Chapter Text
Senin, 10 Juli 2017.
Kepalaku serasa berputar. Mungkin karena terik matahari, mungkin karena aku sudah dijemur di lapangan ini selama hampir setengah jam. Mungkin karena aku belum sarapan, atau mungkin karena darah rendah. Atau mungkin ini semua karena Kak Caleb yang terus mondar-mandir di depan barisan memarahi anak-anak baru kelas 10. Matanya yang tajam, hidung mancung nya, tubuh tingginya yang seperti kulkas dua pintu itu, bibirnya yang sempurna— oh, sudahkah aku sebut matanya yang tajam? Sangat mempesona, apalagi saat ia melihat ke sini.
Aku rasa dia tidak mengenaliku, tapi aku sudah mengaguminya sejak kami mengikuti lomba yang sama di SMP. Entah keberuntungan apa yang aku miliki bisa satu sekolah dengan cinta pertamaku. Kak Caleb menatapku lekat. Tidak, aku pasti hanya berhalusinasi. Mana mungkin kan, Kak Caleb yang itu tiba-tiba datang mendekatiku?
“Y/N? Lu Y/N kan? Yang dulu ikut olimpiade sains tingkat SMP?” Kak Caleb tiba-tiba mengajakku bicara. Wajah galaknya sebentar berubah menjadi senyum tipis yang sangat menawan.
“Eh— uhh…”
Sebelum aku sadari, dunia sungguh-sungguh berputar dan kemudian gelap. Ketika aku membuka mata, aku sudah di UKS. Hidungku dipenuhi bau minyak angin, suster di sisi kiriku dan Kak Caleb di sisi kananku— tunggu, kenapa Kak Caleb ada di sini?
Jumat, 18 Agustus 2017.
“Eh Cebol, jujur gue udah lama suka sama lu, kita pacaran yuk?”
Aku menganga mendengar kalimat yang terucap dari bibir Kak Caleb. Cilok yang sudah tinggal sedikit lagi masuk ke mulutku kubiarkan merosot turun dari tusukan, jatuh ke aspal parkiran motor. Dari sejuta kemungkinan yang terlintas di otakku tentang mengapa Kak Caleb menawariku pulang bareng, tentu ditembak bukan salah satunya. Apalagi di tengah parkiran sepi ketika aku sedang menikmati cilok mamang depan sekolah. Apalagi Kak Caleb mengungkapkan perasaannya sambil memanggilku ‘cebol’. Super tidak romantis.
“Kakak bercanda? Nggak lucu ah!”
“Nggak, ini gue serius. Gue tau kita deket belum lama, tapi gue udah gak bisa bohong sama perasaan gue sendiri, Cebol. Gue suka sama lu, ayo kita pacaran.”
Belum sempat otakku memproses informasi, mulutku sudah bergerak duluan mengiyakan, dan tanganku sudah maju duluan menggandeng tangan Kak Caleb. Mulai hari itu, cinta pertamaku yang kukira bertepuk sebelah tangan pun menjadi kekasihku. Jika malam nanti aku menelepon Tara dan Rafayel kegirangan sampai ditegur oleh Nenek karena berisik, itu urusan lain.
Jumat, 29 Januari 2019.
“Kakak bercanda?” Aku tidak menyangka kalimat itu akan keluar lagi dari bibirku dengan nada yang berbanding terbalik.
“Aku serius, Y/N, aku mohon banget kamu pengertian sama aku…”
“Kak, kita udah bareng 2 tahun, Kakak mau ninggalin semua gitu aja?”
“Bukannya begitu… tapi gue harus fokus ujian masuk Akmil… lu kan tau cita-cita gue mau masuk angkatan udara?”
“Tapi kita nggak perlu putus, Kak! Kita kan bisa tetep pacaran dan Kakak tetep fokus ujian!”
“Maafin gue… tapi ini jalan terbaiknya…” Aku tertegun ketika Caleb meraih tanganku.
Tidak ada ‘Aku-Kamu’ yang penuh hangat dan kasih sayang, hanya ada ‘Lo-Gue’ yang terasa sangat asing. Kutarik tanganku dari genggamannya, kutatap matanya. Mata yang dulu pernah menatapku penuh cinta. Mata yang sempat aku kira akan menjadi satu-satunya mata dalam hidupku selamanya. Sekarang hanya ada penyesalan dan rasa asing yang dingin.
Oh… Sudah bulat rupanya…
Ini bukan soal ujian Akmil… Kak Caleb sudah tidak mencintaiku lagi…
Aku menyeka air mata yang mengalir di pipiku. Aku mengangguk kecil, mengiyakan berakhirnya hubungan kami. Kak Caleb menarikku ke dalam pelukannya untuk yang terakhir kalinya. Selamat tinggal cinta pertamaku.
