda,” katanya.
“Oke,” jawabku, meski hatiku hancur saat itu juga.
Ia menatapku lama, seakan ingin berkata sesuatu lagi. Tetapi tak ada yang keluar. Aku pun berbalik lebih dulu.
---
“Lord, take it so far away
I pray that, God, we don't break
I want you to take me up and down
And 'round and 'round again”
---
Setelah itu, kami menjadi dua garis yang menjauh.
Ia melanjutkan hidup, entah ke mana—aku tak pernah tahu pasti. Beberapa bilang ia kuliah di luar kota, fokus di dunia musik. Aku tidak berani mencarinya. Karena jika kutemukan, aku takut... ia benar-benar telah berubah.
Dan aku bukan bagian dari hidup barunya.
Hingga malam ini, saat semua lampu dan netra menyinarinya.
Sorak sorai penonton bergema seperti laut yang bernyanyi di malam hari.
Aku berdiri di belakang barikade, sedikit lebih dekat dari kerumunan, tetapi tetap jauh dari panggung tempat ia berdiri. Lampu sorot menari di sekelilingnya, menyembunyikan separuh wajahnya—seperti biasa. Semi Eita memang tak pernah suka memperlihatkan semuanya. Bahkan dulu, saat aku pikir aku mengenalnya sepenuhnya, aku salah.
Ia menyentuh mikrofon. Jemarinya masih sama—panjang, kokoh, dan tanpa ragu saat menggenggam sesuatu yang penting.
Seperti saat ia menggenggam tanganku dulu.
“Lagu ini untuk seseorang yang pernah bilang gue bukan bintang,” katanya. Suaranya dalam, datar, tetapi menyisakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. “Katanya gue terlalu keras untuk jadi cahaya, dan terlalu sunyi untuk jadi langit.”
Dan tetap saja, aku menatapmu malam ini seperti bintang.
Meski tahu, aku sudah bukan langitmu.
Aku tidak tahu apakah ia melihatku malam itu.
Tetapi ketika lagu terakhir berakhir, dan lampu mulai meredup, aku tetap berdiri. Semua orang mulai bubar, tapi aku tidak bergerak. Hanya diam di balik pagar besi, tempat yang membatasi antara penonton dan panggung.
Seperti batas yang pernah ada di antara aku dan Semi.
Kupikir tak ada lagi yang akan terjadi, sampai kulihat dia turun dari panggung… berjalan perlahan, lalu berhenti. Pandangannya menyapu penonton—dan berhenti. Tepat di tempatku berdiri.
Tubuhnya mematung.
Mataku berkaca.
Kami tidak melambaikan tangan. Tidak ada senyuman.
Hanya tatapan yang menyimpan terlalu banyak cerita untuk bisa diringkas dalam satu kalimat.
Beberapa menit kemudian setelah ia menghilang dari panggung, aku memberanikan diri berjalan ke belakang venue. Melewati tenda teknisi, menyelinap ke area kru. Kutinggalkan sepucuk surat yang sudah kutulis saat di kantor di atas kotak logistik yang bertuliskan "SEMI EITA" dengan huruf spidol besar. Tak tahu apakah ia akan membacanya. Tetapi aku harap ia mau.
Isi surat itu singkat:
"Kamu memang bukan bintang. Tetapi kamu pernah jadi langitku. Dan aku harap, di tempat mana pun kamu melayang sekarang, kamu tetap tahu: cahayamu pernah menyelamatkanku dari gelap.
Terima kasih telah menjadi satu-satunya nyala yang tak pernah kulupakan."
Aku pulang malam itu dengan tenang.
Dulu aku mengira kisah kami belum selesai. Tetapi mungkin memang begini akhirnya:
Kami adalah dua gugus cahaya yang pernah bertabrakan, lalu menjauh untuk tetap bersinar sendiri-sendiri.
Dan seperti bintang di langit—tak bisa digapai, tetapi selalu dapat kulihat dari kejauhan—
Begitulah Semi Eita untukku.
Aku sudah bukan langitnya, tetapi ia... selalu akan menjadi bintangku.
Bintang jatuh.
