Work Text:
Tian Guan Ci Fu (Heaven Official Blessing) ©︎ Mo Xiang Tong Xiu
On the Bus ©︎ bellasteils
Repost dari karya dengan judul yang sama di akun wattpad [On the Bus]
For #QuanYinMonth2022 Day 9: High School AU
Highschool!Yizhen x College!Yinyu
Selamat membaca.
"Yizhen, dengerin dong." Qirong menggoyangkan bahu Yizhen meminta atensi. Yizhen memalingkan pandangan dari kaca jendela bus yang melaju pelan menuju sekolah ke pemuda agak berandal di sebelahnya.
"Iya, aku dengerin kok." Yizhen kendati matanya tertuju di luar tetap merespon Qirong. Lawan bicaranya melanjutkan topik.
"Jadi boleh ya aku pinjem uang. Serius nih genting banget eventnya berakhir hari ini dan aku mau ngepush rank biar dapet item langka." Qirong memohon-mohon penuh belas kasih hanya demi item langka di sebuah game online.
Yizhen mengeluarkan ponsel. Mengetik sesuatu kemudian beralih kembali kepada Qirong. "Udah."
Qirong segera mengecek dompet elektronik di ponsel. Seketika maniknya membulat dan bibirnya menyunggingkan senyum bahagia. "Makasih Tuan Muda Yizhen!" teriaknya tanpa sadar segera mendapat tatapan sinis dari penumpang lain.
'Berisik anjir!'
'Dasar bocil!'
Namun keadaan sekitar tak membuat raut wajah gembiranya menjadi surut. Segera pemuda seusia Yizhen itu memasang headset di kedua telinga dan mulai mengetuk-ngetukkan jempol pada layar ponsel dengan semangat.
Quan Yizhen tak lagi menanggapi ataupun penasaran dengan permainan yang membuat Qirong begitu antusias. Atensinya kembali kepada pemandangan di luar jendela yang berjalan mundur.
Pagi ini, matahari sudah menampakkan diri dengan gagah. Memamerkan cahaya yang menyilaukan dan terik yang membakar.
Yizhen memandang orang-orang penuh semangat menyambut libur musim panas. Bikini dan baju renang sudah berjajar di toko. Buah semangka dan es krim sirup menjadi ciri yang tak boleh dilupakan.
"Yizhen, kamu remidi apa?" Qirong di sebelahnya lagi-lagi menyela atensi Yizhen dari pemandangan di luar. Terlihat sudah selesai dengan permainannya. Sungguh cepat!
"Banyak."
Qirong tertawa, dengan sadar diri memelankan volume. Panas terik sudah membakar tubuh, Qirong tak ingin menyulut emosi penumpang yang mulai penuh.
"Rupanya Tuan Muda remidi banyak juga." Respon Qirong. Terdengar mengejek tapi sejatinya senang karena menemukan teman senasib.
Yizhen mendengus di dalam hati. 'Memangnya kenapa kalau aku remidi banyak?'
Bis berhenti di halte berikutnya. Tapi masih ada dua halte lagi untuk sampai di sekolah. Tempat duduk kosong segera terisi, beberapa orang tidak beruntung terpaksa berdiri.
Saat itulah atensi Yizhen tersedot sepenuhnya kepada seorang penumpang yang duduk di bangku seberang. Pemuda sederhana berkacamata membawa buku bacaan di tangan.
Seperti terkena panah asmara, manik Yizhen tak mau berpaling dari wajah cantik yang fokus membaca baris kata pada buku fiksi dalam genggaman.
Bis sudah berjalan, tetapi Yizhen memutuskan beranjak dari tempat duduk. Qirong sedang membalas pesan singkat dari seseorang bernama Lang Qian Qiu dengan penuh huruf kapital segera memandang heran kepada Yizhen.
'Mau kemana? Kita belum sampai!' Begitulah arti pandangan Qirong. Namun Qirong segera mengerti setelah seorang wanita menggantikan tempat duduk Yizhen. Qirong melanjutkan aktivitas dengan ponsel.
Yizhen berdiri sangat dekat dengan si pemuda rambut gelap. Saking dekat hingga Yizhen bisa ikut membaca isi buku fiksi di tangan si pemuda.
Tuan Muda Quan itu memperhatikan dari atas hingga bawah. Penampilannya tidak mencolok. Pemuda biasa dengan setelan jeans dan kaos. Tas selempang diletakkan di pangkuan sebagai tatakan buku. Namun wajahnya yang manis sungguh menyita perhatian Yizhen.
'Siapa dia? Turun dimana? Sangat manis, aku ingin mengenalnya.' batin Yizhen tanpa sekalipun mengalihkan pandangan. Seakan dunianya hanya berpusat pada si pemuda.
Padahal baru lima menit berlalu Yizhen menemukan sosoknya.
Bis masih melaju membelah jalanan padat. Menyalip mobil-mobil pribadi dan sesekali melewati kendaraan besar pengangkut barang.
Tanpa disadari, sebuah pemberitahuan menandakan Yizhen dan Qirong harus turun di halte berikutnya.
Yizhen panik. Begitu cepat waktu bahagia berlalu. Ia belum ingin meninggalkan pemuda di hadapannya, belum puas untuk memandanginya sepanjang hari, tetapi Qirong sudah bersiap untuk turun.
Qirong hampir menarik Yizhen untuk segera berdiri di pintu keluar. Jadi saat supir sudah menginjak rem dan bis berhenti tepat di depan halte, mereka bisa langsung turun.
Yizhen segera meraih secarik kertas yang dia tulis sebelum beranjak dari kursi mendekati si pemuda tadi, menyerahkan sambil berbisik pelan, "Tolong dibaca, ya!"
"Ayo Yizhen cepat turun! Bisnya keburu berangkat lagi!" Qirong menarik tas ransel Yizhen membuat Yizhen sedikit terseret. Sekilas memandang si pemuda menautkan alis memandang secarik kertas yang mengganggu imajinasinya.
Quan Yizhen turun tepat di depan halte sekolah. Bis mulai melaju setelah seluruh penumpang yang naik menempati tempatnya. Pandangan Yizhen tertuju pada jendela tempat si pemuda duduk. Dari tempat Yizhen berdiri hanya terlihat kepala si pemuda memasang raut tertegun.
Saat itulah terakhir kali Yizhen memandang si pemuda. Tanpa tahu nama, apalagi tempat tujuan. Yizhen menyesali dirinya yang gugup hingga tak sempat berbasa-basi.
Setidaknya ia sudah memberikan secarik kertas berisi nama dan nomor ponselnya. Berharap si pemuda akan mengirimnya pesan singkat.
"Yizhen, lagi ngapain?" tanya Qirong ikut memandang bis yang menghilang di tikungan. "Ayo!"
Yizhen mengangguk dan menyusul Qirong melewati gerbang sekolah.
Bonus
Selesai.
