Actions

Work Header

duka yang tidak punya nama

Summary:

yasuhira ose hanyalah teman sekelas ushijima wakatoshi.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

YASUHIRA OSE bertanya-tanya dalam hati apa kiranya kesalahan yang ia perbuat kali ini. kedua kakinya digelantungi rasa cemas dan membuat jalannya dua kali lebih lambat dari biasa. ruang guru seharusnya tidak jauh setelah dia sampai di ujung tangga, namun yasuhira kian ragu untuk melangkah. pasalnya, ia rasa hari ini ia tak melakukan apa-apa yang bisa buat gurunya marah. terlebih, ini adalah bu hanatabi yang oktaf suaranya selalu di batas tiga. ia pernah dengar bahwa sebelum menjadi guru bahasa yang sekarang, ia dulunya guru menyanyi untuk anak-anak. masuk akal, karena nada bicaranya selalu ringan, seperti tangga nada melompat-lompat riang di esofagusnya. di kala melamun, yasuhira seringkali bertanya-tanya apakah bu hanatabi pernah menyesal mengganti profesinya hanya demi mengejar gaji yang lebih besar (begitulah katanya sendiri).

 

tapi omong-omong melamun, yasuhira kini juga tiba-tiba saja berdiri tepat di depan pintu dengan plakat berkilau bertuliskan ‘ruang guru’ gara-gara kebanyakan melamun. ia meneguk ludahnya sendiri susah payah,serta menarik napas panjang sebelum akhirnya menggeser pintunya hingga separuh terbuka. semua guru tampak sibuk di mejanya masing-masing, mungkin karena bel pulang sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. dan yasuhira masih diam berdiri di luar pintu, berusaha mencari meja bu hanatabi (ingatannya sedikit kabur lantaran semua meja di ruang guru terlihat sama).

 

“masuklah, jangan berdiri di pintu begitu,” ujar salah satu guru botak berbadan cungkring dan kacamata kotak yang hendak keluar, menggeser pintu agar terbuka lebih lebar. yasuhira mengenal wajahnya, namun ia tak pernah tahu namanya. sepertinya beliau mengajar kelas tiga. maka dengan buru-buru dan sedikit sungkan, yasuhira melangkah masuk.

 

beberapa guru berjalan lagi melewatinya menuju pintu keluar, yasuhira menyesali keputusannya untuk datang tepat setelah kelas selesai karena di jam-jam ini tentu saja banyak guru yang ingin cepat-cepat pulang. apalagi, ini hari jumat. tapi dipikir-pikir lagi, memang baiknya cepat-cepat datang karena bu hanatabi sendiri juga pasti mau cepat-cepat pulang. bergelut dengan keputusan yang sudah terlambat untuk disesali, yasuhira berdiri tepat di meja bu hanatabi. satu-satunya hal yang membuatnya sangat yakin adalah foto bu hanatabi dan putrinya yang dipajang di meja. yasuhira celingak-celinguk sebab bu hanatabi hanya tersenyum di foto itu, tapi tidak betulan ada di kursinya.

 

“ah, yasuhira!” yang dicarinya baru saja muncul dari balik pintu ketika yasuhira menimang apakah lebih baik menunggu di tempatnya berdiri saja atau di luar. “maaf, ya! sensei ke toilet dulu tadi.”

 

yasuhira hanya mengangguk sebagai jawaban.

 

wanita paruh baya itu berlama-lama membersihkan beberapa buku tugas di atas meja untuk dia bawa pulang ke rumahnya, sambil berceloteh ria mengenai bagaimana nilai ujian tengah semester muridnya tahun ini banyak sekali yang di bawah rata-rata. yasuhira hanya bergeming dan semakin gugup menerka apa kiranya alasan ia dipanggil kemari.

 

“oh ya, begini, yasuhira.” bu hanatabi bersandar nyaman di kursi kerjanya, “kamu ingat tugas membuat puisi minggu lalu? ya, tentang itu..”

 

sedetik—tidak, bahkan sebelum bu hanatabi selesai dengan kalimatnya, pintu ruang guru dibuka dengan sangat keras. pintunya bahkan tak lagi berdecit atau macet ketika digeser (atau, lebih cocok disebut dengan dibanting sebab daun pintunya seperti akan terbang), dan suaranya.

 

suaranya buat ruang guru yang ramai hening seketika.

 

di sana, di daun pintu yang seperti bertahan dengan apapun yang tersisa itu, ada pak washijo. wajahnya berkerut marah seperti biasa. namun sepertinya, ada hal yang membuat perasaannya jauh lebih buruk dari biasa. dan lagi, seperti biasa, ruang guru akan berpura-pura tidak dengar demi menghindari konflik dengan pria tua yang kotak tertawanya sudah dibuang mungkin sejak sepuluh tahun lalu (tak pernah ada bahagia melukis wajahnya).

 

kemudian di belakangnya, ada ushijima wakatoshi.

 

yasuhira adalah teman sekelasnya tahun lalu. bukan ushijima adalah teman sekelasnya, tapi dia, yasuhira, adalah teman sekelas ushijima. perbedaannya adalah ushijima bukan hanya sekadar teman sekelas. ia sudah seperti icon shiratorizawa dengan prestasinya yang membahana sejak tahun pertamanya, dan yasuhira-lah yang sekedar teman sekelas. ada perbedaan yang tipis sekali jika diperhatikan baik-baik, namun intinya, yasuhira hanyalah teman sekelasnya. mereka tidak dekat, tidak pernah pula berbincang. tapi dipikir-pikir, memangnya ada yang dekat dengan seorang yasuhira yang bicara saja hampir tidak pernah? yasuhira yakin ushijima bahkan tidak ingat dia.

 

bu hanatabi kemudian menuang air hangat ke tutup termosnya, kemudian meletakkannya di meja bapak tua pemarah yang rambutnya memutih sempurna itu di sebelahnya. yasuhira sudah sadar dari awal bahwa seseorang yang menempati meja di sebelah bu hanatabi pasti seorang guru olahraga—mejanya bersih dari kertas dan banyak peralatan olahraga di lantainya—namun yasuhira tak menyangka itu adalah meja pak washijo. “minumlah dulu, pak washijo.”

 

pak washijo duduk dengan melemparkan tubuhnya ke kursi hingga kursinya berdecit lumayan keras. kemudian, menoleh ke arah air hangat di mejanya. seperti dikenai jampi-jampi, air mukanya berubah perlahan menjadi lebih tenang. pak washijo hanya menjawab dengan gumaman, namun cukup membuat bu hanatabi tersenyum lega. mungkin, duduk di sebelah pak washijo bertahun-tahun membuatnya paham apa-apa yang harus dilakukan agar pria itu tidak jadi lebih marah dari biasa.

 

“jadi,” bu hanatabi mengembalikan fokus sepenuhnya pada yasuhira. ushijima berdiri tepat di sebelahnya, belum juga bicara apa-apa sejak memasuki ruang guru. ada perasaan yang tak enak dalam yasuhira ketika ia saksikan tangan besar ushijima hanya berjarak beberapa senti saja darinya.

 

“mengenai tugas puisi minggu lalu. ibu terkesima. tulisanmu sangat bagus, yasuhira.” ada perasaan yang meletup-letup menyenangkan dalam dada yasuhira yang sudah lama sekali ia tak rasakan. yasuhira berusaha menemukan namanya—”tapi sensei ingin tahu, apakah.. kamu mengambilnya dari internet, yasuhira?”

 

pelecehan. ini adalah pelecehan pada martabatnya. yasuhira kerap merasa dirinya bukan siapa-siapa, namun untuk diterka pencuri buatnya rasa dirinya begitu hina. ia seperti dipenggal kepalanya di tengah lapangan abad pertengahan dengan disaksikan ribuan manusia. kecintaannya pada menulis tak pernah terasa sememalukan ini sebelumnya. yasuhira tahu nama perasaan yang ini—kecil hati.

 

"tidak … ” tidak, tentu saja saya tidak menconteknya dari internet. “saya-” saya tidak pernah membaca sesuatu yang mirip di internet. yasuhira merasa kalimat manapun akan terdengar arogan, maka terbesit kalimat ketiga, tidak ada yang orisinal dalam seni. walau yang ini taruhannya adalah harga diri. tulisan itu—puisi itu, adalah buah dari tangkai-tangkai berpikirnya yang kini layu sebab yasuhira rasa ia tak akan lagi bisa menulis sebagus itu.

 

yasuhira mengambil puisi itu dari yasuhira tiga tahun yang lalu, dan yasuhira benci mengakui bahwa kalimat bu hanatabi seperti menelanjanginya yang kini tidak bisa apa-apa lagi. yasuhira tiga tahun yang lalu bukanlah yasuhira yang sekarang berdiri di hadapan bu hanatabi. yasuhira tiga tahun yang lalu akan malu melihat yasuhira yang sekarang, sebab yasuhira yang kehilangan segalanya tiga tahun lalu menulis sebuah mahakarya, sementara yasuhira yang sekarang tidak jadi apa-apa. sebab yasuhira yang sekarang sudah lupa caranya merasa, dan manusia hanya tumbuh sebagai mereka yang merasa.

 

sebab yasuhira lupa caranya menjadi manusia.

 

“saya yakin itu tulisan yasuhira sendiri.”

 

bu hanatabi menoleh kaget, suara itu datang dari pemuda di sebelah rambut merah.  entah sejak kapan, pak washijo sudah tidak lagi di kursinya. sebelum siapapun sempat memproses kalimat itu, ushijima melanjutkan dengan tenang, “memangnya kenapa ibu curiga begitu? apa ibu punya buktinya?”

 

“ushijima? apa kamu sekelas dengan yasuhira dulu?” nada bu hanatabi sama ringannya, “yah, ibu tidak akan bilang begini kalau ibu tidak punya bukti, ‘kan.” wanita itu memutar kursinya, mengetikkan sesuatu di browser internet untuk mencari-cari sesuatu.

 

satu laman terbuka, tulisan yasuhira ada di sana.

 

“ini blog pribadi?” ushijima mendekat dan mencondongkan tubuh jangkungnya agar bisa melihat layarnya. tangannya kemudian meraih mouse setelah mendapat izin dari pemiliknya. “ah, ada biografi pemilik blognya.”

 

takeyama jungo. “guru smp kitagiri.” ushijima kembali ke posisi berdirinya yang tegak. “itu smp yasuhira.”

 

“astaga,” bu hanatabi menutup mulutnya. “maka seharusnya dia menulis nama yasuhira disitu! bukannya hanya mengunggahnya tanpa bilang apa-apa,” rasa bersalah mengecat warna wajahnya sepenuhnya. “aah, ibu minta maaf, yasuhira. apa dia gurumu? kamu harus mengontaknya karena dia sudah mengunggah tulisanmu tanpa persetujuan dan kredit. ini tulisan yang sangat bagus, yasuhira. kamu harus lebih memperjuangkan hakmu.”

 

yasuhira tidak tahu. mana mungkin ia tahu bahwa tugasnya semasa sekolah menengah pertama itu akan diunggah di laman pribadi gurunya?

 

“apa ibu tahu lomba menulis tingkat nasional tiga tahun lalu?”

 

“iya? apakah yasuhira juga berpartisipasi?”

 

ushijima menggeleng pelan. “lebih dari itu.” matanya melirik yasuhira yang tak bergeming sedikitpun di sebelahnya. “dia pemenang juara satu.”

 

yasuhira tercekat. bu hanatabi membuat suara dengan napasnya yang tertahan. “maksudmu, ketika kalian kelas 2 smp, ‘kan?” kedua tangan bu hanatabi meraih tangan yasuhira yang basah dengan keringat dingin. “hujan dan anak-anak yang sendirian, itu cerita pendek buatanmu, yasuhira?”

 

tak ada jawaban dari ujung satunya, namun bu hanatabi malah mendekap kedua tangannya di dada. “apa kamu tahu kalau tulisan kamu yang membawa ibu sampai di sini?”

 

 


 

 

“yasuhira,” ushijima berjalan tepat di belakangnya. mengejarnya tanpa ada intensi menahan. ia hanya menunggu yasuhira memutuskan untuk berhenti dengan keinginannya sendiri. ini bahkan bukan lagi arah kelas yasuhira. pemuda itu seperti tersesat di isi kepalanya sendiri.

 

“yasuhira,” ushijima akhirnya menarik tangan pemuda itu yang hendak naik ke tangga menuju atap, “pintunya dikunci, yasuhira.”

 

rasanya aneh sekali. ushijima yang memanggil namanya terdengar seperti bualan yang biasa muncul di mimpi. apa yasuhira sekarang bermimpi? kalau iya, yasuhira ingin mati begini. sebab bangun tandanya tidak akan ada ushijima lagi, tapi tetap di sini berarti membiarkan ushijima lihat ia menangis dan bertingkah menyedihkan sekali. maka biarkan ia mati, biarkan ia mati tanpa dikasihani, biarkan ia mati di rematan tangan-tangan ushijima wakatoshi.

 

“aahh … “ suara akhirnya lolos dari bibirnya bersamaan dengan air mata. yasuhira sudah lupa caranya menangis sebab menangis hanya untuk mereka yang berduka dan yasuhira sudah lupa caranya merasa. mungkin sekarang, yasuhira menangis sebab akhirnya ia berduka. yasuhira tiga tahun lalu telah tiada dan digantikan pemuda putus asa yang bahkan tak bisa merasa.

 

tangan yang tadinya menggenggam lengannya berpindah menuju punggungnya, diikuti permintaan maaf berkali-kali oleh ushijima. tangan besarnya itu lembut sekali menelusuri punggungnya naik turun, seperti seorang kurator dan guci antiknya yang mudah pecah. yasuhira tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran ushijima. yasuhira tidak pernah ingin tahu apa yang orang lain pikirkan tentangnya, tapi ushijima buatnya penasaran akan dunia macam apa yang dilihatnya dan orang macam apa yasuhira di dalamnya. jika ushijima mengenalnya sejak tiga tahun lalu, apakah ushijima juga akan berduka (sebab yasuhira yang ia kenal bukan lagi yasuhira yang sekarang), ataukah ia tetap merayakan yasuhira sendirian (sebab yasuhira sendiri tidak mau merayakan seorang pecundang)?

 

yasuhira ose hanyalah teman sekelasnya. yasuhira ose hanya seseorang yang kebetulan duduk tepat di depannya. yasuhira ose bukan siapa-siapa.

 

tapi ushijima membuatkannya panggung besar dan duduk di kursi penonton. ia datang tanpa tiket di tangannya sebab keduanya sibuk bertepuk tangan pada yasuhira yang berdiri di bawah lampu sorot.  mayat yasuhira tiga tahun lalu tidak lagi tampil di panggung sebab ushijima datang untuknya dan bukan yasuhira tiga tahun lalu. di dunia ini hanya ada yasuhira dan tepuk tangan ushijima. di dunia ini orang yang tidak tahu apa-apa tidak punya reservasi kursi dan di dunia ini yasuhira berhak menjadi dirinya sendiri.

 

setelah pertunjukan, yasuhira bertanya-tanya apakah ushijima akan tetap duduk di kursinya, atau pulang dengan segelintir ingatan yang merupa tiket pertunjukan kedaluwarsa.

 

 

Notes:

finally decide to write something and i have been always wanting to try to write something. so here ya go.