Actions

Work Header

Red Rose Memories (yumefic)

Summary:

In this dessert of blooming rose, even though it feels lonely
Our endless promise, are still in my heart
That’s why I’ll continue to living on
ー 獣と薔薇 (Hey!Say!JUMP)

Didedikasikan untuk #PYDyumefic2

Work Text:

IDOLiSH7 ©︎ Bandai Namco, Troyca, Arina Tanemura

OC (Bella dan Noah) and story [red rose memories] ©︎ bellasteils

Saya pinjam OC Claire dari teman saya ©︎ sasha

Pair: Yaotome Gaku (August) x Bella Steils, slight BL-yume Noah x Minami (Fuga)

Nama Gaku saya ubah menjadi August untuk keperluan cerita dan berdasarkan AU official berjudul Mechanical Lullaby, nama Gaku menjadi August. Nama Minami saya ubah menjadi Fuga berdasarkan AU official berjudul La Danse Macabre.

Saya tidak mendapatkan keuntungan apapun dengan membuat fanfiksi ini, semua murni untuk kesenangan semata.

Fanfiksi ini didedikasikan untuk #PYDyumefic2

Saya mengambil subtema songfic berdasarkan lagu Hey! Say! JUMP yang berjudul Kemono to Bara.


Baru membuka pagar kayu depan rumah, langkah Bella terhenti. Ia terkejut tapi berusaha menetralkan emosi. Tangannya menutup rapat kunci pagar setinggi pinggang.

Berjalan setapak dua tapak jalan yang dihiasi taman mini, Bella berhenti tepat di depan pintu rumah sederhana peninggalan orang tua. Tidak langsung masuk, Bella terpaku melihat setangkai mawar merah yang diletakkan begitu saja.

Tangannya memungut bunga itu, sambil sedikit menaikkan rok kemerahan yang sudah lusuh di bagian ujung bekas cipratan tanah basah.

"Lagi-lagi bunga mawar."

Bella celingukan. Suasana subuh desa kecil nampak masih sunyi dengan seberkas cahaya mulai muncul di ufuk timur. Tidak ada apapun, walau sudah subuh tetap saja terasa mencekam di antara pepohonan rindang dan jalanan sepi. Merasa tak ada hal aneh, Bella segera masuk ke dalam rumah.

Si gadis rambut merah menguap lebar begitu melihat kasur kesayangan. Sebagai pelayan rumah bir, jadwal kerjanya memang lain dari kebanyakan orang. 

Saat orang-orang bangun menyambut hari, Bella segera memeluk mimpi.

Tangkai bunga mawar misterius dilupakan begitu saja.


"Bella, beri aku tambahan!"

Bella baru meletakkan gelas kaca yang sudah mengkilap. Claire menghampiri dengan segelas bir kosong dengan busa yang menempel di dinding dalam gelas.

"Sudah berapa gelas kau?" tanya Bella sambil berkacak pinggang. "Mau sampai kapan seperti ini terus?"

Bella sadar pertanyaan ini sudah berkali-kali terlontar tapi jawabannya tetap sama, tidak tahu. Kawan sejak kecilnya, Claire, masih gagal move on karena cintanya lebih memilih berkelana, tapi bukan mencari kitab pusaka.

"Sungguh menyedihkan." Walau begitu, Bella memberikan segelas bir baru kepada Claire.

Seharusnya Bella tidak membiarkan Claire sedih berkepanjangan. Masa depannya masih panjang, tapi karena cinta yang sudah dipupuk dan siap panen itu tiba-tiba dihempas begitu saja dengan angin topan, Bella tidak bisa berkutik.

Bella beralih pada satu kawan lain yang sedang berseri-seri. Berbanding terbalik dengan Claire, Noah yang sedang kasmaran tak henti-hentinya  bersenandung, "mawar merah penuh gairah~"

"Bella, aku mau segelas lagi untukku dan Fuga."

Usai mendapat dua gelas bir, Noah menghampiri pemuda di meja ujung dengan riang.

Bella menghela napas panjang. Dua kawannya ini seperti gelap dan terang. Yang satu patah hati, yang satu kasmaran berseri-seri.

Malam ini tidak banyak pengunjung. Sepertinya karena di luar sedang turun hujan deras. Pengunjung yang ada adalah mereka yang terjebak hingga yang bisa dilakukan hanya menunggu sampai mabuk.

Menjelang subuh, Bella sudah siap untuk pulang. Pemilik kedai meminta Bella kembali lebih awal dengan alasan konyol, 'takut ada serigala jadi-jadian.'

Bella menanggapi dengan tawa, "Mana mungkin ada makhluk mitologi seperti itu? Ada-ada saja."

Entah mengapa belakangan Bella mendengar selentingan serigala jadi-jadian dari beberapa pengunjung. Namun Bella yang selalu malas mengikuti info terkini hanya mengangguk sambil meneruskan pekerjaan.

Untungnya hujan sudah berhenti. Sayangnya Bella merasa malas untuk kembali karena jalan yang becek. Ditambah mantelnya sedang dicuci jadi ia hanya mengenakan pakaian tipis. Udara dingin malam ditambah gerimis hujan yang sialnya kembali turun. 

Sampai di depan pagar rumah, Bella tersentak. Di depan rumah ada jejak kaki seseorang yang mengarah ke rumah. Berhenti di depan pintu masuk kemudian kakinya mengarah kembali pergi.

Lagi-lagi setangkai bunga mawar tergeletak di depan pintu rumah. Berapa kalipun mencari pelaku, Bella tak menemukan apapun selain gelapnya malam. Penerangan hanya lampu jalanan yang sesekali berkedip menuju sekarat.

Bella segera kembali ke dalam rumah dan mengunci pintu dengan was-was.

Besoknya, kepala Bella merasa pusing ketika bangun. Bangkit dari tidur rasanya enggan karena badannya pegal-pegal. Tubuhnya terasa hangat padahal hawa pagi selalu dingin.

Demam melanda setelah semalam diterpa angin malam dan gerimis.

Hidup sebatang kara membuat Bella harus menyiapkan sendiri kebutuhan sehari-hari. Sup ayam hangat cocok dimakan saat ini. Sekuat tenaga Bella mulai memasak walau matanya masih terasa berat.

Makan dan istirahat adalah hal penting untuk bertahan hidup. Hidupnya memang pas-pasan tapi setiap hari bersyukur dengan apa yang bisa dia dapat.

Setelah makan bukannya makin semangat, kepala Bella masih pusing. Akhirnya ia kembali tidur.

Kelelahan dan kehujanan adalah faktor kondisi tubuh Bella menurun secara drastis. Ia merasa tidur lama tanpa bermimpi. Ketika kelopak matanya terbuka, sosok pria tinggi dengan rambut abu-abu tertangkap retina. 

Seketika Bella bangkit. Was-was kalau itu adalah pencuri yang masuk karena keteledoran Bella lupa mengunci pintu. Mengecek segala tempat, semuanya aman. Rumahnya yang kecil dan hanya terdiri dari dua ruangan; kamar tidur dan dapur. Kamar mandi berada di luar. Biasanya Bella menyiapkan sebaskom air untuk cuci muka.

Hujan masih mengguyur. Dengan kondisi seperti ini; hujan dan demam, Bella tidak mungkin berangkat bekerja. Semoga pesan yang dititipkan melalui petani Jenkins tadi pagi sampai ke pemilik bar.

Lagipula Bella termasuk rajin bekerja, sekalipun absen tidak akan mendapatkan masalah lebih besar.

Hujan yang mengguyur tidak hanya deras dan berangin, tapi disertai kilat yang menyambar.

Bella menatap horor pada setangkai bunga mawar yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Bersama dengan sebaskom air dan handuk kecil yang sudah basah.

Tanpa disadari jejak kaki baru di depan rumah Bella bertambah bersamaan dengan sekelebat orang yang berlari menembus guyuran hujan.

Bella mulai merasa was-was. Tidak hanya meletakkan mawar tapi juga masuk ke dalam rumahnya.

"Siapa?" batin Bella.


Bulan purnama muncul dengan jelas setelah kemarin hujan deras. Malam ini langit berganti cerah hingga bintang-bintang ikut memamerkan cahayanya. Hanya sesekali awan gelap berarak sombong menghalangi cahaya bintang dan bulan.

Bella masih pusing dan sedikit batuk. Pemilik bar yang super higienis melarangnya kembali sampai Bella benar-benar sembuh.

"Ya sudah, lagipula kesempatan aku bisa beristirahat." gumam Bella saat pesan itu sampai dari petani Jenkins yang kembali dari ladang bersama dengan sekeranjang jagung, kentang dan sayur segar hasil panen.

Kebanyakan tidur membuat Bella terjaga di malam hari. Ia hanya duduk di depan jendela kaca dengan selimut dan secangkir teh di tangan sambil memandang bulan yang bersinar. Sengaja ia memadamkan semua penerangan agar bisa memandang cerahnya bulan purnama.

Kapan terakhir kali Bella merasakan tenangnya malam hari? Setiap hari selalu dihabiskan dengan melayani pelanggan berisik yang mabuk sepanjang malam.

Maniknya memandang gelas yang beralih fungsi menjadi vas bunga. Tujuh tangkai bunga mawar merah yang selalu tergeletak di depan rumah begitu Bella pulang. Tidak tahu siapa pelakunya, yang pasti Bella penasaran. 

Siapa yang mengirimnya dan apa motifnya?

"Bisa jadi dia menyukaimu?" celetuk Noah.

"Bagaimana kalau dia perempuan?" tanya Bella. "Kan tidak tahu yang mengirim pria atau wanita?"

"Yah, Bella aja ga terkenal di kalangan laki-laki apalagi perempuan." ejek Claire.

Bella melirik tajam pada kawan semasa kecil yang tidak sadar juga sedang membicarakan diri sendiri.

"Menurut buku yang aku baca, bunga mawar merah melambangkan cinta yang mendalam."

"Apa bukan karena ada sesuatu lain?" guman Bella.

Claire nampak berpikir ingin mengutarakan sesuatu tapi enggan, sampai Noah sendiri yang bertanya, "apa ada yang ingin kau bicarakan?" 

"Aku baru tahu kau bisa baca, Noah."

Satu jitakan mendarat di kepala Claire yang mabuk.

"Apa benar yang dikatakan Noah?" gumam Bella. "Siapa juga yang mau sama aku?"

Sepanjang hidupnya, Bella tidak pernah tertarik dengan cinta. Baginya pemuda di desa kecilnya tidak menarik dan payah. Lihat saja Claire atau Noah.

Lagipula trauma ditinggal ayah yang lebih memilih selingkuhan dan ibunya yang jadi sakit-sakitan dan meninggalkan Bella sebatang kara. Ditambah celetukan dari pelanggan soal meniduri pelacur atau kembang desa baru.

Sungguh memuakkan.

Sreg!

Satu suara membuat malam syahdunya rusak. Bahkan bunyi nyaring jangkrik enggan mengerik kembali. Perasaan tenang berubah menjadi was-was. 

Suaranya berasal dari depan rumah. Bella dengan tanpa suara meletakkan cangkir teh kemudian mengendap ke jendela depan untuk mengintip. 

Sepi.

Bella menghela napas lega. Mungkin hanya perasaan saja. Namun perasaan itu cuma sesaat, karena sekelebat sosok gelap tertangkap sedang lewat.

Si gadis sampai lupa caranya bernapas. Tapi Bella merasa familiar dengan sosok tersebut. Begitu lampu penerangan di luar memberinya penerangan, Bella sadar ia adalah pemuda dalam mimpi.

Diliputi rasa penasaran, Bella bergegas menyusul. Pemuda itu terkejut karena Bella masih terjaga. 

"Tunggu!" seru Bella.

Pemuda itu bersiap berlari, tapi langsung berhenti. Kepalanya menoleh ke arah Bella untuk mendapati gadis itu menyusul.

Cahaya bulan yang tadinya mengintip terlihat jelas, angin yang berhembus telah menggeser awan yang berarak. Terlihat jelas wajah yang ada di dalam mimpi. Tidak, itu pasti bukan mimpi.

Si pemuda tanpa ba bi bu langsung berlari cepat menembus hutan. Bella ikut menyusul meski terseok-seok ranting dan rumput yang mencuat.

Lengan baju malamnya sudah robek tergores ujung ranting. Kakinya meski terbalut gaun bergesekan dengan rerumputan yang membuat gatal. Tapi si gadis tidak peduli. Ia berlari dan terus berlari sampai tiba di tanah lapang.

Di tengah tanah itu, pemuda yang tadinya kecil seperti manusia tapi secara ajaib berubah wujud menjadi semakin besar. Tubuhnya menjadi tinggi kurus sampai-sampai tulangnya menempel pada kulit.

Dia meraung dengan suara menggelegar yang menakutkan. Seolah semua malam akan dilenyapkan. Bella segera mundur perlahan. Pemuda itu telah berubah wujud menjadi monster.

Saking kaget dan shocknya ketika mundur, Bella menginjak sebuah ranting. Pendengaran si monster tentu lebih sensitif. Kepalanya langsung menoleh ke arah Bella.

Kali ini Bella benar-benar tidak ingat bagaimana cara bernapas. Setitik air mata menumpuk di ujung mata. Apakah ini ajalnya?

Mata merah menyala itu menatap tajam pada Bella. Seperti menemukan mangsa, si monster berjalan mendekat ke arah Bella. Si gadis berusaha mundur dengan tubuh bergetar. 

Bella hanya ingin mencari tahu, tapi yang didapat hanya kematian di depan mata. Tubuh Bella kaku. Saraf penggeraknya seolah telah mati sesaat. Tanpa sadar si monster telah sampai di depan Bella dan memamerkan gigi taringnya yang tajam-tajam ingin menerkam Bella.

Dua lengan Bella reflek menutupi wajah sebagai perlindungan diri. Tentu saja lengan paling luar yang menjadi sasaran ayunan cakaran si monster kemudian tubuhnya terdorong ke belakang.

Bella meringis merasakan perih di lengan. Bekas cakaran kuku panjang menembus kulit. Darah mengucur dari bagian itu.

"Tidak… tidak…" 

Si gadis rambut merah menoleh. Monster di depannya berteriak meraung. Matanya berubah dari merah ke abu. Mata yang terasa familiar oleh Bella. 

Ia tidak seperti monster yang siap mencabik-cabik Bella untuk dijadian santapan. Namun ia menangis sambil kedua tangannya memegang kuping serigala yang muncul.

"Tidak… tidak…. Maafkan aku, maafkan aku. Aku tidak bermaksud… ARGH!"

Ia menggumamkan kalimat yang dimengerti Bella tapi tak dipahami maksudnya. Ia nampak seperti sedang bertarung dengan dirinya sendiri.

Bulan purnama masih menampakkan kembali cahayanya. Si pemuda berubah kembali menjadi monster buas bermata merah.

Sebelum Bella menyadari kematian siap menjemput, satu dua lolongan terdengar dari arah hutan. Suaranya bersahut-sahutan seperti memanggil.

Si monster yang sudah berubah seutuhnya menoleh dan segera menjawab panggilan dengan berlari ke arah sumber suara. Bella seperti menemukan kembali alur napasnya. Ia jatuh terduduk memproses hal ajaib yang barusan menimpanya. Begitu kondisi tenang, ia menutup luka dengan kain lengan baju dan kembali pulang dengan sempoyongan.

Tanpa sadar sekuntum mawar merah tergeletak ia tinggalkan dalam posisi terinjak.


Serigala jadi-jadian.

Bella pikir makhluk itu hanyalah mitos untuk menakut-nakutin anak-anak untuk tidak keluar di malam hari. Sampai ia bertemu secara langsung.

Buku di perpustakaan ia tutup. Di sampingnya ada tumpukan buku dengan tema sejenis, makhluk mitologi.

"Kupikir Bella orang yang cukup rasional, ternyata percaya dongeng anak-anak seperti ini." Noah menginterupsi. Pemuda di depannya baru saja tiba di perpustakaan kecil di desanya. Alasan utamanya, menjemput Fuga yang bekerja di perpustakaan.

"Minggir sana jangan ganggu." Bella mengusir Noah seperti mengusir ayam tetangga yang masuk merusak tanaman.

"Malah ngusir. Aku bosan Fuga ternyata disuruh lembur."

"Ya udah jangan berisik kalau begitu." Noah pun diam. Tangannya mengambil satu buku di tumpukan buku yang sudah dibaca oleh Bella.

Tempat favorit Bella di hari libur adalah perpustakaan, tempatnya bisa merenung dan mengasingkan diri. Walau bisa dibilang koleksi buku-bukunya payah. Bukan dalam kualitas tapi kuantitas.

Sampai-sampai Bella sering meminjam buku yang sama dua atau tiga kali.

Hari ini Bella menyempatkan diri ke perpustakaan setelah dua hari mengambil libur karena lengannya yang terluka tidak bisa digunakan maksimal untuk bekerja. Salah satu yang sedang menarik perhatian; serigala jadi-jadian.

Buku yang dia baca hanya memberikan mitos-mitos yang beredar di masyarakat. Belum ada kajian yang lebih lengkap.

Melihat dengan mata kepala sendiri membuat Bella menjadi semakin penasaran. Terlebih di malam setelah penyerangan monster itu, Bella mengalami mimpi yang aneh.

"Hei, aku bawa ini." Si bocah cilik rambut abu itu menyodorkan sebuah buku.

"Aku ga bisa baca." ujar Bella kecil sambil masih sesenggukan. Hari ini ia melihat ayahnya pulang sambil mabuk dan bertengkar dengan ibunya.

Tempat pelariannya adalah bukit di belakang hutan. Bella kecil akan duduk lama memandang desa kecilnya sampai matahari tenggelam. Begitu seterusnya ketika orang tuanya adu mulut.

Sampai bocah laki-laki entah darimana muncul dan menjadi kawan Bella. Kali ini ia membawa sebuah buku.

"Akan kubacakan untukmu, ini cerita bagus."

Si bocah itu mulai membacakan dongeng yang sebenarnya Bella antara mengerti dan tidak mengerti. Cerita itu sangat asing dari dongeng yang pernah diceritakan turun temurun.

"Ini bukan dongeng belaka, ini nyata."

"Benarkah?" Bella kecil memiringkan kepala.

"Ini silsilah keluargaku, suatu hari namaku juga akan tertulis di sini."

Bella hanya diam dan memandang bocah ajaib itu.

"Hei, ajari aku membaca." Celetuk Bella tiba-tiba.

Bocah itu menghentikan ocehannya dan beralih ke si gadis kecil rambut merah panjang. Si bocah tersenyum lebar.

"Baiklah."

Membaca dan menulis adalah kemewahan bagi Bella. Keluarganya yang hidup pas-pasan dengan lelaki tidak berguna yang hanya bisa mabuk, ini adalah kesempatan emas.

Setiap hari mereka bertemu di tempat dan jam yang sama. Si bocah rambut abu mengajari Bella kecil huruf dan cara membaca. Membawakan buku-buku menarik yang Bella sendiri bahkan tidak tahu rumah si bocah itu dimana.

Bella masih terlalu kecil dan polos untuk curiga kepada orang asing, apalagi dia terlihat seperti sebayanya. 

Sampai suatu hari, Bella tidak lagi bertemu si bocah rambut abu di bukit belakang hutan. Berita mengejutkan dan menyedihkan menimpa Bella sekaligus. Membuat gadis sekecil Bella harus menanggung beban hidup lebih dini.

Ayahnya selingkuh, ibunya sakit-sakitan kemudian meninggal.

Menumpang di tempat saudara membuat Bella merasa sungkan. Apalagi ketika mendengar bisik-bisik paman dan bibi ternyata cukup keberatan. Berat hati, Bella kembali pada rumah tua milik ayah-ibunya dulu. Ia sulap menjadi gubuk sederhana.

Semua hal yang menimpanya sekaligus membuat Bella melupakan sosok bocah kecil berambut abu yang tak pernah tahu namanya.

Begitu bangun pagi Bella menangis. Bagaimana bisa ia melupakan anak kecil yang selalu menjadi temannya.

Pada akhirnya, Bella tak mendapat informasi apapun mengenai serigala jadi-jadian.

Malam-malam berikutnya, Bella tidak mendapat bunga mawar bahkan sampai Bella berjaga semalaman di depan rumah. Sampai suatu hari, si pemuda akhirnya kembali, Bella sudah menunggu.

Si pemuda tak mendekat, hanya berdiri di luar pagar. Memandang Bella dengan tatapan menyesal terutama bagian lengan.

Bella menyadari arah tatapan itu. "Tidak apa-apa, lukanya sudah sembuh." ujar Bella. 

Si gadis sadar pemuda itu tak pernah ada niat untuk menyakiti Bella. Justru sebaliknya.

Bella mendekat perlahan. Ia takut pemuda itu kembali kabur. Tapi tidak, pemuda itu hanya diam dan memandang si gadis mendekat.

Hingga akhirnya keduanya hanya berjarak pagar kayu setinggi pinggang ramping Bella. Tangan ramping si gadis meraih wajah si pemuda. Berniat menyentuh wajah yang dulu begitu mungil.

"Wajahmu kenapa pucat sekali?" Bella kecil mendaratkan tangan di wajah kawannya. Kulit si anak kecil itu putih, lebih nampak pucat selaras dengan warna rambut.

Dia nampak cemberut. Entah topik sensitif atau bagaimana ia nampak tak suka. "Aku memang seperti ini dari dulu."

"Tapi kau terlihat menawan. Kupikir kau bukan orang biasa, soalnya laki-laki di sini kebanyakan di ladang jadi kulitnya gelap dan kasar. Tapi kulitmu sangat lembut."

Si pemuda yg tadinya manyun kini tersenyum. Bella tidak menyadari semburat merah tercetak di pipi si bocah karena kembali fokus pada buku di pangkuan.

Bella tersentak. Belum sampai tangannya mencapai permukaan pipi si pemuda, pergelangan tangannya dicengkram. Lengan bajunya dibuka dan memperlihatkan bekas cakaran tempo hari.

"Ah ini sudah membaik." Bella gelagapan. Takut si pemuda merasa bersalah atau semacamnya.

Di sisi lain ia mengeluarkan sebuah botol misterius dan mengoleskan di bagian bekas luka di tangan Bella. Rasanya dingin begitu cairan kental bening itu menyentuh kulit tapi lama-lama rasa perihnya memudar.

”Maafkan aku.”

Bella menggeleng. “Tidak apa-apa.”

Si pemuda mengulurkan tangan. “Ikut aku sebentar.” ujarnya, terdengar memerintah tapi lembut. Bella tidak bisa menolak. Bella menerima uluran tangan itu. Seketika tubuhnya ditarik dan didekap dalam gendongan dan si rambut abu-abu melesat secepat kilat.

Angin malam menghantam wajah Bella. Rambut merah panjangnya berkibar. Dinginnya menusuk kulit. Tangan yang mendekap membawa Bella menghadap dada bidang yang terbalut kemeja panjang dan syal berbulu yang melingkar di leher.

Akhirnya si pemuda berhenti, Bella diturunkan. Subuh di bulan Agustus yang panas datang lebih cepat. Secercah cahaya kecil mengintip di ufuk Timur. Tetap saja harus membiasakan diri dengan remang-remang malam.

”Ini?”

”Tempat kita sering bertemu dulu.”

Bella terdiam. Ia sampai melupakan tempat ini karena terlalu sibuk mencari uang untuk melupakan semua masalah yang terjadi. Manik cokelat Bella mengamati yang dulunya tanah lapang kosong kini sudah banyak berubah.

”Rasanya dulu tidak seperti ini.”

Si pemuda terkekeh dan mengelus puncak kepala Bella, “Bella pikir sudah berapa lama waktu berlalu.”

Bella lantas menyadari sesuatu, “Hei, apa kita pernah berkenalan?”

Si pemuda diam dan nampak berpikir, lalu menggeleng, “Sepertinya tidak.”

”Lalu kenapa kau bisa tahu namaku?”

”Karena aku selalu tahu.”

Bella teringat kalimat ini.

Dulu Bella selalu penasaran, setiap pertanyaan yang Bella lontarkan selalu bisa dijawab oleh si bocah kecil usia dua belas tahun itu. Namun tak tahu apakah jawabannya benar atau salah.

”Kau tahu semuanya, ya?” ujar Bella dengan nada kagum.

“Karena aku selalu tahu.”

Bella kemudian terkekeh teringat masa lalu.

Si pemuda tersenyum, “August.”

Bella memandang.

”Namaku August.”

Giliran senyum Bella yang merekah.

Di saat itu, di belakang Bella cahaya matahari mulai nampak semakin menambah memukau senyum si Bella.

August lagi-lagi merona. Namun Bella teralihkan dengan hal lain.

”Kebun mawar? Sejak kapan?”

August menjawab, “Ini semua aku yang menanam.”

Bella mendelik penuh selidik kepada August.

Tangan seputih salju August terulur memetik setangkai mawar.

”Kau mungkin lupa, tapi mawar adalah bunga kesukaanmu.”

”Bunganya cantik!” seru Bella. Kali ini August kecil membawakan sebuah buku ensiklopedia bunga. Setiap gadis selalu menyukai keindahan.

”Aku suka bunga ini.” Tangan kecil Bella menunjuk gambar mawar merah. "Warnanya seperti rambutku."

Bella terkekeh. Ada masa-masa bahagia seperti itu yang seharusnya tidak terkunci rapat di sudut ingatan.

August tiba-tiba berlutut sambil mengulurkan setangkai mawar di tangan. Matahari di belakangnya telah menampakkan diri sebagian. Dunia seakan ikut menampakkan diri. Taman bunga mawar membentang dengan embun pagi yang menempel pada dedaunan.

Sudah berapa lama August membuat taman mawar sebanyak ini adalah pertanyaan yang terlintas dalam benak Bella.

Pada timing yang tepat, August mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan, “Hanya sekuntum mawar mewah yang bisa aku berikan untuk mengungkapkan perasaanku yang mendalam. Bella, mawar ini memang menawan, tapi kecantikan dan kebaikanmu tak tergantikan. Sejak awal mengenalmu, aku tahu kaulah satu-satunya pilihan.”

”…”

August melanjutkan, “Apa kau mau menerimanya?”

Wajahnya nampak gelisah. Takut dengan penolakan. Namun sesuai ekspektasi, Bella tersenyum lantas menerima mawar tersebut dan memeluk August dengan erat.


Selesai.